
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Mikaela tertegun melihat apa yang ada disana, mulutnya terbuka lebar dengan mata yang membulat sempurna
bagaikan keluarga yang seharusnya. paman dan bibinya saling bersenda gurau disana, itu pemandangan yang sangat indah.
apa yang membuat Mikaela tak percaya adalah, Nayla yang memergoki dirinya sedang berdiri dibalik tembok kini menghampiri dan menarik lengannya untuk bergabung dengan mereka
"Kenapa diem disitu?" tanya Nayla pada Mikaela
"Sejak kapan keberadaannya diakui?"
"Sudah bangun?" tanya bibi nya amat lembut
"Ada apa? kenapa gak kayak biasanya?" banyak pertanyaan muncul dalam benaknya
"Kaa sini cepetan.. Mikaela udah bangun nih" ucap Nayla pada Arva yang baru keluar dari kamar mandi
Mikaela menautkan kedua alisnya "Ar Arva?" gumamnya ragu lalu melihat ke belakang tubuhnya yang benar saja Arva memang ada disana
"Dasar comel" sebut Arva sambil mengacak rambut Nayla gemas
"Yee biarinn"
"Kenapa mereka akrab banget?" herannya
"Apa yang terjadi selama aku tidur?" batinnya lagi.
ini memang harapannya, dianggap ada oleh satu-satunya keluarga yang ia miliki. tapi kalau tiba-tiba begini siapa yang gak curiga? apalagi ada campur tangan orang asing
"Aku mau ngomong" Mikaela menarik lengan Arva sekuat tenaga untuk ikut dengannya
"sebentar ya.." izin Arva pada yang lainnya disela tarikan tubuhnya
"Kamu ngapain mereka??" serbu Mikaela setelah sampai di kamarnya
"Ngapain ngajak gue kesini?" tanyanya sambil menunjukkan senyum smirknya
"Kamu ngapain mereka??" tegasnya lagi
"Siapa yang ngapa-ngapain?"
"Kenapa mereka berubah? gak kayak biasanya"
"Emang biasanya gimana??"
"Kenapa pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan lagi?" protesnya
"Lo ngomong apa juga gue gak ngerti" jawabnya
"Cukup ya! setelah ketemu kamu aku rasa hidupku jadi aneh.."
"Aku lebih baik diperlakukan buruk kayak biasanya daripada diperlakukan baik tanpa tau alasannya kenapa"
"Emang selama ini lo gak diperlakukan baik sama mereka?"
Mikaela tertegun karena pertanyaan Arva yang kali ini membuatnya mati kutu. ini sama saja dia menjelekkan keluarganya sendiri
"Eng enggak ko! mereka keluargaku! gimana mungkin?"
"Terus masalahnya??"
"A aku haus" Mikaela segera melengang pergi

"Lo pikir bisa pergi gitu aja?" ucap Arva sambil menutup mulut Mikaela dengan pipi yang masih mengembung akibat air yang belum sempat ditelannya
Glek
Mikaela menelan sisa airnya dengan susah payah. sebab keberadaan Arva membuatnya banyak mengalami kesulitan. termasuk menelan seperti saat ini
Mikaela menancapkan gigi tajamnya pada lengan besar yang berani menyumpal mulutnya
"Ahhww" ringis Arva dengan suara tertahan
Mikaela menjauhkan dirinya lalu menjulurkan lidahnya "Rasain" ucapnya puas
"Ck" Arva berdecak lalu menarik ujung bibirnya keatas
"Jadi mulai minggu depan ya kak??" tanya Nayla semangat dan dibalas anggukkan tak kalah semangat oleh Arva yang udah muncul sambil memegang lengan bekas gigitan Mikaela yang disambut puas oleh si pelaku yang sekarang senyum meledek
"Mulai? emang mau ngapain?" tanya Mikaela yang akhirnya membuka suara
"Setiap weekend Arva akan menginap disini" jawab paman
"Hah.. apa?"
"Kok kaget sih?" protes Nayla
"Tapi kenapa? kenapa dia harus nginep disini?"
"Ya emang kenapa sih? lo aja disini numpang kan?" celetuk Nayla membuat Mikaela tak lagi berniat untuk berkomentar
"Gue aja yang punya rumah fine fine aja ko" tambahnya lagi
"Naylaa.." Erik memberi tanda pada anaknya yang bicaranya mulai kelewatan
"Gapapa kok paman.. emang bener juga" ucap Mikaela mengakui perannya
"Bener apanya? kamu kan keponakan paman" ujar Erik tidak membenarkan
"Arva mau ngajarin secara cuma-cuma alias gak bayar! jadi kamu harus bersikap baik sama Arva! jangan kayak tadi" ucap bibi nya menambahkan
Kenapa harus Arva? padahal kan Mikaela juga mahasiswa di kampus itu. bukannya dia juga pantas dapat kepercayaan?? walau sebenarnya Mikaela juga bingung dengan kemurnian kelolosannya, mengingat test matematika yang ia isi semampunya
Arva?? ya memang!! bukan hanya terkenal karena kepiawaiannya dalam mengambil hati oleh pesonanya tapi ia juga jadi andalan yang diutus kampus dalam olimpiade fisika 2 tahun berturut-turut. itu berarti terhitung sejak awal ia masuk kesana
Mikaela menatap sinis ke arah pria yang lagi dibela mati-matian oleh semua orang yang ada disini. sedangkan Arva sibuk mengunyah cemilan yang disajikan di meja.
Masalahnya ini kan kelakuan kepribadian yang lain. kalau Arva yang asli udah balik, dia bakal lupa dengan semuanya. termasuk kesepakatan yang dianggap penting oleh keluarganya.
"Kebetulan ada kamar kosong .. biar nanti Mikaela yang bersihkan" ucap bibi nya tiba-tiba
"Mikaela.." panggil bibinya menuntut jawaban ya dari mulutnya
"I iya bi" jawab Mikaela. terpaksa dan mau tak mau harus mau
"Aku pengen banget punya kaka laki-laki.. kak Arva mau kan jadi kakakku??"
"Dengan senang hati tuan putri" jawabnya
"Yeeee" sorak Nayla sambil memeluk Arva
"Nayla.." protes Erik
"Maaf ya nak Arva.. Nayla emang suka berlebihan" lanjutnya
"Gapapa ko paman.. lagian Nayla udah saya anggap sebagai adik saya sendiri" ucap Arva
Mikaela merutuki dirinya sendiri. kenapa Arva harus masuk dalam permasalahan keluarganya? Mikaela yakin Arva yang sesungguhnya pasti bertolak belakang dengan yang dilakukan dirinya saat ini.
"Tunggu apa lagi? Mikaela bersihkan kamarnya" titah bibi nya
"Se sekarang??"
"Iya!!"
"Tapi kena.." Mikaela menghentikan ucapannya atau akan dianggap membantah
"Iya" ucapnya menurut
Arva menahan dirinya yang ingin menyusul Mikaela, ia tak mau ketauan menyukai Mikaela atau kesepakatan antara mereka akan batal
"Tidur sana" titah Arva pada Nayla
"Tapi .."
"Kalau mau pinter jangan sering begadang" ucap Arva lagi
"Tuh dengerr" ucap Erik menyetujui
"Iyadehh" ucap Nayla langsung balik kanan, pergi ke kamarnya
"Kamu tunggu disini aja ya paling Mikaela bentar lagi selesai, paman besok masuk pagi" ucapnya yang disambut hangat oleh Arva yang sejak tadi memang menunggu ketiadaan mereka semua
"Mik.." panggilnya. Arva mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan kecil yang akan jadi calon kamarnya dan tidak ada Mikaela disana. "mana ada?" gumamnya saat melihat tak ada tanda-tanda habis dibersihkan melihat ranjangnya yang tanpa sprei dan bantal disana
"Terus tadi.." Arva segera beralih ke tempat dimana pasti Mikaela berada
Cklek
"sleeping beauty" gumamnya. bukannya Mikaela baru aja bangun? harusnya ia bakal sulit tidur malam ini. atau sengaja?
Arva mengintip wajah Mikaela yang membelakangi arah pintu kamarnya. Mimik wajah gadis itu sangat damai dalam tidur yang ke sekian kalinya. tak ada tanda-tanda adanya drama disana
Arva menaiki ranjang dengan hati-hati, dan dilihatnya dengan jelas wajah itu. wajah yang menemaninya ketika kecil dulu, wajah yang mampu membuatnya menahan tangis hanya untuk menenangkan gadis kecil itu.
Cupp
Arva mengecup kepala Mikaela lembut
Ketika ia akan mengangkat wajahnya menjauh dan hendak bangkit dari posisinya, Tanpa disangka Mikaela membalikkan tubuhnya lalu memeluk erat tubuh Arva
Arva menahan nafas sementara, agar Mikaela tak bangun karena hembusan nafasnya.
ia pasrah dengan posisinya saat ini. lagian bukan salahnya kan?? tidak apa-apa untuk malam ini saja.
Arva menarik selimutnya sampai menutupi tubuh keduanya, ia tersenyum senang sebelum akhirnya kantuk menyerang dirinya.
Flashback On
wanita itu meraih dagu Arva lalu mengabsen tiap sudut wajahnya yang tak berani membalas tatapannya
"kenapa kamu mirip sekali dengan priaku?" ucapnya
"itu membuatku takbisa menyakitimu" teriaknya frustasi
wanita itu melepaskan dagu Arva dengan kasar "biar kamu jadi gantinya" ucap wanita menyeramkam itu pada Mikaela yang bersembunyi dibalik tubuh Arva
Mikaela menjauhkan tubuhnya ketakutan "a ampun tante ampun"
Flashback Off
"Mikaela.." panggil Arva spontan yang terbangun dari tidurnya. ia melihat tak ada siapapun di sampingnya
•
•
•
Please like and comment !!