
Follow instagramnya @lovelyliy_ untuk tau info tentang cerita yang aku tulis ini😉
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Lo sama gue" Arva meraih pergelangan tangan Mikaela dan menariknya untuk menjauhkan jaraknya dengan Melvin
Mikaela terhentak lalu seperkian detik kemudian Mikaela tersadar, siapa yang sedang menghampirinya saat ini. Bisa-bisanya dia dateng dan pergi gitu aja
"Apaan sih" Mikaela menghentakkan lengannya sampai pegangan Arva terlepas
"Mikaela gamau sama lo" tekan Melvin
Jika harus memaksa pada saat ini maka akan mencederai pesonanya, apalagi di hadapan Melvin
Arva dengan seribu keyakinannya hanya memainkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Mikaela yang pasti lebih memilihnya
Mikaela menghembuskan nafasnya berat, apa kali ini ia sedang diperebutkan oleh 2 pria hits di kampusnya. Yang bener aja? Emang di kampus ini gaada cewek cantik lain apa?
Mikaela meruduki diri sendiri, Kali ini semua pasang mata penduduk kampus yang berlalu lalang menatap ke arahnya.
"Mik.." panggil Melvin pada Mikaela yang masih tertegun belum mengeluarkan suara apapun.
"A aku.." Mikaela mengedarkan pandangannya
"Ran Raniii.." panggil Mikaela
"Aku sama Rani, bye" ucap Mikaela sambil berlari ke arah sahabatnya yang baru melangkah dari pintu masuk gedung bertingkat ini
Pandangan Melvin mengikuti kemana Mikaela pergi sebelum akhirnya tubuh pria yang menggagalkan rencana manisnya menghalangi pemandangan
Melvin membuang muka dan berlalu melewati Arva.
Arva menahan langkah Melvin dengan menelan dadanya dengan satu telunjuk "lo gausah ganggu dia" tekan Arva
Melvin menghembuskan nafasnya pelan. seperti biasa seterganggu apapun dia, Melvin tetap dengan gaya slow nya. Tidak mudah tersulut emosi atau bisa jadi pintar menyembunyikan kekesalannya
"Lo gak punya hak" ucap Melvin lalu menepis tangan Arva dan melanjutkan langkahnya
"Sialan"
Bugh
Sebuah pukulan dari lengan Arva mendarat di pipi kiri Melvin
Melvin terdorong beberapa langkah ke belakang dengan munculnya setitik darah di ujung bibirnya.
"Berani lagi lo deketin dia.."
"Gue gak akan mundur" potong Melvin. Membuat darah Arva mendidih sampai ke ubun-ubun
"Sialan"
"Arv.." cegah Vino dan Rendra, menahan Arva yang akan memukul Melvin lagi
"Lepasin.. sialan" Arva terus meronta
Melvin yang memegang pipi kebiruannya masih menatap tajam ke ara Arva pertanda ia tidak takut dengan peringatan yang diberikannya lalu kemudian pergi.
"Kenapa lo nahan gue" Arva menepis tangan Rendra yang masih memegang bahunya
"Sadar Arv .. ini kampus ! Lo diliatin semua orang" ucap Vino sedikit berbisik
Arva menarik nafas panjang, berusaha meredam emosinya yang seakan meluap. Arva mengedarkan pandangannya dan melihat ia memang sedang menjadi tontonan.
Arva dengan sejuta pesona tidak ingin kehilangan auranya, ia melukis senyum mematikan miliknya seketika membuat para gadis memelototkan matanya yang hampir keluar dari tempatnya.
Ketegangan yang tercipta tadi seakan terlupakan. Arva memutar tubuhnya dan berlalu diikuti oleh kedua temannya.
Rendra menepuk bahu Arva, takjub
Arva emang gak pernah mau ditempelin gadis manapun, tapi dia gak pernah membiarkan pesonanya pudar walaupun sedetik
____________________
"Emang dia pikir dia siapa" gerutu Mikaela dalam hati di sela langkahnya
"Mika.." panggil Rani
"Ahh iya.." jawab Mikaela yang tersadar dari lamunannya
"Lo mikirin apa sih? Gue manggilin lo dari tadi"
"Ahaha gak mikirin apa-apa ko" ucap Mikaela dengan tawa memaksanya
"Awass" Rani menarik Mikaela yang hampir menabrak tembok
Rani menatap tajam Mikaela "ehehe makasih" ucap Mikaela sambil mengusap halus pipi Rani
Rani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin guna Rani sebagai sahabat Mikaela itu salah satunya adalah menyelamatkan Mikaela dari accident terbentur benda di depannya
______________________
"Lo yakin Ran? Gak kependekan?" Tanya Mikaela sungguh-sungguh melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di depannya
"Kependekan? Itu masih kepanjangan kalo di club " sanggah Rani yang masih mengoleskan blush on di pipinya
Mikaelaemggerakkan tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri secara bergantian "Aku gak pede" Mikaela menarik-narik dress atas lututnya
"Cocokkk" ungkap Rani antusias. Menghampiri Mikaela yang masih setia di depan cermin dengan pakaian bermodel sama hanya berbeda warna
"Let's go" Rani meraih tas selempangnya
"Ayooo" ajak Rani sekali lagi pada Mikaela yang masih terlihat ragu
Rani meraih tangan Mikaela dan menariknya keluar dari kamarnya.
"Mom.. aku berangkat yaa" pamit Rani
"Tante .. kita berangkat dulu" susul Mikaela lalu mencium punggung tangan mama nya Rani
"Ran, liat tuh.. Mikaela aja sun tangan" sindir mama nya
"Dia mau ke Club apa ke pengajian sih" batin Rani lalu mengikuti jejak temannya untuk mengecup punggung tangan mama nya
"Jangan malam-malam ya pulangnya" ucap Ratih meninggikan suaranya agar terdengar oleh anaknya yang sudah berlalu
"Okee" jawab Rani yang sudah sampai di ujung pintu
____________________
Dup dup dup
Mikaela menutup lubang telinganya, padahal ia baru sampai di pintu masuk
"Ishh ayoo" Rani menarik lengan Mikaela yang malah mematung, menghalangi orang yang ada di di belakangnya
Mau masuk gak sih
Ayo dong
Lama banget si
"Sorry ya" ucap Rani merasa bersalah lalu mendorong tubuh Mikaela dari belakang
Rani yang penuh semangat itu sungguh berantusias ketika berhasil menerobos masuk kedalam "amazing" gumamnya kesenengan
Mikaela menarik gelas berisi air bening yang akan Rani minum "Aku gamau kalo nanti harus ngangkat badan kamu" peringat Mikaela
"Ck iyadehhh" Rani berdecak lalu mengurungkan niatnya
"Heyy" sapa Melvin yang langsung menempati kursi kosong di samping Mikaela
"Eh ka" ucap Mikaela
Mikaela ******** bibir sambìl menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya "jangan liatin aku kayak gitu" ucap Mikaela merasa tidak nyaman
"Ahh Sorry" ucap Melvin mengalihkan tatapannya yang terkesima dengan penampilan Mikaela
___________________
Tap tap
Arva melangkahkan kaki jangkungnya memasuki ruangan remang, bikin pening kepala orang yang gak biasa masuk sini.
Tanpa disuruh, semua orang yang melihat kedatangan Arva meminggirkan tubuhnya, memberi jalan untuk Arva dengan aura mematikannya.
Ganteng banget sist sumpahh
Ka Arva ..
Gue gabisa ngedip ini gimanaa
Liat gue dong sekaliiii ajaaa
Arva melihat ke arah gadis tadi
Akkkkk dia liat gue tuhaaannn
Lo nyebut tuhan di tempat beginian? Mana ada
Bodo amat.. badan gue lemes !
Arva memasukkan tangannya di saku celana bahannya dan mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu
Dengan sekali edar, matanya sudah menangkap sosok yang ia cari. Arva seakan lupa cara berkedip, tatapannya tak lepas dari gadis yang duduk di kursi depan sana.
Rambut yang tak digerai seperti biasanya, memperlihatkan garis leher jenjangnya. Wajahnya tidak penuh dengan warna-warni, gak kayak kebanyakan perempuan yang penuh coretpn di wajahnya
"Cantik" batin Arva
Arva yang akan menghampiri gadisnya, seketika kembali mematung dengan mengepal kuat tangannya yang sejajar dengan garis celananya
"Sialan" umpat Arva pada pria yang memulai perbincangan hangat antara mereka.
"Oii .. ko masih disini" ucap Rendra menepuk bahu Arva
Arva tak menjawab apapun selain tatapan tajamnya yang disadari oleh Rendra, ia pun mengikuti arah pandang Arva dan berhenti di satu titik terang. Seakan satu bintang yang bersinar di langit gelap
"Arv.." panggil Rendra ketika Arva melangkahkan kakinya ke rah Mikaela dan Melvin
Deg
"Gawat"
•
•
•
Please like and comment !!