My Cold Senior

My Cold Senior
Canggung



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Arva memutar badannya untuk membelakangi Mikaela lalu berjongkok



"Naik" titahnya.



"Ah Huh ?" Mikaela memasang wajah tak mengerti



Arva berdecak lalu menunjuk punggungnya. Mikaela ******** bibirnya "kayaknya aku kabur aja deh" batinnya lalu memutar tubuhnya cepat



"Aaakk isshh lepasin" rengek Mikaela ketika kaos kebesarannya ditarik oleh Arva dari belakang, membuat gadis itu tak bisa pergi dari posisinya. Tubuh Mikaela malah memantul kebelakang, membuatnya menyentuh dada bidang pria di belakangnya



Deg


Arva merasakan darahnya melaju lebih cepat dari biasanya



Mikaela? Jangan ditanya. Untuk bernafas pun rasanya sulit, dan sepertinya butuh pasokan oksigen.



Mikaela menoleh ke belakang dan saat itu tatapan mereka bertemu



Glek


Mikaela kembali menelan ludahnya



"Kaki lo lagi sakit, biar gue gendong" ucap Arva perlahan



Arva kembali berjongkok


"A aku masih bisa.."



Arva berdecak lalu menarik tubuh Mikaela agar terjatuh di punggungnya



"aakkk" Mikaela segera menutup mulutnya yang setengah berteriak karena terkejut dengan perlakuan Arva



Canggung


Ya.. itu yang dirasain Mikaela.



Mikaela menghela nafasnya panjang, berusaha merelakan tubuhnya, untuk kali ini. Tapi tunggu, Mikaela mengedarkan pandangannya "astaga .. tukan" keluh Mikaela dengan kedua telapak tangannya berusaha dipakai untuk menghalangi wajahnya



Suasana di kampus emang udah gak ramai sih, tapi masih ada beberapa. Itu jadi masalah juga kan kalo mereka tau! Cctv di indonesia kan mulut ke mulut. Lebih cepet kesebar.



Tapi untung mereka cuman celingak-celinguk doang sih, mana berani mereka nyapa Arva secara langsung.



"Ko lama banget" keluh Mikaela sudah tak nyaman dengan posisi intimnya.



Padahal kan jarak dari tempat tadi ke parkiran harusnya gak sejauh ini, sengaja banget waktu mainin kekuatannya.



Buat orang yang saling jatuh cinta biasanya selalu ngerasa kalo waktu yang mereka laluin itu sangat singkat. ini ko berasa lama? Mungkin karena belum ada pengakuan satu sama lain, maybe



Arva menurunkan tubuh Mikaela lalu membuka pintu mobilnya "masuk" titahnya



Dengan sedikit gugup Mikaela tak punya pilihan selain menurut



"Arv.. aku mau ikut ka.. mu.."



"Eh ko lo disitu?" Protes Vanya ke arah Mikaela yang hampir duduk di kursi penumpang



"Emm a aku.."



"Gue mau anter dia pulang" potong Arva menegaskan



"Ko ?? Ck kenapa bisa? Emm gini Arv .. lo tuh jangan.."



Arva mengedarkan pandangannya "Kalo lo mau nebeng ke hemm tuh .. Rendra.." panggil Arva ketika sobatnya memperlihatkan ujung hidungnya di tikungan menuju parkiran



"Uyy" Timpal Rendra menghampiri



"Noh dia mau nebeng katanya" tunjuk Arva pada Vanya yang sudah sangat kesal luar biasa. Bukan karena Arva gak mau nganterin, tapi kenapa perempuan itu musti ada di mobilnya Arva?



"Kalo gue gak bisa ngedapetin perhatian Arva, maka gaada satupun yang boleh ngedapetin itu" tekan batinnya



Mikaela masih menyimpan posisinya di sela pintu mobil yang mengapit tubuhnya "masuk" titah Arva lagi.



Arva melebarkan pintu mobilnya membuat pegangan Mikaela terlepas. Arva menghalangi atas kepala Mikaela dengan tangannya agar tidak terpentok dengan atap mobilnya yang memang ceper.



Klop


Pintu mobilnya tertutup.



Arva memberi sinyal pada Rendra melalui tangannya yang diangkat sebentar "duluan" ucapnya sambil mengitari mobilnya dan menempati kursi setirnya.



Rendra menarik sebelah ujung bibirnya sebagai jawaban.



"Ayok" ajak Rendra pada Vanya yang masih mematung di posisinya.



Vanya menggertakkan giginga kuat, wajahnya sudah sangat merah karena menahan luapan emosi. Semarah apapun dia, Arva gak boleh liat amukan mengerikannya. ia bisa membantingkan semua benda yang ada di sekitarnya ketika sedang marah. Gimana Arva mau respect kalo tau kebenarannya? ia yang jadi gadis manis di depannya aja masih gak dilirik



"Diem lo" teriak Vanya di depan wajah Rendra dan berlalu melewati tubuhnya dengan menghentakkan kakinya kuat pada tanah. Harusnya sih itu sakit, tapi kalo sudah marah Vanya gak bisa ngerasain apapun kecuali kemarahan itu sendiri



Rendra megusap-ngusap dadanya sambil dengan pandangan mengikuti kemana perempuan itu pergi "untung cinta" gumamnya



_______________



Gak ada obrolan di antara mereka



Sampai suara bernafas pun kedengaran, bahkan berisiknya klakson dan suara kendaraan gak bisa ngalahin keheningannya. Sebising apapun jalanan gak bisa mengalihkan



Mikaela hanya memainkan kuku-kuku jari tangannya sambil sesekali menarik-narik ujung rok selututnya, berusaha menutupi luka nya yang terlihat



Dengan mengumpulkan sedikit kekuatannya, Mikaela memberanikan diri untuk melihat orang di sampingnya. Saking sunyi nya, kali aja mobil yang ditumpanginya jalan sendiri kan?



Mikaela kembali menarik wajahnya "Dia aja santai ko aku gugup gini sih" gerutunya dalam hati



"Kenapa?" Tanya Arva



"Hah .. kenapa apa?" Seperti biasa Mikaela membalikkan pertanyaannya



Arva hanya menggedikkan bahunya tanpa ekspresi tambahan. Mikaela masih menunggu..



30 detik berlalu


Seperti dugaan Arva memang tak berniat melanjutkan obrolannya



Arva keluar dari mobilnya lalu memutarinya untuk membukakan pintu untuk gadis yang tanpa sadar sudah ia cemaskan



"Ma makasih" ucap Mikaela masih dengan sisa kegugupan tak mendasarnya



Arva mengangguk pelan sebagai jawaban lalu menyender di badan mobilnya untuk memastikan Mikaela selamat sampai pintu masuk rumahnya



Cklek



Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumahnya ketika Mikaela baru akan menutup kembali pagar rumahnya



"E e ehhh mau kemana?" cegah istri dari pamannya



"Mau masuk" jawab Mikaela



"Enggak! Kamu belanja dulu. Nih" bibinya menyerahkan tas belanjaan beserta uang belanjanya



Walaupun jahat, tapi gak seperti tayangan di sinetron ko. Sampai disuruh belanja tanpa dikasih uangnya. Bibi nya masih ada hati nurani, ia cuman membagi pekerjaan rumah tangganya. Walaupun semua pekerjaan memang Mikaela yang kerjakan



"Ko balik lagi?" Arva menyusul Mikaela yang kembali keluar dari pagarnya ketika perempuan paruh baya itu masuk kembali kedalam rumahnya



"Emm mau ke warung" bohongnya



"Beli apa? Lagian disini gada yang jualan" ucapnya



"Ya mau nyari.." alibinya lagi



"Kamu mending pulang aja deh, deket ko" lanjutnya sambil melewati Arva yang menghalangi jalannya



"Gue tau lo disuruh belanja!" Ucap Arva lagi



Mikaela tak menjawab, ia mempercepat langkahnya



"Atau mau gue gendong lagi kayak tadi?" Pungkas Arva sekejap membuat langkah gadis di depannya berhenti



Mikaela mengedarkan pandangannya "Gak! ini rame banget" keluhnya. Apalagi melihat kumpulan ibu-ibu yang terpampang nyata di samping rumah pamannya



Arva tiba-tiba sudah berjongkok di hadapannya, Mikaela menutup mulutnya yang menganga melihat Arva yang sudah siap dengan pernyataannya.




_________________





Arva terus membuntuti wanita yang sudah lihai dalam berbelanja itu. ia hanya sesekali melihat layar ponselnya, ketika diintip dari belakang itu hanya daftar belanjaan yang harus dibeli. Mana mungkin chattingan tanpa mengetik?



"Sudah sele... sai" Mikaela membolak-balikkan tubuhnya ke segala arah. Tapi Arva tidak ditemukan di ujung manapun



"Kemana dia?" Gumamnya. Mikaela kembali mengayunkan kakinya ke arah dimana kumpulan ice cream terpampang



Mikaela menyentuh dagunya dengan telunjuk "rasa apa ya?" Pikirnya. ia cukup bingung dengan rasa, karena ia suka semua ice cream Yang ada di dunia



"ini ajadeh" setelah beberapa menit berpikir akhirnya Mikaela memutuskan untuk mengambil yang rasa vanilla.



"Apa lagi ya?" gumamnya. Mikaela memutar badannya namun ia memicingkan matanya ketika melihat di ujung sana "bajunyaa.." gumamnya sambil berpikir "kayak kenal"







•


•


•


Please like and comment !!