My Cold Senior

My Cold Senior
Punya Arva !!




Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading β™‘β™‘



Satu per satu sudah meninggalkan pemakaman, hanya tinggal Mikaela sendiri. Tak ada yang lain selain bayangannya sendiri



"Mikaela mau ikut ibu" ucapnya lirih



"Kali ini aku gak akan salah lagi kan bu?" lanjutnya



Tiba-tiba sebuah elusan hangat di punggungnya menyadarkan lamunannya. Air mata nya kembali jatuh membasahi pipi nya yang belum kering



"Lo gak sendiri" tutur Melvin



"Kenapa bukan Arva? dia kemana saat aku butuh?" batinnya



"Hey.." Melvin menyadarkannya dengan mengusap bekas tangis pada pipi gadis itu



Mikaela menangkap tatapan Melvin dan menghambur pada pelukannya. Mikaela menenggelamkan wajahnya dengan tangis yang tersedu-sedu



"Kenapa sakit?" gumam Rani sembari menekan dada nya yang terasa sesak dari kejauhan



______________________



"Arva ??" panggil Danu pada anaknya yang langsung nyelonong masuk kedalam rumah



Arva menghentikan langkahnya



"Habis dari mana kamu? jangan bilang.."



"Tadi mami minta tolong Arva anterin barang ke temen pih" potong Shopia, menghentikan tuduhan suaminya



Danu memandang istrinya sejenak, ia tak berhasil menaruh curiga



"Arva.." tekan Danu menagih pembenaran dari anaknya



"Bukannya mami udah bilang?" jawab Arva singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya



blug


Arva menutup pintu kamarnya



"Gak mungkin" gumam Arva sambil menjambak kasar rambutnya



"Gak mungkin papi yang ngelakuin hal itu" ucapnya lagi mengelak kebenaran yang baru saja terungkap



"Apa selama ini gue gak kenal siapa bokap gue sebenernya?" batinnya menelisik kecerobohannya



"Selama ini gue hidup dengan manusia licik? apa lagi yang gak gimue tau" lanjutnya lagi jengah



Tok tok



"Arvaa.." panggil Shopia dari balik pintu



tak ada jawaban



"Mami masuk ya"



cklek



Shopia mengedarkan pandangannya, seisi ruangan bagai kapal pecah. Ini bukan Arva yang seperti biasanya, ia tidak akan membiarkan sprainya mengkerut sedikitpun



"Arva.." Shopia segera menghampiri anaknya yang terduduk di lantai sembari tertunduk dan menekuk lututnya. Pakaiannya kusut dengan wajahnya yang tak jauh beda, sungguh menghawatirkan



"Kamu kenapa nak?" tanya Shopia sambil merapikan rambut acak-acakan milik anaknya



Arva menepis perlakuan sayang ibunya tanpa rasa bersalah



"Apa yang udah Arva lupakan?" tanyanya datar, tanpq ekspresi



"Maksud kamu apa nak? kamu tidak melupakan apapun" tutur Shopia lembut



"Kenapa selama ini mami bohong?" lanjut Arva tanpa menghiraukan jawaban klise ibunya



"Ma mami gak bohong sayang" tutur Shopia meyakinkan



"Oke.. Arva akan cari tau sendiri!" ucap Arva sambil mengangkat tubuhnya



"Apa mami tau apa yang dilakukan suami tercintamu itu??" Arva memutar kembali tubuhnya, menghadap wanita paruh baya yang menatapnya sendu



"Suamimu telah membunuh orang!"



Plakk



Sebuah tamparan berhasil mendarat pada pipi Arva



"Jangan katakan hal yang tidak-tidak tentang papi mu" tegas Shopia dengan nafas yang tersengal menahan amarahnya yang ia seketika ia sesali



Arva tersenyum miris "Apa mami tau? dan mami membiarkannya? begitu?"



"Anak kurang ajar" suara bariton itu tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya



"Tidak, kamu salah paham" Shopia segera menarik Arva untuk disembunyikan di balik tubuhnya



"Jangan dibela lagi, anak itu udah kurang ajar sama orangtuanya" tekan Danu meraih lengan istrinya untuk menyingkir



"Jika sampai sedikit saja kamu menyakitinya, maka aku akan menyakitimu" tekan Shopia



Danu menghentikan aksinya, ia membuang wajahnya untuk meredakan amarahnya



"Mau apa? dasar pembunuh" Arva menghampiri ayahnya dengan tegap dan siap untuk segera menghadapi kekerasan



Urat leher Danu seketika mengeras, ia sungguh tak bisa menahannya lagi



Plak



"Ahh"



"Shopia.." Danu segera meraih tubuh istrinya yang tersungkur ke lantai akibat pukulannya



"Risa? apa benar kau membunuhnya??" tanya Shopia dengan tatapan kekecewaan



"Kau terluka" ujar Danu yang ingin segera mengobati memar pada wajah cantiknya



"Jawab !!" tekan Risa setengah berteriak



"Itu bukan kesengajaan, anak buahku yang terlalu bersemangat" jawab Danu sambil memutar tubuhnya



"Cih, dasar bajingan" sungut Arva penuh kebencian



"Beraninya kau !!" geram Danu



"Gadis itu hanya orang miskin, kenapa kau membelanya mati-matian? huh"



"Sampai berani melawan papi mu sendiri?"



"Dia gadis yang menyelamatkanku dari .." ucapan Arva terpotong, ia merasakan tekanan pada otaknya. Rasa sakitnya sampai mengganggu gendang telinganya dan membuat penglihatannya meremang




"Aku akan mati kalau saja gadis itu tidak berada disana" tekan Arva setelah kesakitannya mereda



"Tapi gara-gara aku dia hancur, dia dilecehkan oleh orang suruhan wanita jalangmu, sialan"



"Lo itu biang masalahnya"



Plak



"Jangan sekali-kali kau berani bicara seperti itu padaku lagi" peringat Danu dengan nafas tersengal



"Kau mengingatnya?" gumam Shopia



sejak kejadian 13 tahun lalu anaknya kehilangan ingatannya, ia tidak ingat penculikan yang terjadi selama satu minggu yang menimpanya



Flashback On



"Aku tidak tahan" gumam pria dewasa itu sambil menciumi dan menelanjangi gadis kecil yang kesakitan karena perlakuan yang diterimanya



"Hiks sakit.. tolong.. ibuuuu"



Arva mendengar jeritan gadis itu, gadis kecil yang menemani kesendirian dalam kegelapannya



Ia berada di atas meja kayu, diperlakukan dengan tidak senonoh oleh pria bejad tak tau adab



"Hiks.. Kael sakit" ringisnya



Dengan tatapan penuh amarah Arva berjalan menghampiri tempat dimana pria sialan itu melecehkan gadis penolongnya, ia menemukan benda yang tak asing di dekatnya, yang tak lain itu adalah mainan favoritnya yang biasa digunakan untuk menghabisi musuh. Arva mengangkat benda itu perlahan dan menarik pelatuk senjatanya



Duar



Suara tembakan menggema sampai ke luar gedung kosong yang mengurungnya



Pria bejad itu seketika jatuh ke lantai dengan mata terbuka mengerikan, darah kental mengucur dari kepalanya



Pltak



Arva menjatuhkan tembakannya, tatapannya kosong



Flashback Off



"Arva benar, kalau dulu kau tidak bermain wanita mungkin anakku tidak akan jadi korban. Bahkan tidak ada orang lain yang ikut jadi korban" tutur Shopia



"Itu masa lalu, jangan dibahas lagi" tekan Danu yang masih berapi-api



"Tapi kenyataannya masalalumu berakibat fatal" tekan Shopia



Shopia menekan dada nya, ia merasa kesulitan untuk bernafas



"Mami" Arva segera menangkap tubuh ibunya yang sudah tak sadarkan diri



__________________



"Apa Rani tidak ikut?" tanya Mikaela pada Melvin yang baru saja menyalakan mesin mobilnya



"Tadi dia nyuruh gue pergi sendiri" jawabnya



"Kenapa begitu?" batin Mikaela tak mengerti



"Mungkin ada sesuatu yang gak bisa ditinggalin?" lanjut Melvin menebak asal



"Nggak.." Mikaela menggelengkan kepalanya



"Aku mau.." ucapannya terhenti ketika wajah kakak tingkatnya tiba-tiba berjarak satu jengkal dari wajahnya



"Gue mau berdua aja" tutur Melvin



Mikaela ******** bibirnya sempurna, ia segera membuang wajahnya ke arah lain



Melvin tersenyum tipis melihat tingkah gadis yang berada di hadapannya ini



"Gue suka sama lo" ucap Melvin yang masih tak merubah posisinya membuat hidung keduanya bersentuhan ketika Mikaela refleks menoleh kearahnya akibat pernyataan yang berhasil menohoknya



"Ka .. maaf" Mikaela menekan dada Melvin untuk membuat tubuhnya sedikit menjauh



"Kenapa?" tanya Melvin setelah menarik tubuhnya untuk kembali pada posisi normalnya



"Rani.."



Melvin menautkan alisnya ketika mendengar ucapan Mikaela



"Rani yang suka sama kak Melvin, bukan aku" lanjut Mikaela



"Jangan bawa-bawa orang lain, ini tentang kita" protes Melvin



"Yang penting gue suka sama lo, gue gak perduli sama yang lainnya" lanjut Melvin sambil memegang kedua sisi bahu Mikaela



"Ta tapi.."



"Tapi apa?"



"Aa aku .. akuuu udah punya Arva" ucap Mikaela asal



"Gue gak yakin" gumam Melvin



"Aku udah punya pacar!" ulang Mikaela kembali meyakinkan



"Dan aku udah anggap kak Melvin kayak kakakku sendiri, aku anak tunggal, aku butuh sosok seorang kakak, jadi.."



"Kenapa gak Arva aja yang lo anggap sebagai kakak? kenapa gue?"



Mikaela menundukkan wajahnya "Tapi aku salah, ini hari berkabung bagiku, gak sepantasnya kamu membicarakan hal seperti ini" sesal Mikaela seketika menjadi sendu



Melvin terhenyak, ia hanya tak ingin terlambat mengungkapkan isi hatinya



"Gue gak bermaksud .."



Mikaela tak habis pikir, ia kira pria ini tulus kepadanya, tapi nyatanya sama saja dengan pria lainnya, mengharapkan sesuatu dari kebaikan yang diberikannya.



"Mik??" Melvin segera turun dari mobilnya setelah Mikaela sudah lebih dulu pergi dan ia kehilangan jejak



Melvin mendengus "Bego" sungutnya menyesali kegegabahannya



β€’


β€’


β€’


PLEASE LIKE AND COMMENT


Follow juga instagramnya


lovelyliy_


😍😍😍


200 like+20 komen langsung update lagi !!