
Hallo haiiiii ada kah yang rindu aku? ehh rindu Mikaelarva maksudku huhu
Mohon maaf author kelamaan hiatus yaa, kebetulan skripsiku sudah acc nihh berkat do'a dan dukungan kalian hehe tinggal sidang donggg yuhuuu do'a kan lancar yaaaa mudah2an dapet nilai A+++++++ yeee haha walaupun telat daftar sidangnya nih, jd harus ikut gelombang terakhir :( so sad
tapi gapapa ya, sama aja kan yang pentkng lulusssss lusss lussssssss
yaudah langsung aja ahhh, aku juga kangen Mikaela sama Arva nih, pengantin baru kiranya lagi ngapain yaaaa
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Masih bete?" tanya Arva
Mikaela masih setia mengerucutkan bibirnya, permintaannya untuk lebih lama berbulan madu walau sehari ternyata tidak dikabulkan suaminya
"Nanti kita liburan lagi kalau ada waktu" ucap Arva lagi masih berusaha memberi pengertian
"Hemm" jawab Mikaela hanya mendeham
"Apa? aku tidak dengar?"
Mikaela sedang malas meladeni candaan pria yang tak menuruti keinginannya, ia lebih memilih untuk memejamkan mata sampai pesawat mendarat di tempat tujuan.
Arva menghela nafas panjang, wanitanya itu ternyata lebih kekananakkan dari yang ia pikirkan sebelumnya, tapi itu bukan masalah besar, Mikaela tak akan kuat berlama-lama mencuekinya, lihat saja nanti.
"Sayang bangun" bisik Arva, yang ternyata langsung mendapat respon dari kelopak mata Mikaela, tidak seperti biasanya.
"Pelan-pelan jalannya" susul Arva mengingatkan
"Pengen cepet sampe" jawab Mikaela
"Kenapa buru-buru?"
Mikaela berdecak "Pengen cepet sampe" uangnya penuh penekanan
Tatapan sendu Arva mulai meredup, ia tidak menyangka kalau istrinya bisa berbicara dengan nada tinggi kepadanya.
Mikaela yang menyadari perubahan itu langsung bungkam, ia tidak bermaksud seperti itu, tapi suruh siapa memaksakan mood orang untuk berubah secepat kilat?
"Masih ngantuk?" tanya Arva lagi dengan nada lembut, membuat Mikaela kembali mendongakkan wajahnya
Cup
Arva mengecup kening Mikaela pelan lalu mengusap puncak kepalanya penuh kasih sayang "Sabar ya" ucapnya "Aku cuman takut kamu jatuh, memang bisa diobatin, tapi sakitnya pasti bisa dirasa, dan aku gak mau kamu sakit" tuturnya
Arva menggenggam lengan Mikaela lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Mikaela menjadi sangat merasa bersalah, tidak seharusnya ia semarah ini. Tapi sekuat apapun ia menahan, hati nya tetap merasa kesal dan butuh diungkapkan, hanya itu
Mikaela membuka sedikit jendela mobil taxi yang ditumpanginya, membuat hembusan angin menyentuh wajahnya dan itu cukup membuatnya tenang. Tapi tak cukup kalau hanya sedikit, Mikaela semakin mendekatkan wajahnya ke arah jendela, ia melihat lampu-lampu jalan yang dilewatinya lalu dengan berani mengeluarkan lengan panjangnya ke luar jendela untuk lebih merasakan kesegaran angin malam
Dari arah sampingnya terdapat pergerakan, dan benar saja aktivitas menyenangkannya diberhentikan oleh suaminya.
Arva menutup jendela mobilnya tanpa meminta persetujuan terlebih dulu, membuat Mikaela kembali mendelik ke arahnya.
"Katanya ngantuk" tutur Arva sambil menepuk pelan pundaknya sebagai tanda agar Mikaela memakai sandaran ternyamannya
"Nanti aja di rumah" jawab Mikaela sambil kembali berniat untuk membuka jendela yang sudah tertutup rapat
"Nanti masuk angin" cegah Arva
"Enggak akan" kukuh Mikaela
Cklek
Bunyi dari arah sampingnya, Arva menurunkan jendela sampingnya lalu segera merangkul tubuh istrinya. "Begini lebih baik" ucapnya
Mikaela tak bisa lagi berkutik, ia tak punya alasan untuk bisa lepas dari situasinya. Angin sudah berhembus menyentuh kulitnya dan bersandar pada dada bidang pria ini, tak bisa dipungkiri, memang nyaman
Perlahan kelopak matanya kembali terpejam, berbarengan dengan rasa kesal di hatinya yang pelan-pelan meluntur.
__________________________
"Loh, menantu mami mana?" tanya Shopia yang tak melihat kemunculan Mikaela di samping anaknya yang sedang menuruni tangga sambil mengancing lengan kemejanya
"Masih tidur mih" jawab Arva tepat di anak tangga terakhir
"Kok enggak dibagunin? biar mami yang bangunin ya.."
"Gak usah mih, Mikaela kecapek-an, kasian"
Shopia **** bibirnya, sebenarnya ia tak setuju, tapi melihat perhatian anaknya yang begitu dalam membuatnya diam mengiyakan
"Sudah siap melaksanakan tugas?" tanya Danu yang sudah selesai dengan sarapannya
Arva mengangguk
"Loh mau kemana?" tahan Shopia "Makan dulu" lanjutnya menahan kepergian anaknya
"Nanti aja di kantor mih, Arva udah telat" jelas Arva
"Gak bisa, pokoknya harus makan dulu."
"Mam.."
"Atau gak sama sekali" potong Shopia memberi pilihan
Danu bangkit dari duduknya "10 menit papi tunggu di mobil" ucapnya sambil berlalu
_____________________________
Keringat dingin membasahi wajah Mikaela, badannya bergetar dan nafas berderu kencang, rasanya sulit untuk membuka kelopak matanya
"Aaakkkhhhh" teriak Mikaela sekuat tenaga, memaksa jiwanya yang masih berkeliaran harus kembali pada raganya.
tok tok
"Mikaela??" panggil seseorang, membuat yang terpanggil segera kembali ke alam nyata
Cklek
Shopia membuka pintu kamar anaknya "Kamu kenapa teriak sayang?" tanyanya melihat sekujur tubuh menantunya yang basah dengan peluh seperti habis mandi
"Enggak apa-apa mih" jawab Mikaela memaksakan senyumnya
Shopia menghampiri posisi Mikaela lalu duduk di sampingnya "Mimpi buruk?" tebaknya tepat
Mikaela mengusap wajah kusutnya "Tapi udah gak apa-apa kok mih, maaf ya jadi bikin khawatir" sesalnya
Shopia menggelengkan kepalanya "Kalo ada apa-apa bilang ya, jangan sungkan." ucapnya
Mikaela mengangguk
"Sekarang mandi gih, udah jam 10 tuh"
Mikaela mengerjapkan matanya, ia segera melihat ke arah sampingnya yang ternyata sudah kosong, ia melupakan banyak hal.
"Arva.."
"Sudah berangkat ke kantor" jawab Shopia
Mikaela menundukkan kepalanya "Maaf mih" sesalnya lagi
Shopia tertawa kecil "Mami juga dulu kayak kamu kok, semua butuh proses, lagi pula Arva todak menuntut banyak kan? itu bagus" tuturnya
"Yasudah, sekarang kamu mandi, mami tunggu di bawah"
"Iya mih" turut Mikaela
Shopia tak keluar kamar sebelum melihat menantunya masuk ke dalam kamar mandi "Jadi ingat jaman dulu" gumamnya **** senyum
"Aku gak suka liat berantakan begini" tuturnya yang kembali mengurungkan niatnya untuk segera keluar dari kamar anaknya dan memilih untuk membereskan tempat tidur yang tak layak huni
Semua ini tak masalah untuk Shopia, selama anaknya baik-baik saja maka ia akan jauh lebih baik darinya.
Pluk
Sebuah benda terjatuh ketika Shopia mengangkat bantal, matanya membulat ketika benda jatuh itu sudah diraihnya "Apa-apaan ini?"
"Mammm .."
"Cepat pakai baju, mami tunggu di luar, mami mau ngomong" potong Shopia sambil melengang pergi
Mikaela mengerjapkan matanya, padahal belum setengah jam tapi senyum pada wajah mertuanya sudah tak ada "Mau ngomongin apa ya?" batinnya kembali menerka-nerka
"Mami beneran nunggu disini? katanya tadi mau nunggu di bawah"
"Ini apa?" tanya Shopia sambil menampilkan barang yang tak sengaja ditemukannya
"Ma mammi nemu di mana?"
"Mami gak suka kalo pertanyaan mami dijawab dengan pertanyaan lagi" peringat Shopia
Mikaela menundukkan kepalanya "Maaf" sesalnya
"Mikaela jawab" tuntut Shopia yang masih belum mendapatkan jawaban
"I-ituu pil mih"
"Mami tau, tapi buat apa? apa Arva meminta kamu untuk minum ini?"
"Mikaela lihat mami, mami gak akan terima kalau kamu memutuskan secara sepihak, Arva yang minta kamu?"
Mikaela mengangguk "I-iya mih" ucapnya berat
"Maaf sudah bikin kamu takut, mami gak ada niat jahat, mami hanya khawatir, maafkan mami ya" sesal Shopia sembari merengkuh tubuh Mikaela
"Maafin aku mih" batin Mikaela mengeratkan pelukannya
"Mikaela, kamu kenapa?" heran Shopia ketika menantunya tak berniat untuk melepaskannya
Mikaela segera sadar lalu menarik tubuhnya "Maaf mih, a aku cumann akuu kangen sama ibu" tuturnya
Shopia mengangguk "Sekarang mami juga ibu kamu, kamu boleh peluk mami kapan pun kamu mau tapi sekarang kita sarapan dulu ya, mami nungguin kamu lohh"
"Mami belum sarapan?" kejut Mikaela
Shopia terkekeh "Sebenarnya kelupaan sih, ngurusin suami sama anak jadi lupa sama diri sendiri" tuturnya di sela langkah menuruni anak tangga
"Mami gak nyindir kamu loh ya" lanjut Shopia, seolah tau kalau menantunya merasa terpojok
"Mami seneng kok masih bisa melayani anak mami yang walaupun sudah menikah, mami gak keberatan"
"Mami sayang banget sama Arva?"
"Loh iya dong, Arva kan anak mami satu-satunya. maka dari itu kamu harus melampaui cinta nya mami ke Arva, dengan begitu mami bisa tenang melepas Arva sama kamu"
"Iya mih, pasti"
_______________________
"What the ****!! si tua bangka itu dendam apa gimana sih? pertama kerja udah dikasih kerjaan segini banyak??" gerutu Arva
tok tok
"Maaf pak, ini berkas yang harus ditandatangani" ucap wanita yang diketahui sebagai sekertarisnya mulai hari ini
"Lagi?" tanya Arva
Karin mengangguk "Pak Danu yang.."
"Simpan disitu" tunjuk Arva di bagian meja nya yang masih kosong
"Kalau kerjaan gue segini banyak, dia kerjanya ngapain? cuman bikin gue kerjaan?" batinnya masih tak terima
tok tok
Arva yang sedang memijit kepalanya kembali berdecak "Apa lagi sih?" bentaknya meluapkan amarah yang ia tahan sejak tadi pagi
Hening
Arva yang masih menunduk mulai heran
"Kenapa marah-marah?" ucap seseorang yang kena semprot
Deg
"Sa-sayang? kamu kesini?" kaget Arva segera merutuki dirinya sendiri yang salah sasaran
Mikaela mengangguk lalu mengelilingi ruangan suaminya yang cukup besar untuk sekedar melihat-lihat
"Bagus" tilainya melihat warna cat dan segala perabotan yang senada
Mikaela kembali berjalan sampai ke arah jendela yang menampakkan pemandangan padatnya jalanan dari lantai paling atas di gedung kantor suaminya
Arva yang masih tertegun mulai menghampiri dan dengan nerani melingkarkan tangannya pada tubuh Mikaela dari arah belakang lalu menghirup wangi nya dalam-dalam "Akhirnya obatku datang juga" ucapnya
Mikaela menarik ujung bibirnya lalu mengelus lengan yang melingkar pada tubuhnya "Capek ya?"
"Sekarang udah enggak"
"Kok bisa?"
Arva memutar tubuh Mikaela agar berhadapan dengannya, ia mengabsen tiap inci wajah istrinya "Sejak kemarin aku gak liat senyum kamu" keluhnya
"Memang kenapa?"
"Aku mau lihat"
"Senyumku gak pernah berubah, kamu pasti ingat"
"Mana, aku ingin lihat"
Mikaela menguluk bibirnya, tatapan pria itu malah membuat jantungnya berolah raga
"Eh mau apa?" Mikaela menahan dada bidang Arva dengan kedua tangannya
"Mau apa lagi memangnya?"
"Ini di kantor, nanti kalo ada yang liat gimana?" keluh Mikaela
Arva melenguh "Semuanya gak boleh" ucapnya kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya malas
"Aku disuruh mami buat nganterin kamu makan" tutur Mikaela berganti topik
Arva melirik ke arah suara "Disuruh sama mami?" ulangnya
Mikaela mengangguk
Arva menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi "Yaudah simpen aja" ucapnya
"Kok disimpen? gak langsung dimakan?"
Arva menggelengkan kepalanya "Kerjaanku banyak"
"Padahal aku yang masak" ucap Mikaela yang sudah salah kaprah karena seolah bukan keinginannya untuk datang kemari, padahal ia memang berniat untuk menghampiri Arva karena merasa bersalah dengan kekesalannya kemarin yang berlebihan
Arva melirik sebentar, lalu kembali membuka berkas kerjanya "Simpen aja, nanti aku makan kalo inget"
"Apa? kalo inget?" protes Mikaela
hening
Arva tak berniat untuk menyahutinya lagi
"Kami tuh kenapa sih? aku kesel salah, aku baik juga salah, mau kamu apa?"
"Aku mau kamu nyamperin aku secara sadar tanpa diminta siapapun" balas Arva
Sudah diduga, memang kalimat tadi yang membuat Arva malah balas kesal padanya.
"Masa harus cerita sedetail itu, lagian aku gak akan dateng kalo memang aku gak mau dateng."
Arva menjatuhkan bolpoin dari sela jarinya "Terus?"
"Ishh kebanyakan nanya" delik Mikaela sambil sibuk membuka bekal yang ia bawa "Kalo kamu gak mau biar aku aja yang makan, lagian aku juga udah laper lagi" lanjutnya
Arva menahan sendok yang mengarah pada mulut Mikaela lalu memutar balikkan arahnya dan melahapnya "Aku belum makan sejak sd" ucapnya tak masuk akal
Arva mengunyah sambil mengedarkan pandangannya, sebab tuduhannya pada Mikaela membuatnya malu sendiri.
Mikaela kembali mengarahkan sesendok nasi pada Arva, membuat pria yang belum berhenti mengunyah itu kembali menganga
Mulut pria itu mengembung karena kepenuhan, membuat Mikaela **** senyumnya menahan tawa, sedangkan Arva tak perduli, matanya fokus pada garis senyum istrinya yang kembali dilihatnya
"Sekarang aku kerja, jadi aku harus bagi waktu, aku harap kamu bisa paham dengan ini" tutur Arva setelah menghabiskan makanan dalam mulutnya
Mikaela mengangguk "Aku ngerti kok, aku kesel karena mungkin mau mens aja, jadi kamu deh yang kena, karena wanita ada masa dimana merasa kesal tanpa sebab, jadi butuh dilampiaskan, aku harap kamu bisa terbiasa ya" jelasnya
"Mens?" ulang Arva
Mikaela mengangguk
Okkho okhoo
Arva terbatuk-batuk, membuat Mikaela segera meraih gelas yang ada di sampingnya "Pelan-pelan makannya"
"Kamu mens?"
"Iya, tadi pagi. Kenapa?"
"Jadi gagal?"
"Gagal? apanya?"
Arva mengusap wajahnya "Bayi itu belum bisa tumbuh di dalem perut kamu" sesalnya
Okkhoo okhoo
Sekarang Mikaela bergantian Mikaela yang terbatuk-batuk karena penuturan suaminya
"Ba-bayi?" ulang Mikaela setelah menandaskan air minumnya
"Iyaa, aku ingin kita cepat punya anak sayangg" ungkap Arva
"Sayang.. kenapa diem?" heran Arva
"Emhh bukannya aku gak mau, tapi aku mau berduaan dulu sama kamu, bukannya itu lebih romantis ya?"
Arva menggelengkan kepalanya "Kehadiran anak tidak akan mengganggu kita" pungkasnya "Malah akan semakin bagus, kita bisa mengurusnya berdua, apalagi ketika ada yang manggil aku papa, astaga aku udah gak sabar" lanjutnya berangan-angan
•
•
•
Jangan lupa like dan komen ya wajib sekali hukumnya!! karena percaya atau tidak, komentar dan like kalian berpengaruh pada tingkat imajinasiku dalam melanjutkan cerita ini😌