
"Aku sudah izin dari kantor, papa juga paham kok, dia ngizinin" jelas Arva yang masih bertahan dengan pilihannya untuk menjaga istri terlebih dulu, barulah setelah itu perusahaan.
"Aku gak apa-apa Arv, kamu berangkat aja, lagian kan perusahaan udah jadi tanggungjawab kamu" balas Mikaela, ia menentang keinginannya untuk terus menempel atau suaminya akan bangkrut di usia muda.
"Cuman beberapa hari aja kok, sampai kamu betul-betul sehat, serius"
Mikaela menggelengkan kepalanya sebagai tanda tak setuju "Kamu mandi sekarang! siap-siap udah mau jam 7" kukuhnya.
Arva melenguh, ucapan wanita itu sudah seperti perintah yang wajib ditunaikannya. "Oke" turutnya segera bangkit dari kasur.
Mikaela tersenyum "Ini baru suami aku" ucapnya sambil melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Arva.
"Kamu mau aku berangkat atau enggak sih? jangan bikin aku gak males buat berangkat!" keluh Arva dengan perilaku manis yang diterimanya.
Mikaela segera melangkah mundur "Yaudah mandi sana, cari uang yang banyak, biar gak habis tujuh turunan" tuturnya.
"Turunan?" ulang Arva.
Mikaela mengangguk "Nanti kan kita juga bakal punya anak, memangnya kamu mau hidup berdua terus sampe tua?"
"Kamu serius?" kejut Arva merasa dapat lampu hijau.
"Iya, walaupun gak sekarang! kita masih punya banyak waktu" jelas Mikaela.
"Nanti?" ulang Arva kembali merasa ciut.
"Kamu kenapa sih? cepet sana, nanti telat" tuturnya sambil mendorong tubuh pria itu sampai masuk ke dalam toilet.
Mikaela sudah menyiapkan pakaian kerja untuk Arva di atas kasur, membuat Arva tak perlu ambil pusing dalam memilah kemejanya yang banyak pilihan. Walaupun begitu tapi pergerakannya lamban, ucapan sederhana yang wanita itu lontarkan masih berputar dalam kepalanya.
"Sayangg kok belum turun sih?" teriak Mikaela dari dapur yang ada di lantai bawah.
Tak lama dari itu Arva pun menampilkan sosoknya, membuat Mikaela mengurungkan niatnya untuk kembali berkoar.
"Sini duduk, sarapan udah siap dari tadi" ajak Mikaela segera menggandeng lengan suaminya.
Arva melihat jam tangan miliknya "Udah telat, aku makan di kantor aja" ucapnya.
"Kok? tapi kan.."
"Udah telat, gak enak dilihat bawahan, gak patut dicontoh"
Mikaela sedikit kecewa, tapi penuturan Arva sama sekali tidak salah. "Yaudah, jangan lupa makan ya nanti"
Arva sudah dalam perjalanan, ia menyetir mobilnya sendiri.
Ckiiitttt
Arva nge-rem mendadak, ia hampir lepas kendali menabrak trotoar.
Apa dalam keadaan seperti ini ia masih bisa fokus bekerja? kali ini tubuhnya benar-benar merasa lelah, pikirannya juga, batinnya juga. Mungkin setelah ini ia harus memperkerjakan sopir.
"Kamu kerja? istrimu gimana?" tanya Danu.
"Mikaela yang nyuruh, kayaknya dia udah sehat" sahut Arva berterus terang.
"Kayaknya?" ulang Danu, membuat Arva melihat ke arah suara.
"Berarti belum pasti?" tanya Danu lagi.
"Arva cuman turuti mau Mikaela pih, daripada nanti dia marah kalau Arva gak nurut" tutur pria itu.
"Wanita mana yang akan marah karena diperhatikan? gak ada Arva" ulas Danu "Kamu aja yang gak bisa bertahan dengan pendirian. Perusahaan biar papi yang handle, jaga kandungan istrimu benar-benar." lanjutnya.
Arva menghentikan aktifitas menulisnya lalu menjatuhkan pulpen yang dipeganginya. "Papi tau?"
"All about you. Papi tau semua, dari dulu sampai sekarang. Jangan anggap papi sebagai orangtua yang tidak perhatian" tutur pria paruh baya itu sebagai kalimat penutup sebelum akhirnya ditelan pintu ruangannya.
______________________________
Mikaela sibuk mencari kegiatan, sepertinya ia harus merengek kepaa Arva agar bisa kembali melanjutkan study-nya yang terhenti. Ilmu itu tidak akan pernah habis kan? seenggaknya ia menyelesaikan bangku kuliah, bukankah ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas?
Ahh entah mengapa pikiran Mikaela akhir-akhir ini berkelana terlalu jauh, topik utamanya adalah cari kegiatan agar tidak bosan! tapi apa?
"Bunga??" gumam Mikaela mengingat hal yang bisa dijadikan untuk mengisi kekosongannya.
Sekarang Mikaela sedang sibuk menata hiasan bunga di halaman belakang, sepertinya mulai sekarang ia akan menyukai hal ini. Mengurus tanaman agar membuat halaman rumahnya terlihat lebih bagus dan terurus, tidak buruk bukan?
Kring kring
Ponsel Mikaela berdering, padahal lengannya masih disibukkan dengan sebuah pot. Ini sedikit merepotkan!?
Byur
Handphone-nya berakhir di kolam, bagaimana ini? ia harus menyelamatkan benda itu sebelum kerusakannya benar-benar parah.
"Mikaela!!" ucap seseorang dari balik tubuhnya.
"Arva?" gumamnya amat sangat mengenal suara itu. Tapi ia menepisnya, mungkin itu hanya pendengarannya saja.
"Astaga sayang kamu ini apa-apaan? kalau kamu jatuh gimana?" Arva segera menarik tubuh wanita itu untuk menjauh dari kolam renang yang bagian sini memang bagian terdalamnya.
"Arva? kenapa disini? kamu gak jadi kerja?" heran Mikaela.
"Kamu yang ngapain disini? aku nanya!" tegas Arva dengan sorot mata yang sudah menajam.
Mikaela segera mengalihkan pandangannya, itu menyeramkan, mengingatkannya pada sosok Reza yang selalu membuatnya tersudut.
Arva melepaskan cengkramannya dari bahu Mikaela.
Byur
Pria itu menceburkan diri ke kolam, membuat Mikaela segera menjadi panik.
"Arv.."
Belum lengkap nama pria itu keluar dari mulut Mikaela namun Arva sudah menunjukkan sosoknya ke permukaan.
"Kamu tadi mau nyebur gara-gara benda ini?" ucap Arva sambil menyodorkan benda yang sudah dipastikan akan menjadi sampah.
Mikaela mengambil benda itu lalu membolak-baliknya masih menyimpan harap.
"Biar nanti kubelikan yang baru" ucap Arva sambil merebut kembali benda itu lalu membuangnya asal.
"Udah tau gitu kenapa diambilin?" delik Mikaela, tidak paham dengan sikap suaminya. Bukankah pengorbanan yang dilakukannya menjadi sia-sia?
"Biar kamu gak penasaran, kamu kan gitu orangnya, gak bisa dibilangin" keluh Arva.
Bukannya menyangkal atau menyalahi argumen Arva seperti yang biasa ia lakukan, tapi Mikaela malah merengkuh tubuh yang berkeadaan basah di hadapannya.
"Astaga nanti kamu ikut basah" kaget Arva yang tak menyangka dengan perilaku tak biasanya.
Mikaela tak mendengarkan, ia malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang pria itu.
Arva melenguh, biarlah, bukankah apa yang diinginkan Mikaela maka itu yang akan terjadi? ikuti saja.
Mikaela menampilkan wajahnya lalu mendongak untuk menelisik wajah yang sejak tadi ingin sekali dilihatnya.
Hening
Tak ada yang keluar dari mulut wanita itu, padahal Arva menunggui kalimat yang keluar dari sana.
"Kamu ini kenapa?" tanya Arva merasa awkword dengan situasinya, tatapan wanita itu amat meneduhkan sekaligus membuat jantungnya berdegup sangat cepat, hal yang langka bukan?
Cup
Arva tercengang dengan kecupan singkat yang diterimanya, ia tak mengerti dengan maksud Mikaela, tapi apa kesempatan ini harus ia abaikan?
Mikaela hampir meloloskan diri, namun Arva lebih dulu menahan pergerakannya. "Pakaianmu terlanjur basah" tutur Arva dengan senyum tipis yang menyertainya.
Bibir keduanya kembali menyatu, saling pagut dengan amat lembut, bukan gairah yang tak tertahan, melainkan sisi lainnya yang saling tak ingin melepas.
Arva tau kapan waktu memberi jeda untuk Mikaela menarik udara, begitupun Mikaela yang paham akan waktu yang tepat untuk menggantikan pasokan oksigen dalam dirinya yang menipis.
Napas keduanya beradu saling menyentuh kulit wajah, kalau dibilang cukup maka tidak akan pernah merasa cukup. Puas? apalagi, rasanya kata-kata seperti itu tak bisa menggambarkan perasaan keduanya.
Mikaela akan kembali memulai, namun kesadaran Arva sudah kembali, walau tidak sepenuhnya tapi itu bisa dianggap sebagai pertahanannya.
"Nanti masuk angin" ujar Arva setelah berhasil mengangkat tubuh Mikaela dengan kedua tangannya atau akan berlama-lama karena mendapat kata penolakan lainnya.
Mikaela tak menyerah, walau ia tak bisa mendapatkan bibir pria itu yang semakin seksi dalam penglihatannya, kini ciumannya menyentuh kulit leher Arva.
Bagai sengatan kecil yang Arva rasakan di sekujur tubuhnya, padahal tadi emosinya yang dibikin naik, lalu sekarang birahinya yang dibikin naik, wanita ini memang sesuatu sekali.
"Sayang, udahh" keluh Arva yang masih digelayuti Mikaela, padahal tubuhnya sudah dibiarkan turun menyentuh lantai tapi wanita itu rela berjingjit demi melanjutkan hasratnya.
"Ganti baju!!" titah Arva segera menutupi lehernya atau Mikaela akan terus menggigit kecil disana, dia itu manusia atau vampire?
"Kamu bisa tahan?" keluh Mikaela dengan berbagai cobaan mematikan yang sudah dilakukannya.
"Tahan apa?" tanya Arva berpura-pura tidak mengerti, padahal sesuatu sudah mendesak tubuhnya.
"Kamu gak lagi pengen?" tanya Mikaela lagi masih memberi kode, ia terlalu malu mengakui keinginan yang hampir tak pernah ia lakukan dalam umur pernikahannya yang sudah mau menginjak usia satu tahun. tidak kah memalukan?
"Pengen apa sih? cepet ganti baju, aku laper"
"Laper?" ulang Mikaela.
"Aku belum sarapan, mana sekarang basah-basahan, lapernya jadi double." jelas Arva lagi.
Mikaela menghela napas, ia pikir keinginannya ini tak perlu dituruti, lagipula Arva tahan dengan godaannya. "Yaudah deh, aku mau sekalian mandi" turut Mikaela.
Tenggelamnya Mikaela di balik pintu toilet membuat Arva bisa menghembuskan napas tertahannya puas, ia hampir menerkam wanita itu sadar-sadar kalau saja sekali lagi Mikaela menyangkali ucapannya.
"Lalu sekarang apa?" gumam Arva menyadari akibat dari ulah ekstrim istrinya yang harus ia tangani sendiri.
"Jangan dulu gauli istrimu, kandungannya masih terlalu muda, setidaknya sampai 3 bulan, atau kandungannya akan terancam. Saya harap kamu tidak melupakan apa yang sudah dialaminya, itu menjadi trauma baru baginya"
Sampai kapanpun Arva akan mengingat pesan dokter itu, sekeras apapun ia menahan hasratnya itu tidak sebanding dengan apa yang Mikaela lalui dalam menghadapi traumanya sendiri. Wanita itu tak terbiasa membagi luka, sehingga hanya senyum yang mampu wajahnya perlihatkan.
Amukan seperti apapun karena hal-hal kecil yang Mikaela tunjukkan sebenarnya itu efek dari hal besar yang mati-matian ia sembunyikan.
"Aku akan terus masuk ke dalam dirimu yang tidak terjangkau. Aku akan menjadi yang pertama dan satu-satunya sandaran yang harus kamu pergunakan, Mikaela."
Bersambung ....
Apakah dibikin leleh?? kebaperan dari bab sebelumnya better gak?? haha
Ohya aku punya pengumuman penting!!!!
Cerita baru yang On going, judulnya "i see !" kisahnya bergenre Romance Thriller, kek apatuh?? cek aja sendiri ๐