My Cold Senior

My Cold Senior
Pacar ??





Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Reza?" ulang Arva



Mikaela dengan dadanya yang seperti akan meledak menjadi keheranan melihat pria di hadapannya



"Huh, Arva.. kamu udah sadar?" tuduh Mikaela langsung menyadari apa yang terjadi



"Terus tadi?" Mikaela segera meraih bantalan sofa di belakangnya lalu mengarahkannya pada pria tak sopan itu



Arva yang tak menyadari kelakuan refleks nya pun langsung membenarkan ekspresi wajah dan sedikit menegakkan tubuhnya



"Kurang ajar" amuknya



"Dasar brengsek" Mikaela terus menghantam tubuh pria itu dengan bantal sepuasnya



"Aww aw Mik.. tunggu" ringis Arva berusaha menghindar dengan menjauhi si gadis yang seperti kesurupan



"Dasar menjijikan" Mikaela mengusap kasar bibirnya lalu kembali memukuli pria yang sudah berperilaku tidak sopan itu



"Tunggu dulu.. dengerin" Arva berusaha menghentikan tangan liar dari gadis polos yang tak henti memukulinya



Dengan nafas ngos-ngosan Mikaela menyerah dan menjatuhkan bokongnya di sofa yang tadi ia duduki sambil mengumpat dan lagi-lagi mengusap kasar bibirnya, menghilangkan jejak yang pria itu lakukan padanya



"Tadi gue .." Arva memutar otaknya untuk memberi alasan yang logis. Sebab dirinya memang sudah kembali saat bibir mereka kembali menyatu



Entah ada dorongan dari mana dalam dirinya yang tak bisa membuatnya berhenti



"Ishh.." Mikaela kembali mendaratkan bantalnya pada pria yang malah diam itu



"Lo mau dia balik lagi?" ujar Arva membuat Mikaela tak paham maksudnya



"Kepribadian itu muncul setiap kali gue emosi" ucapnya



"Yaudah sekarang mending kamu pergi dari sini sebelum kepribadian anehmu itu balik lagi!!" titah Mikaela dengan kekesalannya yang sudah sangat memuncak



"Kenapa harus pergi?" ujar Arva seakan tak terjadi apa-apa



Mikaela tertawa jengkel karenanya "Pergi gak?" bentaknya



"Gue kan mau ngajarin sepupu lo" sangkalnya



"Apa? bukannya.."



"Iya gue tau! yang ngajarin sepupu lo itu kepribadian gue yang lain dengan niat supaya bisa deket sama lo. sampai akhirnya gue tau bahwa kelemahan dia itu ada di lo"



"Kamu ngomong apasih?"



"Nyatanya dia akan menghilang setiap kali dia nyium lo" ucapnya vulgar



"Apa?" Mikaela semakin geram karenanya



"Dan kamu mencari kesempatan dalam kesempitan" lanjut Mikaela kembali meraih bantalan sofa



"Mik.. sabar dulu" pinta Arva sambil terus menghindarinya



Cklek


"Kak Arvaaaa" panggil Nayla antusias dan seketika berubah sinis ketika lemparan bantal Mikaela berhasil mengenai wajah pria yang sudah dianggap sebagai kakak nya



"Mikaela!!" Protesnya tak suka



"Lo itu apa-apaan sih? kalo ka Arva gak mau ngajarin gue lagi gimana? lo mau tanggung jawab?" omelnya sambil menghampiri Mikaela yang mematung, sudah pasti akan disalahkan



"Nay udah.. gue yang salah " tahan Arva melerai



"Lo gak usah belain dia kak !! tetep aja dia tuh kekanakkan, keterlaluan!! main lempar-lempar segala! gak sopan gak punya etika" sungutnya terus menghujam gadis itu tepat di hati nya, membuat wajah cantik Mikaela merah padam



"Nay.. kenapa sih ko ribut" protes Erik sambil menghampiri tempat kejadian keributan



"Dia pah!! keponakan kesayangan papa! dia keterlaluan" adu Nayla



"Maaf" ucap Mikaela segera



"Maaf aku salah" ulangnya lagi lalu berlari ke arah kamarnya untuk mengunci diri sebelum tangisnya pecah di hadapan semua orang



"Weyy.. malah kabur lagi dasar gak tau malu" protes Nayla



"Nay.. memang ada apa sih?" tanya Erik yang masih tak paham dengan drama yang tiba-tiba



"Biar Arva aja yang urus" cegah Arva pada Erik yang akan segera menjejer anak manjanya



Tanpa berdalih Erik dan Sinta langsung berlalu ke kamarnya, sepulang dari perjalanan yang sangat melelahkan



"Gue mau lo minta maaf sama dia!" pinta Arva



"Tapi kak.. jelas-jelas tadi.." Ucapannya terhenti ketika melihat tatapan Arva yang tak ingin dibantah



"Oke lupain aja, tapi gue gak mau minta maaf" sangkalnya bersikeras



"Yaudah kalo gitu gue gakbisa ngajarin lo lagi! keberadaan gue malah bikin masalah disini.." ucap Arva final, ia hendak berlalu dari hadapan Nayla



"Enggak.. kenapa begitu?" tahan Nayla



"Apalagi? lo juga gak ngehargain kaka sepupu lo sendiri, jadi ngapain gue harus mau jadi kaka angkat lo" cibirnya pedas



Nayla melenguh pasrah "Okee.. iya, gue bakal minta maaf" putusnya dengan berat hati



________________



kring kring


Suara ponsel mengecoh fokus Mikaela yang sedang membaca buku



"Mikaela.." suara di telepon



"Uh.. ibu? ini ibu?" tebak Mikaela mengenali suara khas seseorang yang sangat ia kenal



"Iya ini ibu" jawabnya



"Ibu kemana aja? kenapa gak bisa dihubungi bu? ibu marah ya sama Mikaela? maaf bu" rintihnya menahan tangis



"Ibu akan pulang.." ucapnya



tut tut tut sambungan terputus



"Ibu? halo bu?" panggilnya berkali-kali lalu melihat layar ponselnya sudah kembali ke layar utama



"Ibu kenapa?" batinnya sambil menggigiti bibir bawahnya



Cklek


pintu kamar Mikaela terbuka membuat pandangan semua orang yang ada di ruang tamu tertuju ke arahnya



"Mikaela gue minta maaf" ucap Nayla tiba-tiba membuat gadis cantik itu terperangah



"Uh ? maaf?" ulangnya seakan lupa dengan hal yang membuat dirinya mengurung diri



"Ahh iya gapapa ko" jawab Mikaela kikuk. Sebab perlakuan seperti ini sudah seringkali ia dapatkan, jadi bukan hal yang aneh lagi baginya. Hanya saja kali ini ia diperlakukan demikian di depan orang lain, dan itu sedikit memalukan



"Mata kamu kenapa? ko sembab?" tanya paman menelisik membuat Mikaela segera mengusap-usap bagian matanya



"Lo nangis? gara-gara gue tadi ya? maaf" Nayla menghampiri Mikaela yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya



"Enggak ko, bukan" sangkal Mikaela



"Mikaela ada apa?" tanya Erik lagi



"Umm tadi.. tadi ibu nelvon"



"Ibu kamu? terus gimana katanya? gimana kabarnya?"



Mikaela menggelengkan kepalanya "Aku gatau, ibu cuman bilang kalo dia mau pulang terus telvonnya mati" jawabnya tak semangat



"Tapi ibu kamu gakan tinggal disini kan?" serobot Sinta seraya menaruh majalah yang dibacanya sambil menaikkan kaki kanan miliknya diatas kaki kirinya



"Mah.." tegur Erik pada istrinya



"Enggak kok bi, nanti Mikaela akan cari rumah kontrakan kalo ibu pulang" ucap Mikaela meluruskan tuduhannya



"Maafin mama ya" ucap Nayla segera membuat Sinta mendengus tak suka, sepertinya anak gadis itu sudah mulai nurut sama ayahnya



"Nah gitu dong manis.. ini baru anak papa" puji Erik mengacak poni milik anaknya



"Apasih pa aishh" protes Nayla menghentikan lengan ayahnya



"Umm seperti melihat waktu paman muda dulu" ucap Erik mengomentari pria yang entah dari kapan sudah berdiri di samping kanan Mikaela



"Arva?" kaget Mikaela sembari mengusap ujung matanya yang sudah basah



"Kamu belum.." kalimatnya terhenti ketika mendapat tatapan protes dari Nayla



"Belum keliatan dari tadi" lanjut Mikaela memplesetkan ucapan sebenarnya dengan menyamarkan senyumnya



"Tadi ka Arva ganti baju" jawab adik-adikannya itu dengan senyum yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya



"Arva bisa kan bawa mobil paman ke bengkel?"



"Oke" ucapnya langsung menyetujui




"Temenin lah"



"Tapi.. ini"



"Gampanggg .. nanti gue yang ngajarin, lo langsung pinter"



"Ohya Mikaela, kamu ikut juga" titah pamannya



"Uh ? enggak paman, aku masih.. masih ada tugas" alibinya halus



"Udah sana kamu gak pernah keluar rumah, paman takut kamu anti sosial" ucap Erik mendorong tubuh keponakannya ke arah luar



"Pamann.." keluh Mikaela



blug


Erik menutup pintu rumahnya tanpa ragu



"Ayo ishh lama deh" protes Nayla yang sudah di jok samping kemudi



Mikaela mendengus, dengan tak semangat penuh ia masuk kedalam mobil



"Kak Arva punya pacar gak sih?" tanya Nayla di tengah bercandaannya



"Enggak" jawabnya simpul



Mikaela melihat ekspresi wajah penyetir yang menjawab tak ada beban dari spion di depannya "Aku kan cuman pacar kepribadiannya" batin Mikaela menimpali



"Bukannya Mikaela pacar kakak?"



"Siapa yang bilang?



"Waktu itu kak Arva pernah bilang kan?"



"Ahh itu dia cuman bercanda kok Nay" timpal Mikaela menengahi. Arva tiba-tiba tertawa, itu membuat Mikaela mendengus tak suka. Pria itu seakan mentertawakan dirinya yang sudah mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Padahal kan si kepribadian itu yang maksa buat pacaran itupun tanpa persetujuan



"Iya kita pacaran" ucap Arva tiba-tiba merubah pernyataan awalnya



"Loh jadi benerannya gimana sih?" tanya Nayla memastikan kesimpangan kebenaran yang terjadi



"Lagian kalo udah tau kenapa masih nanya?"



Mikaela tak lagi bergeming, biarlah pria itu memang akan selalu benar dan didengar diatas segalanya



"Ko bisa sih?" tanya Nayla membuat Mikaela merutuk dalam hatinya, seolah menganggap dirinya tak pantas



"Entah.. jatuh cinta tak perlu alasan kan" jawab Arva disusul dengan gelak tawa Nayla



"Lo gak punya pacar kan?" tanya Arva balik



"Emm ada sih cowok yang lagi aku suka"



"Jangan dulu pacaran" ucap Arva



"Kenapa?"



"Fokus dulu sekolah, lo masih mau masuk ke kampus ternama kan?"



"Iya dong kak, mau banget"



"Yaudah jangan dulu mikirin cowok mangkanya"



"Gitu ya kak?" pikir Nayla hampir sepemikiran



Mikaela yang duduk di kursi belakang hanya bisa mendengarkan keakraban kakak beradik ini dengan mata terpejamnya



"Good girl" ucap Arva sambil mengacak poni Nayla gemas



"Mikaela lo tidur?" tanya Nayla



"Enggak"



"Yaudah ayo mau turun gak?"



"Huh.." Mikaela segera membuka matanya dan menyusul 2 orang yang sudah meninggalkannya



"Ehh .." Mikaela memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan namun tak melihat keberadaan 2 orang yang membawanya ke tempat ini. Padahal baru meleng beberapa detik tapi sudah kehilangan jejak



"Mikaela?" sapa seseorang dari belakang



"Kak Melvin.." gumamnya tak menyangka akan bertemu dengan seorang yang dikenalnya



"Ngapain disini sendirian?" tanya Melvin



"Tadi sama.. emm tapi pada kemana ya?" ucapnya celengak-celinguk



"Siapa?" tanyanya lebih rinci



"Umm sepupu kak, kakak sendiri ngapain?"



"Tuh lagi nyervis motor" tuduhnya ke arah motor yang sedang dikelilingi beberapa montir, Mikaela hanya mengangguk mengerti



"Eh Mik lo kemana sih gue cariin juga" protes Nayla



"Eh itu siapa?" bisik Nayla



"Kenalin kak, ini Nayla sepupu aku. Nay ini Melvin temen di kampusku" ujar Mikaela memperkenalkan



"Oh hai .. gue Melvin" ucap Melvin sambil mengulurkan tangannya



"Ganteng banget sih ya tuhann" batin Nayla menautkan kedua lengannya di bawah dagu



"Hey.." Melvin mengibaskan lengannya di depan wajah gadis yang tertegun tak berkedip



"Oh iya kak .. gue Nayla" ujarnya segera menerima uluran tangan pria yang membuatnya tak bisa bergeming



"Yuk tuh kak Arva nungguin disana" tunjuk Nayla



"Kak Melvin gabung aja yah, ayookk" ajak Nayla tak segan menarik lengannya



"Arva?" gumam Melvin



"Iya.. kenapa? kak Melvin kenal sama kak Arva?? dia temen kampusnya Mikaela juga sih" terang Nayla



Suasana menjadi canggung setelah bertemunya Melvin dan Arva di satu meja, membuat Nayla menatap keduanya secara bergantian



"Kalian kenapa sih?" telisiknya



"Nay" panggil Arva



"Hemm.." jawab Nayla berdeham sambil memutar wajahnya ke arah suara membuat pipinya terkena telunjuk Arva yang sengaja diarahkan pada pipinya



"Ahww kak Arva ngelucu?"ucap Nayla tertawa kecil



"Emang lucu?" tanyanya membuat Nayla malah semakin tertawa karenanya dan berhasil membuat ia lupa dengan pertanyaan yang dilontarkannya



"Kok Arva bisa deket banget sama sepupunya Mikaela?" batin Melvin memperhatikan kedekatan keduanya



"Dasar pedofil! baguslah" gumam Melvin



"Besok gue jemput ya" Ucap Melvin mengawali percakapannya dengan Mikaela



"Huhh .. gak usah kak" tolak Mikaela halus



Kini giliran arva yang menatap ke arah pasangan yang mulai bercengkrama di hadapannya. Mau bagaimanapun, Mikaela tetep pacarnya kan? walaupun cuman diakui kepribadiannya aja



"Besok dan seterusnya Mikaela berangkat bareng gue" ucap Arva membuat Melvin dan Mikaela melirik ke arah suara yang tak diundang



"Gue besok ke rumah lo" ucap Melvin pada Mikaela mengacuhkan pernyataan dari orang yang selalu menggganggu usahanya



"Gue bilang Mikaela berangkat bareng gue" tegas Arva lagi



"Yaudah tanya aja langsung, biar Mikaela yang nentuin pilihannya" ucap Melvin membuat Mikaela mengerutkan keningnya tak setuju



Arva menggedikkan dagunya pada Mikaela agar segera menjawab pilihannya yang sudah diyakini bahwa jawabannya itu pasti dia



"Aku berangkat sendiri" putus Mikaela. menentukan pilihan? memangnya kuis?



"Yaudah .. sampai ketemu besok ya" ucap Melvin sembari memamerkan senyum lembutnya



Nayla sendiri hanya bengong melihat sepupu yang selama ini ia benci ternyata jadi rebutan cowok-cowok ganteng. "Ini gak bisa dibiarin! gue harus cari tau rahasianya" batin Nayla



"Mobilnya udah beres ayo pulang" Arva meraih lengan Mikaela yang belum sempat menjawab perkataan Melvin



"Kak aku duluan.." pamit Mikaela susah payah menahan tarikan pada lengannya



"Ishh kamu apaan sih" protes Mikaela sambil mengelus lengannya yang memerah



"Lo yang apaan, ngobrol sama cowok lain di depan pacar? gak ada otak emang" cibirnya



"Pacar?" ulang Mikaela



"Bukannya tadi kamu bilang gak punya pacar?"



•


•


•


Please like and comment !!