My Cold Senior

My Cold Senior
Bohong




Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya



Happy Reding ♡♡



"Mikaela.." panggil Melvin panik



"Aawh.. ka aku masih kuat jalan ko" protes Mikaela ketika Melvin mengangkat tubuhnya



"Kakimu sakit Mik, maaf" ucap Melvin sambil melangkah pergi



Arva masih diam di posisinya. Satu kaki yang ditekuk dengan lutut kaki satunya yang menyentuh tanah



Mikaela sesekali melihat Arva yang sedang memutar tubuhnya "kenapa dia diem aja?" batinnya



"Ko aku ngarepin dia sih?" Mikaela memalingkan wajahnya ke depan. Bukannya ini yang diharapkan? Terbebas dari kekangan pria pemaksa yang belakangan ini mengganggu ketenangan hidupnya



"Semoga aja dia gak muncul lagi" batin Mikaela. Karena mau gimanapun kepribadian tadi itu yang asli dan gak seharusnya tubuh itu direbut oleh kepribadian yang lain



"Mik.." panggil Melvin.



"Ah ya.." Mikaela tersadar dari lamunannya



"Eh udah nyampe" lanjutnya lagi setelah menyadari tubuhnya yang sudah ada di atas ranjang, sedangkan lengan Melvin sudah memegang kapas dan betadin



"Jangan ngelamun.. ntar kesambet" ucap Melvin sambil meneteskan betadin pada kapas



"Ishh gausah ngomongin gituan deh ka" protesnya



"Kamu takut?" Tanya Melvin sambil meniupi luka di lututnya lalu mengusapnya dengan kapas yang sudah dilumuri obat merah



"Ahww.." ringisnya ketika lukanya diolesi



"Sorry huhhwh .." Melvin meniupi luka Mikaela agar mengurangi sakitnya



"Selesai" pungkas Melvin yang mulai bangkit dari posisi jongkoknya



"Makasih kak" ucap Mikaela tersenyum sambil sesekali melihat luka di lututnya



"Mik .." panggil Melvin sembari mengarahkan telunjuknya ke pipi Mikaela tanpa menyentuh



"Hemm .." jawabnya sambil menengok ke arah suara



"Aishh.." pipi Mikaela menyentuh telunjuk Melvin, membuat pipi nya membentuk lesung pipit akibat jari pria jail itu



"Hahaha" Melvin tertawa melihat Mikaela yang berhasil dijahili



"Kamu mau ngajak bercanda? Huh" seru Mikaela sambil menahan tawanya



Arva meninggalkan lapangan untuk menuju ruang kesehatan. Karenanya Mikaela jadi terluka, mungkin sebenarnya emang ulah si cewek prangko itu tapi ya tetep aja dia ngerasa bersalah



Jendela UKS yang tidak terpasang gorden, membuat siapapun dapat melihat semua yang terjadi di dalamnya. termasuk dua sejoli yang lagi ketawa-ketiwi disana



Gak mungkin karena habis gosipin orang kan? Yang biasa dilakuin sesama cewek. ini kan cewek sama cowok, terus berduaan pula. Ngobrolin apa sampe bisa seceria itu?



Arva mengurungkan niatnya, selangkah lagi ia sampai di pintu masuk tapi langkahnya ia ambil mundur. Untuk menjauh dan tidak ingin mengganggu kebahagiaan yang terlihat



"Eh kok lo pergi gitu aja sih ? jadi kalah taruhan nih kita" omel Rendra yang ngos-ngosan karena mengejar makhluk jagoan di timnya ini



"Kalah? Kok bisa? Lo gimana sih ditinggal bentar aja masa kalah" protes Arva



"Ya mangkanya ayoo" ajak Rendra lagi



Langkah Arva terhenti karena ada tubuh yang menghalngi jalannya



"Maaf" ucapnya



"Kenapa ke gue? Tuh dia yang lo dorong"



"Eng enggak.. aku gak sengaja" bohong Vanya. ia kesal dengan keberadaan Mikaela yang menurutnya akan menghambat kelangsungan hubungannya dengan pria incarannya ini



"minta maaf sama dia sana" titah Arva menunjuk ke arah ruang UKS dengan dagu nya. Yang jaraknya masih tepat di belakangnya



"Oke" patuhnya



"Tapi .. ini" Vanya mengasongkan botol minumannya




Vanya kembali menyodorkan botolnya lebih dekat, dan "yes diterima" batinnya



Arva yang ingin melanjutkan langkahnya pun kembali terhenti. "Sebentar .." ucap Vanya sambil mengeluarkan sapu tangan miliknya dan mengusap keringat Arva yang mengucur sekitaran jidat dan pelipisnya



"Wooyyyy" teriak Vino dari lapangan yang berada di ujung koridor



"Ck.. gue juga keringetan" ujar Rendra yang sedikit geram karna kemanisan yang diberikan perempuan itu



"Dih ogah" tolak Vanya mentah-mentah



"Lagian gue gak minta wlee" Rendra menjulurkan lidahnya



Arva segera pergi diikuti Rendra dibelakangnya yang masih memberikan mimik wajah mengesalkan pada Vanya. Seenggaknya hanya itu yang bisa dilakuin biar dapet respon tu cewek yang susahnya minta ampun. Mungkin aja kan?? berharap itu perlu



Padahal sebelum Vanya ketemu Arva dan akhirnya dia suka itu kan lebih dulu Rendra yang ketemu Vanya lalu langsung suka. Rendra emang suka type-type cewek nakal gitu, karena tempat maennya ya emang tempat dimana anak nakal berada



Tapi Vanya? Gatau kenapa dia itu beda dari cewek nakal lainnya. Dia satu-satunya cewek yang bisa langsung nolak mentah-mentah tanpa ngeliat pesonanya



Karena kebanyakan.. cewek-cewek sexy yang ditolak Arva itu semuanya bisa dideketin kalo Rendra mau. Vanya itu cewek yang gak gampang nyerah dan Rendra itu suka tantangan! "kalo gue orang yang dia perjuangin, gue lelaki beruntung" yakinnya.



"Semakin dia memperjuangkan cintanya, semakin gue akan lebih keras untuk bisa dapetin dia" lanjutnya.



Mikaela menghentikan tawanya ketika pandangannya jatuh pada pasangan yang ada di balik jendela. Mikaela mengepalkan tangannya ketika saputangan itu berhasil mengusap keringat pria itu



"Bohong" tekannya.



"Apa Mik?" Tanya Melvin yang memdengar samar suara Mikaela



"Uhh, enggak hehe" sargahnya sambil setengah tertawa



Mikaela kembali melihat ke arah jendela dan ia hanya melihat punggung Arva yang semakin menjauh dari jangkauannya



"Sorry" ucap Vanya yang tiba-tiba sudah ada di depannya.



"Kapan masuknya" batin Mikaela



"Gue gak sengaja" ucapnya penuh keterpaksaan



"Udah jelas disengaja, tadi kan posisiku gak ngalangin jalan. Aneh" batinnya lagi



"Cuman goresan gitu doang kan? Yaudah gue pergi" ucapnya yang langsung melengang pergi. Kalo bukan Arva yang nyuruh mana mungkin seorang Vanya mau minta maaf? Apa lagi sama cewek udik kayak Mikaela? "Wajah polos tapi caper ishh gue benci" gambaran seorang Mikaela dalam benak Vanya



Mikaela hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, memaklumi tingkah kakak tingkatnya yang menyebalkan bin mengesalkan baginya itu



kalo di kampusnya ini bikin penghargaan buat orang paling sabar dan pasrah maka Mikaela satu-satunya orang yang pantes jadi pemenang. Karena cuman dia yang secara terang-terangan dimusuhi oleh cewek yang punya pengaruh besar di kampusnya itu sama sekali tidak melakukan perlawanan



Bukannya takut, tapi ia paling malas dengan keributan. Kalau dengan mengakui kesalahan dapat membuat masalah itu selesai maka ia akan melakukannya walaupun itu bukan kesalahannya.



Mikaela ******** bibirnya dan melihat jam di tangan kirinya. "Eh udah mau masuk" ucapnya sambil turun dari ranjang yang didudukinya sejak tadi



Melvin ikut turun dari ranjang lalu segera meraih lengan Mikaela untuk keluar dari ruangan



Mikaela hanya bisa mengikuti langkah besar Melvin yang ada di depannya. Ia merasa tidak nyaman karena tatapan orang-orang yang membuatnya aneh, tapi Mikaela juga gak bisa nolak.



Lagian cuman pegangan tangan aja kan? Bukan berarti orang itu saling suka atau ada hubungan lebih? Lagian kan kakinya emang lagi sakit, jadi butuh pegangan karena cara jalan Mikaela emang jadi sedikit pincang



Bugh


Arva melempar bola basketnya dengan sekuat tenaga ke tanah. Membuat bola itu melambung tinggi dan memantul tak beraturan



Arva meraih botol minuman yang diberi Vanya tadi lalu meminumnya sekaligus, sampai airnya meluber keluar dari mulutnya dan membasahi kaos olahraganya



"Pegangan tangan? Ck udah kayak mau nyebrang" geramnya






Please like and comment !!