My Cold Senior

My Cold Senior
PERUBAHAN



"Lo yakin mau pulang?" tanya Rani masih ragu dengan keputusan sepihak dari Mikaela, padahal semua keluarga termasuk dirinya pun tak mengindahkannya.


"Aku yakin!" jawab Mikaela mantap.


"Nih, ngaca deh. muka lo masih pucat, gue ngeri ah. Mending lo nginep lagi aja, yah? biar besok aja deh besokk" Rani masih berusaha mengubah yang menjadi pilihan sahabatnya itu.


"Ini karena aku gak makeup an aja kok, jangan lebay deh" elak Mikaela yang tidak terbantah.


"Tapi Mik.."


"Rann, ini tubuh aku. Kok jadi kamu yang sok tau sih? aku ngerasa sehat-sehat aja" potong Mikaela yang langsung membungkam Rani, bukan lagi diam tapi gadis itu merasa tertampar tanpa disentuh.


Rani tak lagi bicara, percuma. Mungkin nanti ia malah kena semprot lagi, kenapa justru sekarang jadi Mikaela yang galak? bukankah biasanya gadis itu lembut dan penuh pengertian? lalu kenapa sekarang jadi Rani yang harus terpaksa untuk mengerti? ini aneh.


Cklek



Pintu yang dibuka Mikaela malah menampilkan sosok Arva yang menutupi wajahnya dengan seikat bunga.


Bukan bunga mawar ala lagu dangdut yang hits, ataupun bunga melati ala orang nikahan, melainkan bunga klasik yang diberi nama Gypsophilia atau Baby Breath, bunga yang melambangkan arti "Cinta Abadi".


"Arva!?" pekik Mikaela ketika mendapati hal yang tak terduga dari pria yang amat dicintainya.


Mikaela segera mengambil alih bunga yang disodorkan Arva, namun bukannya memeluk si pemberi, wanita itu malah memeluk erat seikat bunga yang diberi.


"Makasih" ucap Mikaela pada pria yang masih berharap mendapat perlakuan manis itu. Sebatas itu, nyatanya Mikaela kembali menilik detail dari bunga yang sama sekali belum pernah ia temui seumur hidupnya.


Arva segera mengambil alih benda yang ia pikir akan membuatnya semakin dipuja lalu segera memyimpannya di balik punggung sebelum Mikaela hendak merebutnya kembali.


"Kenapa diambil lagi?" keluh Mikaela dengan menampilkan paras sedih.


Arva tak tega, ia tak mau melihat ekspresi menyedihkan semacam ini dari wajah Mikaela. Dengan penuh keikhlasan maka pria itu kembali menyodorkannya "Tadi ada semut" jawab Arva.


Biarlah bunga ini digilai istrinya, toh masa suburnya hanya berlangsung satu hari, setelah itu Mikaela akan kembali kepadanya.


"Udah dibujuk?" tanya Arva pada gadis yang berada di belakang tubuh istrinya, dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar.


Rani menggedikkan bahu nya berbarengan dengan mengangkat kedua tangan di kedua sisinya. Arva dapat menangkap maksudnya, bukti kalau istrinya yang sekarang tidak akan terbantah semakin kuat.


"Thank's udah jagain Mikaela selama gue pergi" tutur Arva.


"Yaelah udah kayak sama siapa aja, lagian gue seneng kok, Mikaela kan sahabat gue satu-satunya." jawab Rani "Walaupun jadi agak galak" lanjutnya dengan semi berbisik.


Arva hanya tersenyum mendengar pengakuan Rani barusan, perubahan sikap istrinya akan semakin kentara, itu artinya ia tidak bisa menyembunyikan hal besar ini terlalu lama. Setidaknya mereka yang merasakan bisa paham dengan Mikaela.


"Selamat siang" sapa Steffi


"Siang" sahut semua orang yang berada di dalam ruangan kecuali Mikaela.


"Sepertinya Nona cantik ini sudah rindu rumah ya?" sapa Steffi pada Mikaela yang masih asik dengan bunga miliknya.


Mikaela mengangguk "Iya" sahutnya singkat.


"Baiklah akan saya izinkan, tapi ...."


"Serius dok?" tanya Mikaela segera berantusias ketika mendapati lampu hijau.


"Ada tapi nya" tambah Steffi, membuat Mikaela tak sabar dengan kelanjutan dari kalimat dokter wanita tersebut.


"Harus banyak istirahat dan teratur minum vitamin juga obat yang saya kasih. Deal?"


Mikaela segera mengangguk semangat "Deal" pungkasnya tanpa pikir panjang.


Arva hanya menggelengkan kepalanya, istrinya sudah seperti anak kecil yang diberi permen. Terkadang Mikaela terlihat menggemaskan, tapi juga terlampau menggemaskan sampai membuat dirinya tak mampu menolak apa inginnya.


Arva dan Mikaela sudah berada di mobil, bahkan senyum wanita itu masih belum pudar, Arva senang melihatnya, tidak apa, mungkin hal ini akan mempercepat proses pemulihannya.


"Sesenang itu?" tanya Arva.


"Banget" sahut Mikaela.


"Nanti kalau udah ada di rumah kamu bete lagi, terus mau jalan-jalan."


"Memangnya kamu gak mau ngajak aku jalan?"


"Mau"


"Yaudah kalau gitu aku gak akan bete" pungkaanya cerdas.


Arva berdecih, sepertinya semakin kesini Mikaela semakin pintar dalam menghadapinya.


Tangan Arva melayang ketika hampir menyentuh perut Mikaela, wanita itu sangat fast respon membuat kekeliruannya tak bisa teralihkan.


"Tangan kamu kenapa?" tanya Mikaela.


"Pegel hehe" jawab Arva yang berakhir membelai pipi Mikaela.


"Kuat jalan gak?" tanya Arva ketika membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Bisaa" jawab Mikaela, semakin kesini suaminya itu semakin aneh. Masa jalan cuman beberapa meter saja gak bisa sih?


Mikaela terhuyung ketika kaki nya berjalan satu langkah, untung saja Arva sigap menangkap tubuhnya.


"Sudah kubilang" protes Arva atas kekeras kepalaan Mikaela. Pria itu pun segera membawa tubuh istrinya ala bridal style, bahkan beban yang dibawanya kini terasa lebih ringan. Apa ia harus cuti bekerja untuk menjagai Mikaela sampai benar-benar sembuh?


"Masih pusing?" tanya Arva ketika sudah membaringkan Mikaela ke atas ranjang yang sudah lama tak dihuninya. Arva membawa pulang Mikaela ke rumah pribadinya, Mikaela tak boleh banyak berinteraksi dengan yang lain, termasuk kedua orang tuanya.


Arva takut pikiran-pikiran sederhana dapat mengganggu kestabilan Mikaela, apalagi kalau sampai ibunya tau tentang kenyataan bahwa keinginannya dan keinginan istrinya dalam memiliki anak kurang satu misi.


"Masih, tapi sedikittt" jawab Mikaela sambil mempertemukan ibu jari dan telunjuknya sebagai gerakan untuk menambah keyakinan.


Arva menyentuh kening Mikaela dengan punggung tangannya, suhu wanita ini sedikit hangat. "Kamu demam" keluh Arva "Minum obat ya, tadi kamu udah janji" lanjutnya.


Glek


Mikaela menelan salivanya berat ketika melihat benda pahit yang disiapkan tidak hanya satu, tapi tiga, itu pun ukurannya tidak bisa dikatakan normal.


"Dokter itu gila ya? masa obat segede ini bisa masuk ke tenggorokkan yang sekecil ini? aku gak mau" Mikaela segera menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan.


Arva menjatuhkan obat yang dimaksudkan Mikaela ke dalam air untuk dilarutkan "Ini vitamin, cara minumnya memang dilarutkan begini" jelas arva dengan enuh kesabaran.


"Ini baru ditelan, buka mulutnya" titah Arva, mengarahkan 2 tablet lainnya ke arah mulut Mikaela.


Mikaela menggelengkan kepalanya, rasanya pasti pahit, sudah tercium dari baunya yang menyentuh hidung. "Kamu udah janji" tagih Arva


"Besok aja yah? plis.." ucap Mikaela memohon bahkan ia sudah menampilkan pupil eyes andalannya.


"Gak ngaruh! cepet buka mulutnya!!" pinta Arva lagi sedikit tegas.


Mikaela masih tak mau menurut, oke untuk itu Arva akan melakukan pemaksaan.


Arva mengapit hidung bengir Mikaela dengan kuat, membuat mulut gadis itu terbuka secara otomatis lalu segera dimasukkannha 2 tablet secara langsung.


Mikaela terpaksa harus menelan benda yang sudah terlanjur berada di dalam mulutnya, pahitnya pun terasa sampai ubun-ubun.


Mikaela menghabiskan beberapa gelas air untuk menghilangkan rasa pahit dalam lidahnya, namun masih saja membekas.


"Pahit banget ih" keluh Mikaela. "Kamu tuh maksa, seneng ya liat aku kayak gini?" lanjutnya beranggapan.


"Kok seneng? kan biar kamu cepet sembuh"


"Iya tapi kamu gak tau rasanya kayak gimana kan?" delik Mikaela masih merasa kesal


"Aku tau, bahkan aku sampai gak bisa nafas luat kamu kayak tadi" elak Arva, mempertahankan peran keperduliannya.


"Ngomong doang, siapa juga bisa kayak gitu" Mikaela masih saja memperpanjang masalah.


"Terus kamu mau aku ngapain?"


"Ngerasain juga pahit obatnya kayak apa" jawab Mikaela


"Harus minum juga?"


Mikaela mengangguk mengiyakan.


"Kamu masih ngerasa pahit?"


"Iya! makanya cobain, rasanga gak akan hilang sampai.." ocehan yang keluar dari mulut Mikaela terhenti ketika tiba-tiba Arva memagut bibirnya tanpa permisi.


Lidah pria itu sudah masuk mengabsen rongga mulut Mikaela, mencoba merasakan pahit yang gadisnya deskripsikan secara berlebihan. Nihil, rasanya manis dan memabukkan, membuat Arva ingin mencecapnya lagi dan lagi.


Arva menyudahi pagutannya dengan menarik bibir bawah Mikaela dengan bibirnya "Masih pahit?" tanyanya pada Mikaela yang masih terhanyut, kedua matanya masih terpejam.


"Mari lakukan ini setiap kamu minum obat, biar aku merasakan rasa pahit yang kamu keluhkan" tutur Arva yang sontak membuat wajah putih Mikaela tiba-tiba memerah.


Arva menyadari situasi, sampai kapan wanita ini tak malu-malu di depannya? "Setuju?" tanyanya lagi.


Tak ada jawaban, Mikaela masih mngulum penuh bibirnya.


"Kalau diam maka kuanggap kamu setuju" pungkas Arva mengartikan.


Mikaela hendak memukul lengan atas pria penerjemah abal-abal atas kediamannya, namun ia merasa ada yang aneh pada bagian lehernya.



Benda yang mengalungi lehernya ternyata bertambah, sejak kapan ia memakainya? bahkan ia merasa tak pernah membeli kalung yang seperti ini.


"Suka?" tanya Arva ketika Mikaela sedang bersautan dengan dirinya sendiri.


"Kamu?"


Arva mengangguk "Siapa lagi? kalau ada lelaki lain yang berani maka aku akan.."


"Ck" decak Mikaela "Aku juga gak akan membiarkan lelaki lain memasangkannya!" tegasnya.


Arva menarik kedua ujung bibirnya, ya, ia mengharapkan mendengar kalimat semacam itu dari mulut Mikaela.


Arva kembali mencondongkan tubuhnya, lengannya sudah menyentuh tengkuk Mikaela, semakin dekat dan ...


"Bunganya mana?" tanya Mikaela, membuat posisi dekatnya kembali menjauh.


"Bunga apa?"


"Yang tadi kamu kasih itu.."


"Di mobil kayaknya"


"Kok ditinggal? ambil donggg aku mau kasoh pot biar gak cepet layu."


"Tinggal beli lagi" sahut Arva.


"Beli dimana? tokonya deket?"


"Di luar negeri, jauh banget, sebentar ya aku ambil" Jelas Arva membenarkan ucapannya. Lebih baik satu bunga lalu layu dan terlupakan, daripada banyak bunga semacam ini lalu ia yang layu dan terlupakan.


**Bersambung....


Jangan lupa follow aku di instagram: @Lovelyliy_ facebook/twitter: @lovelyliy95


Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa kasih vote yaaa**..



caranya klik detail lalu klik vote! biar cerita MIKAELARVA masuk ranking sampe 3 besar๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ thxu