My Cold Senior

My Cold Senior
Pilihan



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Halo" terdengar suara Mikaela sambil terisak dari balik telepon



"Mik? lo kenapa? kenapa nangis?" tanya Vino penuh tanya



"Arva Vin, Arva hiks" adu Mikaela tak jelas dalam sela tangis nya yang tak kunjung berhenti



"Arva? dia ngapain lo lagi?"



tut tut



"Halo? Mikaela?" tiba-tiba rahangnya mengeras, sambungan teleponnya mati tanpa meninggalkan penjelasan apapun "Udah gak bisa didiemin" geramnya



fokus Mikaela segera beralih ke arah pria yang merebut ponselnya



"Ngapain lo nelvon Vino?" protes Arva setelah membuka alat bantuan pernapasannya, dengan suara berat sembari menahan ngilu pada luka pisau pada bagian perutnya



"A-Arva?" kaget Mikaela dengan sebelah tangan yang masih menyumbat aliran darah dari perutnya yang terluka oleh handuk putih yang hampir berubah warna menjadi merah seutuhnya "Kamu sadar?" lanjutnya dengan perasaan lega dan panik secara bersamaan karena masih dalam perjalanan menuju rumah sakit



"Mungkin lain kali gue gak bisa larang lo kayak gini, gue takut kalo nanti gue cuman bisa liat lo nangis tanpa bisa ngusap air mata lo" lanjut Arva sambil meraih pipi basah milik Mikaela



"Enggak, kamu gak boleh ngomong kayak gitu" kecam Mikaela



Arva tak bergeming



"Arva aku mohon, janji sama aku sekarang" pinta Mikaela



"Janji apa?"



"Janji kalo kamu gak akan kenapa-kenapa, cepet janji" jelasnya penuh tekanan



Arva tersenyum tipis "Arva cepet janji aku mohonn" ulang Mikaela untuk permintaannya yang belum terpenuhi



Arva mengangguk lemah "Gue janji" ucapnya



"Pak cepetan dong pak bawa mobilnya" pinta Mikaela pada sopir mobil ambulans yang dinaikinya



________________________



"Dok tolong selamatkan anak saya dok" ucap Shopia histeris



"Baik nyoya, kami akan berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter Seno



"Maaf nyonya, anda tidak boleh masuk" larang salah satu perawat yang menutup paksa pintu ruangan IGD



"Tapi saya ibunya" jawab Shopia



"Maaf nyonya"



"Udah mih, kita do'akan saja.."



"Diam!!" bentak Shopia pada pria yang sudah hampir 20 tahun hidup dengannya



"Puas kamu?? puas lihat anak saya seperti ini?" lanjutnya dengan tangis yang seakan sudah habis



"Mami ini bicara apa? Arva juga anak papi"



"Cukup! kalau memang kamu menganggapnya anak maka kamu tidak akan sekejam ini" timpal Shopia membungkam penuturan Danu



"Tapi ini diluar kendali papi mih.."



"Kalau sampai anak saya kenapa-kenapa, maka pada waktu itu juga hubungan antara kita tak akan ada lagi" ancam Shopia yang berhasil membuat lawan bicaranya mencelos



"Jangan ngomong apa-apa lagi, saya gak mau dengar" lanjut Shopia segera menutup kedua telinganya



"Pasien kehilangan banyak darah" ucap seorang perawat yang keluar dari ruangan memecah keheningan



"Saya" ucap Danu dan Shopia secara bersamaan



"Kalian orang tuanya?"



"Saya ibu nya, ambil darah saya saja. Saya rela kehilangan nyawa saya untuk menyelamatkan anak saya" tutur Shopia



"Ambil punya saya" susul Danu



"Enggak" elak Shopia



"Golongan darah Arva cocok dengan milik saya" potong Danu menjelaskan, menghentikan elakan istrinya



______________________



Dor dorr


"Ngapain sih lo gedor-gedor rumah orang? kan ada bel" protes Vino



"Gak ada waktu" timpalnya sembari menarik lengan pria itu



"Eh mau kemana? gue gak bisa" tahan Vino



"Ke rumah sakit" jawabnya



"Siapa yang sakit?"



"Entar aja gue jelasin, lo banyak cingcong entar keburu ilang nyawanya bahaya kalo kita gak cepetan sampe" tuturnya



"Emangnya kalo kita dateng cepet bakal nyelametin nyawa orang yang sekarat? enggak kan? ngarang lo. Gue sibuk" jelasnya sambil mengambil langkah lebih dulu untuk menghampiri motor nya



"Mau nyamperin Mikaela?" tanya Rendra, membuat pria yang sudah memakai helm full face nya itu segera membuka kaca helm yang menutupi wajahnya



"Dia di rumah sakit" lanjut Rendra menjawab hal yang ia sangka-kan



"Rumah sakit?" herannya



Rendra mengangguk "Arva kena luka tusuk" jelas Rendra



"A-apa?" kaget Vino tak percaya



"Kenapa bengong sih ayo" protes Rendra



Tanpa jeda, Vino segera melajukan motor nya, meninggalkan Rendra yang masih mematung "Woy Vinoooo" teriak Rendra



"Sialan" geramnya segera kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir



__________________________



"Ada nona Mikaela??" panggil salah seorang perawat




"Maaf tapi.." jawabnya terbata



"Tapi apa?" tanya Mikaela mulai gelisah



"Maaf nona, tuan Arva.. tuan Arvaa"



Mikaela berdecak dan segera menerobos masuk kedalam ruangan yang masih tertutup rapat



"Loh kok dicopot dok?" heran Mikaela ketika melihat semua alat bantu dicabut dari tubuh pria yang masih terpejam itu



"Arva?" panggil Mikaela segera menghampiri pria yang berwajah pucat di depannya



"Arva jawab aku" pinta Mikaela sambil menggedikkan tubuh Arva



"Apa ini nyata?" batin Mikaela yang mulai lunglai, untung saja ada sosok yang segera menangkap tubuhnya membuatnya tak jadi terkulai ke lantai



Pandangannya buram, terhalang butiran air yang memenuhi rongga matanya. "Hiks..hiks" Mikaela segera menenggelamkan wajahnya pada pelukan pria yang berada di belakangnya



Vino diam "Mik.." panggil Vino



Mikaela menggelengkan kepalanya "Arva Vin" tangisnya tersedu



Terdengar suara tangis namun tubuhnya tak kunjung mendapat pelukan, kemana gadis itu mengadu?



"Mikaela" tegas Arva, membuat gadis itu kembali pada tempatnya



"K-kamu sadar?" tanya Mikaela



"Emang lo maunya gue gak sadar? biar bisa meluk cowok lain? lo bosen sama gue" kesal Arva



"Ahh ahwww" ringis Arva ketika mendapat cubitan pada lengan atasnya karena sudah berbicara frontal dan menuduh Mikaela tanpa bukti, itu memalukan bukan?



"Kamu pikir aku gak tau?" protes Mikaela



"Kamu janjian kan sama dokter Seno biar sakitnya kamu tuh dibikin-bikin?" lanjutnya membuat semua tatap mengintimidasi ke arahnya



Dokter Seno segera mengedarkan pandangannya dan mencari jalan untuk bisa keluar dari tengah-tengah banyak manusia yang terasa kena prank



Danu melenguh lalu mengusap wajahnya kasar, anak sialan itu hampir membuat jantungnya copot. "Arva ini bukan main-main" protesnya



"Kenapa? papi takut jadi duda di umur segini?" tanya Shopia



Danu melihat ke arah suara yang sama sekali tak menunjukkan hal yang menyedihkan "Mami tau kalau Arva bohong?"



"Masih belum setimpal dengan apa yang papi buat" sahut Shopia, membuat pria itu segera mengusap rambut berubannya. Tak bisa marah selain mengusap dada



"Gue pengen denger keluhan lo tapi malah liat lo meluk cowok laen di depan gue?" protes Arva lagi melanjutkan hal yang belum usai



"Jangan-jangan kalo gue beneran.."



"Aku kayak gini karena aku tau kalo ini bohongan" potong Mikaela



"Aku gak tau bakal gimana kalau seandainya kamu bener-bener pergi, mungkin detik itu juga aku bakal pilih buat nyusul kamu." lanjutnya



"Enggak, gue mau lo tetep bahagia. Ada gue ataupun tanpa gue" sangkal Arva



"Kenapa kamu mikir begitu? apa kamu juga bisa bahagia kalau tanpa aku?" tuntutnya



Arva menggeleng "Oke, lupain. Yang penting sekarang kita berdua ada disini." ucapnya



"Tadi gue cuman mau denger.."



"Denger apa?" potong Mikaela



"Denger apa yang mau lo ungkapin, karena semua akan sia-sia ketika orang itu udah gak ada. Dan gue gak mau lo nyesel"



"Apa aku harus bilang tentang apa yang sebenernya udah kamu tau?"



Arva mengangguk "Harus"



Mikaela melenguh, ia memejamkan kedua matanya untuk mengumpulkan keberanian "Aku.."



Ucapannya terhenti ketika entah sejak kapan wajah pria itu sangat dekat dengannya.



Cup


Arva mengecup singkat bibir Mikaela, membuat gadis itu terpatung. Ia melakukannya di depan semua kerabatnya, antara terlapu berani atau tidak tau malu



"Jangan pernah berpikir buat ninggalin gue lagi" ucap Arva sambil mengusap lembut pipi gadis itu



"Papi, ini pilihan Arva. Dengan atau tanpa restu papi, mulai sekarang Arva bakal merjuangin apa yang bikin Arva bahagia" tuturnya



Danu merangkul bahu Shopia "Papi sudah setuju ketika semalam kamu berani mengambil keputusan untuk bergabung dengan perusahaan, papi hanya ingin lihat lebih. Tapi ternyata tindakan gadis itu di luar bayangan" tuturnya



"Papi serius??" tanya Shopia memastikan



Danu mengangguk "Papi juga akan menuntut pelaku agar dihukum" ujar Danu "Mami setuju, walau bagaimanapun yang berbuat salah harus menebus kesalahannya, siapapun orangnya." lanjut Shopia



"Dan lo, pertemanan kita sudah berakhir sejak lo tertarik dengan apa yang gue punya" ucap Arva melirik ke arah Vino



Vino mendelik "Lo gak pede?"



Arva mengangkat sebelah alisnya "Lo takut Mikaela berpaling?"



"Ternyata gue sehebat itu di mata lo" ujar Vino bangga



"Maksud lo apa?" tanya Arva tak sabar



"Gue cuman berusaha ada di deket Mikaela selagi lo gak ada" jawab Vino



"Emang lo pikir Mikaela bakal kuat ngadepin semuanya sendirian?? bahkan lo yang masih bingung dengan perasaan lo sendiri."



"Tadinya kalo lo gak balik, mungkin gue bisa jadi yang gantiin posisi lo" lanjut Vino yang sontak membuat rahang Arva kembali mengeras, tak terima dengan ungkapan yang terlalu jujur seperti itu



"Tapi Mikaela bukan type cewek kayak gitu" jelas Vino "Lo masih kepancing aja, heran gue" kesalnya



"Mik, kalo gue jadi lo. Bahkan sebelum kawin udah gue cerein duluan" lanjutnya sembari meninggalkan ruangan



•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment