My Cold Senior

My Cold Senior
Puas ?



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡







"Sorry" ucap Melvin menyadari ketidaknyamanan Mikaela dengan perlakuan berlebihannya



Mikaela membalasnya dengan tersenyum singkat.



"Aku.. aku cuman gak bisa liat kekerasan" ucap Mikaela tiba-tiba membuat Melvin menatap wajah pembicara itu dengan serius



"Maksudnya?"



"Aku punya trauma, trauma yang gak aku ingat sama sekali.."



"Lo pernah dapet kekerasan?"



"Aku gak tau. Setiap kali .." Ucapan Mikaela tehenti



"Arva.." gumamnya kemudian, seakan teringat sesuatu yang ia lupakan



"Dia luka" lanjut Mikaela segera turun dari ranjang pasien dan lari keluar dari ruanganmya meninggalkan pria yang tak bisa mencegahnya



"Vin Vinooo.." panggil Mikaela dari kejauhan membuat dirinya menjadi perhatian semua penghuni kantin



Si pemilik nama seakan kebingungan sendiri, sebab untuk kali pertama gadis itu memanggil namanya , ia kira Mikaela tak pernah menganggap bahwa mereka saling kenal



"Gue?" tanya Vino sambil menunjuk wajahnya sendiri untuk memastikan



"Arva mana?" tanyanya segera tanpa menjawab pertanyaan bodoh pria itu



"Ohhh ah .." Vino mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu



"Rendra.." panggil Vino pada teman koplak satunya yang memang akan menghampirinya



"Sebentar ya.. lo duduk dulu aja" tenang Vino yang tak didengar Mikaela. ia tetap terlihat cemas dengan posisi berdiri sambil menautkan kedua tangannya



"Arva mana?" tanya Vino pada Rendra yang sudah di posisi duduknya



"Ko nanya gue? emang gue baby sitter nya apa" acuh Rendra



"Gue serius" protes Vino sambil menyikut lengannya dengan menggedikkan dagu ke arah gadis itu berada



"Oohhh .. si Arva dicariin pacarnya" ujar Rendra yang langsung mendapat lirikan tak suka dari Mikaela



"Bentar deh gue heran sama lo! kalian tuh bener pacaran gak sih? kok lo bisa sama si Melvin?" tanya Rendra bertubi-tubi sambil menyangga dagunya memperhatikan wajah polos gadis di depannya membuat yang diperhatikan menjadi tidak nyaman



"Kepo banget sih lu" protes Vino



"Lu diem Vin ! gue cuman heran aja. Kalo emang mereka beneran pacaran kenapa justru si Arva yang dihajar padahal kan dia yang jadi pacarnya ya wajar lah kalo jalan berdua. Kesannya kayak cewek polos ini lagi mainin dua cowok" celotehnya menelisik



"Kamu gak tau apa-apa" tekan Mikaela dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Kalimat pria itu sederhana namun menusuk !



"Cungur lo bisa disegel gak sih?" ucap Vino dengan mengapit mulut ember Rendra



"Aww lo gila ya? bibir seksi gue jadi dower ntar" Protesnya



"Mik tunggu.." tahan Vino yang mengejar langkah besar gadis yang berhasil disinggung temannya



"Sorry ya Rendra emang agak sengklek sih otaknya. gue yakin lo gak punya niat senaif itu" ujarnya



"Aku gak butuh pembelaan" jawab Mikaela



"Oke.." ucap Vino segera. Sebab niat untuk menenangkannya malah tidak bikin tenang, malah akan jadi salah paham baru



"Tadi Arva sama Rendra, tapi sekarang gak tau deh kemana. Ponselnya juga gak bisa dihubungin, nanti kalo.."



"Gak perlu. makasih" potong Mikaela



"Aku cuman sedikit khawatir aja tapi kayaknya dia baik-baik aja..kalo gitu aku balik ke kelas" lanjutnya mengakhiri



_________________



Sampai di depan pintu rumah, Mikaela meregangkan otot-ototnya terlrbih dahulu. Entah kenapa seharian ini membuat tubuhnya amat sangat melelahkan. Tulang-tulang tubuhnya pun menimbulkan suara, menandakan kembali ke tempat asalnya.



Cklek


Mikaela menutup kembali pintunya lalu bersandar di baliknya. sandaran kepalanya selama ini hanya pintu, kalau tidak pintu masuk rumah ini ya pintu kamarnya.



"Arva" Mikaela terperangah, menyadari kalau ada sosok yang ia khawatirkan tadi. Tapi kenapa ada disini? sejak kapan?




Mikaela mengedarkan pandangannya. Rumah ini sepi, tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari penghuni asli rumahnya



"Arva??" panggilnya pelan. tatapan kosong pria di depannya membuatnya sedikit ngeri. ia mengibaskan tangannya di depan wajah Arva dan berhasil membuat pria itu melihat kearahnya



"Kenapa disini?" tanyanya




"Ck udah kayak ngajak ngomong patung" cibir Mikaela tak senang sikap acuhnya



"Kemana aja?" pertanyaan yang lolos dari mulut Arva membuat Mikaela kembali duduk di sampingnya



"Pulang ngampus, dari mana lagi emangnya"



"Lo telat setengah jam" ujarnya



"Tadi nemenin Rani dulu.." jawabnya malas



"Sama si brengsek itu juga?" Arva menyampingkan tubuhnya melihat wajah gadisnya



"Si brengsek?" gumam Mikaela tak mengerti siapa yang dimaksudkan pria ini



"Melvin?" tebaknya ragu



"Jangan pernah sebut namanya di depan gue!" tekan Arva dengan tatapan menusuknya



Bentakan Arva membuat Mikaela terdiam. "Bukannya kepribadiannya udah hilang? kok sikapnya gak ikut berubah" herannya



"Tadi kemana?" tekan Arva lagi dengan kedua tangannya yang memegangi bahu gadisnya membuat kesadaran Mikaela kembali



"Ahw sakit.." Ronta Mikaela meminta dilepaskan



"Jawab!!" tekannya lagi



"Tadi kan aku udah bilang nemenin Rani, gaada siapapun lagi!" jawabnya dengan penuh penekanan



"Puas?" lanjutnya



"Minggir aku mau ke kamar" ucapnya kembali meronta



"Arva lep.." Ucapannya terpotong ketika tiba-tiba wajah pria itu dengan cepat dekat dengan wajahnya sampai ujung hidung mancung keduanya bersentuhan



"Reza" ucapnya



"Orang yang ada di depan lo ini Reza!!" jelasnya, membuat Mikaela mengerutkan keningnya



"Lo inget ! tatapan ini milik Reza bukan si Arva sialan itu" ulangnya lagi



Glek


Mikaela menelan ludahnya susah payah



"Re Rezaa?" ulangnya memastikan



"Kenapa kepribadian ini muncul lagi begitu cepat?" batin Mikaela



Pria itu tersenyum miring ketika namanya disebut kekasihnya untuk pertama kali.



"Iya.. pacar lo ini Reza bukan Arva!" jelasnya lagi



Mikaela melenguh karenanya. Lama-lama kepribadian lain ini semakin bertindak semaunya. "Mimpi apa aku harus pacaran sama kepribadian yang gak nyata ini" batinnya merajuk



"Lagian si Arva hatinya udah mati. gak punya cinta! kalaupun itu terjadi gue gak akan biarin dia ngerebut lo dari gue" ucap Reza panjang lebar



"Apalagi ini? melawan diri sendiri? bagaimana bisa? ini gilaaa" rutuknya dalam hati



"Dan si brengsek itu, gue gak akan biarin dia ngambil kesempatan ngedeketin lo" ucapnya seraya berusaha menyatukan bibirnya dengan milik kekasihnya



"Arvaa" protesnya menghentikan pria itu



"Rezaa!" tekannya.



Bibir mereka bersentuhan, tapi tak ada pergerakan. Mikaela membuka matanya perlahan "Jangan sekarang brengsek" amuk Arva setelah melepas sentuhan di bibirnya lalu menjambak rambutnya yang sudah mulai gondrong



Mikaela meringis, jambakan itu pasti akan membuat kepalanya sakit.



"Kamu kenapa? jangan begini" cegah Mikaela dengan upaya menghentikan siksaan yang diberikan Arva pada tubuhnya sendiri



Dengan sorot mata yang berubah memerah Arva kembali mnyentuh bibir kenyal itu melumatnya perlahan membuat Mikaela terpaku. Ingin melawan tapi seakan tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri



Arva menyudahi pergerakannya, ia menatap lekat gadis yang berada di genggamannya. tatapan itu seakan menghipnotis, membuat Mikaela perlahan memejamkan matanya ketika Arva akan kembali menyatukan bibir keduanya.



Pria itu memagut bibir Mikaela, ia semakin memperdalam ciumannya sampai gadisnya itu melakukan hal yang sama, Mikaela tak lagi hanya jadi si penerima, bibirnya ikut bergerak sesuai irama yang dikomandani prianya



"Re.. Rezaa!!" Mikaela berhasil mengumpulkan kewarasannya dengan mendorong tubuh pria itu sampai penyatuannya terlepas



"Huh.. Reza?" ulang Arva



•


•


•


Please like and comment !!



COMMENT COMMENT COMMENT