My Cold Senior

My Cold Senior
Planning




Happy Reading ♡♡



"Tumben lo telat" ucap Rani ketika Mikaela menduduki kursinya



Mikaela hanya menggelengkan kepalanya dan membalasnya dengan senyum singkat



"Kumpulkan tugas yang kemarin saya berikan!!"



Deg


"Tugas?" Batin Mikaela



"Yaampun kenapa aku bisa lupa" makinya



"Mikaa.. lo kenapa?" Tanya Rani yang melihat teman sampingnya memukul-mukul kepalanya dengan kepalan tangan



"Gue lupa"



"Emm lupa.." Rani mengiyakan



"Apa? Lupa? Lo gila ya udah tau dia itu.."



"Itu yang masih berdiri kenapa? Mana tugasnya" tunjuk dosen pada Rani



"Emmm sa sayaaa.."


"Jangan bilang kamu tidak mengerjakannya" tegas bapak dosen



Mikaela mendorong Rani agar maju untuk menyerahkan tugasnya tapi Rani tetap pada tempatnya berniat untuk tidak mengumpulkan



"Kamu.."



"Dia ngerjain ko pa.. ini buktinya" potong Mikaela menghentikan gertakan dosennya



"Mikaa.." protes Rani yang terpaksa mengurungkan niatnya untuk bisa menemani Mikaela yang mungkin sebentar lagi..



"Siapa yang belum mengumpulkan?"



Deg


Tukan? Grecep banget tu dosen. Padahal dia bukan dosen yang rajin-rajin amat. Buktinya kemarin dia ngasih tugas terus lupa nagih sampe sekarang adem-adem aja. Sekarang? Kebetulan dia inget lah seremnya minta ampun



Mikaela mengangkat tangannya keatas "sa saya pak" aku nya



"Kamu? Kenapa? Udah datang telat, gak ngerjain tugas pula. Niat kuliah gak kamu?" Bentak dosen tanpa ragu. Suasana kelas hening, semua mahasiswa tertunduk takut kena getahnya.



Karena jika ada satu hal saja yang membuatnya terusik maka omelannya akan berpindah kepada objek yang berani mengganggunya



"Oke kita lanjutkan" lanjut dosen yang sudah bosan dengan omelannya



"Mikirin apa sih?" Rani menyenggol lengan Mikaela menyadarkannya dari lamunanny "jangan bikin masalah baru.. fokus! Dosen itu merhatiin kesini." peringatnya



___________________



Mikaela memutar matanya jengah melihat pemandangan di depannya. Arva dan Vanya yang terlihat sangat mesra



"Terus apa masalahnya buat aku?" Mikaela menyadarkan dirinya yang terlihat kacau. Tapi kenapa Arva tidak seperti biasanya? Dia tidak mencari-cari Mikaela. Setengah hari saja belum tapi sudah merasa kehilangan



Vanya mengecup pipi Arva singkat "Ckk kenapa dia diem aja?" Gerutunya dalam hati



"Lo kenapa sih Mik?" Tanya Rani sambil mengikuti arah mata temannya itu



"Lo liatin mereka?" Tanya Rani ragu. harusnya dia seneng gak diganggu lagi, kenapa malah sebaliknya?



"Lo kenapa?" Rani mulai seperti wartawan dengan sejuta kekepoannya



"Lo cembu.."



"Gakk" tegas Mikaela cepat menghentikan sangkaan Rani yang gila



"Terus?" Rani masih berusaha menyelidiki



"Gue kesel" ucap Mikaela



"Kenapa?"



"Setelah dia ngambil ciuman pertamaku, sekarang dia. ."



"Apa?" Rani terkejut dengan suara toa nya yang membuat mereka menjadi pusat perhatian



Rani tersadar dan menutup mulutnya sendiri "ka kalian ciuman?" Bisik Rani



Deg


Mikaela mengusap rambutnya. Kenapa ia bisa keceplosan? Harusnya itu jadi rahasianya seumur hidup aja. Gak lucu kan kalo ada kisah seorang gadis yang disia-siakan seorang pria setelah menciumnya.



"Ceritaaaa" pinta Rani



"Em enggak, tadi salah ngomong" bohong Mikaela



"Cerita! Kalo nggak, kita gausah.."



"Oke okeee" Mikaela mengalah. Kalau tidak Rani pasti ngerasa tidak dianggap. Karena memang dalam persahabatan tidak boleh ada yang disembunyikan satu sama lain. Itu katanya, yaa kata Rani. Padahal menurut Mikaela tiap orang berhak menyimpan rahasianya masing-masing



"Gak ciuman, tapi dia.." Mikaela mengusap wajahnya



"Dia..?" Tanya Rani menginginkan lebih



"Dia nyium aku.. aku gamau tapi dia .. dia.." Mikaela menjatuhkan wajahnya diatas tangan yang dilipat di atas meja kantin



Rani paham, Mikaela itu polos. Dan lelaki itu? Rani melempar tatapannya ke arah Arva yang sedang dipeluk nenek sihir itu "brengsek" umpatnya



Rani bangkit dari duduknya "Ran mau kemana?" Mikaela meraih tangan Rani yang akan pergi



"Gue gabisa diem aja ngeliat lo diperlakukan kayak gini" tegasnya



"Ran ! Kamu gila ya?" Cegah Mikaela



"Lagian cuman ciuman pertama apa pentingnya" ucap Mikaela menenangkan




Rani berusaha meredam emosinya "Lagian lo jangan lemah dong, ngelawan bisa kan kenapa pasrah?"



"Kamu liat.. badan dia segede apa? Dia cowok Ran ya jelas lah aku kalah" bela Mikaela



"Iya juga sih" Rani kembali menyeruput es jeruk miliknya untuk mendinginkan pikiran yang seakan terbakar



"Hay" sapa Melvin yang langsung bergabung di mejanya



"Eh ka.." ucap Rani diikuti dengan Mikaela



"Kenapa murung?" Tanya Melvin melihat wajah Mikaela yang mendung tak secerah biasanya



"Ta tadi.."



"Tadi Mikaela diomelin dosen ka" ucap Rani bantu menjawab



"Ohh .. karena telat tadi ya?" Tanyanya



"Udah gapapa gausah segitu banget nanggepinnya santai aja Mik.." ucap Melvin



"Iya ka aku gapapa ko cuman agak pusing aja"



"Kamu sakit?" Melvin menyentuh ke ing Mikaela dengan punggung tangannya



"Kamu demam" ucap Melvin lagi dengan beralih menyentuh pipi nya



Arva mengepal tangannya kuat dan rahangnya mengetat ketika melihat sentuhan Melvin mendarat di bagian yang harusnya hanya ia saja yang bisa



"Arv.." Vanya meraih tangan Arva yang sudah bangkit dari posisinya. Melepaskan pelukan Vanya secara sepihak dan pergi



Mata Mikaela mengikuti langkah Arva yang akan lenyap dari pandangannya.



"Kita ke UKS" ajak Melvin



"Aku gapapa ko ka" tolak Mikaela yang kembali meminum es teh manis miliknya



"Kamu lagi demam gaboleh minum es" cegah Melvin merebut minumannya



"Kaa.." protes Mikaela



"Kita ke uks atau gausah minum ini" tegas Melvin memberi pilihan



Mikaela pasrah dan membiarkan Melvin yang kembali memesan teh tawar hangat untuk menggantikan minumannya.



_______________________



"Apaan sih ko rame?" Tanya Mikaela yang melihat mading depan kelas digerundungi banyak orang



"Mikaaa" panggil Rani exited "Besok malam ada acara prom night" lanjutnya antusias



"Terus?" Tanya Mikaela datar



"Terus apa?" Rani balik bertanya



"Terus kenapa kamu seneng banget?"



"Ya jelas lah.. akhirnya gue bisa ke club" ucapnya girang



"Apa?"



"Jangan bilang lo gak pernah kesana" ucap Rani memastikan



"Emang kamu pernah?" tanyanya balik



"Belum sih" jawabnya nyengir



"Tapi pokoknya gue harus ikut!"



"Lo juga!" lanjutnya lagi



"Iya kita harus ikut" tegas Rani mengulang



"Apaan? Enggak enggak" ucap Mikaela keberatan



"Gue yakin lo bakal ketagihan" yakin Rani



"Enggak!!" Tegas Mikaela



"Mika please.." kali ini Rani memohon



Mikaela diam, seakan berpikir. "Tapi kayaknya emang gakbisa, kamu tau kan aku.."



"Biar gue yang ngomong.. gue yang bilang ke paman lo, okee"



"Bukan paman masalahnya tapi.."



"Iya istrinya, gue tau. Tapi itu artinya paman lo pasti ngijinin kan? Lagian kan gak tiap malem juga"



"Terserah deh" Mikaela pasrah dengan apa yang akan Rani lakukan



"Okee.. sekarang kita belanja!" Tegasnya



"Belanja apa?" Mikaela mengikuti langkah Rani yang kegirangan



"Ya baju, kita harus dandan cantik" ucapnya



"Rann.."



"Udah! Itu urusan gue. Lo tinggal duduk manis aja" Rani mengusap punggung Mikaela sambil mengedipkan sebelah matanya



Mikaela menggelengkan kepalanya, Rani kalo kemauannya kesampean ya begini. Akan jadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia.