My Cold Senior

My Cold Senior
BIMBANG



Duh aku bikin nunggu lama lagi yaa ehehe sorry bebiiihhhh aku punya beberapa cerita yang lain soalnya, sama dengan yang ini, yang harus jalan sampai rampung. hohoooo sibuxxx nyaaa tapi selalu aku usahakan untuk update secepatnyaaa demi kalian ♡♡♡ Semoga otak dan pikiranku mendukung yaa


Happy Reding ♡♡


"Gimana dok?" tanya Arva cepat ketika dokter baru saja melepas stetoskop pada telinganya.


Steffi menghela nafas panjang, merasa bosan dengan pasien satu ini. Pasalnya yang selalu terbaring disini hanya Mikaela saja, sedangkan pria ini tak pernah. Ia merasa kasihan dengan pasiennya ini


"Harusnya anda bisa menjaga istri anda dengan baik" tutur Steffi


Arva tak menyahut, ia menyadari kekeliruannya kali ini.


Melihat tak ada sahutan lagi Steffi pun hendak pergi meninggalkan ruangan.


"Istri saya kenapa?" tahan Arva, menagih jawaban yang belum ia dapatkan.


"Kelelahan" jawab Steffi


"Hanya itu?"


Steffi mengangguk "Satu lagi.."


Cklek


Kedatangan seseorang membuat penuturan Steffi terhenti


Tatapan tak bersahabat datang dari Nayla, gadis itu terlihat tak senang dengan kakak ipar nya itu.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Arva


"Lo bisa jaga Mikaela gak sih?" tanyanya dengan nada dingin


"Apa begini cara adik berbicara dengan kakaknya? siapa yang mengajari?"


"Gak usah mengalihkan pembicaraan, jawab aja pertanyaan gue" balas Nayla


Arva melenguh "Gue menyesal, ini gak akan terjadi lagi"


Nayla mengambil 2 langkah untuk semakin dekat dengan pria di hadapannya. Gadis itu menatap ke dalam sorot mata kakak nya itu, mencari benih-benih dusta di dalamnya. Namun nihil, sorot matanya tajam dan tak memperlihatkan kebohongan sedikitpun.


"Gue pegang ucapan lo" ucap Nayla seiring dengan nada bicara yang kembali menghangat.


Arv tersenyum simpul, ia mengacak rambut gadis di depannya. "Lo banyak berubah, gue suka" tilai Arva, membuat Nayla memicingkan matanya tak paham


"Kalo gue keliru, tegur gue"


"Jadi lo bakal kek gini lagi?"


Arva menggelengkan kepalanya "Gue gak pernah melakukan kesalahan yang sama"


Nayla mengangguk pelan "Dan gue gak akan ngebiarin itu" tekannya.


"Minggir" ucap Nayla, padahal jalan masih luas, tapi ia terlalu malas untuk mengubah haluan, lebih tepatnya ia ingin sedikit saja membuat pria itu mengalah.


Tanpa banyak bicara Arva pun menyamping, membuat Nayla bisa menghampiri posisi istrinya yang masih terbaring di atas ranjang tanpa mengubah sudut ibu jari dari kaki nya walau sedikit.


Arva tersadar, sepertinya tadi ada percakapan yang belum selesai. Sosok dokter sudah tak ada di antara mereka, keluarnya dari ruangan ini pun ia tak tau kapan.


"Titip istri gue" ucap Arva pada Nayla.


Nayla berdeham sebagai ganti kata "Iya"


"Bangun dong Mik.." gumam Nayla sambil mengusap pangkal kepala wanita yang 3 tahun lebih tua darinya.


Entah sejak kapan ia merasa perduli dengan Mikaela, tapi seperti ada panggilan batin. Bahkan sekarang ibu nya pun sudah tak lagi berbicara buruk tentang Mikaela, bukankah itu bagus?


Nayla adakah type yang mudah kemakan omongan oranglain apalagi oleh ibunya, gampang dipanas-panasin, apalagi waktu itu merasa kasih sayang ayahnya jadi kebagi. Walaupun sekarang omongan buruk tentang Mikaela tak akan mempan untuk membuatnya kembali benci, tapi ketika ibu nya pun merasa simpati maka tak akan ada yang bisa mengusik pilihannya untuk menyayangi kakak sepupu nya ini.


Pikiran-pikiran kecil yang melintas pada kepala Nayla tiba-tiba terhenti ketika melihat mata terpejam Mikaela mengerjap samar.


Nayla ragu akan hal itu, lalu ia pun melihat bagian tubuh nya yang lain. Tak ada gerakan "Mungkin salah lihat" gumamnya menyesal lalu kembali memejamkan matanya yang terasa lelah akibat pelajaran yang sangat menguras otak di sekolahnya tadi.


Hiks hiks


Suara tangis samar terdengar, membuat kesadaran Nayla kembali.


"Mikaela" kaget Nayla, bingung antara harus senang atau bahkan sedih karena sekarang wanita yang tadi ia harapkan bangun malah menangis untuk mengawali kesadarannya.


"Lo kenapa?" tanya Nayla lembut, sangat lembut, bahkan sekarang matanya ikut berkaca-kaca


"Ada yang sakit?" tanya Nayla


"Apa aku cuman mimpi?" gumam Mikaela lemah


"Mimpi? apa?" tanya Nayla ingin tau banyak


Mikaela menggelengkan kepalanya, ia terlalu emosional sampai tak sadar kalau sekarang yang menemaninya adalah Nayla, gadis yang tak boleh banyak tau tentang masalahnya.


"Kamu disini? paman sama bibi?" tanya Mikaela, mengganti topik


Nayla menggaruk kepalanya yang tak gatal "Gue gak ngasih tau mereka, sorry" ucap Nayla. Setidaknya ia bisa memastikan Mikaela lebih dulu, jadi kalau sakit Mikaela tak begitu parah ia rasa tak perlu memberitahu orangtuanya. Ia tak suka melihat mama dan papa nya khawatir.


Mikaela mengangguk "Aku juga gak mau mereka khawatir" sahut Mikaela, seolah mengerti apa maksud dari Nayla walau gadis itu tak mengutarakannya secara langsung.


Nayla tersenyum, ini yang ia suka, Mikaela penuh pengertian, tak banyak menuntut pada siapapun.


"Sebernya lo itu kenapa?" Nayla kembali membahas


"Paling cuman kecapean" sahut Mikaela tanpa pikir panjang


"Cuman?" ulang Nayla tak bisa menerimanya


"Kalo tau kayak gini makanya jangan kecapean" tegas Nayla memperingati, benar-benar seperti orang yang perduli, Mikaela terasa hangat dengan sikapnya.


Mikaela mengangguk "Akan aku ingat" sahutnya


"Jangan cuman diinget" sahut Nayla lagi masih belum puas dengan jawaban tak pasti wanita itu.


"Siap cantik"


______________________


"Istri anda hamil, usia kandungannya.."


"Hamil?" kaget Arva


"Saya belum selesai" delik Steffi, tak suka ucapannya disela


"Usia kandungannya baru menginjak 2 minggu, maka dari itu jaga istri anda dengan baik. Tidak boleh kecapean, tidak boleh banyak memikirkan hal-hak yang berat" tutur Steffi


"Saya pikir anda tidak akan melakukan kesalahan yang sama?" tambahnya


"Bukankah selama ini istri saya mengkonsumsi obat kontrasepsi?"


"Ada kemungkinan istri anda sempat melupakan di satu waktu, atau mungkin juga memang kebobolan, banyak kasus"


Arva menelan salivanya berat, berita ini adalah hal yang ia harapkan sejak lama tapi bagaimana jadinya kalau istrinya tau? apa ia akan senang atau malah membenci kehamilannya??


"Pak.. pakk" panggil Steffi menjentikkan ibu jari dan jari tengah untuk menyadarkan pria yang terlihat bengong ini.


"Apa ada masalah?"


Arva menggelengkan kepalanya "Tidak ada penyakit yang serius kan?"


"Tidak ada, asalkan anda mendengar apa yang saya peringatkan tadi. Jangan biarkan istri anda kelelahan, baik fisik maupun pikiran"


Arva sudah keluar dari ruangan dokter, penuturan tadi maaih terngiang di kepalanya. Apa ia harus memberitahu istrinya sekarang? lalu apakah hal ini terlalu berat untuknya yang tak boleh banyak memikirkan hal-hal berat?


Ahh otaknya seperti akan pecah, harusnya dari awal tak boleh egois, tak hanya memikirkan keinginannya saja, harusnya ia bertanya akan banyak hal, harusnya ia merencanakan segala sesuatu secara bersama-sama.


Kini ia sudah berada di depan pintu ruangan dimana istrinya berada, terlihat di jendela yang ada pada pintu kalau wanita itu sedang bercakap dengan Nayla.


Sesekali ia melihat senyum Mikaela yang terukir, andai ia bisa membuat senyum itu selalu mengiasi wajah lembutnya. Kenapa sangat banyak sekali masalah? bisakah satu dekade saja hidup hanya ada dia, istrinya, dan cinta? tanpa mengajak masalah diantaranya, mungkin akan sedikit mudah.


Arva berniat untuk memberikan gadis itu sedikit ruang tanpa ada dirinya, tapi langkahnya terasa berat. Ia amat merindukan istrinya, amat sangat dan tak tertahan. Dan hanya melihat disini saja itu tidak cukup, bahkan tak mengobati rasa rindunya walau setitik.


Cklek


Arva membuka pintu ruangan pada akhirnya, merealisasikan kata hati nya, setidaknya bisa memeluk Mikaela sebentar agar kerinduannya sedikit berkurang.


Arva melangkah dengan percaya diri menuju wanita yang terlihat sedikit terkejut lalu berganti menatapnya lurus. Tak ada masalah, mungkin wanita itu masih terpengaruh obat bius


Bulir bening mulai membasahi pipi mulus Mikaela, membuat Arva sedikit bimbang, langkahnya pun mulai sedikit meragu.


Tangis Mikaela pecah, dan itu membuat Arva benar-benar menghentikan langkahnya. Memang benar, seharusnya ia memberi ruang untuk istrinya tanpa ada dirinya lebih dulu.


"Oke, aku pergi" ucap Arva segera memutar tubuhnya.


Bersambung...


Sebelum pamit aku mau kasih tau kabar nih...



Sebenernya "Obsession of Love" adalah cerita pertama ku lohhh, jadi sebelum bikin "My Cold Senior" aku lebih dulu nulis cerita yang diatas ini, cuman disini aku baru up aja hehe dan ceritanya sudah aku update sampai T.A.M.A.T jadi kalian bisa baca tanpa "Kak kapan update nya donggg" keluhan semacam ini 😂 yukk dibaca sambil nunggu "My Cold Senior" update lagiii, kenapa harus baca sekarang?? karena kurang/lebih seminggu lagi cerita "Obsession of Love" akan aku hapus kembali dari Mangatoon, karena sudah ttd kontrak di aplikasi lainn, jadi pindah publish hehe jadi cepett bacaaa sebelum aku hapus ceritanya.


Kabar selanjutnya..



Ada sequel nya 😌 seru kan? ya iya lah. Yang obsession of love dihapus, biar ada gantinya dengan kisah anak-anaknya yang tak kalah seru 😂😂 judulnya "ARION" yang ini masih on going, sudah aku update juga di Mangatoon, baru 4 bab, lagi nunggu banyak pembaca dulu baru update lagiiii... kan kannnn banyak banget bacaannn, aku baik kan? biar mengisi kekosongan kaliannn ehehe udah dulu ah kabar nyaaa yaa. Like dan komentar nya jangan lupa !!