
Follow instagramnya @Lovelyliy_
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Tap tap
Arva melangkahkan kakinya dengan pasti. Tatapannya lurus kedepan, tepat pada objek yang menjadi tujuannya
Arva menarik kerah Melvin dan menyudutkannya sampai menabrak tembok
Melvin membalas tatapan tajam Arva "lepasin" titahnya
Arva menarik ujung bibirnya "mulai berani lo sekarang" seringainya
Mikaela terpaku dengan apa yang dilihatnya saat ini. Buku yang ia pegang tadi sudah tergeletak sejak Arva menyeret Melvin.
"Berani banget lo nyentuh gue" ucap Arva sambil melihatkan pipi bonyoknya.
"Arv.." Vino berusaha menghentikan aksi Arva
Bugh
Sebuah pukulan sudah mendarat di perut Melvin. Ringisan Melvin membuat Arva tersenyum menang
Bugh
Pukulan lainnya menyusul di pipi kanan Melvin yang langsung membekas berwana kebiruan.
"Gue gak nyangka lo bisa marah juga, tapi jangan harap lo bisa ngalahin gue bangs*t" sungut Arva tak terima
"Terus masalah lo apa?" Ucap Melvin yang gak nyerah lalu berniat untuk membalas pukulan Arva
"Mau apa?" Arva menahan tangan Melvin tepat di depan wajahnya. Pukulan yang hampir mendarat itu berhasil ditahannya
Arva mulai mengayunkan kepalan tangannya lagi "jangan" cegah Mikaela menahan Arva dengan cara menarik lengan Arva dengan kedua tangannya
Arva melirik ke arah Mikaela "berani banget lo" gumamnya
Deg
"A aku.."
"Lo gak terima gebetan lo ini gue hajar? huh" Tanya Arva
Arva menepis pegangan Mikaela sampai gadis itu terkuyung hampir terjatuh
"Brengsek" ucap Melvin lalu balas menarik kerah Arva dan merubah posisinya. Kini tubuh Arva yang terpojok pada tembok
"Karena cewek ini?" Tanya Arva
Deg
"Kenapa pria ini kembali seperti asing baginya?" Batin Mikaela
"Serius? Karena cewek ini?" Arva tertawa kecil karenanya dengan nada mengejek lalu kembali mengayunkan kepalan tangannya.
Bugh
"Aghwww.." Mikaela tersungkur di lantai.
Mikaela menghalangi tubuh Melvin sampai pukulan Arva mengenai pipi mulusnya.
"Mikaela" Melvin segera mendorong tubuh Arva
"Bodoh" gumam Arva.
"Kamu gapapa?" Tanya Melvin panik
Mikaela menggeleng pelan sambil menyentuh pipinya yang berbekas kebiruan
Melvin mendongakkan wajahnya, menatap tajam Arva yang sama sekali tidak bereaksi
Mikaela segera meraih lengan Melvin, menahan pria itu yang berniat untuk membalasnya
Melvin menghembuskan nafasnya berat lalu mengurungkan niatnya "Bisa berdiri?" Mikaela menganggukkan kepalanya pelan
"Ga akan gue biarin lo deketin Mikaela lagi" tegas Melvin sambil membantu gadis itu berdiri
"Ck ko lo bisa-bisanya sih?" Gumam Rendra tak menyangka
"Arv.. lo kejar dia atau lo gak bakal punya kesempatan" ucap Vino yang masih merasakan tegang akibat kejadian yang dilihatnya barusan
"Kehilangan siapa sih maksud lo?"
Rendra menelan salivanya berat. Apa kepala sahabatnya terbentur? Atau akibat pukulan di pipinya itu? Kenapa bisa melupakan semuanya? Padahal semalem dia posesif banget sama Mikaela, sekarang? Mukul? Arva emang bahaya
"Arggghhhhh" Arva memegang kepalanya kuat lalu terhuyung dan terjatuh di lantai
"Arv.." Vino menghampiri Arva
"Lo kenap Arv?" Susul Rendra
Arva mengerjapkan matanya karena pandangannya yang semakin membayang.
"Arvaa.." panggil Vino lagi ketika Arva berlalu dengan tergesa.
"Kemana dia?" Gumam Rendra yang kehilangan jejak temannya.
Arva masuk ke dalam toilet lalu segera membasuh wajahnya. Ia melihat bayangannya di cermin, lensa matanya seakan berubah memerah
Suara jengkingan kuat, membuatnya menutup kedua telinganya. Kepalanya kembali diserang rasa sakit yang tak tertahan, membuat tubuhnya terhuyung kesana kemari sampai punggungnya menabrak sudut tembok.
_____________________
"Aku ke kelas aja ka" ucap Mikaela
"Enggak. Gabisa! Gue anter pulang" tegas Melvin
"Kaa aku gapapa" ucap Mikaela lagi
"Mikaela" Melvin menekan suaranya
"Gue mohon.. lo begini gara-gara gue" tambah Melvin dengan suaranya yang melemah
"Jangan pernah lo ngelakuin hal bodoh kayak gini lagi" ucap Melvin
Mikaela menundukkan wajahnya, entah apa yang ada dipikirannya sampai harus merelakan wajahnya dipukul pria brengsek itu. Tapi, apa maksud pria itu tadi? Arva berubah lagi? "Aku harus menjauh darinya.. dia pria aneh yang menakutkan" batin Mikaela
"Uh ya?"
"Jangan kayak gini lagi!" Tekan Melvin. Mikaela yang sedang duduk di atas ranjang ruang uks dengan menjuntaikan kakinya ke bawah, mengangguk pelan mengiyakan
Melvin menyentuh pipi lebam gadis itu perlahan, ia meringis sendiri "pasti sakit" gumamnya
Tiba-tiba tangan Melvin terlepas, ketika sebuah cengkraman kuat seseorang yang lain memaksanya
Seketika Arva menambil alih posisi Melvin dan segera membingkai wajah gadis itu "Gue gak sengaja" sesalnya "Mana yang sakit? huh"
Deg
Suhu tubuh Mikaela memanas
"Dengan apa yang udah lo perbuat, lo masih berani nunjukin muka lo di depan Mikaela?" kecam Melvin tak terima
"Gara-gara lo anj*ng"
"Sialan"
Arva menarik lengan Mikaela, membuat gadis itu segera berdiri
"Lepasin Mikaela" tekan Melvin
Arva tak menghiraukan ucapan Melvin, tapi Mikaela menahan lengannya sendiri "lepasin" ucapnya kemudian
"Mikaela"
"Aku bilang lepasin" Mikaela menghentakkan tangannya membuat pegangan Arva terlepas karenanya
Mikaela meraih tangan Melvin lalu pergi meninggalkan Arva di ruangan itu
Arva merasa kalah. Ia mengepalkan lengannya kuat lalu memukul tembok yang ada di depannya, membuat punggung tangannya lecet dan mengeluarkan darah darinya
Setelah merasa aman dari jangkauan lelaki aneh itu, Mikaela melepaskan pegangannya pada Melvin
"Aku ke kelas ya ka" ucap Mikaela
Melvin menahan tubuh Mikaela lalu mendudukkannya di anak tangga. Ia merogoh sakunya lalu mengeluarkan salep dan mengoleskannya pelan pada pipi Mikaela yang menjadi tembem karena bengkak
"Kenapa lo bisa seberani ini?" Keluh Melvin sambil meniupi pipi Mikaela yang mulai meringis ngilu
Mikaela mengambil alih salep yang dipegang Melvin. Sekarang gantian, Mikaela yang mengoleskan salep di derah wajah Melvin yang terkena pukulan tadi.
"Aku gapapa" ucap Mikaela
"Ck .. gapapa gimana? lo gabisa senyum semanis biasanya" ucap Melvin
"Gak senyum aja aku udah manis" sanggah Mikaela membuat Melvin tersenyum "lo bener" ucapnya kemudian mengiyakan
Rani menekan dadanya yang seakan sesak di balik tembok. "aku gaboleh begini" tegasnya dalam hati
Rani mengusap wajahnya lalu seketika ekspresi wajah cerianya kembali, seakan tidak merasakan hal aneh padanya
"Mikaela" keluh Rani cemas
"Pipi lo kenapa?" Tanya Rani
Mikaela menghembuskan nafasnya pelan "aku cerita nanti ya" ucapnya
"Kak aku balik ke kelas" pamit Mikaela pada Melvin
______________________
"Apa?? Arva? Pria brengsek itu berubah lagi?" Ucap Rani terkejut. Apalagi sampai bisa memukul Mikaela, itu bukan hal sepele
"Lo ngerasa aneh gak sih?" Tanya Rani mulai mengeluarkan jurus misteriusnya dalam mencari tau sesuatu
"Iya sihh.." jawab Mikaela ikut menerawang
"Gak mungkin kan dia akting? Gue yakin banget perlakuan semalem dia ke lo itu gak dibuat-buat" ucap Rani
"Terus kenapa? Atau jangan-jangan dia emang gila lagi? Psycopath?" Celetuk Rani
"Huss jangan sembarangan" sanggah Mikaela yang sebenernya memikirkan hal yang sama tapi psycopath itu tuduhan yang terlalu ekstrim.
"Yaudahlah sekarang kita pikirin gimana caranya bengkak di muka lo cepet ilang" ucap Rani mengalihkan pembicaraan yang tak kunjung menemukan titik terang
_____________________
"Lo ngelukain dia?" Arva menatap tangan yang sedang di bolak balikkannya
"Beraninya kau" teriaknya lalu memukul cermin yang ada di depannya sampai retak. Lengannya berlumuran darah tapi rasa sakit itu tak setimpal dengan sakitnya penolakan Mikaela tadi, walaupun gadis itu memang pantas melakukannya
Arva berjalan di lorong gedung kampusnya dengan darah yang terus menetes ke lantai yang dilaluinya. Ia tak perduli dengan tatapan ngeri semua orang yang melihatnya
Arva sampai di depan kelas gadis yang kesakitan karenanya. Arva mengedarkan pandangannya, tak perduli dengan dosen yang menatap aneh padanya, yang jelas siapapun tak berani mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya
"Mik.. " Rani menyenggol bahu Mikaela
Mikaela menelan salivanya, ia harus berbuat apa saat ini. Belum beres pikirannya mencari jalan keluar, tangannya sudah ditarik pria itu, memaksa untuk mengikutinya
Awalnya Mikaela menahan tubuhnya, ia tak mau mengikuti pria itu. Tapi ia melihat tangan yang menggenggamnya terluka parah, darah itupun mengenai lengan bajunya.
"Ka kamu kenapa?" Gumam Mikaela meringis
Arva memutar wajahnya, melihat Mikaela yang berada di belakangnya. Ekspresi wajahnya saat ini sangat menghawatirkan, Mikaela tidak tega membiarkannya. Seenggaknya, ia membantu mengobati luka robek pada punggung tangan pria ini
•
•
•
Please like and comment !!
200 like+20 comment langsung update