
Gak up tiap hari banget gapapa ya?? harus sabaaarrr.. author selalu berusaha update sering kok cuman ternyata gak semudah itu hufft karena mikirin agar tingkat kebaperan yang harus menjadi lebih dan lebih biar kalian gak bosen baca ππ
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya π
Happy Reading β‘β‘
Danu menyudahi obrolan di teleponnya "Mereka mau pertunangan segera ditentukan" ucapnya pada Shopia
"Pertunangan?" ulang istrinya
Danu mengangguk lalu kembali fokus pada koran yang dibaca nya "Vanya dan Arva" jelasnya
"Tapi.."
"Lagipula Arva udah bilang setuju kan?" potong Danu
"Iya, tapi mami rasa Arva begitu karena emosi nya lagi gak stabil" keluhnya khawatir
"Mau gimana pun mereka harus tetap bertunangan, kalau tidak maka harga saham di perusahaan kita akan anjlok"
"Cukup pih, mami udah gak mau mengorbankan Arva demi perusahaan kesayanganmu itu lagi" sangkal Shopia segera bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan suaminya
_______________________
Mikaela sudah kesulitan bernapas sejak tadi, keberadaan pria itu membuatnya tak nyaman. Pria itu tidur dalam lahunannya, sampai membuat kaki nya kesemutan
Perlahan Mikaela mengangkat kepala pria itu agar bisa menyingkir dari sana, tapi pergerakannya terhenti ketika merasakan suhu tubuh pria itu tinggi, padahal tadi masih normal. Mungkin kepura-puraannya menjadi kenyataan
"Arva??" panggil Mikaela berusaha membangunkan pria itu sambil menepuk pelan pipi nya
Arva hanya melenguh lalu membawa lengan Mikaela yang berada pada wajahnya itu menuju ke celuk lehernya tanpa membuka mata
"Kamu demam, aku mau ngambil air kompresan dulu" ucap Mikaela yang masih tak bisa mangkir dari posisinya
Arva masih tak bergeming
Mikaela melenguh, tanpa meminta persetujuan pria itu lagi Mikaela segera memindahkan kepala Arva pada bantalan sofa.
Seketika Arva mengubah posisi tidurnya menjadi duduk lalu menarik lengan Mikaela yang akan meninggalkannya
"Arva" kaget Mikaela yang sekarang sudah berada di atas lahunan pria itu
"Jangan kemana-mana" ucap Arva
Mikaela berdecak "Aku mau ambil kompresan"
"Jangan lakukan apapun" timpal Arva lagi dengan kedua lengannya yang sudah melingkar pada tubuh Mikaela yang masih tak mau diam
"Badan kamu panas"
"Seperduli itu? mungkin lo seneng kalo gue mati" timpal Arva asal
"Mana ada demam bisa menyebabkan kematian?" protes Mikaela
"Lalu lo khawatirin apa?" tanya Arva menatap mata wanita itu instens
Mikaela yang tak lagi bisa membantah ucapan cerdik pria itu segera mengalihkan pandangannya untuk menghindari kontak matanya
Cklek
"Mikaela" panggil Rani sambil membuka pintu rumah Mikaela lalu seketika matanya membulat sempurna antara tak enak sudah menjadi pengganggu dan canggung karena ketidak tepatan kemunculannya
"Rani" kaget Mikaela melihat kedatangan sahabatnya, apalagi dengan posisinya yang seperti sekarang ini
"Ini gak seperti yang kamu liat" jelas Mikaela cepat setelah terlepas dari kukungan pria menyebalkan itu
Rani mengangguk "Oke" jawabnya
Arva menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu memejamkan kedua matanya tanpa memperdulikan obrolan kedua wanita yang mungkin sedang menyusun rencana untuk mengeluarkannya dari sini. Bagaimanapun itu tidak akan berhasil
"Gue takut lo kenapa-kenapa, jadi gue nyusul kesini" jelas Rani
"Aku gak apa-apa" jawab Mikaela
"Maaf udah bikin kamu kuatir" lanjutnya
"Syukur kalo lo baik-baik aja, kalo gitu gue langsung pulang aja deh" pamit Rani
"Loh kok pulang?"
Rani menggedikkan dagu nya ke arah Arva "Kayaknya dia sakit" ucapnya "Gue pulang ya"
Rani baru saja menutup pintu rumah Mikaela namun wajahnya hampir saja menabrak tubuh pria yang entah sejak kapan ada di belakang tubuhnya
"Eh, lo mau ke.."
Melvin menghentikan tangan Rani yang akan segera membuka kembali pintu yang sudah dibelakanginya "Gue nyari lo" jelasnya
"Gue?" heran Rani
Melvin mengangguk mengiyakan "Jangan ngehindarin gue" ucapnya
"G-gue? haha" Rani memaksa tawa nya
"Gue gak ngehindarin siapapun" ucapnya sambil melewati tubuh kakak tingkatnya itu
"Oke, kalo gitu gue anter pulang" ajak Melvin yang segera meraih lengan gadis itu untuk mengikuti langkahnya tanpa mendengar persetujuannya terlebih dulu
"Tapi .."
"Kalo lo nolak berarti lo emang lagi menghindar dari gue"
________________________
"Ini kita mau kemana?" tanya Rendra
"Loh bukannya ini jalan ke rumah Mikaela ya?" tanyanya lagi menjawab pertanyaan sebelumnya
"Bawel" ketus Vino
"Mau ngapain kesana malem-malem begini? tar digrebek warga tau rasa"
"Digrebek? emangnya ngapain?"
"Ya kan biasanya orang-orang yang tinggal di kampung begitu, maen grebek aja padahal pada maen kartu remi kan siapa tau"
"Lo pernah?"
"Jangan sampe, cewek-cewek gue kalangan atas semua jadi maennya di hotel" ucap Rendra menyombongkan diri
"Maen kartu remi di hotel? pfft" Vino tertawa karenanya
"Ck, kepo lu ah. Jadi mau apa kesana?"
"Nganter makanan, gue yakin dia belom makan"
"Separah itu, emang lo emak nya?"
"Emang kenapa dih nganter makan doang"
"Ya dia udah gede kali, kalo laper ya pasti makan, gak mungkin nungguin lo nganter makanan gini"
"Bacot lu" cibir Vino habis pembelaan
"Cemburu lo sama gue?" lanjutnya
Rendra berdecak, malam ini ia menolak wanita one night stand nya hanya untuk menemani pria ini mengantar makanan, sepenting itu??
"Lo suka sama Mikaela?" tanya Rendra asal
"S-suka? jangan sembarangan ngomong" sangkalnya sambil menoyor kepala temannya itu
"Kalo Mikaela denger gimana? bisa salah paham" protesnya lagi
"Ya disini kan cuman kita berdua" timpal Rendra jengah "Jawab aja iya apa nggak?" tegasnya galak
"Enggak lah" jawabnya.
"Bagus deh" gumam Rendra
"Kok bagus?"
Rendra kembali melihat ke arah pria itu "Dia kan punya Arva" ucapnya tenang "Pakek nanya lagi" protesnya meninggikan intonasi suaranya. Entah kenapa belakangan ini darahnya mudah sekali naik
Vino tak bergeming, ia kembali fokus dengan setirnya
brak brak
"Gue masih di dalem bego" kesal Rendra dari dalam mobil yang sudah terkunci
"Bukaaaaa" geramnya lagi dengan suara yang tak terdengar sampai ke luar
"Cepetan" titah Vino yang sudah menekan kembali alarm mobilnya
Blug
Rendra membanting pintu mobil kencang. Apa perduli Vino? lagi pula itu bukan mobil miliknya.
Sedetik kemudian langkah Rendra sudah mendahului Vino, namun selangkah kemudian menuju pintu pria itu menghentikan langkahnya.
Rendra segera menahan lengan Vino yang akan meraih knop pintu di hadapannya "Kenapa sih?" herannya
"Sssstt" Rendra berdesis sambil menaruh telunjuknya menempel pada bibirnya
Vino tak mau ambil pusing, tingkah temannya yang satu ini memang sering kali aneh, jadi ia tak perlu khawatir
"Lo apaan sih?" kesal Vino ketika tubuh pria itu menghalangi jalannya
Rendra menggedikkan dagu nya ke sela gorden jendela yang sedikit terbuka.
"Ngapain dia disini?" gumam Vino melihat sosok pria yang terlihat sedang menyuapi seseorang.
"Mungkin baikan" jawab Rendra
"Semudah itu?"
"Terus? gak ada manusia yang gak pernah salah. Jadi apa salahnya untuk memperbaiki semuanya" tutur Rendra.
Tanpa kata, Vino segera menarik dirinya untuk segera pergi dari tempat itu. Penuturan temannya memang tak ada yang salah, tapi entah kenapa itu membuatnya kesal luar biasa.
"Woyy mau kemana?" panggil Rendra pada temannya yang melewati posisi mobilnya
Vino memutar tubuhnya lalu melempar kunci mobil yang dipegangnya pada pemilik aslinya
Hap
Rendra menangkap lemparan jauh Vino dengan tangkas "Lo mau kemana?" tanya Rendra lagi yang belum menerima jawaban
______________________
Arva masih pada posisi tadi, bersandar pada sofa. Mikaela meletakkan kompresan handuk kecil yang dibawanya pada kening Arva, membuat pria itu membuka matanya spontan
"Gue gak kenapa-napa" Arva meraih kain basah yang menempel pada keningnya lalu melemparnya ke atas meja
"Kalo gitu ngapain kesini?" kesal Mikaela pada pria yang tak mau diurus itu
"Ketemu lo" jawab Arva
"Aku gak mau ketemu kamu" timpal Mikaela
"Gue gak perduli, yang penting kenyataannya gue ada disini sama lo"
Mikaela mngulum habis bibirnya, entah terbuat dari apa sosok di hadapannya ini, sama sekali tak bisa ditebak
"Kalo gitu kamu pergi sekarang" ujar Mikaela sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, percuma saja ia khawatir toh keperduliannya tak diterima
Krwuk krwuk
Mikaela merutuki dirinya karena perutnya yang kembali bersuara. "Dia gak denger kan?" batinnya.
"Mau kemana?" tahan Mikaela pada pria yang akan masuk ke bagian dalam rumah kecilnya
"Gue gak akan pergi kemanapun" ucap Arva sambil membingkai wajah Mikaela
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat pada kening Mikaela "Lo tunggu disini" titahnya setelah mendudukkan Mikaela di atas sofa, tempat dimana ia duduk tadi
Mikaela mengerjapkan matanya, lalu pandangannya mengikuti langkah pria itu. "Toilet bukan disana" susul Mikaela
"Kamu ngap.." ucapannya terhenti ketika melihat pria itu sibuk dengan kompornya "Emm ini nyalainnya gimana?" tanya Arva
Mikaela mengambil alih aktifitas pria itu "Mau bikin apa? biar aku yang.." lagi-lagi ucapannya terhenti ketika pria itu mendorong dirinya untuk menjauh
"Lo liat dari sana, mungkin bakal bikin lo semakin jatuh cinta sama gue" ucap Arva ringan sambil membongkar belanjaan yang dibeli Mikaela tadi
"Gue emang gak pernah masak, tapi bukan berarti gue gak bisa" ujar pria itu
Gak pernah masak mana boleh dianggap bisa masak? aneh kan? ya, cuman Arva yang bisa begitu.
Arva mengusap keringat pada pelipisnya karena sudah lumayan lama bermain dengan alat dapur. Kalau wanita itu peka untuk melap keringatnya mungkin rasa capeknya akan langsung hilang
"Selesai" pungkasnya lega
Arva mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati Mikaela yang sudah menutup kedua matanya seperti orang tertidur
"Ehh" Arva segera menyangga kepala Mikaela yang akan segera jatuh ke samping dengan telapak tangannya
"Udah beres?" tanya Mikaela yang seketika sadar dan kembali pada posisinya
Arva membawa semangkok salad buah bikinannya ke hadapan gadis itu "Bikin ini kan gak perlu pakek kompor" protes Mikaela
Arva segera mengasongkan segelas air jahe yang masih panas, menjawab keheranan wanitanya tanpa perlu berkata.
"Lo pasti belum bisa makan nasi, jadi gue bikin ini" ujar Arva "Gue baca di internet, katanya makan salad buah, biar gak mual" lanjutnya
"Mau gue yang suapin?" tawar Arva ketika wanita itu tak kunjung menyentuh makanan buatannya
"Biasanya bawaan bayi, pengen disuapin ayahnya" lanjutnya tertawa kecil
Mikaela mendelik dan masih menutup rapat mulutnya ketika sendok yang penuh buah-buahan itu sudah diarahkan pada mulutnya
"Bukannya kamu gak mau anak ini?" tuduh Mikaela, membuat Arva menyimpan kembali sendok yang dipeganginya
"Kamu mau aku gugurkan anak ini kan? aku gak mau. Kalau kamu gak mau anak ini gak apa-apa, aku yang akan mengurusnya sendiri" lanjut Mikaela
"Bukannya lo benci sama gue?" tanya Arva
"Kenapa lo malah mempertahankan anak itu? yang bahkan membahayakan hidup lo" lanjutnya
Plak
Sebuah tamparan yang sudah ingin ia lakukan sejak dulu akhirnya terealisasikan. Mungkin bawaan orok, tadi Arva yang bilang kan?
"Bukankah seharusnya pilihanku sudah menjawab pertanyaanmu? aku gak akan mempertahankan anak ini kalau aku.."
"Kalau apa?" tagih Arva
Mikaela menggelengkan kepalanya "Kamu gak perlu tau" jawabnya
"Untung gue gak gampang nyerah" ucap Arva "Jadi meskipun lo gak ngaku, gue bakal tetep berjuang" lanjutnya
"Bohong" ketus Mikaela sambil bangkit dari tempat duduknya
"Kemarin kamu pergi dan sekarang untuk apa kesini lagi? ada yang ketinggalan?" tanyanya
Arva mengangguk "Hati gue yang ketinggalan disini" tunjuk Arva pada titik tepat dimana letak jantung wanita itu
"Gue pikir lo sengaja donor darah biar anak itu gak selamat, itu yang bikin gue maksain diri buat pergi dari lo. Tapi nyatanya sangkaan gue gak bener" jelas Arva
"Gue setuju untuk mengorbankan kandungan lo hanya agar lo selamat, itu aja. Gak ada pilihan lain, Gue gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama lo" lanjutnya sambil meraih kedua lengan Mikaela
"Untuk kejadian kemarin gue minta maaf, gue gak akan ninggalin lo, gue gak mau kehilangan lo" tuturnya sambil mengecup lembut punggung lengan yang digenggamnya
"Gue mohon, lo pikirin hidup lo, lo pikirin gue" pinta Arva
Mikaela menggelengkan kepalanya lalu menarik lengannya "Aku gak mau" kukuhnya "Aku gak akan pernah menggugurkan kandunganku" tegasnya
Arva melenguh "Oke" ucapnya "Kalo gitu lo makan"
Mikaela kembali duduk dan segera menenggak segelas air jahe yang ada di hadapannya sampai tandas untuk menghilangkan dahaganya yang amat sangat
Namun setelah itu, tiba-tiba Mikaela menyentuh bagian perutnya yang terasa sakit luar biasa. "Arva" panggil Mikaela sambil meringis
"Lo kenapa?" panik Arva
"Perut aku, perut aku sakit" teriaknya sambil mengaduh kesakitan
β’
β’
β’
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment