My Cold Senior

My Cold Senior
DIAM !!



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Nyari Mikaela?" tebak Vino yang sedari tadi melihat gelagat aneh pria yang duduk di sampingnya



Arva hanya menoleh lalu kembali melanjutkan aktifitasnya tanpa niat menjawab



"Gue denger sih dia gak masuk" ucap Vino lagi



"Gak masuk?" ulang Arva



"Tadi pagi si Rani nanyain lo"



"Kenapa lo gak bilang sih" protes Arva yang langsung mengambil langkah seribunya untuk memastikan kebenaran



"Ran" panggil Arva pada Rani yang termenung di bangku nya



"Gue nyariin lo dari tadi" protes Rani



"Mikaela gak ke tempat lo?"



"Maksud lo apaan sih? kan Mikaela balik bareng lo bukannya?"



Arva menggeram, ia mengepal tangannya kuat dan segera pergi saat itu juga



"Arvaaa.." panggil Rani menyusulnya sampai pintu kelas



"Arva Mikaela manaaaa??" teriaknya lagi dengan suaranya yang sudah serak



Arva memukul setirnya beberapa kali, kepalanya sudah mulai sakit sebagai pertanda ada yang ingin keluar dari dalam dirinya



"Kali ini biarin gue yang urus" tekannya menahan sakit sambil menstabilkan setirnya



Rasa sakit itu mulai mereda dan ia mulai menancap gas mobilnya sampai pada kecepatan maksimal



"Mikaela.." panggil Arva



Tak ada sesuatu yang aneh, semuanya rapi dan terlihat baik-baik saja. Arva sudah menelusuri tiap sudut rumahnya namun tak menemukan tanda-tanda



Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan jejak seorang gadis begitu saja? "Brengsek" teriaknya sambil membanting vas bunga yang ada di atas meja



Arva kembali menetralkan perasaannya, ia harus mengontrol emosinya agar otak cerdasnya dapat bekerja, atau jika tidak maka kepribadian itu yang akan mengambil alih



"Cctv" gumamnya mengingat hal yang seharusnya ia ingat sedari tadi kalau saja tidak emosi. Ia segera memasuki ruangan terpencil yang takkan ada satu orang pun yang akan menyadari keberadaan ruangan ini



"Bajingan" umpatnya ketika melihat sosok pria yang dengan berani menyentuh gadisnya.



_________________________



"Si Arva mau kesini gak??" teriak Rendra. Dentuman musik di tempat favorit nya ini memang mengharuskan para pengunjung mengeraskan suaranya jika mau saling mengobrol



Vino menggelengkan kepalanya "Enggak tau atau enggak akan? ngomong ngapa?" protes Rendra pada sahabatnya yang sudah seperti gagu



"Enggak akan!!" teriak Vino tepat di telinga Rendra



"Eh bangke gue gak tuli" protes Rendra. Yah begitulah jika mereka selalu bersama mungkin akan sama-sama memiliki penyakit darah tinggi dalam waktu dekat ini



Rendra masih mengusap-usap telinganya yang terasa panas, seketika ia melihat ke arah meja bar yang seperti sedang terjadi keributan



"Eh ada apaan tuh?" kepo Rendra yang langsung menghampiri tempat kejadian



"Vanya" gumam Rendra segera memisahkan dua wanita yang sedang saling jambak



"Lepasinn gueee" teriak Vanya meronta ketika Rendra menahan tubuhnya



"Lo mabuk?" ucap Rendra ketika melihat keadaan wanita itu sudah sangat kacau dengan bau alkohol yang mencuat dari sekujur tubuhnya



"Gue mau nyusul Arva lo mau ikut gak?" tawar Vino



"Gue.."



"Vanya?" gumam Vino setelah menyadari siapa yang ada dalam kukungan Rendra



"Kenapa?"



"Mana gue tau? lo pikir gue yang bikin dia begini" protesnya



"Yaudah gue nyusul Arva" ucap Vino



"Ada apa sih? kayak terjadi sesuatu yang serius?" telisik Rendra



"Lo urus aja dia, nanti gue kabarin" teriak Vino yang sudah menjauh



Rendra menghela napasnya panjang "Lo kenapa sih Van" keluhnya



"Gue harus bawa dia kemana?" gumamnya lagi



_________________________



"Ada keributan apa ini?" teriak Danu yang segera keluar dari rumah besarnya setelah mendengar sesuatu yang nyaring di telinganya



"Arva??" gumam Danu. Orang-orang suruhannya sudah habis babak belur, terutama pria yang menyentuh Mikaela, sudah dipastikan ia sekarat



"Bajingan" Geram Arva menghampiri Danu



"Lo ini manusia bukan?" Arva menarik kerah Danu sampai kaki pemiliknya menjinjit



"Dimana Mikaela sialan" amuknya lagi semakin menguatkan tarikannya



"I inii papi, sa dar kamu" ucap Danu terbata, sorot mata yang jauh dari milik anaknya. Sudah jelas ia seperti tak mengenali sosok yang sedang menyerangnya ini.



"Gue gak akan segan-segan bunuh lo keparat"



"Dia hanya gadis kotor" ucap Danu yang masih dengan pendiriannya



Arva memainkan alisnya, ia menarik ujung bibirnya menyeringai. Sudah pasti anaknya tak punya ekspresi mengerikan seperti ini



"Sayangnya gue bukan anak penurut yang lo tau selama ini, gue bisa ngelakuin apapun" ucapnya penuh tekanan



Bugh


Sebuah pukulan mendarat pada perut Danu, membuat pria paruh baya itu kesakitan luar biasa. Tenaganya yang sudah menua sudah pasti tak sebanding dengan milik anaknya. apalagi dengan amarah yang menyelimuti, itu akan membuat kekuatannya bertambah berkali lipat




"DIAM!!" Arva kembali membogem tubuh pria yang ia benci seumur hidupnya ini



"Arvaaaaaaa" teriak Shopia menahan Anaknya yang akan membunuh ayahnya sendiri kalau tak segera dihentikan



Arva tak menghiraukan teriakan wanita berumur 40 tahunan itu, ia kembali fokus pada hal yang harus ia habisi



"Arvaa mami mohon nak kamu sadar sayang" ucap Shopia lagi yang sudah menyentuh bahu anaknya



"Mami gak mau kamu jadi pembunuh lagi" tekan Shopia "Kamu akan menyesal"



"Ini demi Mikaela" lanjut Shopia sambil menahan isaknya



Arva melonggarkan remasan pada kerah ayahnya, Arva menekan kuat kepalanya







Rasa sakit yang tak akan bisa diumpamakan atau sekedar dibayangkan sekalipun. Ia menjatuhkan lututnya menyentuh tanah. Jauh di dalam dirinya, ia sedang berkecamuk dengan dirinya sendiri.



Musuh yang sebenarnya adalah diri sendiri. Tidak ada hal yang lebih sulit dari itu !



"Arvaaa" gumam Shopia berusaha meraih tubuh anaknya yang sudah melemah dan tak lagi melakukan perlawanan



Perlahan Arva mengangkat tubuhnya "Ma mami?" gumamnya seraya menetralkan ingatannya



Ia mengedarkan pandangannya, kedua matanya membulat sempurna dengan apa yang terjadi pada sekelilingnya.



"Pa papi?" ucapnya lagi tak percaya. Ia mengangkat kedua tangannya lalu membolak-balikan anggota tubuhnya itu. Punggung tangannya sudah sangat lecet dan jelas ia yang sudah mengakibatkan semua kekacauan ini



"Kamu harus mencari Mikaela" ucap Sophia



"Mikaela?" ulang Arva.



Ingatannya mulai normal, ia mengangkat tubuhnya "Tapi papi ?"



"Biar mami yang urus, kamu pergi aja" ucapnya lagi



Arva mengepal lengannya, mana mungkin ia bisa memukuli ayahnya sendiri secara brutal?? "Pi maafin Arva.." sesalnya yang kemudian segera melengang pergi dari pekarangan rumahnya



"Arv" panggil Vino yang baru saja akan melewati gerbang rumahnya



"Lo kenapa?" tanyanya kemudian, kekacauan yang terlihat dari pakaian Arva yang kusut begitupun dengan wajahnya



"Masuk" titah Arva menyuruh Vino untuk kembali masuk kedalam mobilnya



Arva segera naik ke tempat duduk samping kemudi "Kemana?" tanya Vino



"Cari Mikaela" jawab Arva



"Tapi cari kemana?" tanyanya lagi



"Jalanin dulu aja mobilnya, gue gak bisa mikir" ucap Arva jengah



_______________________



Cklek



Melvin membuka pintu ruangan dimana Mikaela berada. Gadis itu masih diam tak menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya, bahkan tak satu kata pun berhasil keluar dari mulutnya



"Mik.." panggil Melvin pelan



Dengan ragu Mikaela menoleh ke arah suara, lalu ia segera menciutkan tubuhnya, ia kembali memeluk tubuhnya sendiri.



"Gue Melvin.." ucap Melvin pelan, ia rasa gadis ini mungkin mengalami sedikit gangguan dalam ingatannya



Mikaela membalikkan wajahnya ketika Melvin akan menyentuhnya "Gue gak akan jahatin lo Mik" tutur Melvin yang sudah kehabisan kata-kata



"Apa gue harus kasih tau Arva?" gumam Melvin tak punya pilihan, hanya pria itu yang berhasil masuk dalam kehidupan gadis ini



Mikaela segera memegang lengan Melvin lalu menggelengkan kepalanya.



"Mik.." ucap Melvin antusias



"Jangan kasih tau Arva aku mohon" ucap Mikaela dengan mimik wajah memohon



Melvin mengusap rambut gadis itu lalu mengangguk paham "Kalo gitu gue hubungin paman lo"



"Enggak.. jangan beri tau siapapun aku mohon" tuturnya lagi dengan air mata yang mulai meleleh



"Gue gak akan kasih tau siapa-siapa asal lo cerita"



_______________________



"Arvaaaa" teriak Vanya lagi memanggil nama pria yang memenuhi pikirannya.



Rendra seolah tak terlihat, keberadaannya tak dianggap ada oleh wanita mabuk ini.



Rendra menggosok telinganya yang sudah jengah mendengar wanita itu terus memanggil-manggil nama pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri



Ia segera bangkit dari tempatnya namun kembali terjatuh pada posisinya ketika sebuah lengan tiba-tiba menarik tubuhnya



"Lo kenapa?" tanya Rendra pada Vanya yang menatapinya intens. Dadanya bergemuruh seketika, sungguh hal yang tak masuk akal. Sejak kapan seorang Rendra gugup di hadapan seorang wanita ? bukankan ia seorang player ??



Vanya meremas kerahnya, membuat pria itu berhadapan dengannya.



"Van.." gumam Rendra lagi untuk menyadarkan wanita yang seperti tak sadar akan tindakannya



Rendra tak lagi bergeming, bibir itu sudah menyentuh bagian wajahnya.



Rendra yang tak bisa lagi menahan dirinya segera menahan kepala Vanya dan memperdalam pagutannya



Suasana malam ini menjadi semakin panas, balutan kain pada tubuh keduanya sudah berceceran di lantai tak beraturan



Vanya mendorong tubuh pria yang sudah dikabuti nafsu itu sampai menyentuh bantal. Ia ingin mengontrol semuanya, ingin melampiaskan segala yang sudah tertahan dalam dirinya



•


•


•


♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡