
Happy Reading ♡♡
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Arva
Mikaela diam
Bukan tidak mau menjawab hanya saja suara pria itu tak sampai pada gendang telinganya. Bukan tidak dengar akan tetapi otaknya seakan tidak menerima pesan yang tersampaikan.
"Sayang" panggil Arva yang ke sekian kali nya tanpa mengurangi kelembutannya
Arva menghela napasnya pelan lalu menyangga dagu dengan kedua tangannya di atas meja.
Wanita itu mengerjapkan matanya ketika mendapat hembusan angin dari arah depannya, membuat si pelaku tertawa kecil karena keusilannya
"Kamu ini" protes Mikaela
"Mikirin apa sih?" tanya Arva
"Hemm enggak kok gak mikirin apa-apa." jawab Mikaela
"Jangan bohong"
"Emm tadi kamu nanya apa?" tanya Mikaela mengalihkan pembicaraan
Arva diam
Mikaela ******** habis bibir nya lalu melenguh "Aku lapar" adu nya
"Aku tanyain dari tadi kamu gak jawab"
Tanpa menyahut lagi Mikaela segera meraih daftar menu yang ada di dekatnya.
"Sudah aku pesankan" ucap Arva
Mikaela yang sudah membuka daftar menu itu kemudian menutupnya lagi "Pesan apa?"
Bukannya menjawab, Arva malah mengedarkan pandangannya ke segala arah, seolah tidak mendengar apapun
"Pesan apaa?" ulang Mikaela menambah intonasi suaranya
Arva masih tak menjawab
"Pesan apaaa??" ulang Mikaela yang dilakukannya tepat di depan telinga pria yang dengan sengaja mengabaikannya
"Ahww" Arva mengusap-usap daun telinga nya yang isi nya seakan pecah
"Rasain, makanya jangan pura-pura gak denger" cibir Mikaela tak acuh
"Kenapa jadi gue yang kena marah" batin Arva merutuki
"Kenapa? mau marah?" delik Mikaela
Arva tak bersuara, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, supaya lebih dekat dengan wanita yang tak sadar diri itu
"Kapan aku bisa marah sama kamu?" ucap Arva dengan jarak yang super dekat, membuat Mikaela ******** habis bibirnya
Eghemm ghmmm
mendengar dehaman yang tidak datang dari keduanya itu membuat sepasang sejoli ini saling menarik diri.
"I am sorry" sesal gadis yang mengantar makanan itu karena merasa telah mengganggu aktifitas kedua sejoli yang ada di depannya
Semua pesanan sudah siap di atas meja, dan pelayan penghantarnya pun segera kembali ke tempatnya.
"Makan yang banyak" ucap Arva sambil mengelus lembut pipi istrinya
"Biar malam ini kamu gak gampang capek" lanjutnya sedikit berbisik
Glek
Mikaela menelan salivanya susah payah
"Ma-malam ini?" ulang Mikaela
Arva mengangguk
"Kenapa harus diomongin disini sih" protes Mikaela
"Lagian disini gak akan ada yang ngerti kita ngomong apa" elak Arva
"Tapi kan bisa pas udah sampe kamar aja" keluh Mikaela
"Kamu ngerti maksud aku?" goda Arva yang merasa tidak harus menjelaskannya lebih rinci
Mikaela segera meminum air putihnya, tuduhan pria itu membuat kerongkongannya kering seketika
"Ternyata kamu sudah dewasa" tutur Arva sambil mengelus puncak kepala istrinya
____________________________
Kring kring
Ponsel Rani berdering
"Nomor asing?" herannya karena kode nomor yang menghubunginya bukan dari dalam negeri
"Ha.."
"Ran gue harus gimana nih??" potong suara yang ada di balik teleponnya
Rani diam
"Ran.. halooo Rann.. bantuin akuu" rengek Mikaela
"Mi-Mikaela? ya ampun sorry gue baru ngeuh. Lo kenapa? ada masalah?"
"Masalah besar"
"Astaga, apa gue harus nyusulin lo kesana? huh" tawar Rani yang mulai panik"
"En-enggak perlu juga sih. Gak seserius itu"
"Terus kenapa?"
"Hemm Arva kayaknya mau ngelakuin ini sekarang"
"Ngelakuin?" ulang Rani sembari termenung, mencoba menyerap arti dari kata tersebut
Nope. Rani tidak menemukan apapun dalam otaknya "Ngelakuin apa? gue gak ngerti"
"Ngelakuin ituu, emm ituu Rann"
"Itu itu apaan sih?"
"Ituu.. yang biasa dilakukan suami istri. Masa kamu gak ngerti sih"
"Terus?"
"Terus apa sih Ran? aku harus gimana inii"
"Ya harus.." ucapan Rani terhenti "Kalian belum ngelakuin itu? lo serius?" kagetnya
"Be-belum, makanya ini aku bingung"
"Astaga Mikaelaa .. selama seminggu ini kalian ngapain aja"
"Jalan-jalan"
"Terus?"
"Ya ngabisin waktu berdua"
Rani memukul kepalanya pelan "Kalo kayak gitu mah orang pacaran juga bisa kali Mik, yang bego lo atau suami lo sih? gak habis pikir deh aneh"
"Orang Arva aja baru nyinggung tadi kok"
"Dan lo gak inisiatif?? bagussss. Untungnya suami lo cinta mati sama lo"
"Kok malah kamu yang ngebet sih? aku sendiri aja bingung"
"Apasih yang lo bingungin?"
"Aku belum siap, Aku masih kebayang kejadian waktu itu"
"Tapi waktu itu kan lo sempet.. emm sorry tapi lo kan pernah melakukan itu sama dia. Harusnya gak canggung lagi dong"
"Itu karena aku di bawah pengaruh obat, siapa yang bisa ngendaliin coba?"
"Iya juga sih. Hemm kalo gak lo minum obat itu lagi aja"
"Apasih Ran? itu bukan solusi. Aku mau menyerahkan diri aku sendiri tanpa pengaruh apapun, tapi aku masih .."
"Kalo ditanya siap enggak nya siapapun gak akan ada yang bakal siap Mik, lo harus mikirin dia juga." potong Rani
"Bisa jadi selama ini dia gak pernah nyinggung karena dia mikirin lo, dia tau kalo lo gak siap. Tapi masa harus dia terus yang ngertiin lo kan? lo pun harus melakukan hal yang sama Mik, inisiatif. Cowok gak ada yang bisa sesabar ini loh" lanjutnya
"Tapi harus mulai dari mana?"
"Oh ya gue baru inget, waktu itu gue masukin baju ala-ala malam pertama ke koper lo, mungkin ada di paling bawah, coba deh lo cari."
"Aku pikirin dulu deh"
"Mikir lagi aja, gak ada waktu." protes Rani
"Udah sana siap-siap. Dandan yang cantik, bye" putus Rani segera mengakhiri
"Heran deh, kesannya kayak gue yang lebih pengalaman" keluh Rani merutuki dirinya
"Siapa?" tanya Melvin

Rani melihat ke arah suara, namun niat menjawabnya tidak terealisasikan. Tenggorokannya serasa tercekat
Melvin yang masih berendam di kolam menengok ke arah belakang tubuhnya, melihat siapa yang sedang menjadi objek penglihatan gadis di depannya
Rani tersadar, ia segera mengerjapkan kedua matanya yang paling tidak bisa melihat pemandangan roti sobek. Ia pandai menyembunyikan segala hal, tapi untuk hal ini maka kejadiannya akan seperti sekarang, terlalu kentara

"T-tadi Mikaela" sahut Rani lalu segera menyeruput minumannya dari ujung sedotan yang sedari tadi hanya dimainkannya saja
Melvin mengangguk paham tanpa berniat menanyakan hal yang lebih, atau gadis itu akan mengira kalau ia masih berharap pada wanita yang sudah jadi istri orang itu. Keterlaluan bukan? ingin tau bukan berarti perduli.
________________________
Mikaela meremas ponselnya. Ia masih memikirkan penuturan temannya barusan.
"Apa aku bisa?" tanyanya pada pantulan dirinya di cermin
"Sayang?" panggil Arva
"I-iya sebentar" sahut Mikaela
"Kamu sakit?"
"Enggak kok"
Arva menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal "Udah hampir sejam di dalam" herannya
"Sakit perut apa gimana sih?" lanjutnya yang mulai sedikit khawatir.
Arva menghampiri lemari kecil tempat p3k yang tergantung lalu memilah obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan istrinya. Pria itu kembali ke ranjang lalu menaruh obat yang ia bawa tadi di atas nakas yang ada di sampingnya lengkap dengan segelas air putih.
"Belum keluar juga?" gumam Arva yang masih tak melihat kemunculan istrinya
"Tidur duluan aja kali ya" lanjutnya dengan kesadaran yang hanya tersisa 5 watt
Cklek
Mikaela membuka pintu toilet untuk menyudahi pertapaannya.
Tap tap tap
Mikaela melangkahkan kaki nya menuju pria yang sudah menungguinya lama
"Arva" panggil Mikaela
"Udah tidur?" batinnya ketika mendapati kedua mata pria itu tak lagi terbuka
"Sini .." Arva menepuki tempat kosong di sebelahnya tanpa membuka matanya
"Minum obat dulu, biar perutnya gak sakit lagi" tuturnya pelan karena kesadarannya yang sudah hampir hilang
"Aku gak sakit" gumam Mikaela.
Arva tak lagi menyahut, pria itu malah merubah posisinya menjadi membelakanginya.
Mikaela menghela napasnya, ia mengabsen tubuhnya sendiri yang sudah terbalut kain tipis tak layak pakai.
"Kok masih berdiri disitu? sini.." suara Arva kembali mencuat, mau bagaimana lagi? jiwanya tidak akan beristirahat sebelum wanita itu berada di sampingnya.
Mikaela segera memeluk tubuhnya sendiri ketika suaminya bersandar pada tepi ranjang sambil mengawaskan pandangan yang masih belum fokus
"Kamu ngapain?" tanya Arva yang benar saja sudah menyadari keadaan istrinya yang mencengangkan.
"A-aku.."
"Aku ??" tagih Arva pada kelanjutan jawaban wanita itu
"Emm aku cuman.. aku cuman mau.. mau ambil baju hehe ketinggalan tadi. Kamu lanjut tidur aja" jelas Mikaela
Arva mengangguk paham lalu kembali pada posisi awalnya "Kalo udah langsung tidur ya, jangan gadang" tuturnya
"Kenapa kamu terima alasan aku gitu aja?" tanya Mikaela
"Hemm, alasan? maksud kamu?"
"Kamu tidak menginginkanku?"
Arva segera bangkit dari tidurnya, kantuknya seperti lenyap begitu saja.
"Kenapa kamu sesabar ini ngadepin aku?"
"Sayang kamu ini lagi kenapa?"
"Harusnya kamu itu jawab, jangan malah nanya lagi"
Arva diam
"Kamu benar-benar tidak ingin aku?"
"Kamu ngomong apa sih?" protes Arva tak terima, membuat Mikaela tersentak karenanya
Arva mengusap wajahnya kasar "Maaf, aku gak niat buat bentak kamu" sesalnya
"Aku cuman nunggu kamu siap" jelas Arva
"Kalo begitu, aku gak akan pernah siap" sahut Mikaela
Arva diam sejenak lalu bangkit dari ranjangnya untuk menghampiri wanita yang masih tak beranjak dari tempatnya
"Aku gak akan melakukan apa yang tidak kamu inginkan" tutur Arva sambil membingkai wajah istrinya
Cup
Arva mengecup kening Mikaela
"Jadi sejak tadi siang kamu berpikir keras tentang hal ini?" tanyanya sambil membawa wajah Mikaela untuk mengarah pada tatapannya
Mikaela mengangguk
"Dengan keberadaanmu saja sudah membuatku senang. Jadi jangan mikirin apapun lagi" ungkap Arva
"Ganti baju gih, nanti masuk angin" titahnya sambil men
Mikaela sudah berlalu sedangkan Arva yang sudah mati-matian menyembunyikan hasratnya akan kembali berbaring. Mungkin tengah malam, ketika Mikaela sudah tidur ia baru bisa menuntaskannya sendiri seperti biasanya.
Deg
Langkah Arva terhenti ketika sepasang tangan melingkar pada perut ratanya.
"Kok cepet?" tanya Arva dengan suara berat
Mikaela tak menyahut, ia membawa tubuh pria itu untuk berhadapan dengannya.
"Kenapa masih belum.." ucapannya terhenti ketika tangan wanita itu sudah bergerak untuk membuka kancing baju nya
Pandangan Arva sudah meremang, ia tidak mungkin lagi menahannya. Bahkan tangan Mikaela sudah menyentuh kulit perut nya, harus sekeras apa lagi ia menyiksa diri sendiri?
"Mikaela cukup." tegas Arva
Seolah tak mendengar apapun, Mikaela sudah sampai pada sabuk yang masih melekat pada pinggang suaminya
"Aku bisa sendiri" keluh Arva
Mikaela tak menyahut, ia masih sibuk dengan aktifitasnya
Arva sudah gelisah, ia harus segera menuntaskannya sebelum akhirnya lupa diri dan melakukan apa yang tidak seharusnya ia lakukan
Dengan tekad yang sudah bulat Mikaela segera memeluk tubuh yang ingin menghindarinya "Sekarang" ucapnya
"Lakukan sekarang" pinta Mikaela penuh tekanan
"Kamu akan menyesal" peringat Arva
Mikaela menghela nafasnya, bahkan pria itu lebih mementingkan dirinya di atas segala kelemahannya. Tak ada pilihan lain, ia harus mengawalinya, seperti apa yang Rani bilang
Bruk
Arva terjatuh di atas ranjang yang ada di belakangnya. Entah kekuatan dari mana yang datang pada Mikaela sampai bisa mengalahkan tubuh besar pria itu
Mikaela sudah duduk di atas tubuh pria itu, ia sidah berhasil meloloskan sabuk lalu melemparnya ke lantai. Kini tangannya sudah bermain pada kancing celana suaminya
"Aku beri kamu kesempatan terakhir. Hentikan atau tidak sama sekali" ucap Arva yang masih bisa mempertahankan kesadarannya
Arva mendengus, wanita itu sama sekali tak menghiraukan peringatannya.
"Ahhh" kaget Mikaela ketika pria itu sudah memutar balik keadaan. Kini tubuhnya berada di bawah suaminya
Arva menarik sebelah ujung bibirnya "Kamu tidak akan menyesal" tuturnya sebelum akhirnya bibir itu hinggap pada bagian leher Mikaela, membuat wanita itu langsung merasakan hal yang lebih ekstrim dari yang seharusnya terjadi di awal sentuhan
Banyak kissmark yang sudah tergambar pada bagian atas, namun itu tak kian membuat pria yang sedang dibuat mabuk kepayang itu merasa puas.
Sudah tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh keduanya, membuat tubuh mereka bisa saling merasakan sentuhan seutuhnya.
Arva membawa wajahnya untuk kembali melihat wanita yang terkulai pasrah dalam kukungannya "Kamu masih bisa berubah pikiran" tuturnya dengan nafas yang sudah berderu, menandakan tentang suatu hal yang sedang ia tahan
Mikaela berdecak, ia segera melingkarkan tangannya pada leher pria yang akan beranjak dari atas tubuhnya. Ia segera memagut bibir Arva penuh perasaan, dengan kebisaannya yang sudah meningkat, menukar saliva yang biasa pria itu lakukan padanya.
Tanpa mengedepankan logikanya lagi Arva segera mengarahkan miliknya pada milik wanita yang sudah membuat logika nya tak berjalan
"Akkhh" Ringis Mikaela ketika mendapati rasa sakit pada intinya yang hendak dimasuki sesuatu lalu segera menggigit bahu si pelaku untuk menahan kesakitannya walaupun rasanya tidak sesakit seperti yang pertama kali
Arva membawa kedua lengan Mikaela untuk berada di kedua sisi antara tubuhnya tanpa sedikitpun mempengaruhi ritme gerakannya.

Mikaela menggigit bibir bawahnya, walaupun tidak dapat membuat suaranya berhenti mencuat, setidaknya hal ini bisa meminimalisir.
Arva semakin mempercepat gerakannya, Ekspresi wajah wanita itu malah membuatnya semakin semangat untuk menjemput klimaks sesegera mungkin.
Arva segera memeluk erat tubuh wanita itu ketika sesuatu hendak keluar dari dalam tubuhnya.
"Mikaelaaaaa" geram Arva sambil menghentakkan tubuhnya beberapa kali
Cup
Arva mengecup kening Mikaela lembut "I love you" ungkapnya sambil mengusap wajah wanitanya yang basah oleh keringat
Mikaela tersenyum "Aku tau" sahutnya
"Kalau begitu kamu tak perlu membalasnya" balas Arva, dalam arti kalau ia pun jelas dengan perasaan wanitanya itu padanya.
Mikaela menggelengkan kepalanya "I love you so much" tuturnya, membuat Arva tak bisa berkata apapun lagi. Sebab hatinya sudah dibikin terbang jauh menembus langit yang kedudukannya paling tinggi
Arva yang hendak melepaskan diri segera tertahan ketika wanita itu kembali melingkarkan tangannya pada tubuhnya. "Kamu gak capek?" tanya Arva memastikan, kalau saja egois maka ia tak akan membiarkan wanita itu tidur sepanjang malam
"Aku capek" jawab Mikaela
Arva sedikit menyayangkan dengan jawaban yang didapatnya "Aku tau, tapi kenapa seperti masih ingin lagi?" herannya
Tanpa berniat menyahut Mikaela malah membuat pria itu berada di bawah tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada datar Arva lalu dengan perlahan memejamkan matanya.
"Sayang" panggil Arva pelan namun tak mendapat jawaban.
Baiklah, ia cukup paham dengan maksudnya. Ia sudah terbiasa memahami tanpa penjelasan. Ya, wanita itu yang membuatnya terbiasa.
Arva meraih selimut lalu menutupi tubuh polos keduanya yang masih saling menyatu.
Kalau ditanya sudah cukup maka jawabannya adalah TIDAK. Tapi karena rasa bahagia itu jauh lebih besar maka fokusnya tertuju pada hal besar itu.
Perlahan kesadaran Arva pun mulai berkurang tanpa membuat pudar garis senyum pada wajahnya.
"Ini cukup, sangat cukup" batinnya bersuara
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT