My Cold Senior

My Cold Senior
Saling Melengkapi



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Arva meregangkan ototnya yang terasa kaku, olahraga semalamnya yang amat singkat itu membuatnya tanggung. Tapi tak masalah, yang penting hati nya senang. Buktinya ketika kedua matanya terbuka, semburat senyum langsung terpancar, sebahagia itukah??



Lain lagi dengan Mikaela, wanita itu masih nyenyak dalam tidurnya, membuat pria yang sedang anteng menatapinya tak kuasa untuk membangunkan.



"Kasian, pasti capek" gumam Arva sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik natural sang istri. Tapi bukankah Mikaela memang hobby tidur alias susah bangun? apa ditambah aktifitas semalam ya, mungkin akan berefek pada jam tidurnya yang bertambah



Arva sudah memakai celana pendeknya, atasan? biarlah telanjang dada, untuk pemandangan indah istrinya ketika bangun nanti, itu pasti akan menjadi vitamin para wanita bukan? tapi tidak, ini hanya untuk Mikaela seorang, spesiall



"Tolong antarkan sarapan ke kamar . . . ." tutur Arva di ujung teleponnya. Sambil menunggu istrinya bangun mungkin ia harus menyiapkan sarapan terlebih dulu, melayani istri tidak salah bukan?



"Permisi" ucap seseorang, mungkin pelayan yang akan mengantar pesanannya



"Jangan masuk" tahan Arva, atau pelayan itu akan melihat keberadaan istrinya yang masih hemm tidak usah diperjelas



"Kok" kaget Arva yang ternyata pelayan penghantar pesanannya adalah seorang wanita, padahal ia sudah memesan agar pelayan yang mengantarnya jangan dari kalangan wanita, atau kejadiannya akan seperti ini. Bukannya segera melakukan tugas, pelayan itu malah sibuk melihat pemandangan yang harusnya hanya diperuntukan pada istrinya.



"Mba, mbaaaa" jengah Arva, pasalnya sudah beberapa kali ia menyadarkan wanita itu, sudah seperti tak pernah melihat badan pria saja.



"Ahh iya tuan maaf" sahut pelayan tersebut



"Masuk saja, simpan disana" titah Arva



Pelayan itu tersenyum senang lalu segera menurut dengan apa yang dikatakan Arva



"Kenapa bengong?" heran Arva pada wanita yang malah mematung, melihat sosok yang ada di ranjangnya



Pelayan tersebut menggelengkan kepalanya lalu segera menyimpan semua makanan yang dibawa nya di atas meja "Permisi tuan" pamit pelayan tersebut



Arva mengangguk



"Maaf tuan, apa wanita ini.."



"Istri saya" jelas Arva yang sudah menutupi badannya dengan handuk yang disangkutkan di lehernya



Tak ada jawaban lagi, pelayan tersebut keluar dari kamarnya sambil menunduk lesu.



Arva hanya menghela nafas, apakah bekerja menjadi pelayan hotel termasuk pada service kebutuhan batiniah juga? atau mungkin pelayan tadi saja yang sedang berangan seperti kisah ftv, pekerja hotel yang bisa bersanding dengan konsumen hanya karena mengantar makanan? semudah itu? memang ada?



Sekian lama pikiran Arva berseliweran kesana kemari tapi wanita cantiknya sama sekali tak bergerak, posisinya masih sama persis. "Istri gue tidur atau mati sih?" keluh Arva sambil menghampiri Mikaela



"Sayang" panggil Arva pelan



Tak ada jawaban



Arva menempelkan telunjung dan jari tengahnya pada bagian leher, bagian nadi yang berdetak di bagian sana. "Syukurlah" ucapnya lega, sepertinya ia akan selalu khawatir kalau Mikaela sedang tidur, takut tidak bangun lagi. Oh tidak, jangan sampai, wanita itu harus ada selama ia masih ada. Egois? tentu tidak, sebab ia pun akan selalu ada untuk wanitanya.



"Mandi dulu kali ya" pikir Arva yang segera direalisasikan. Ketika wanitanya bangun maka keindahannya akan bertambah, dan tentu saja itu membuat wanitanya semakin tak bisa kehilangannya. Pasti



Mikaela meregangkan tubuhnya, ototnya terasa sangat lelah, mungkin karena efek dari kemalasannya berolahraga. Mungkin mulai sekarang ia harus membiasakannya, agar tidak mudah capek dan yahh tidak membuat suaminya berpaling. Jangan sampai



"Arva mana" kagetnya ketika sadar kalau tak ada siapapun di sampingnya. Namun kecemasannya terhenti ketika terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, tidak mungkin orang lain kan? mana ada



Ternyata sudah pukul 8, pantas saja perutnya lapar. Hal yang membuatnya bangun pun bukan karena ingin tapi perutnya saja yang sudah berontak.



Mikaela meraih gagang telepon yang ada di sampingnya dan berucap beberapa kata dalam sambungan panggilannya.



Setelah menyalurkan niatnya, Mikaela kembali membaringkan tubuhnya. "Mungkin aku bisa tidur sebentar lagi" gumamnya







Arva sudah siap sedia menyambut kesadaran sang istri dengan seikat bunga yang disembunyikan dibalik punggungnya



"Kenapa nyenyak sekali" gumam Arva. Kini tidurnya malah semakin nyenyak, tubuhnya hampir tenggelam seluruhnya oleh selimut kebesarannya



"Aku tidak sabar lagi" keluh Arva yang akan segera membangunkan wanitanya dengan sedikit pemaksaan



"Sayang bangun" ucap Arva



"Hei" panggilnya lagi sambil mengusap pelipisnya



"Kamu gak laper apa?" lanjutnya lagi



"Permisi tuan, mau disimpan dimana?" suara seorang pria dari arah belakangnya seketika membuat Arva bangkit dari kasurnya



"Kenapa kesini?" protes Arva



"Saya hanya ingin mengantarkan makanan pak" sahut pelayan pria itu



"Saya sudah pesan, gak liat disitu sudah banyak makanan yang masih utuh?" jelas Arva sambil memghampiri posisi orang tersebut "Lo salah kamar" tambahnya dengan suara yang mulai tersimpan tekanan di dalamnya



"Maaf tuan, tapi baru saja seseorang dari kamar ini memesannya"



"Bawa lagi keluar!" tegas Arva



"Tapi tuan.."



"Lo gak denger gue bilang apa?"



"Kok ribut-ribut sih?" suara Mikaela mencuat



"Sayang jangan bangun" tahan Arva



"Ada apa sih?" sahut Mikaela lagi tak mendengarkan



"Sayang diem disitu aku bilang" tegas Arva segera menghampiri istrinya



"Kamu apa-apaan sih?" keluh Mikaela pada suaminya yang malah melilit seluruh tubuhnya dengan selimut, hanya memperlihatkan kepalanya



"Ada orang lain"



"Aku tau, tadi aku pesan makan" balas Mikaela



"Tadi? kapan?"



"Pas kamu mandi" jawabnya



"Ini lepasinn, aku gak bisa nafas aisshhh"



"Tapi kamu gak pakek.." ucapannya terhenti ketika ternyata tubuh istrinya sudah terbalut dress santai selutut



"Aneh" delik Mikaela




"Simpan di.." ucapan Mikaela terhenti ketika sadar kalau di meja sudah tersedia banyak makanan yang tak jauh beda dari yang sekarang dibawakan.



"Dimana ya" lanjut Mikaela bingung



"Nih" Arva memberi beberapa lembar uang pada pelayan tersebut "Dan makanannya kamu makan saja, biar saya yang bayar" tambahnya, membuat pria itu mengangguk paham dan segera keluar dari kamarnya.



"Kamu udah pesan?" tanya Mikaela



Arva memutar tubuhnya lalu mengangguk "Suami yang baik bukan? menyiapkan makanan untuk istrinya yang susah bangun" ucapnya



Mikaela menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal "Maaf, tapi.."



Cup


Arva mengecup singkat bibir Mikaela, membuat ucapan yang berupa penyesalannya terhenti



"Kamu pasti lapar" ajak Arva, membawa tubuh istrinya untuk terduduk di kursi yang sudah disiapkan



"Kenapa diem? apa mau aku suapin? huh"



Mikaela menggelengkan kepalanya "Aku gak enak, harusnya.."



"Psstt, aku gak pernah menuntut sesuatupun dari kamu." potong Arva "Kita disini saling melengkapi, tidak ada ketetapan, mau aku atau kamu itu sama saja." lanjutnya



Mikaela mengangguk "Makasih" ucapnya. "Tapi bantu aku jadi istri yang baik, ingatkan aku kalau aku lupa, dan kalau kamu bangun lebih dulu kayak tadi bangunin aku" pintanya



Arva mengangguk "Iya sayang" ucapnya sambil mengelus halus pangkal kepala istrinya.



"Dibangunin juga gak bangun" gumam Arva pelan



"Kamu bilang apa?" tanya Mikaela ketika sudah menyuap sesendok nasi



"Enggak, nanti aku bangunin ya, kamu harus selalu bangun pagi, biar sehat" jelas Arva



"Kamu udah mandi?" tanya Mikaela



"Udah dong, emang kamu, makan masih ileran" ledek Arva, membuat orang didepannya mengerucutkan bibirnya karena merasa tersindir



"Makan yang rapi dong" ucap Arva sambil mengusap ujung bibir Mikaela yang menyisakan sisa makanan disana



"Nyamm" Arva melumat hasip dari usapan jarinya "Enak" tambahnya



Deg


Darahnya serasa melaju 2x lipat lebih cepat dari biasanya, Mikaela segera meraih segelas air putih nya lalu menenggaknya habis dalam satu tegukan



"Aku mau mandi" ucap Mikaela yang sudah bangkit dari duduknya



Arva mengangguk



"Kenapa masih diam? mau ngajak aku?" goda Arva



"Ck bukan, itu .."



"Buat kamu" jawab Arva pada pertanyaan yang belum tersampaikan sempurna, sebab petunjuknya sudah terlihat jelas.



Mikaela segera meraih bunga yang tergeletak di kasurnya lalu menghirup bau nya lama "Wangiiii"



Mikaela segera menghampiri suaminya yang masih anteng dengan makanannya lalu melingkarkan tangannya pada bahu Arva "Makasihh" ucapnya senang



Arva mengangguk "Iya sama-sama" sahutnya sambil mengelusi lengan yang melingkar pada tubuhnya



Cup


Mikaela mengecup singkat bibir Arva, membuat si pemilik menghentikan gerakan mulutnya yang masih mengunyah



"Enak" ucap Mikaela



Deg


Arva mengerjapkan matanya, waktu seakan berhenti begitu saja, wanita itu membuat badannya panas dingin



"Aku rasa aku akan ikut.."



Bruk


Pintu kamar mandi sudah lebih dulu membuat tubuh wanita itu menghilang dari pandangannya. "Lain kali aja" teriak Mikaela dari dalam, membuat Arva kembali terduduk malas







"Fotooo" pinta Mikaela yang sudah siap sedia dengan tanaman bunga sakura yang menghiasi wajahnya



Ctrek


Arva menekan tombol pada kameranya untuk mengambil gambar



"Bagus gak?" tanya Mikaela



Arva menautkan kedua alisnya "Kurang" jawabnya



"Yaudah sekali lagi" pinta Mikaela



Ctrek


"Bagus kan?" Mikaela segera menghampiri suaminya untuk melihat hasil potret dirinya



Arva berdecak "Ada yang kurang sayang" ucapnya



"Mana liaaattt" Mikaela berusaha mengambil alih kamera yang tak diberikan Arva



"Aishhh aku liat" kesal Mikaela



"Sini sekali lagi" Arva mengaktifkan kamera depan lalu mengarahkan kepadanya, membuat Mikaela mengurungkan niat ngambeknya



Ctrek


Cup


Hasil foto menunjukkan Arva yang sedang mengecup pipi Mikaela, sedangkan Mikaela terlihat agak terkejut karenanya yang tiba-tiba



"Ini baru lengkap" ucap Arva



"Jadi maksud kamu tadi.."



"Iya, tadi kurang ada aku" jelas Arva



•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


JANGAN LUPA FOLLOW YA