My Cold Senior

My Cold Senior
Pengecut



Author lagi meler nih :( lagi mau persiapan skripsi eh baru proposal aja udah mau tumbang aja nih :(( do'ain kembali fit ya gaeess biar lancar skripsinya juga update annya 😘😘



oh ya jangan lupa follow instagramnya @lovelyliy_ wajib !! haha



Jangan lupa like dan komentarnya yaa biar author semangat lanjut ceritanya πŸ˜‰



Happy Reading β™‘β™‘



Vino dan Rendra segera menghampiri pria yang baru keluar dari ruangan yang dimasukinya tadi. Pria itu tak menampilkan wajah senang ataupun sedih, membuat para pemerhati menjadi kebingungan dan menerka-nerka sendiri



"Gimana?" tanya Vino



"Lo mau kemana?" tahan Vino yang sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari pria itu



"Gue titip Mikaela" ucap Arva lalu kembali melanjutkan langkah besarnya



Vino mengusap rambutnya kasar, membuat rambut klimisnya acak-acakan



"Dok, teman saya.." ucapan Rendra terhenti karena tak mendapat respon apapun dari dokter muda itu



"Gue deketin jatuh hati lo sama gue" cibir Rendra



"Heh kutu aer, urus aja noh si Vanya jangan lirik sana-sini pusing otak gua merhatiin lu" gerutu Vino



Rendra melenguh, hanya ia satu-satunya yang bisa bertahan di saat-saat seperti ini. "Lo kuat" ucap Rendra menguatkan dirinya sendiri sambil mengusapi dada ratanya



_________________________



"Arva??" sambut Shopia yang memang sedang merindukan anak yang tak ia temui beberapa hari ini



"Kamu apa kabar nak?" tanyanya sambil membingkai wajah Arva



Shopia menelisik wajah Arva "Kamu kenapa? kamu sakit?" tanyanya khawatir



"Arva kangen sama mami" ucap Arva memeluk tubuh mungil ibu nya



"Iya sayang, mami tau. Mami juga kangen" tutur Shopia sambil mengusap lembut punggung anaknya



"Masih ingat pulang?" ucap suara bariton itu dari arah belakangnya



Arva melepaskan pelukannya lalu memutar tubuhnya, melihat sosok pria tua yang masih tegap dengan wajah lebam di berbagai sisi



"Kenapa? ini ulah anakku sendiri" sindir Danu



"Pih udah, Arva kamu masuk ke kamar nak, istirahat" titah Shopia



Arva tak menghiraukan ucapan ibu nya, ia melangkahkan kaki nya menghampiri Danu



"Apa? mau hajar papi lagi?" tuduh Danu sambil melangkah mundur menghindari anaknya



Arva menjatuhkan lututnya menyentuh lantai "Maafin aku pih" tuturnya dengan menundukkan kepalanya



"Kamu bercanda?" heran Danu



"Papi boleh pukul Arva sepuasnya, asal papi maafin aku" lanjut Arva



"Papi maafin kamu" ucap Danu, membuat Arva mengusap mata berairnya



"Asalkan kamu jauhi wanita miskin itu" lanjutnya



Baru saja senyum itu muncul dari wajah Shopia, tapi kalimat itu berhasil menghapusnya kembali.



"Pih.." protes Shopia



"Oke" ucap Arva menyetujui



"Apa? Arva kamu jangan bercanda, ini bukan main-main" protes Shopia menghampiri anaknya



"Arva serius mih" tegas Arva lalu segera melengos pergi ke kamarnya



"Ada apa?" heran Danu, bagaimana mungkin sikap anaknya berubah drastis secepat ini? apa anak itu sedang mempermainkannya lagi?



_______________________



Vino kembali menghubungi pria kabur-kaburan itu, tapi lagi-lagi suara wanita yang menjawab panggilannya. Mungkin kalau Rendra yang melakukan aktifitas ini, wanita itu akan dibuat menyerah untuk tak lagi muncul dalam panggilannya



"Masih gak aktif?" tanya Mikaela



Vino terhenyak "Lo kapan sadar?" kagetnya



"Barusan" jawabnya sambil kembali murung karena jawaban yang sudah diketahuinya lebih dulu



"Lo jangan khawatir, mungkin Arva lagi butuh sendiri dulu" ucap Vino menenangkannya. Mikaela tak menjawab, ia membalikkan posisi tubuhnya untuk membelakangi Vino.



Vino mengepal kuat tangannya. Bagaimana mungkin Arva bisa mempermainkan Mikaela? itu suatu kemustahilan. Tapi bukankah itu bisa saja terjadi?



_________________________



"Ayo makan sayang.." pinta Dewi



Vanya tetap menggelengkan kepalanya "Vanya mau makan kalau Arva kesini" ucapnya



Cklek


"Tuh pangerannya puteri mama" ucap Dewi menunjuk ke arah siapa yang baru datang



"Arva??" panggil Vanya langsung melebarkan senyumnya




Rendra melangkahkan kaki nya malas, temannya yang satu ini memang punya banyak rahasia dan itu menyusahkan.



Rendra kembali memundurkan langkahnya, mengintip dari kaca pintu ruangan Vanya yang terlihat seperti banyak orang disana



"Arva??" gumam Rendra



"Lo serius?" tekan Vino



"Alibi hanya gue tujukan pada cewek-cewek gue yang bertebaran, apa gunanya gue bohong sama lo?" protes Rendra



"Lo gak lagi ngadu domba gue sama .." Vino melirik ke arah Mikaela yang terlihat masih tidur di atas kasurnya.



"Lo gak ngadu domba gue sama Arva kan?" lanjut Vino ketika sudah membawa Rendra keluar ruangan



"Kalo gak percaya lo cek aja sendiri, apa susahnya sih?" tekan Rendra.



"Dia itu biang masalah asal lo tau, gue mikir-mikir lagi buat tetep bertahan jadi temen dia." gerutu Rendra



Vino segera pergi, tak menghiraukan Rendra yang masih betah menggerutu



"Arva" panggil Vino ketika pria itu baru saja keluar dari ruangan yang tak seharusnya ia kunjungi



Arva kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti "Sialan" cibir Vino



"Lo ini sebenernya kenapa?" tekan Vino yang sudah menyudutkan tubuh Arva pada sudut tembok



Arva tak berusaha menjawab, ia hanya berusaha melepaskan remasan Vino pada kemejanya



Vino melemaskan pegangannya, mungkin dengan begitu pria ini akan menjelaskan maksud tersembunyinya



"Mikaela nanyain lo" ucap Vino



"Bagus kalo dia udah sembuh" ucap Arva yang akan kembali melengang pergi meninggalkan temannya yang masih memiliki banyak pertanyaan dalam otaknya. Sejak kapan ia harus mengurusi masalah yang sebenarnya bukan miliknya?



"Pengecut" sungut Vino, membuat Arva kembali menghentikan langkahnya.



"Kenapa? lo gak terima?" cibir Vino lagi.



"Apa namanya kalau bukan pengecut? melarikan diri dari masalah" lanjut Vino



"Lo gak tau apa-apa" geram Arva



"Terus lo pikir, gue harus tetep mengerti keadaan lo yang gak berusaha buat gue ngerti?"



"Gue gak bisa maksa dia terus buat terus di sisi gue, cuman ini yang bisa bikin dia bahagia"



Bugh


Vino mendaratkan sebuah pukulan pada pipi mulus miliknya "Diem lo brengsek" geram Vino sambil meremas kerah bajunya



"Kalo lo mikir gitu, kenapa gak dari dulu? kenapa harus.."



"Kenapa harus.." ulang Vino yang masih tak kuasa melanjutkan kalimatnya



"Gue lupa, lo emang brengsek!" geram Vino sambil menghempaskan tubuh pria itu sampai menabrak tembok yang ada di belakang tubuhnya.



"Mikaela gak pantes sama cowok kayak lo." tekannya lagi



"Kamu bener" ucap Mikaela yang ternyata sudah mendengarkan penuturan keduanya



"Aku emang gak pantes sama cowok brengsek kayak dia" lanjut Mikaela dengan senyum mirisnya



"Walaupun aku harus terlahir lagi ke dunia ini, aku gak akan pernah mau ketemu lagi sama kamu" ucap Mikaela dengan napas terengahnya. Air matanya tak lagi keluar, mungkin sudah habis karena terus menangisi orang yang gak seharusnya ia tangisi



"Gue gak nyangka, orang yang dengan beraninya menghajar ayahnya sendiri demi wanita yang dicintainya, kini telah berbalik arah." cibir Vino



"Gue gak ngerti dengan jalan pikiran lo yang runyam itu, tapi asal lo tau kalau lo itu pengecut"



Plak


"Lo gak punya hak bilang Arva kayak gitu" protes Vanya setelah membuat bekas merah pada pipi pria yang dengan beraninya mencari gara-gara



"Diem lo sialan" tekan Vino pada wanita itu yang langsung dihalangi oleh tubuh Arva



Vino menarik ujung bibirnya "Oke" ucapnya sambil membawa tubuhnya untuk menjauh dari kedua orang yang ada di depannya



"Kalian berdua pasangan yang cocok" tilai Vino merendahkan



"Lo gak usah temuin Mikaela lagi" tekan Vino sambil meraih lengan wanita yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuhnya



"Dan gue bukan temen lo lagi" lanjut Vino menegaskan.



Arva mengepal kuat tangannya. Mikaela dibawa pergi oleh orang yang baru saja memutuskan tali pertemanannya. "Apa gue sanggup?" batinnya meringis



"Gak usah dipikirin, masih ada gue yang selalu ada di samping lo kan?" ucap Vanya mengelusi punggung Arva






β€’


β€’


β€’


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment