
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Mikaelaaa.." panggil Reza panik sambil menepuk-nepuk pelan kedua sisi pipi nya
Reza segera membaringkannya ke atas kasur lalu pergerakannya terkunci ketika sebuah lengan melingkar di pinggangnya
"Gue lupa kalo cewek satu ini tukang tidur" gumamnya sambil menarik sebelah ujung bibirnya lega
Reza yang berkesempatan untuk melihat wanitanya lebih dekat dan lebih leluasa ini mulai mengabsen objek penglihatannya
Sebuah karya tuhan yang sempat hilang dan tidak boleh sampai terulang lagi.
Reza yang terpesona semakin hanyut dalam tatapannya, ia semakin mendekatkan jarak antara wajahnya dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik
Sebuah suara nyelengking seketika memenuhi gendang telinganya ketika bibir kenyal itu hampir tersentuh olehnya
Reza segera menarik dirinya untuk mengendalikan tubuhnya lagi "Kontak fisik akan menyiksa dan membuat gue hilang?? kenapa begitu?" geramnya tak terima takdir
Reza yang tak bisa apa-apa selain jadi guling hidup wanitanya ini bersusah payah untuk menahan godaan yang tak tertahan dari orang di sampingnya
"Brengsek" umpatnya dalam hati, lalu sedetik kemudian Mikaela lebih mengeratkan pelukannya sampai membuat si yang punya tubuh tak bisa leluasa bernafas karena takut mengusik tidurnya
Reza hanya bisa mengedipkan matanya saja sebagai aktifitasnya. Untuk terlepas dari posisinya saat ini memang tidak mungkin tapi kalau ikut tidur pun ia tak bisa sebab posisinya terlalu tidak nyaman kalau hanya sekedar tidur
Disela-sela lamunannya, tiba-tiba tubuh Mikaela menegang, menyadarkan si guling hidup yang sedang berkhayal untuk sekedar mengalihkan kantuknya
Tubuh Mikaela bergerak gelisah, disusul dengan peluh yang mulai membasahi pelipisnya "Ibu.." gumamnya pelan
"Mik.." panggil Reza sambil mengusap keringat pada wajah gadisnya
"Ibu.. ibuuuuu" panggil Mikaela lagi, setengah berteriak seketika bangun dan bangkit dari posisi tidurnya
Mikaela mengusap kasar rambutnya dengan nafas yang sudah tak beraturan
"Ada apa?" tanya Reza menyelipkan rambutnya ke sela telinganya
Mikaela seakan baru menyadari kehadiran Reza di sampingnya, ia hanya melihat aneh tak bergeming
"Mimpi buruk?" tebak Reza
Tanpa disangka, Mikaela menghambur ke pelukannya lalu menangis kelu disana
"Hikss .. ibu .. hiksss" hanya itu yang Mikaela katakan di sepanjang tangisannya
"Ssssttt.. itu cuman mimpi" ucap Reza menenangkan dengan mengelusi punggungnya
Mikaela melepas pelukannya "Aku harus cari ibu" gumamnya sambil mengusap kasar pipi basahnya
"Cari kemana?" tanya Reza yang tak dapat respon
"Gakbisa" tahan pria itu menutup rapat pintu kamarnya
"Minggir.." pinta Mikaela lemah
"Lo gak liat ini jam berapa?" protes Reza
"Aku gak minta pendapat kamu" kukuhnya sambil berusaha meraih kunci kamarnya yang sudah diambil Reza
"Lo tidur! kita akan cari besok" titah Reza
Mikaela menggelengkan kepalanya tak setuju, "Kamu gak ngerti" ucapnya sedih dengan air mata yang kembali merembes
"Gue paham, tapi masih ada waktu besok" jelas Reza sambil memegang kedua bahu Mikaela
"Tapi aku mau sekarang.." tegas Mikaela yang berhasil meraih kunci pintunya
"M-Mikaelaa" kesal Reza yang segera mengikuti langkah Mikaela yang sudah lebih dulu kabur dari jangkauannya
"Sekarang mau kemana?" tanya Reza pada Mikaela yang sudah di dalam mobil untuk menurutinya atau gadis itu akan nekat
Mikaela yang terlihat polos, tapi ia tidak seperti yang dipikirkan setiap kenalannya, ia bisa melakukan apa saja bahkan sampai melukai diri sendiri seperti yang ia lakukan tadi, mengancam akan melukai lengannya tepat di urat nadi dengan cuter kalau ia tak dibiarkan keluar
Mikaela diam, seolah ia pun bingung tak tau harus mencari ibunya kemana, sedangkan terakhir ibunya telvon dari telepon umum yang ada di bandara luar negri, Itu berarti ibunya masih dalam pesawat "Jalan aja" ujarnya
"Kenapa lo keras kepala" ucap Reza sambil mengelus puncak kepala gadisnya
Sepanjang jalan Mikaela hanya menautkan kedua lengannya sambil sesekali menggigiti kuku nya untuk mengalihkan kepanikannya
Reza segera meraih lengan yang menegang itu lalu menggenggamnya erat
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam, namun di berbagai tempat yang sudah disinggahi tak memberi tanda-tanda apapun
"Kita pulang" ucap Reza yang langsung memutar arah kemudinya sebelum mendapat persetujuan
"Turunin aku disini" pinta Mikaela
"Kita cari nanti lagi" jelasnya
"Mi Mik lo kenapa?" protes Reza ketika Mikaela mendekatkan wajahnya yang membuat Reza kehilangan fokus menyetirnya
ckiiit
Reza banting setir ke kiri, sepertinya Mikaela mengajaknya untuk bermain-main
"Mau nyium gue?" Reza menyeringai membuat Mikaela ngeri tapi ini demi membuat kepribadian itu hilang
Reza dengan lantang mengambil alih, ia mendorong tubuh Mikaela sampai terpojok di kursinya.
Reza yang berniat untuk menakut-nakutinya segera kembali pada posisi awalnya, membuat Mikaela gelisah dalam penantiannya sampai akhirnya ia kembali membuka matanya
Reza menggelengkan kepalanya "Nunggu apa?" ledeknya dengan memberi senyum miring
Reza yang hendak kembali melajukan mobilnya, tiba-tiba terhenti ketika Mikaela menarik kerah bajunya dan segera menyambar bibirnya tanpa persetujuan
Reza melebarkan matanya, tubuhnya menegang dan rasa sakit itu menyerang otaknya.
Hanya ini cara satu-satunya untuk bisa lolos dari kepribadian itu.
Pria itu menyudahi pagutannya dengan nafas terengah, ia membuka matanya pelan dan terkesiap ketika melihat wajah dengan jarak satu jengkal dari wajahnya
"Ke kenapa?" tanya pria itu membuat Mikaela membuka kedua matanya dan segera menarik tubuhnya untuk kembali pada posisinya
Arva menjambak rambutnya sendiri untuk meredakan pusing pada kepalanya lalu mengedarkan pandangannya untuk mengetahui keberadaannya sekarang
"Mikaela.." panggilnya ketika gadis itu berhasil keluar dari mobilnya
"Gadis itu kenapa?" keluhnya yang segera menyusul langkah cepat Mikaela
Entah berapa lama ia berlari yang jelas sudah membuat nafasnya ngos-ngosan dan tanpa sadar ia menelusuri jalan yang amat sepi dan menyeramkan dengan cahaya lampu remang-remang
"Ssuit suit" suara itu muncul dari arah belakang tubuhnya
"Mau kemana cantik?" ujar seseorang membuat Mikaela ketakutan setengah mati tanpa berani memutar tubuhnya untuk sekedar memastikan
Mikaela yang akan segera kembali berlari tertahan oleh cekalan seseorang pada lengannya "Le lepasin aku!!" tekan Mikaela
"Wihh gue suka nih sama yang begini, penolakan bikin greget bos haha" celoteh pria itu membuat bulu kuduk Mikaela berdiri
"Lihat kesini dong manis" ucap pria bajingan itu sambil meraih dagu Mikaela
Mikaela meringis "Arvaaaaaaa" teriaknya refleks
"Lepasin cewek gue" muncul suara bariton dari arah belakang tubuh ketiga pria bermasa depan suram itu
Pria itu melepas cekalan tangannya dan menyerahkan gadis incarannya pada temannya yang lain "Tapi mulai sekarang dia jadi cewek gue, tepatnya cewek yang bakal muasin kita melem ini haha" celoteh salah seorang yang langsung berhasil membuat urat leher Arva mengeras
"Jaga mulut lo ! brengsek" Arva segera menendang wajah pria tak tau adab itu membuat lawannya yang belum persiapan sudah tersungkur dengan darah menetes dari ujung bibirnya
"Anj*ng" teriak pria itu tak terima
Arva menepis pukulan yang akan pria itu berikan lalu kembali membogem pada perut lawannya.
Teman-temannya yang lain segera mengambil peran dan mencoba melawan Arva tapi sia-sia, tak satupun pukulan yang berhasil melukai tubuh pria tampan itu, sampai akhirnya ketiga pria jalanan itu melarikan diri sebelum tubuhnya mendapati luka yang lebih parah
Arva segera menghampiri Mikaela yang menekuk lututnya di sudut jalan "Mereka udah pergi" ucap Arva sambil membawa tubuh penuh ketakutan itu untuk berdiri
Arva merasakan pening kembali pada kepalanya, kalimat menjijikan bajingan tadi membuatnya tak bisa menahan emosi
Mikaela yang sedari tadi menunduk mulai memperhatikan Arva yang sedang kesakitan pada kepalanya "Arva kamu kenapa?" tanya Mikaela
Mikaela ******** bibirnya lalu memejamkan matanya sebentar, untuk sekedar mengumpulkan keberaniannya. Mikaela membingkai wajah pria itu lalu berjinjit dan menyatukan bibirnya dengan bibir milik pria di hadapannya ini, ia bersusah payah memperdalam ciumannya sampai dirasakan tubuh Arva yang tak lagi menegang
Ciumannya terlepas ketika nafas keduanya mulai tersengal "Ma maaf" ucap Mikaela gugup ketika menyadari apa yang sudah diperbuatnya
Arva kembali menarik dagu Mikaela yang hendak menarik tubuhnya untuk menjauh, Arva kembali menyatukan bibirnya dan memagutnya posesif membuat Mikaela yang jelas-jelas sadar menekan dada bidang miliknya untuk segera menyudahi
Arva tak ambil pusing, ia mencekal lengan yang mencoba melawannya dan semakin gencar memperdalam ciumannya
Plak
Sebuah tamparan mendarat pada pipi Arva setelah pagutannya terlepas, membuat pria itu meringis karena menimbulkan sakit pada bekas lebam pada wajahnya yang belum pulih
Tanpa sepatah kata dan dengan tatapan menusuk Mikaela segera melengang pergi ke arah asal, sedangkan Arva yang berada di belakang menyusul langkah gadisnya sambil mengelusi perih pada pipi nya
"Apa-apaan sih tuh cowok?" geram Mikaela sambil mengusap kasar bibirnya. Padahal ia melakukan itu hanya agar kepribadian itu gak muncul, sekedar itu
Malam sudah hampir berganti pagi, menyusuri jalan yang entah ke berapa kali dilaluinya namun masih nihil, hanya menemukan beberapa pasangan yang sedang bercumbu di tiap sudut
"Lebih baik kita pulang, kita cari besok lagi" keluh Arva pada Mikaela yang kukuh mengkuti feeling tak jelasnya
"Kamu sama Reza sama aja ya! lagian aku gak butuh bantuan kamu" kesal Mikaela yang hendak keluar dari mobilnya
"Oke.. kita cari" ucap Arva membuat Mikaela kembali duduk manis di tempatnya
"Stop" pinta Mikaela membuat Arva menghentikan mobilnya
"Itu kenapa?" tunjuk Mikaela ke arah samping jalan
"Sudahlah bukan urusan kita, fokus saja sama.." penuturan Arva terpotong ketika Mikaela sudah lebih dulu keluarvdari mobilnya untuk menghampiri orang-orang yang sedang mengerumuni sesuatu yang tidak terlihat jelas
"Ada apa ya bu?" tanya Mikaela penasaran pada seorang wanita paruh baya paling belakang
"Ada tabrakan neng" ujarnya
Mikaela yang tak puas segera masuk kedalam kerumunan itu untuk segera melihatnya dengan mata kepalanya sendiri
Tubuhnya menegang, kedua pupil matanya melebar dan tubuhnya tak kuat membawa beban dirinya, ia pun terjatuh
•
•
•
Please like and comment !!
COMMENT COMMENT COMMENT