My Cold Senior

My Cold Senior
Lo sakit



jangan lupa !! kasih love dulu baru baca, nah udah baca kasih komen lalu tunggu update berikutnya dehh.. gitu rangkaiannya, setuju ?? πŸ˜‰




Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading β™‘β™‘




"Sendirian?" tanya seseorang dari arah belakang, membuat Rani menoleh ke arahnya



"Ah kak, iya" jawab Rani kembali mengaduk mie ayam pesanannya yang baru datang



"Boleh duduk disini?" tanya Melvin



Rani mengangguk "Boleh kok, kebetulan kantin ini bukan punya gue" jawabnya



"Oke" Melvin menyunggingkan senyumnya



"Tumben gak.."



"Emm tadi sih ada, tapi sekarang tau deh kemana" potong Rani tanpa mendengarkan kelengkapan pertanyaan pria itu



Melvin menautkan alisnya "Baso, biasanya lo makan baso" ucap Melvin menjelaskan maksud dari pertanyaannya



Sejak kapan? kenapa Melvin tau kebiasaannya? ah mungkin cuman kebetulan. Toh mereka kan memang sering bertemu, sudah sepantasnya pria itu hapal dengan hal sepele seperti ini



"Ahh.. cuman lagi gak pengen aja hehe" jawab Rani kikuk. Sebab Rani sudah tau jelas kalau pria itu selalu menanyakan Mikaela. Ya, cuman gadis itu yang menjadi fokusnya



"Tapi tadi lo ngomongin siapa?" heran Melvin menanyakan jawaban Rani yang meleset dari pertanyaannya



"Mikaela, gue kira lo nanyain dia" jawab Rani



"Emang dia udah masuk?" tanyanya



"Udah, tapi ya sekarang gak tau kemana"



"Ohh" jawabnya ber-oh ria



"Lo balik mau kemana?" tanya Melvin mengalihkan topik pembicaraan



"Ya pulang ke rumah lah, mau kemana emangnya" jawab Rani. Ini aneh, kenapa pria itu tidak menanyakan Mikaela secara detail seperti biasanya??



"Ya mungkin ada acara?"



__________________________




Mikaela baru saja mengeluarkan muntahan yang hendak keluar dari dalam perutnya lagi. Sepertinya ia tak bisa menyembunyikannya lebih lama, kalau seperti ini caranya Rani akan curiga



"Dorr dorr bukaaaa" teriak seseorang dari dalam ruangan kecil di belakangnya



Mikaela segera melap jejak di mulutnya lalu mengedarkan pandangannya. Tak ada Vanya disana, tapi di dalam toilet temannya masih terkurung



Cklek


"Ishhh lama banget sih? dari tadi kek" protes Vera yang langsung kabur keluar meninggalkannya. Mikaela menggelengkan kepalanya, untung ibu nya menurunkan sifat sabar tak terbatas kepadanya



"Ahwws"


Kepalanya menabrak seseorang yang entah mengapa menghalangi jalan yang akan dilewatinya. Emang gak liat ada orang apa??



Deg


Mikaela terpaku, kaki nya seakan tak bisa digerakan



"Kenapa lo gak istirahat di rumah?" protes Arva



Mikaela mengalihkan pandangannya ke arah lain



"Lo masih sakit" ucap pria itu lagi



Mikaela tak bergeming



"Gue harap lo masih inget, gue gak suka kalo orang yang gue ajak ngomong gak ngeliat lawan bicaranya" protes Arva



Mikaela tak menghiraukannya, untuk apa lagi? bukankah sudah jelas pria itu meninggalkannya? lalu untuk apa?



"Gue anter pulang" tahan Arva ketika gadis itu akan melewati tubuhnya



"Aku gak kenapa-kenapa" sangkal Mikaela



"Lo pikir gue gak tau? tadi lo muntah-muntah kan?" protesnya menyalahi sangkalannya



"Terus apa? bukannya kita udah gak ada apa-apa lagi?"



Arva diam, kenapa pria itu tidak menyalahi tuduhannya?? itu yang sedang ia harapkan. Mikaela jengah, ia menghentakkan lengannya tapi pegangan pria itu malah menguat



"Gue anter lo pulang" kukuh Arva



"Arva kamu disini?" muncul suara manja di tengah-tengah keduanya, membuat Arva melonggarkan pegangannya



"Elo lagi" tunjuk Vanya, mendelik tak suka ke arah Mikaela




"Maaf" ucap Mikaela singkat lalu segera meninggalkan tempatnya



"Kamu mau kemana?" tahan Vanya ketika Arva hendak mengejar gadis itu. Arva menghentakkan tangan yang digelayuti wanita itu, lalu pergi ke arah yang berlawanan dengan gadis yang akan dikejarnya tadi "Arva, kamu mau kemana??" kejar Vanya



________________________



"Enggak kok, kita gak ada janji apa-apa" jawab Mikaela ikut nimbrung



"Mikaela lo tadi kemana sih? gue jadi makan duluan kan jadinya" keluh Rani



"Udah kalian pergi aja" dorong Mikaela tanpa menghiraukan ucapan temannya



"Mik apaan sih" bisik Rani memprotes



"Emang kita gak ada janji apa-apa kan? gak usah ngarang deh" ucap Mikaela



"Lagian aku lagi gak enak badan" lanjutnya



"Lo sakit?" tanya Rani langsung menyentuh kening gadis yang ada di sampingnya



"Gak usah lebay Ran" elak Mikaela membawa lengan temannya yang masih menempel pada pipinya



"Tapi serius, biar gue anter ke dokter ya" ajak Rani bersungguh-sungguh



"Ahh enggak, gak usah Ran apaan sih? minum obat warung juga langsung sembuh kok" ucap Mikaela kikuk sambil meraih gelas jus milik Rani lalu meminumnya sampai tandas



"Lo haus?" heran Rani melihat minumannya yang penuh seketika bocor



Mikaela mengangguk lalu tertawa merasa bersalah setelah menyadari perbuatannya



Melvin melempar tatap secara bergantian kepada dua gadis yang sedang saling memberi perhatian di depannya. Sungguh pemandangan yang indah, tali kasih persahabatan memang lebih dari sekedar keluarga



Jujur saja ia masih berat melihat keberadaan gadis itu, ia takut kalau hati nya yang sudah berusaha mengikhlaskan itu kembali goyah. Ia berniat untuk memberi kesempatan pada orang yang menyimpan rasa padanya, mungkin itu akan memudarkan perasaan tak terbalasnya.



"Lo disini?" tanya Vino tiba-tiba muncul di kursi samping Mikaela



"Gue anter pulang, kata Rendra lo sakit" jelas Vino tanpa mendengar jawaban Mikaela yang masih tak menangkap maksudnya



"Rendra??" heran Mikaela. Perasaan sejak tadi ia tak melihat pria itu, kenapa bisa tau??



"Enggak kok, Rendra ngada-ngada pasti" sangkal Mikaela



"Tapi muka lo emang pucat" ucap Vino sembari menelisik tiap jengkal wajahnya, membuat Mikaela segera menyentuh pipi nya "Masa sih, jangan berlebihan" ucap Mikaela masih menyangkal



Tanpa persetujuan dari perempuan itu, Vino segera menarik lengan Mikaela sampai membuatnya ingkah dari duduknya. "Kak aku gak kenapa-napa" kukuh Mikaela



"Tadi lo bilang gak enak badan" celetuk Rani, membuat Mikaela melenguh menyesali pernyataan yang tadinya hanya sekedar alasan, agar gadis itu tak menolak ajakan Melvin



Mikaela menghembuskan napasnya berat, ia tak bisa lagi mengelak atas ajakan Vino. "Gue anter pulang?" ulang Vino untuk lebih memperjelas



Mikaela mengangguk pelan, lagi pula tak ada lagi alasan untuk menolaknya.



"Ngeliatnya biasa aja kali kak, mereka cuman temen kok" ucap Rani, membuyarkan tatapan menelisik pria yang ada di seberang meja nya



"Ahh, gak gitu" sangkal Melvin



"Maksud gue kok gak sama Arva?" herannya



Rani menyuap suapan terakhirnya lalu menggelengkan kepalanya "Yang penting Mikaela seneng" jawabnya tak mau terlalu ambil pusing. Ia tak bisa menilai jalan hidup seseorang yang sama sekali tidak dialaminya, ia tidak tau dengan jelas dan sebab itu ia tak berhak ikut merusuhinya. Yang terpenting kan sahabatnya bahagia, itu cukup



"Gue balik ke kelas ya" pamit Rani segera bangkit dari duduk nya



"Ran, gue.." ucap Melvin menggantung



"Lo gak usah merasa bersalah gitu kak, itu malah jadi beban buat gue. Gue gak nuntut apapun kok, lagian perasaan ini datang tanpa diminta, jadi gue juga gak bisa berbuat apa-apa. Kalo emang itu jadi beban buat lo, lo pura-pura gak tau aja" tutur Rani sejelas-jelasnya, membuat Melvin tertohok. Baru pertama kali ia bertemu dengan wanita yang dengan mudahnya mengungkapkan isi hatinya.



Melvin sendiri, meskipun laki-laki, ia tak bisa mengungkapkan suara hatinya sedemikian rupa tanpa hambatan.



"Kaget ya?" tuduh Rani seolah tau isi hati pria itu



"Gue emang to the point, sorry deh gue emang jauh dari type cewek lo" lanjutnya kemudian memutar tubuhnya hendak berlalu



"Enggak gitu, Ran.." tahan Melvin menghalangi jalannya



"Gue mau nyoba" ucapnya ambigu, membuat Rani menautkan alisnya tak paham



"Gue mau kasih kesempatan lo, gue mau nyoba terima perasaan lo, gue pikir gak ada salahnya" lanjutnya



Rani diam




β€’


β€’


β€’


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment