My Cold Senior

My Cold Senior
Kembali atau Menyesal



Nungguin ya ?? πŸ˜‹


Aku orangnya moody an gitu guys, jadi kalo nemu komentar yang kurang enak itu bakal menghambat moodku dan seketika membuyarkan ide2 briliant ku πŸ™„ "Masa cuman up 1 sih? Kapan selesainya nih? lama banget" bla bla bla kalau gak bisa berkomentar untuk menambah semangat penulis lebih baik diam πŸ˜‰ setuju??


Nih, part ini aku kasih panjangggg biar kalian puas baca nya, awas kalo masih ada yang bilang "Kok makin pendek aja sih?" hadeuuhhh 2000++ kata nih 😘😘



Jangan lupa follow instagram @Lovelyliy_ ❀


Oh ya bertambahnya followers bisa jadi moodbooster buat aku lohh, kalau kamu mau jadi bagian dari salah satu penyemangatku maka wajip followπŸ˜‰




Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading β™‘β™‘



Arva menghentikan aktifitas memasukkan bola kedalam ring nya ketika menyadari Vanya menghampirinya "Gue nyari lo dari tadi" keluh gadis itu sambil mengeluarkan beberapa tisu lalu tanpa bisa dihindari tangan itu mengabsen tiap sudut wajahnya untuk me-lap keringatnya yang membanjir



"Lo pasti laper? makan yuk" ajak Vanya di sela-sela usapannya



Arva tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tatapannya beradu dengan wanita yang sedang menatap ke arahnya.



"Vino?" gumamnya heran ketika tiba-tiba tubuh pria itu menghalangi arah pandang Mikaela. Bukannya tadi ia meminta Rendra untuk mengantar Mikaela pulang?



Arva melenguh ketika sadar kalau pria yang tadi dititipi pesan olehnya berada di tempat Vanya muncul tadi. "Gak bisa dipercaya" gumamnya



"Apa?" tanya Vanya



"Hemm gue haus" bohong Arva



"Ohh tapi gue gak bawa, emm gue beli dulu deh gak apa-apa kan?"



"Yaudah" ucap Arva menyetujui



Vanya melengang pergi ke arah kantin, begitupun dengan Arva yang segera melangkah pergi ke arah Mikaela yang sedang berusaha naik ke atas motor yang lumayan tinggi itu



_________________



"Uekk" Mikaela segera menutup mulutnya, membuat Arva kelabakan mencari sesuatu untuk menjadi wadah muntahan wanita itu



"Buka pintunya" keluh Mikaela barusaha membuka pintu mobil yang masih terkunci itu, agar bisa muntah di luar dari pada harus mengotori mobil yang luar biasa mahal ini? bisa-bisa pria itu akan menjualnya lagi sama seperti pertemuan awal mereka



Tanpa berkata lagi Mikaela segera meraih waist bag yang tergeletak di sampingnya lalu memuntahkan isi perutnya kedalam tas kecil itu



Arva yang baru saja membukakan pintu mobil untuk wanita itu hanya menganga tak percaya melihat sosok yang dilihatnya saat ini.



Isi tasnya sudah berantakan di kursi mobilnya, digantikan dengan hal menjijikan di dalamnya



Glek


Arva menelan salivanya susah payah, apakah setelah ini perasaannya akan luntur ??



"Biar nanti aku cuci" ucap Mikaela merasa bersalah ketika menyadari perbuatannya setelah Arva sudah berada di posisinya lagi



"Kalo sakit kenapa maksain masuk?" ketusnya tanpa merespon ucapan Mikaela



"Aku cuman.." ucapannya terhenti ketika mobil yang ditumpanginya berbalik arah



"Loh, kenapa puter balik? kan arah.."



"Ke rumah sakit" potong Arva



"Enggak, aku gak mau! aku mau pulang sekarang, anterin aku pulang aja kenapa sih?" protes Mikaela



Arva tak bergeming, ia hanya fokus dengan setirnya



Dengan kecepatan penuh membuat jarak tempuhnya menjadi 2x lipat lebih cepat sampai dari biasanya.



Arva sudah membukakan pintu mobilnya untuk Mikaela, tapi gadis itu tak berniat untuk turun dari sana "Turun" titahnya



"Udah aku bilang aku mau pulang" ketus Mikaela tanpa melihat ke arahnya



Arva berdecak lalu sedetik kemudian tubuh gadis itu sudah diangkatnya "Aku gak mau" kukuh Mikaela meronta



Dengan keberanian penuh, Mikaela menggigit bahu pria itu sekencang yang ia bisa, tapi tetap tak bisa menggoyahkan Arva "Suster tolong berikan ruangan kosong untuk wanita yang suka menggigit ini" pinta Arva pada seorang perawat yang sedikit kebingungan dengan penuturannya



"Nona, suaminya pasti sakit" ujar perawat tadi yang ikut meringis, membuat Mikaela merasa tak enak dan menyudahi penderitaan pria yang masih bertahan mengangkat tubuhnya



"Dok aku gak sakit apa-apa, dia cuman salah sangka" tolak Mikaela ketika seorang pria paruh baya mencoba untuk memeriksa tubuhnya



"Mohon maaf, nona jangan banyak gerak" pinta dokter



"Tapi aku gak sakit" keluh Mikaela lagi



"Wajah anda pucat" ucap dokter itu, menanggalkan pengakuan palsunya



"Tuan bisa anda pegangi tubuh istri anda? biar saya bisa segera memeriksanya" pinta dokter tersebut pada Arva yang seketika malah membuatnya bengong karena sangkaan pria tua itu "Istri, istri saya?" gumamnya



"Tuann" dokter mengibas kedua tangannya di depan wajah Arva "Ya istri anda, memangnya siapa lagi??" keluhnya yang dibuat pusing oleh dua manusia muda di hadapannya. Yah, mungkin kedua pasangan ini korban perjodohan yang belakangan ini sedang marak terjadi



"Dokter liat sendiri kan? dia yang sakit bukan saya" sangkal Mikaela lagi yang akan segera turun dari ranjangnya, namun tertahan ketika kedua bahu nya sudah dipegang kuat oleh Arva



Kekuatan Mikaela perlahan melemah, bahkan menggerakkan jari nya saja ia tak kuat. Rasa kantuk mulai menjalar, membuat kedua matanya berat dan mulai menutup sempurna dengan perlahan



"Terpaksa saya kasih obat tidur" ucap dokter tersebut yang tidak menjawab apapun, karena tanpa diberitahu pun Arva sudah tau dengan hal itu



"Gimana dok?" tanya Arva



"Apa yang terjadi sebelum ini?" tanya pria yang bertuliskan Seno Pratama di papan nama yang menempel pada jas putihnya



"Tadi muntah-muntah gitu sih, apa mungkin magh akut? atau penyakit dalam lain?" tanya Arva mengira-ngira



Seno melepaskan stetoskop yang menyumpal pada telinganya "Sejak kapan?" tanyanya



"Sejak kapan apa?" tanya Arva tak paham



Dokter itu berdecak, pria ini memang terlalu muda tapi kalau belum matang kenapa harus mau dinikahkan seperti ini "Gejala muntah-muntahnya sejak kapan?" jelas Seno



Arva menautkan kedua alisnya "Mana saya tau? kan yang muntah-muntah dia" jawabnya



Sungguh jawaban Arva membuatnya gusar, untung saja menantunya tidak se-telmi pria ini. Kalau tidak mungkin ia tidak akan merestui hubungannya sejak awal. "Masa anda tidak tau? bukankah suami istri tinggal di satu rumah?"



Arva menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, apa yang harus dijelaskan pada dokter ini? tidak mungkin kalau menceritakan semuanya kan? dia bukan dokter cinta



"Ahh sa-saya.."



"Oke, saya paham kamu masih muda tapi kenapa harus mau menikah kalau belum siap jadi orangtua?" ucap Seno



"Mungkin orangtua memang ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi kalau seperti ini caranya tetap salah. Pernikahan itu kesiapan bukan paksaan" lanjut Seno lagi memberi nasihat. Ia punya anak perempuan dan merasa miris ketika melihat pasiennya, itu mengingatkannya pada anak perempuannya



Arva semakin tak paham dibuatnya "Dokter langsung aja pada intinya, saya tidak suka berbelit-belit" protesnya



"Tidak sopan" batin Seno, ia kan hanya ingin menonjolkan sifat keayahannya. "Istri anda .."



"Papa??" kaget Steffi yang baru saja masuk kedalam ruangan, membuat penuturan Seno terhenti



"Pria itu?" batin Steffi melihat pria yang sedang berhadapan dengan ayahnya. Lalu ia melihat ke arah ranjang yang sedang dihuni oleh wanita yang pernah menitipkan pesan padanya. Lalu ia melempar tatapannya pada ayahnya, apa yang harus ia lakukan?



Seno merasa tak mendapat penuturan anaknya yang malah bengong itu. Ia mulai kembali melanjutkan ke fokus awalnya "Jadi istri anda.."



"Papa" panggil Steffi yang seketika berada di tengah-tengah antara kedua pria itu, niatnya memang untuk menghalangi



"Pah aku mau bicara" pinta Steffi



"Bisa kita bicarakan nanti" elak Seno yang selalu bicara formal pada anaknya sendiri selama masih pada jam kerja



"Tapi ini penting, plis" pinta Steffi tak menyerah



"Ada apa?" tanya Seno ketika sudah berada di luar ruangan, memenuhi permintaan anaknya



"Sebenernya gadis itu pasienku, jadi biar aku yang urus" ucap Steffi yang akan kembali masuk kedalam ruangan tadi



"Apa yang sedang kamu sembunyikan?" tanya Seno menelisik, ia mengenali semua ekspresi wajah yang dimiliki anaknya ini



"Papa ngomong apa sih? Steffi cuman mau melanjutkan perawatan pada pasien sampai tuntas. Bukankah itu yang papa ajarkan?" elaknya mengalihkan pembicaraan



"Jangan bohong" tuntut Seno



Steffi menghembuskan napasnya panjang, ia memang tak bisa menyembunyikan apapun dari ayahnya yang super peka ini.




"Papa tau" jawabnya



"Dan pria yang tadi itu sudah tau kalau wanitanya itu sedang hamil" tutur Steffi



"Sudah tau?" heran Seno. Karena yang ditunjukkan pria itu seperti yang belum tau apa-apa



Steffi mengangguk "Jadi seharusnya kandungan nona Mikaela itu segera digugurkan karena keadaan tubuhnya yang sangat lemah tapi ia menolak dan tidak mau menggugurkannya"



"Digugurkan?"



Steffi mengangguk "Wanita hamil tidak boleh mendonorkan darah, tapi nona Mikaela melakukannya dan itu fatal dan memang sebelumnya pun tubuh pasien memang sudah lemah" jelas Steffi



"Tapi pria itu, ia setuju kalau bayinya digugurkan karena itu bisa menyelamatkan nyawa nona Mikaela lebih awal" lanjutnya



"Lalu?" tuntut Seno



"La-lalu apa pah? tanya Steffi



"Lalu apa peranmu disini? kamu berusaha menutupi keinginan keduanya? kamu tidak bisa bertindak sejauh itu"



"Tapi pah ini demi.."



"Apa yang kamu dapat? kamu hanya bisa menimbulkan kesalahpahaman diantara keduanya" potong Seno



"Tapi pah untuk kali ini aja Steffi mohon. Steffi pernah kehilangan bayi Steffi, papa tau kan gimana hancurnya Steffi waktu itu?? Steffi cuman mau nolongin .."



Tiba-tiba ucapannya terhenti "M-maksud saya.."



"Maksud anda kekasih saya belum, dia tidak mau menggugurkan kandungannya??" tanya Arva tak percaya. Seno yang juga mendengar suara asing itu segera memutar tubuhnya ke arah suara



"Kekasih?" gumam Seno sembari menghampiri pria yang masih terpaku pada posisinya



"Bukan istri? hanya kekasih?" tanyanya lagi menuntut penjelasan



"Astaga bagaimana mungkin?" keluh Seno



"Maafkan saya tuan, sepertinya saya tidak seharusnya ikut campur dalam urusan kalian. Saya hanya.."



"Lelaki macam apa kamu ini??" protes Seno menghentikan penuturan anaknya yang merasa menyesal



"Pah itu bukan urusan kita" tahan Steffi menghentikan papa nya



"Bukan urusan kita gimana?"



Suara Seno yang terus meninggikan intonasinya itu menggema di lorong rumah sakit, membuat semua yang mendengarnya menatap heran ke arahnya "Papa stop" Steffi langsung menyeret ayahnya yang masih ingin berargumen



"Steffi apa-apaan kamu ini?" protes Seno di tiap langkah paksanya



Arva masih tak bergerak di tempatnya, apa ia harus senang atau sedih? bukankah ini yang ia harapkan? bukankah tak ada alasan untuk meninggalkan Mikaelanya lagi?



"Kandungannya harus segera digugurkan demi keselamatan nona Mikaela sendiri" seketika kalimat itu terngiang di telinganya. Tidak, ia tidak akan membiarkan Mikaela mempertaruhkan nyawanya.



Lebih baik ia kehilangan wanita itu tapi masih bisa melihatnya dari jauh, dibanding harus kehilangan wanita itu tanpa bisa melihatnya sama sekali. Itu tidak akan terjadi



Dengan kebenaran yang ia tahu sudah sangat cukup. Wanita itu menginginkan anaknya, itu berarti wanita itu memang mencintainya. Ya, itu saja sudah cukup



Arva segera masuk ke ruangan dimana Mikaela berada, wanita itu masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Arva menatapnya sendu, bagaimana mungkin ia bisa meragukan perasaan wanita ini?? Apa sikap dinginnya beberapa hari ini akan termaafkan??



Jari-jari lentik itu mulai bergerak, diikuti dengan geseran kepalanya. Arva segera menghampiri wanita itu lalu menggenggam tangannya kuat, membuat Mikaela segera membuka paksa kelopak matanya



Cup


Arva menciumi punggung lengan wanitanya. Mikaela yang masih mengumpulkan kesadarannya hanya diam memandanginya, namun sedetik kemudian ia segera menarik lengannya. Kesadarannya sudah kembali pulih



"Aku mau pulang" ucap Mikaela segera bangkit dari ranjangnya



Tanpa berniat merespon ucapannya Arva segera memeluk tubuh wanita itu, membuat pergerakan Mikaela terhenti



"Arva lepas" pinta Mikaela menekan dada bidang pria itu agar melepaskan tubuhnya



"Enggak akan, gak akan pernah" tegas Arva



Mikaela diam


Apa maksud dari kata-katanya? ia sungguh tidak paham. Ia seringkali salah mengerti dengan maksud dari pria itu, kali ini ia tidak mau salah lagi



Arva melepas pelukannya lalu memegang kuat lengan atas Mikaela "Lo denger? gue gak akan lepasin lo" tegasnya lagi



Mikaela menautkan kedua alisnya, kalimat itu seharusnya tidak dijadikan sebagai candaan. "Aku gak perduli" timpal Mikaela melanjutkan pemberontakannya



"Sorry" ucap Arva yang kembali membawa tubuh itu dalam pelukannya "Gue salah, lo boleh hukum gue. Lo boleh minta apa aja, asal lo mau maafin gue" sesal Arva meninggalkan beberapa tetes yang keluar begitu saja dari matanya, mengenai rambut terurai milik Mikaela



"Aku mau pulang" pinta Mikaela



Arva mengangguk mengiyakan "Cuman itu??" tanyanya



"Dan .." Mikaela mengalihkan pandangannya



"Aku gak mau ketemu kamu lagi" lanjutnya



Kalimat yang berhasil membuat rahang pria itu mengeras. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu?? bahkan dalam keadaannya yang sudah pasti membutuhkan pria yang malah dipintainya untuk pergi darinya. Konyol



"Gue harap lo gak ucapin kalimat itu lagi" tegas Arva sambil meraih lengan Mikaela untuk memenuhi permintaan pertamanya



"Aku gak mau kamu temuin aku lagi" ulang Mikaela penuh tekanan sambil menepis lengan yang akan menggenggam lengannya itu



"Gue gak main-main" tekan Arva



"Kamu pikir aku main-main? sekarang kamu pergi, aku bisa pulang sendiri" ucap Mikaela lantang, seolah tak ada luka yang tertinggal di setiap ucapannya



Arva menggertakkan gigi nya, ia memang salah tapi bukan paten kesalahannya kan? ia hanya keliru, ia pikir wanita itu tidak benar-benar mencintainya. Ia mencoba pasrah ketika tau kalau wanita itu tak menginginkan anak darinya, hanya itu. Tapi sekarang kebenaran yang tak ia ketahui sudah terungkap. Wanita itu ternyata menginginkan anaknya dan itu membuatnya lebih berani untuk mempertahankan wanita itu kembali bukan??



"Lo pikir gue bakal biarin lo gitu aja??"



Mikaela segera melangkah mundur untuk menghindari langkah pria yang semakin menghampirinya itu



Arva meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh wanita yang punggungnya sudah menyentuh tembok itu "Gue gak suka lo bohong" tekan Arva



Napas Mikaela serasa tercekat karena jarak wajah keduanya yang hanya beberapa jengkal. "Kenapa lo bisa sekuat ini untuk nahan perasaan lo ke gue?" tanya Arva bersungguh-sungguh



Tapi demi apapun, walaupun penuturannya itu benar tapi bukankah itu narsis?? kepedean !



Arva meraih dagu wanita yang tak berani membalas tatapannya itu "Gue gak suka ngomong .."



"Sama orang yang gak ngeliat lawan bicaranya" potong Mikaela melengkapi kalimat yang sudah sering ia dengar itu sambil membalas tatapan Arva, menuruti kemauannya



"Kenapa? aku udah liat mata kamu lalu apa lagi?" tuntutnya



Arva diam melihat penuturan wanita dari jarak yang sangat dekat dengannya itu



"Lalu.." ucap Arva menggantung lalu segera memagut bibir wanita itu yang sama sekali tak mengira akan terjadi hal yang demikian. Mungkin lebih ke kurang siaga, tidak belajar dari kejadian yang sudah-sudah



Lengan Arva memegang tengkuk wanita yang masih melakukan penolakan itu, dan lengan satunya melingkar pada pinggangnya



Lalu apa lagi? apa setelah ini ia akan luluh lagi? semudah itukah hatinya kembali? sama seperti semudah datang dan perginya pria itu kedalam kehidupannya??



Mikaela tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, membuat Arva segera melepaskan pagutannya



"Kenapa??" tanya Arva panik



Dengan sekuat tenaga Mikaela menendang selangkangan pria itu, membuat si korban melepas kukungannya karena mengaduh kesakitan pada inti tubuhnya



Jujur, Mikaela baru melakukan hal seperti ini pertama kali. Ia hanya mencontoh adegan drama ketika seorang wanita sedang melawan pria yang kekuatannya tak sebanding. Hanya itu titik kelemahannya



"Mikaela kembali, atau lo bakal nyesel" teriak Arva di sela erangan kesakitannya



β€’


β€’


β€’


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment