
Happy Reading ♡♡
Mikaela memegang perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi. Ia belum makan apapun sejak pagi, bahkan untuk keluar kamar saja ia tak mau
"Ck, gak bisa diajak kompromi banget sih" keluh Mikaela
Dengan perlahan, wanita yang sedang menahan lapar itu mengendap-endap untuk membuka kunci pintu kamarnya agar tak mengeluarkan suara sedikitpun
Mikaela tersenyum senang, usaha pertamanya berjalan mulus. Ia mengintip dari celah pintu untuk mengecek ketiadaan pria itu.
"Aman" gumamnya. Mikaela mulai melancarkan aksinya, ia sembunyi dari sela-sela tembok yang bisa dibuat persembunyian. Sekarang wanita itu sudah seperti pejuang negara yang akan menyelamatkan korban penyekapan.
Mikaela dapat bernapas lega, ia sudah sampai ke gudang makanan yang sedari tadi terus terlintas dalam isi kepalanya.
Ia membuka kulkas dengan sumringah tapi harapan hanya tinggal harapan, benda pendingin yang lebih tinggi darinya itu tak memiliki sesuatu apapun.
"Aaakkkkkk" teriak Mikaela dalam hati, ia mengacak rambutnya gusar.
Hanya ada satu telur dan beberapa sosis. Mikaela mendengus, mungkin pemilik rumah besar ini lebih mementingkan kemewahan daripada penyambung nyawa.
Mikaela mulai menyalakan kompor untuk memanaskan minyaknya, sambil menunggu panas ia mengiris bawang dan rempah-rempah yang dibutuhkan lainnya
Deg

"Kenapa repot-repot gini?" ucap suara bariton itu sambil mengecup pipi Mikaela
Dengan jantung yang sudah ingin lepas dari tempatnya, Mikaela hanya bisa memaku.
"Makanan udah siap di meja makan, gue nunggu lo keluar dari tadi" jelas Arva
"Lo masih malu?" tuduh Arva pada wanita itu. Sebab Mikaela tak membalas ataupun melakukan perlawanan seperti biasanya.
"M-malu?" ulang Mikaela sambil memaksakan tawanya
"Ngapain harus malu?" lanjutnya lagi sambil memudarkan kepalsuan dari ekspresi wajahnya.
Arva mengangguk "Oke, kalo gitu" ia menggiring Mikaela ke tempat yang seharusnya
"A-Arva?" kaget Vanya dengan pemandangan yang ada di hadapannya
Dengan sigap Mikaela segera bersembunyi di balik tubuh tegap itu, membuat sang pemilik tubuh menatapnya heran
Dengan wajah yang sudah memerah Vanya masih berusaha menampilkan senyumnya "Kok cewek itu ada disini sih?" tanya Vanya dengan nada tenang yang dibuat-buat
"Kenapa lo kesini?" tanya Arva tanpa menjawab apa yang jadi pertanyaan yang dilontarkannya
"Tadi gue ke rumah, mami bilang lo gak ada. Jadi gue tau kalo lo pasti di sini" jelas Vanya
"Mau apa?"
"Gue khawatir aja, lo gak ada kabar beberapa hari ini" jujur Vanya
"Mikaela, lo ngapain disini?" tekan Vanya, tanpa membuat Arva curiga dengan amarah tertahannya
"A-aku.."
"Gue tau lo diusir dari rumah paman lo itu, tapi bukan berarti lo bisa tinggal di rumah cowok kan?" sindir Vanya
"Cewek macem apa lo?" murahan" gumamnya lagi
Rasa lapar sudah hilang seketika, omongan pedas memang bisa menggantikan nasi untuk mengganjal perut.
Arva hanya diam tak bergeming, kenapa ia tak membelanya di depan wanita ini?? kenapa sama sekali tak menyalahkan tuduhan itu?
Mikaela mengangguk "Aku juga mau pergi" ucapnya. Pria ini memang plin-plan, kenapa tak bisa menunjukkan keberpihakkannya pada salah satu? pengecut
Mikaela sudah mengurung diri lagi dalam kamarnya, pria itu tak menyusulnya sama sekali. Kalau memang suka sama wanita itu kenapa cowok itu harus mendekatinya? apa karena pria itu sudah mendapatkan apa yang ia mau??
Tubuh Mikaela merosot kebawah, air matanya jatuh begitu saja. Wanita itu sedang tak mau menahan apapun, kalau dugaannya benar, maka kali ini ia sudah benar-benar hancur
Ibunya pergi untuk selamanya, pamannya tak menganggap keberadaannya, Rani? teman terbaiknya pun sudah memutuskan tali persahabatannya. Lalu? pria itu?
"Aku gak boleh kalah" tegas Mikaela sambil menghapus kasar air matanya.
________________________
"Mikaela.." panggil Arva dibalik pintunya, sudah beberapa menit menunggu pintu kamar itu tak kunjung terbuka. Siapa lagi yang bisa membuatnya menunggu seperti ini? kalau bukan wanita itu maka pintu kayu jati ini sudah roboh
Cklek
Pintunya terbuka tak terkunci. Tapi kamar itu sudah rapi tak ada tanda-tanda keberadaan Mikaela disana
Arva segera mengecek lemari pakaiannya, pria itu bernapas lega, pakaiannya masih terkumpul disana. Wanita itu tak mungkin kabur tanpa membawa barang-barangnya kan?? apalagi tanpa membawa pakaian dalamnya, sudah pasti itu suatu hal yang tak mungkin terjadi
"Tapi kemana dia??"
Mikaela menautkan kedua tangannya, ia mengumpulkan keberanian untuk bisa menghadapi sahabatnya. Masalah itu dihadapi bukan dihindari, masalah gak akan selesai kalau kita tidak berusaha untuk menyelesaikannya.
Ia sengaja berangkat sangat pagi, jauh sebelum Arva bangun. Selain untuk menghindari pria itu, Mikaela juga ingin datang lebih awal dari pada Rani.
Sosok gadis yang ditungguinya sejak tadi sudah menampakkan hidungnya. "Rani" gumam Mikaela ketika gadis itu melewatinya begitu saja, bahkan ia tak lagi duduk di kursi yang ada sampingnya.
"Ran .." panggil Mikaela mengikuti langkah gadis itu yabg memilih untuk duduk di bangku paling belakang.
Rani menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari siapa orang yang dimaksud perempuan yang ada di belakangnya. Ia memutar tubuhnya "Gue?" tanya Rani
Mikaela segera meraih kedua lengan gadis itu "Aku mau jelasin.."
"Jelasin apa sih? gaada yang perlu dijelasin" sangkal Rani sambil menarik kembali lengannya
"Tapi.."
Kalimatnya terhenti ketika ada suara dosen yang baru masuk ke kelasnya. Rani pun sudah bergegas untuk duduk di tempatnya, dengan langkah berat Mikaela juga kembali ke tempat asalnya.
_______________________
"Ran dengerin.." Mikaela masih menyusul langkah besar gadis yang tak mau mendengarkannya itu
"Mikaela.." panggil seseorang, membuat Mikaela menghentikan langkahnya, begitupun dengan gadis yang sedari tadi dibuntutinya
"Kak Melvin.." gumam Mikaela
"Kak.. jelasin sama Rani dong kak kalo waktu itu aku gak sadar, aku gak tau apa yang aku lakuin" pinta Mikaela
Rani diam mematung, melempar tatapnya secara bergantian pada dua sejoli yang ada di depannya
"Gue.." Sebegitu sulitnya pria itu menggerakkan lidahnya hanya untuk sekedar menjelaskan
"Kak.." keluh Mikaela
"Lo gak usah jelasin apa-apa Mik, kak Melvin juga gak keberatan kan?" ucap Rani meanmpilkan senyum tipisnya yang sesungguhnya menandakan perih pada hatinya
"Ran gak gitu.." Mikaela kemnali berusaha menyusul langkah sahabatnya yang sudah tak lagi diam pada posisinya
"Mik.. gausah" tahan Melvin
"Apasih kak?" tanya Mikaela tak habis pikir
"Kenapa kakak gak jelasin semuanya sama dia sih? kenapa diem aja?"
Melvin menghirup napasnya panjang "Lo tenang dulu" ucapnya
"Sekarang udah baikan?" tanya Melvin setelah perempuan itu sudah mendinginkan pikirannya dengan jus jeruk yang sudah tinggal setengahnya
Mikaela mengangguk mengiyakan. "Oke, jadi gini. Gue juga gak tau kalo kemarin itu lo dalam keadaan sadar atau enggak, semua terjadi gitu aja dan gue juga gak bisa nahan karena.." penjelasannya terhenti
"Karena ??" ulang Mikaela meminta kelanjutannya
"Karena dia suka sama lo" ucap suara seseorang dari arah belakangnya
•
•
•
♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡
Like Like Like
Comment Comment Comment
♡♡♡