
Happy Reading ♡♡
Brukk
Mikaela mendorong Arva sampai tubuhnya mundur beberapa langkah
Entah keberanian yang datang dari mana sampai Mikaela bisa melakukan hal yang harusnya ia pikirkan lebih jauh lagi atau hidupnya akan tidak tenang
"Emm so sorry" ucap Mikaela terbata
"Lo berani juga" gumam Rani takjub dengan sikap Mikaela barusan
Rendra dan Vino seakan berlomba untuk melebarkan matanya
Arva menarik ujung bibirnya lalu menjilatnya karena serasa kering
Mikaela melebarkan mulutnya menganga sempurna ketika melihat tangan besar Arva mulai melayang ke arahnya dan kemudian menekan kedua matanya kuat, lalu ******** bibirnya tak kalah kuat
Rani pun sama, ia merasakan situasi yang dihadapi Mikaela saat ini seakan terjadi padanya juga.
Plakkk
Tangan Arva mendarat di dinding tempat Mikaela bersandar. Bukan karena ingin hanya saja Arva yang tak memberi celah sampai membuat Mikaela terpojok
Deg
Mikaela terhentak, ragu untuk membuka matanya atau tetap terpejam sampai tertidur saja sekalian
Tubuh Mikaela berada diantara kedua tangan Arva, kini gadis ini benar-benar tak bisa kemana-mana. Urat warna hijau timbul diantara tangan Arva menandakan ia benar-benar bertenaga menekan dinding itu
"Eghmm waktu istirahat udah mau abis" ucap Rani ragu diantara situasi menegangkan membuat Rendra dan Vino melirik ke arahnya seakan menyuruh "cabut" tanpa suara, mengingat para mahasiswa sepertinyabsudah kembali ke kelasnya masing-masing yang membuat koridor samping kantin benar-benar sepi selain mereka berlima
Mikaela menatap dada bidang di depannya tak berani mendongakkan wajahnya untuk membalas tatapan menakutkan. "Mikirrrrr" tekan Mikaela dalam hatinya
"Mikaela" panggil seseorang
"Ini kesempatan" batin Mikaela ketika Arva melihat ke arah suara dengan tekanan tangannya yang melonggar
Mikaela mengendap keluar dengan cara merendahkan tingginya untuk keluar lewat kolong lengan yang mengurungnya
"Rani ayookkk" ucap Mikaela sambil menarik tangan Rani yang langsung disadari oleh Arva dan kedua temannya
"Makasih ka Melvin see you" teriak Mikaela sambil berlari dan melambaikan tangannya ke arah Melvin
"See you? Ck" gumam Arva berdecak dan berlalu melewati tubuh pria yang sedang membawa tumpukan buku di hadapannya
________________________
"Ran aku duluan ya" Mikaela yang sudah membereskan isi tasnya berpamitan
"Lo yakin? Apa gue ikut lo aja kali ya nemenin lo.."
"Gausah Ran serius, kamu ikut kumpul aja tar kalo ada info kabarin aku ya ..dahhh" sanggah Mikaela dan segera berlalu
"Temen lo mana?" suara yang tiba-tiba muncul itu mengagetkan Rani
"Mikaela?" tanya Rani
"Ya siapa lagi" ucap Arva. Kali ini dia sendirian tanpa Vino dan Rendra disampingnya. Ya emang udah kayak bodyguard aja padahal tubuh mereka bertiga sama besarnya
"Udah pergi tadi" jawab Rani
Arva langsung berlalu setelah mendengar jawaban Rani tanpa jeda
"Gue anter ya" ajak Melvin yang menyusul langkah kecil Mikaela
Mikaela menyamping "gak usah ka" tolaknya lembut
"Ayookk" Melvin menarik lengan Mikaela berbelok menuju parkiran motornya, padahal harusnya lurus untuk langsung menuju gerbang
"Ta tapi aku ga langsung pulang mau ke.."
"Kemanapun gue anter" potong Melvin cepat
Mikaela memutar matanya jengah, padahal dia mau ke pasar. Menikirkan gimana caranya biar Melvin mengurungkan niatnya
"Dia ikut gue" ucap Arva menarik tangan Mikaela yang satunya menghentikan langkah keduanya yang sudah di area parkiran
"Gue" kukuh Melvin menarik Mikaela ke arahnya
"Gak bisa! Dia ikut gue" tarik Arva ke arah yang berlawanan
"Emang tali tambang apa?" gerutu Mikaela dalam hati
"Stooooppppp! Aku bisa pulang sendiri" Mikaela menarik kedua tangannya yang ditarik kedua pria itu
Arva dan Melvin tertegun mendengar teriakan cempreng Mikaela
"Gilaa" gerutu mikaela dengan langkah besarnya
"Cewek lo udah berserakan, masih kurang?" ucap Melvin yang merasa terganggu
"Bacot" balas Arva yang segera berlalu
"Vin kunci motor lo mana?" tanya Arva dari kejauhan
Vino merongoh saku celananya dan melemparnya dengan tepat ditangkap oleh raupan tangan Arva
"Lo bawa mobil gue" titah Arva kembali melemparkan kunci mobil sport nya
Vino mengerutkan keningnya melihat Arva yang terburu-buru
"Arva mana?" tanya Rendra yang baru keluar dari kelas
"Dia pake motor gue barusan, tau deh mau kemana" jawabnya sambil menggedikkan bahunya
______________________
10 menit menunggu akhirnya ada juga bus yang sedikit lengang. Mikaela segera menaikinya tanpa ragu, naik angkutan umum udah jadi kebiasaannya sejak di luar negri, tapi mungkin di indonesia lebih ekstrim sih karena lebih berdesakan dan satu lagi, banyak preman !
Mikaela mengibas-ngibas tangannya kepanasan "duduk mba" tawar sosok lelaki di depannya yang mengalah untuk menggantikannya berdiri
Mikaela mununjuk diri sendiri "saya?" ragu. "Iya.. Sebentar lagi saya turun ko" ujarnya lagi
"Makasih"ucap Mikaela dan hendak duduk tapi ia melihat di sampingnya ada nenek tua yang terlihat lemah membuatnya tak tega untuk duduk "duduk nek" ucap Mikaela dengan senyum tulusnya mempersilakan
Nenek itu terlihat ragu lalu mengiyakan "mau kemana neng?" tanya nenek tadi
"Ini saya turun habis ini nek" jawab Mikaela lembut
"Semoga hidupmu penuh dengan kebahagiaan" ucap nenek sedikit berdiri untuk meraih pipi Mikaela, membuat gadis itu membungkukkan badannya untuk memudahkan sang nenek. Ia membalasnya dengan menyentuh lembut tangan nenek yang mengusap pipinya.
Ting
"Saya turun nek, hati-hati ya" ucap Mikaela berpamitan
Sebuah motor berhenti tepat di depan Mikaela yang akan menyebrang.
Arva membuka helm full face nya membuat Mikaela menatap tak percaya lalu kembali berjalan dengan menutupi wajah dengan satu tangannya
"Aduhhh apa lagi" keluhnya ketika ujung pakaiannya ditarik seseorang dari belakang
"Apasih?" bentak Mikaela yang sudah sampai di sebrang jalan lalu memutar tubuhnya
Anak kecil umur 8 taunan itu segera melepas pegengannya dan mulai menangis karen mendapat bentakan Mikaela yang menyeramkan
"Aduh adek maaf sayang" Mikaela berusaha menghentikan tangisan anak kecil itu merasa bersalah
Tap tap
"Mau permen?" ucap Arva mensejajatkan tingginya dengan berjongkok sambil menyodorkan lolipop
Anak kecil itu mengucek matanya sambil menahan segukan lalu mengambil pemberian Arva ragu
Arva mengacak puncak kepala bocah lelaki itu gemas untuk menambah keakraban diantara mereka sedangkan Mikaela tertegun melempar pandang ke arah Arva dan anak itu secara bergantian
"Yaampun Adit sayangg mama bilang jangan kemana-mana tadi" ucap seorang wanita umur 30 an yang baru menyebrang lalu dengan cepat memangku anaknya
"Mamaaa" panggil Adit
"Kamu nangis sayang?" tanya mamanya
Mikaela menyentuh belakang lehernya merasa bersalah "maaf bu tadi sayaa.."
"Lain kali jangan tinggalin anaknya sendirian, untung masih di sekitaran sini" potong Arva langsung memprotes dengan sikap dinginnya
"Iya maaf, makasih ya" ucap ibu itu dan berlalu
Mikaela menghembuskan nafasnya lega, ia kembali empet ketika menyadari ada Arva di sampingnya
"Kamu punya masalah apa sih?" tanya Mikaela gusar
"Gaada" jawabnya singkat
"Terus kenapa ngikutin?" tanyanya. Arva hanya mengedarkan pandangannya ke segala arah tanpa menjawab
5 menit menunggu yang tak kunjung ada jawaban selain saling tatap "oke gausah ikutin lagi" tegas Mikaela menyegerakan langkahnya
Waktu berharganya terbuang, harusnya jam segini Mikaela udah belanja setengah dari daftar belanjaan
"Lo yakin belanja ke tempat ini?" tanya Arva ketika sampai di pintu masuk gedung besar yang disebut dengan "pasar becek" ya karena di dalam gedung itu berlantai kotor dan sesuai namanya hemm sedikit becek
Mikaela menyentuh pelipisnya merasa pusing akibat pria yang mengekorinya sejak tadi "udah aku bilang kamu pergi" mohon Mikaela melembutkan suaranya
Arva mendahului Mikaela memasuki gedung di depannya santai "ko diem?" tanya Arva yang melihat Mikaela masih di posisinya dengan ekspresi keberatan
"Masih ada lagi ?" tanya Arva tak percaya, melihat tangan kiri dan kanannya sudah penuh dengan kantong belanjaan
"Sini aku yang bawa" ucap Mikaela menghentikan ocehan pria rese di sampingnya
"Tuh lo ambil yang baru dibeli aja"
"Hemm yaudah" ucap Mikaela kembali membayar sayuran yang udah selesai dikemas
"Lo biasa belanja sendiri?" tanya Arva di sela langkahnya
"Kalo gue gak ikut, lo yang bawa semua belanjaan ini?" tanya Arva lagi menghalangi langkah gadis yang tak menggubris pertanyaannya
Mikaela menekan giginya "ya emang kenapa? Kan ada ojol bisa nganterin sampe rumah! ga jalan kaki kan" jawab Mikaela sekenanya
Suit suit
Sekumpulan pedagang lelaki umur 20 an menggoda ketika Mikaela melewati jalannya
Eh anjir itu cowoknya
Wihh dipelototin bodyguardnya
Hahaha neng mampir sini gratis ajalah ayo
Arva menatap tajam ke arah para pria yang menggoda Mikaela serta menatap seolah mengejek dirinya "nantangin ni orang" ujarnya hendak kembali memundurkan langkahnya
"Mereka cuman becanda" cegah Mikaela menarik lengan Arva
"Sampe sini aja! Aku mau pesen taxi online" ucap Mikaela
Arva menghentikan taxi yang melintas di depannya lalu memasukkan belanjaannya.
Mikaela menghentikan aktivitas membuka aplikasinya melihat kesemena-menaan pria di hadapannya, tanpa izin lebih dulu
"Masuk!" perintah Arva yang membuka pintu taxi
Arva menarik tubuh mungil itu untuk segera masuk tanpa mendengar persetujuan
"Geser" ucap Arva lagi
"Kamu ikut?" tanya Mikaela
Tanpa menjawab Arva memasukkan tubuhnya membuat Mikaela terpaksa menggeser posisi duduknya lalu mobil mulai melaju
"Tapi itu motor kamu.." Mikaela menunjuk jendela sampingnya
Cup
Ciuman singkat mendarat di bibir Mikaela ketika ia memutar wajahnya
Mikaela terkejut tak kepalang, ia mengerjapkan matanya beberapa kali "My first kiss" gumamnya sambil menyentuh bibirnya
"Really?" ucap Arva datar tanpa penyesalan
"Maksud kamu apa? Kamu gabisa seenaknya gitu dong kamu pikir kamu siapa" amuk Mikaela tak terima
Cup
Arva kembali mencium bibir yang tak henti bergerak itu membuat Mikaela semakin marah dan memukul Arva secara membabi buta
"Masih gamau diem" ucap Arva lalu meraih kedua tangan Mikaela yang memukulinya dan menguncinya di samping tubuh Mikaela sampai tubuhnya terpentok jendela
"Lepass..." arva kembali membungkam bibir Mikaela dengan bibirnya. Bukan ciuman singkat melainkan ciuman yang menuntut balasan
Arva menarik bibir bawah Mikaela dengan bibirnya untuk mengakhiri lumatannya
Napas Mikaela tersengal menghirup udara sebanyak-banyaknya
"Cuman ini yang bisa bikin lo diem" ucap Arva sambil mengusap lembut bibir basah Mikaela yang memerah dengan ibu jarinya
Mikaela ******** bibirnya kuat, dadanya terasa sesak. Matanya terasa perih
Hiks
Mikaela menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menunduk sambil sesegukan