
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Gimana Mikaela?" panik Rani yang baru datang
"Di dalem" jawab Arva singkat
"Gue heran deh kenapa Mikaela selalu sakit kalo sama lo, lo bisa jagain dia gak sih?" geram Rani menyalahkan pria yang sedang menunduk sendu itu
"Ini yang terakhir" timpal Arva tanpa mengubah posisi kepalanya yang menunduk
"Apa? emangnya lo tuhan, bisa mengatur semuanya"
"Gue janji ini yang terakhir kalinya dia sakit gara-gara gue" jelas Arva
"Bentar, lo sengaja?" tanya Rani
"Terpaksa, demi keselamatan.."
Tiba-tiba ada seseorang yang meremas kerah baju nya lalu membawanya bangkit dan memojokkannya pada sudut dinding "Lo sengaja bikin Mikaela kayak gini?" geram Melvin
Arva berdecak lalu menepis lengan pria itu untuk melepaskan pakaiannya "Lo gak tau apa-apa" tekan Arva lalu kembali pada posisinya
Melvin yang masih tak terima dengan jawaban pria itu akan kembali menghadangnya, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat gadis yang datang bersamanya atau ia akan gagal menunjukkan kalau sudah move on
"Mikaela hamil" ucap Arva ketika Rani hampir membuka mulutnya untuk meloloskan pertanyaannya lagi
"A-apa?" kaget Rani sambil menutup mulutnya yang menganga
"Ada sesuatu yang bikin dia harus menggugurkan kandungannya atau keselamatannya terancam. Lo pasti tau dia kayak gimana, dia keras kepala mau mempertahankannya" jelas Arva
"Gue harap lo jangan tanya apa-apa sama Mikaela, gue yakin Mikaela belum cerita apa-apa sama lo." lanjutnya
"Terus lo sengaja bikin dia keguguran?" tanya Rani dengan pandangan yang sudah meremang
"Gue terpaksa" jawabnya parau sambil kembali menundukkan kepalanya
Rani mengangguk paham "Mungkin yang lo lakuin emang salah, tapi tujuan lo bener" tuturnya
"Dok, gimana keadaan Mikaela?" tanya Arva segera menghampiri Steffi yang baru keluar dari ruangan yang sudah tertutup 2 jam lamanya
"Nona Mikaela baik-baik saja, jangan khawatir." jawabnya tenang
"Jika ingin melihat silahkan, hanya saja jangan diajak ngobrol dulu karena pasien masih sangat syok" jelas Steffi yang kemudian berlalu
"Lo gak masuk?" heran Rani ketika pria itu malah kembali duduk di tempatnya tadi
"Gue masih belum berani nemuin dia, lo masuk aja. Untuk sekarang dia lebih butuh sahabatnya" terang Arva
_____________________
Rendra kembali menekan nomor sahabatnya yang sedang kabur itu tapi lagi-lagi suara wanita yang muncul
"Nomor yang anda tuju.." Rendra melempar ponselnya ke jok belakang. Entah apa dosanya sampai-sampai persahabatannya bisa terpisah seperti ini
Biasanya ia yang selalu menimbulkan masalah lalu dengan bergantian kedua temannya selalu ada untuknya. Lalu kini? kedua temannya yang bermasalah dan ia harus mengurusi yang mana? tubuhnya hanya satu
"Rani" panggil Rendra membuat seisi rumah sakit melirik kepadanya. Suaranya terlalu kencang, ia segera menutup mulut embernya
"Arva mana?" tanyanya
Rani menunjuk pria yang sedang duduk teemenung di bangku depannya. "Orang segede gitu lo gak liat?" keluhnya
"Mikaela, dia dimana?" tanyanya lagi membuat gadis itu kembali mengirungkan niatnya untuk segera masuk ke ruangan
"Di dalem" jawabnya
"Ini gue mau masuk, lo temenin Arva aja" lanjut Rani
"Mik.." panggil Rani pelan
Mikaela segera menghapus jejak tangisnya berusaha tidak menunjukkan kesedihannya "Ran, kamu disini?" sambut Mikaela
Rani mengangguk "Kenapa lo pura-pura kuat di depan gue?" tanyanya
Tanpa bisa ia tahan lagi seketika butiran bening mulai lolos dari ujung mata Mikaela "Hiks, semuanya pergi ninggalin aku. Apa aku harus merasakan kehilangan seumur hidupku? apa separah itu" ucapnya sambil terisak
"Lo gak boleh ngomong gitu, ada gue." tutur Rani sambil mengusap pipi basah sahabatnya
Mikaela merubah posisinya menjadi duduk kemudian memeluk segera memeluk tubuh gadis yang membantu pergerakannya
"Ini bukan akhir dari segalanya. Lo harus kuat, lo harus percaya kalo lo bisa bahagia" tutur Rani yang ikut menangis terbawa suasana, seolah ia merasakan apa yang sedang dialami oleh sahabatnya itu
Mikaela mengusap pipi basahnya untuk menyudahi kesedihannya "Maaf, aku gak cerita. Aku bingung" ucap Mikaela membahas hal yang mungkin akan membuat Rani merasa tersinggung
"Gue paham, lo gak usah ngerasa bersalah" jawab Rani menenangkan
Rani mengkerutkan keningnya ketika Mikaela kembali membaringkan tubuhnya dengan membelakanginya
"Uhhm kalo gitu gue pamit pulang ya" pamit Rani setelah menyadari kehadiran Arva
"Enggak, Ran kamu temenin aku disini" tahan Mikaela
"Tapi.."
"Tadi kamu bilang gak akan ninggalin aku kan" tuntut Mikaela
"I-iya tapi kayaknya kalian.."
"Lo pulang aja, gak usah dengerin Mikaela" timpal Arva
"Ran" panggil Mikaela berusaha untuk turun dari ranjangnya
"Lo apa-apaan sih?" protes Arva membuat tubuh itu kembali terbaring pada tempatnya "Lo sakit"
"Aku gak mau punya hubungan apa-apa lagi sama kamu" tegas Mikaela
Arva mengalihkan pandangannya "Udah waktunya minum obat" ucapnya sambil meraih beberapa benda kecil yang sudah tersedia di atas nakas
"Aku mau kamu pergi dari hidup aku" ulang Mikaela
Arva tak bergeming, ia tetap melanjutkan niatnya yang sudah membawa butiran obat pahit itu mendekat pada mulut gadisnya
Prak
Mikaela menepis lengan pria itu, membuat beberapa butir obat yang dipegang Arva berhamburan di lantai
Arva menghela napasnya panjang, mencoba meredam emosinya. "Oke, biar nanti suster yang ngasih" tuturnya sambil beranjak pergi
"Bohong" ucap Mikaela membuat pria itu kembali diam di tempatnya
Prang
"Dasar pembohong, aku benci sama kamu aku benci" teriaknya sambil melempar asal barang-barang yang bisa dijangkaunya
"Mikaela sadar" ucap Arva sambil mencengkram kuat lengan atas gadis itu
"Pergiii" teriak Mikaela sambil menutupi kedua telinganya tak mau mendengar
"Ini demi kebaikan lo" bentak Arva, membuat gadis itu menghentikan perlawanannya
"Gue gak akan maafin diri gue kalau sampe lo kenapa-napa" lanjutnya melemah
"Udah aku bilang aku akan berusaha" jawab Mikaela
Arva menggelengkan kepalanya "Itu hanya keajaiban, dan gue gak percaya hal itu" ucapnya "Lo pikirin gue sekali aja gue mohon, gue cuman mau lo tetep ada di samping gue" lanjutnya
Mikaela menggigit bibirnya kuat, menahan isakan tangisnya yang tak bisa berhenti
"Sorry" Arva merengkuh tubuh Mikaela "Gue emang egois. Gue udah sering bikin lo sakit, gue minta maaf" tuturnya
Setelah gadis itu menenang Arva melepas pelukannya "Gue gak suka liat lo nangis, tapi gue yang malah sering buat air mata lo keluar" tuturnya sambil mengusap ujung mata sembab gadis itu
Cup
Arva mengecup kelopak mata milik Mikaela secara bergantian "Gue gak akan bikin lo nangis sedih lagi"
Perlahan Mikaela melihat kembali wajah pria itu dan kemudian menemukan sesuatu yang janggal. "K-kamu.." ucapannya terhenti ketika menyadari banyak barang berserakan di lantai
"Gue gak apa-apa" ucap Arva, menjawab rasa bersalah wanita itu ketika melihat pelipisnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat terkena salah satu barang yang mengenainya tadi "Sekarang lo istirahat"
_____________________
"Lo suka sama Mikaela?"
"Mikaela itu punya Arva"
Ucapan Rendra terus saja menggema di telinganya sejak semalam sampai membuat tidurnya tak nyenyak
"Gak mungkin" gumamnya
"Gue cuman kasian sama dia. Ya, gue cuman empati" lanjutnya membenarkan sangkalannya
Deg
Ia merasakan sesuatu menghujam jantungnya ketika mengingat cuplikan yang ia lihat semalam "Arghhh" geramnya menjambak rambutnya kasar sambil kembali membanting tubuhnya ke belakang
Vino meraih ponselnya yang di nonactive kan sejak semalam, mungkin saja ada yang mencarinya??
Kedua alis Vino saling bertautan ketika melihat kenyataan bahwa Rendra telah menghubunginya lebih dari 20 kali, mengalahkan pacarnya jaman dulu
"Woy lo kemana aja?" protes Rendra di balik ponselnya membuat Vino segera menjauhkan benda pipih itu
"Lo gak homo kan? kenapa sampe segininya sih, gue jadi ngeri temenan sama lo" tutur Vino malas
"Eh anjir lo kalo ngomong jangan sembarangan, kalaupun homo gue bakal cari cowok yang lebih cakep dari gue"
"Bacot" sungut Vino
"Lo dimana?" tanyanya
"Rumah sakit"
"Gue mau.." ucapannya terhenti ketika menyadari jawaban Rendra barusan
"Rumah sakit? ngapain?" herannya
"Nemenin Arva" jawabnya
"Semalem Mikaela masuk rumah sakit" lanjutnya, membuat pria yang akan segera memutuskan teleponnya kembali fokus
"M-Mikaela? kenapa lo baru ngasih tau gue?" kaget Vino segera bangkit dari kasurnya
"Eh kunyuk, dari semalem gue telfonin hp lo gak aktiv. Malah nuduh homo"
Tut tut tut
"Gak sopan" protes Rendra ketika sambungan telponnya diputus secara sepihak
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment