My Cold Senior

My Cold Senior
AROMA



Arva mematung di tempatnya. Ia tidak bisa membiarkan Mikaelanya pergi tapi ia pun tidak bisa memaksanya untuk tinggal.


"Kenapa diam? kamu ngebiarin aku pergi?" Mikaela berucap. Arva kira istrinya sudah berlalu, sejak tadi ia menutup matanya atau keinginan istrinya itu tidak akan pernah terjadi.


"Aku hanya menuruti inginmu." sahut Arva. "Pergi sekarang atau tidak sama sekali!" lanjutnya masih dengan pertahanannya.


Mikaela berdecak. "Anakku butuh ayah, dan aku butuh kamu!" ucapnya.


Arva membuka kedua matanya pelan, Pertahanannya runtuh, mungkin setelah ini keinginan istrinya itu tidak akan pernah terjadi. "Kalau begitu kenapa ingin pergi?"


"Memangnya tidak bisa pergi bersama?"


Arva mulai dibuat bingung, sebenarnya apa maksud dari wanitanya ini?


"Aku belum pernah melahirkan, jadi kita harus tinggal di rumah orangtua. Biasanya begitu!" jelasnya.


Arva segera menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas sofa panjang di dekatnya. Mikaela hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. "Aku kira apa." gumamnya menghembuskan napas panjang.


"Kenapa musti drama dulu sih? kamu hampir bikin aku mati berdiri tau nggak?" keluh Arva.


"Drama? kamu kira aku pura-pura sedih? memang dibohongin nggak sakit?"


Arva segera merangkul tubuh mungil istrinya. "Aku nggak bohong, hanya menunggu waktu yang tepat." tuturnya.


"Kapan? sampai anakku lahir?"


Arva tertawa kecil karenanya, mana mungkin seorang wanita bisa tidak tau dengan kehamilannya sampai tau-tau melahirkan. Tapi, Mikaela hampir ia buat begitu. Terlalu sulit baginya untuk jujur, ia terlalu takut kalau Mikaela tidak dapat menerimanya. Wanita ini terlalu sering menjadi korban keegoisannya.


Bahkan kata maaf saja sepertinya tidak dapat menebus semua kesalahan yang sudah dilakukannya. Tapi Mikaela pun tidak bisa benar-benar menyalahkan lelaki itu, keegoisan hanya karena terlalu menginginkannya, tidak ingin Mikaela hilang dari hidupnya.


Cup


Arva mengecup perut Mikaela yang sudah sedikit terlihat perubahannya. "Maaf!" ucapnya. "Mamamu bosan mendengarnya, jadi mulai sekarang kamu mau kan jadi perantara kami?" lanjutnya.


Mikaela berdecih. "Tapi aku masih bisa dengar." keluhnya.


Arva mendongak, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ia kembali memeluk tubuh istrinya, semakin erat dan tak ingin lepas. "Terima kasih." ucapnya. "Terima kasih selalu mengerti egoisku."


"Hemm." sahut Mikaela. Ia pun sadar akan kelapangan hatinya, Sepertinya untuk Arva stok kesabarannya tidak akan pernah habis.


"Mami pasti senang!" ucap Mikaela berangan.


"Tapi sebelumnya akan protes." sahut Arva. Awalnya hanya ia yang akan menyimpannya sendiri, tapi ayahnya terlalu gesit, dan memang sejak dulu pun pria itu selalu tau hidupnya hanya saja sekarang lebih pengertian.


"Terus gimana?"


_________________________


Shopia dan Danu sedang makan di ruang tamu dengan penuh hikmat. Selain budaya keluarga yang dilestarikan memang keduanya sedang berdamai, lebih tepatnya sesudah Danu bercerita dengan kebenaran yang diketahuinya.


"Pi kok biarin Arva pergi dari sini sih?"


"Nanti juga mereka balik lagi kesini, Mi!"


Shopia merasakan suatu kejanggalan dari kalimat yang dilontarkan suaminya. Ia cukup kenal dengan kebiasaan suaminya ketika cukup percaya diri dengan ucapannya maka pria itu tau sesuatu yang sama sekali belum diketahuinya.


"Nyonya, tuan Arva dan non Mikaela ada di ruang tamu!" bisik salah satu pelayan. Shopia segera meninggalkan makanannya yang masih tersisa banyak, jujur saja akhir-akhir ini selera makannya amat sangat berkurang.


Sepertinya Shopia sudah sangat merindukan anaknya, terlihat dari matanya yang berkaca-kaca menahan haru.


Arva sudah berdiri untuk menyambut pelukan sang ibu, namun ternyata langkah Shopia tak terhenti di situ, Shopia melewati Arva yang keberadaannya seperti tak terlihat, wanita itu memilih untuk memeluk Mikaela yang bahkan masih terduduk.


Mikaela yang sedari tadi menahan gugup segera berdiri untuk menyambut pelukan mertuanya.


"Maafkan mami, sayang!" ucap Shopia.


Deg


Rasanya tidak pantas orang tua meminta maaf pada anaknya. Sebersalah apapun orang tua, mereka tetap satu-satunya orang yang menerima maaf, bukan begini.


"Mami??" Mikaela segera melepas peluknya. "Kenapa minta maaf?"


Shopia menggelengkan kepalanya lalu berdeham pelan. "Emm mami cuman kangen sama kamu, sayang!" jelasnya.


Mikaela terdiam sesaat lalu menarik kedua ujung bibirnya, membuat sang mertua membalas senyum dengan ketulusan yang sama.


"Mi, di sini ada aku loh? mami gak niat menyapa anak mami?" delik Arva yang merasa dianggurkan.


Shopia segera tersadar lalu menghapus setitik air matanya yang merembes keluar. "Kelihatannya kamu lagi senang?" tebaknya.


Arva mengkerutkan keningnya. "Senang? dari mana mami tau?"


"Yah, sebelum kamu bawa pergi istrimu dari rumah wajahmu itu gak kayak gini!" tuturnya sambil menekan dimple milik Arva yang semakin kentara.


"Ada apa? huh"


"Mami akan punya cucu!" sahut Arva yang masih belum memudarkan senyumnya.


Hening.


"Mi, Mikaela hamil!" ucap Mikaela, lebih rinci dan men-detail.


"Ha-mil?" ulang Shopia.


Mikaela mengangguk.


Shopia tak kuasa menahan tawanya, ia tak bisa berpura-pura terkejut, bahkan sejak tadi Shopia merasa iba karena rasa bersalah Arva dan Mikaela sangat jelas terlihat.


Arva dan Mikaela saling lempar tatap penuh tanya.


"Kami sudah tau semuanya!" ujar Danu yang sedari tadi menjadi penonton.


"Papi cerita sama mami?" kaget Arva.


Danu mengangguk. "Kamu tau sendiri, mami kamu paling bisa bikin papi cerita."


"Mami gak marah?" Mikaela memastikan.


"Kenapa harus marah? mami justru sangat bersyukur akhirnya kamu mewujudkan mimpi kami, sayang." tutur Shopia kembali memeluk menantu kesayangannya.


"Satu yang gak mami kamu tau, Ketidaktahuan Mikaela tentang kehamilannya." bisik Danu pada Arva di sela percakapan istrinya bersama menantunya.


Arva membalas tatap ayahnya lalu beralih pada 2 wanita yang masih berbagi rasa. Ia akan pastikan, masalah itu tak akan pernah menjadi masalah di masa depan, anggap semua berjalan normal, tidak pernah terjadi sesuatu hal yang di luar nalar.


"Ya sudah, sekarang kalian ke kamar, istirahat!" ucap Danu, membuat Shopia sedikit melenguh karena merasa belum puas berbincang dengan calon cucunya.


Akhirnya masalah demi masalah sudah terselesaikan, rasanya hati yang kemarin sesak sekarang menjadi sangat ringan.


"Aku mandi dulu!" ucap Arva yang sudah bertelanjang dada, sedang bawahannya hanya dililit handuk yang ketika sekali tarik maka ....


Mikaela menelan salivanya berat. Perasaan yang sungguh tak biasa, tubuhnya seakan bergerak sendiri, dan bahkan sekarang kedua tangannya sudah menahan langkah suaminya dengan melingkar pada pinggangnya.


Entah kenapa Arva pun tak bisa melawan, tenaga istrinya seperti 2x lebih kuat darinya, buktinya sekarang tubuh Arva sudah terpojok pada tembok.


Tak ada pergerakan, sedari tadi Mikaela hanya menatapinya dengan lekat, entah apa maksudnya.


"Sayang, aku mau ...."


Cup


Sebuah kecupan singkat mengagetkan Arva.


Mikaela tersenyum, sepertinya ia suka dengan ekspresi yang diperlihatkan suaminya itu. Namun sial, Arva jauh lebih suka dengan ekspresi yang ditunjukkan istrinya.


Satu lengan Arva menahan pinggang Mikaela, sedang satu lagi menahan wajahnya untuk mengulangi aktivitas singkat tadi menjadi sedikit berlama-lama dan lebih memperdalam.


Kemampuan Mikaela bertambah banyak, kini wanita itu yang berinisiatif lebih dulu.


"Sa-sayanghh ...." tahan Arva ketika ciuman Mikaela sudah menjalar ke bagian leher, bahkan hampir menyentuh dadanya. Kalau terus dibiarkan maka sungguh Arva tak akan bisa menahan godaan ekstrim semacam ini.


Seolah tak mendengar Mikaela tak berniat menyudahi, ia bahkan mengendus bau tubuh suaminya yang beraroma khas, Mikaela sangat menyukainya, bahkan ia tak berencana untuk melepasknnya dalam waktu dekat.


"Ma-mami?" kaget Arva.


Mikaela segera menarik tubuhnya, wajahnya merah pekat, ia sungguh tak berniat menodai anak dari mertuanya itu.


Melihat terdapat celah, Arva segera melanjutkan niat awalnya untuk segera membersihkan diri, ia tak mau bermesraan dalam keadaan kotor.


Tak ada siapapun! Mikaela melenguh, ia bahkan belum puas dengan aroma tubuh suaminya itu, dasar pelit!!


Mikaela berasa pengap, ia segera membuka kancing celana jeansnya, dan perutnya benar-benar terlihat kembung, hanya saja bukan berisi angin.



Ia melihat pantulan dirinya di cermin, menyamping kanan, menyamping kiri, dan terus mengulanginya tanpa bosan. Mikaela sangat serius memperhatikan beberapa inci bentuk tubuhnya yang mulai berubah.


Cup


Sebuah kecupan basah mendarat pada kulit leher Mikaela, membuatnya merinding.


Mikaela segera berbalik, menghindari perlakuan lainnya yang mungkin akan terjadi. Namun kedua lengan Arva sudah melingkar pada pinggang Mikaela lalu memaksanya agar lebih dekat.


Seketika wajah Mikaela memerah


Uekk


Mikaela segera menutup mulutnya dengan tangan.


"Kamu kenapa?" panik Arva, mengikuti Mikaela yang sudah lebih dulu pergi ke washtafel.


Mikaela memuntahkan banyak cairan, walau bening namun pahitnya sampai ke ubun-ubun.


"Kita ke rumah sakit!" putus Arva.


"Aku gak apa-apa." sahut Mikaela yang sudah merasa lebih baik. Namun ketika tubuh Arva kembali mendekat, Mikaela kembali merasakan mual yang teramat sangat.


"Bau! aku gak suka!!" protes Mikaela ketika kembali merasa lebih baik.


"Bau?"


Mikaela segera berjaga jarak. "Tadi kamu wangi, sekarang bau! jangan deket-deket!!" tegasnya.


Arva tertohok, sepertinya Mikaela satu-satunya wanita yang berani mengolok-oloknya. "Tapi aku udah mandi, sayang!"


"Tapi aku gak suka bau kamu yang sekarang!" keluh Mikaela lagi.


"Pokoknya jangan deket-deket kalau gak mau aku muntah-muntah lagi."


"Ada apa ini?" Shopia muncul di balik pintu.


"Mami?" Mikaela segera menghampiri lalu bersembunyi di balik tubuh mertuanya.


"Loh ada apa, sayang?"


"Mikaela, Mih! aneh. Masa bilang aku bau katanya? anak mami dikatain bau, Mih? huahhh menantu mami ini emang bener-bener! protes Arva tak terima.


"Jangan deket-deket!!" tegas Mikaela lagi, namun Arva masih kukuh tak mau mengalah dan membenarkan anggapan istrinya yang mengada-ngada itu.


"Ahww awww" ringis Arva, karena Shopia menjewer telinganya. "Mami apaan sih?" protesnya.


"Kamu yang apa-apaan? istrimu udah bilang gak suka, jangan dipaksa!" tegasnya.


"Tapi mih ...."


Ueek


Mikaela kembali berlari menuju washtafel, ia benar-benar tak bisa menahannya.


"Ini bawaan kandungannya, kenapa kamu gak bisa langsung paham? huh." delik Shopia lalu segera menghampiri Mikaela yang tubuhnya sudah melemas.


"Mulai sekarang jangan hanya buku bisnis yang halamannya sampai ratusan aja yang kamu baca, tapi buku tentang kehamilan, biar kamu banyak tau, gak bodoh kayak gini!!" tutur Shopia lagi sambil membawa menantunya pergi ke tempat yang lebih aman.


"Bodoh?" gumam Arva. Oke, dalam satu jam harga dirinya telah dijatuhkan oleh 2 wanita sekaligus.


_______________________


Semalam Arva kesulitan tidur karena ketidakberadaan Mikaela di sampingnya.


Kring kring


Suara jam weker memaksa jiwanya kembali terjaga tepat pada waktunya walaupun waktu tidurnya berkurang amat banyak tetap saja ia tak bisa melewatkan kewajibannya.


Arva berusaha meraih jam weker yang ada di nakas, tapi tubuhnya terasa berat.


"Mikaela?" gumamnya ketika menyadari siapa yang sudah menghambat pergerakannya.


Setelah mencela dan membuatnya susah tidur, wanita ini begitu mudahnya kembali menempel seolah tak ada yang terjadi.


Arva berusaha melepaskan diri secara perlahan, namun Mikaela tak membiarkannya, wanita itu malah mempererat pelukannya, bahkan wajahnya sudah berada di antara bagian leher Arva.


"Sepagi ini?" gumam Arva.


**Bersambung ..


Jangan lupa follow aku di instagram: @Lovelyliy_ facebook/twitter: @lovelyliy95


Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa kasih vote yaaa**..



caranya klik detail lalu klik vote! biar cerita MIKAELARVA masuk ranking sampe 3 besar๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ thxu