
Mikaela lebih menyukai bau badan Arva yang alami tanpa tambahan benda berbau wangi dalam bentuk apapun, termasuk sabun. Mikaela bahkan tak ingin dekat-dekat kalau Arva habis mandi, sebaliknya ia akan menempel bagaikan perangko ketika pria itu terbangun dari tidurnya pada pagi hari.
Perlahan Arva dapat memahami, ia pun menurut apa kata ibunya yang mengharuskannya untuk lebih banyak membaca artikel mengenai kehamilan.
Pria ini lebih gesit daripada si tubuh yang didiami calon anaknya yang sekarang lebih sering menonton drama melow sambil ngemil. Arva bangun lebih pagi untuk sekedar menyiapkan sarapan dan susu hamil sang istri, dan tidur lebih lambat untuk sekedar memastikan istrinya terlelap.
Kini perut Mikaela sudah tambah membesar karena kehamilannya sudah menginjak 7 bulan. Seringkali Arva merasa ngeri sendiri, ia yakin kalau istrinya pasti kesulitan dalam beraktifitas.
Kini, efek morning sicknes tidak begitu parah. Mikaela tidak lagi mual karena bau wangi tubuhnya, hanya saja Mikaela masih amat sangat menyukai bau tubuh Arva yang sehabis bangun tidur. Maka yang terjadi? Arva lebih suka tak berwangi-wangi hanya agar Mikaela menempel terus padanya.
Matahari sudah mulai naik dan kedua mata Mikaela pun mengerjap. Waktu tidurnya semakin hari semakin lama, sebab ketika malam Mikaela sering mengalami kesulitan tidur karena tak bisa berganti posisi menjadi seenaknya lagi, seluruh badannya sering pegal-pegal.
Seperti biasa, di atas nakas sudah tersedia sarapan pagi buatan sang suami yang hanya diperuntukan padanya. Tapi ada sesuatu yang lain, tangan Mikaela menggapai kotak berukuran sedang yang tersimpan di samping makanannya.
Dress berwarna merah cerah dengan bahan berkelap-kelip beserta sepatu dan aksesoris lainnya yang seragam.
Untuk acara nanti malam! Happy new year dear❤
Mikaela tersenyum setelah membaca sebuah memo yang tertera di paling bawah, hampir saja Mikaela berpikiran buruk, ia pikir suaminya salah kirim, jantungnya hampir meledak.
"Acara nanti malam?" gumamnya.
_________________________
"Maaf pak, client tidak ingin me-reschedul lagi! mereka ingin selesai hari ini." ucap sekertarisnya.
"Kalau begitu kamu saja yang handle, saya tidak bisa berada di sini lebih lama!" pungkas Arva tak ingin kalah.
"Tidak bisa pak, project ini harus berada di pengawasan anda langsung."
"Apa kamu tidak bisa saya percaya?" lontar Arva.
"Sa-saya bisa dipercaya, tapi ...."
"Ini hanya salah satu project dari sekian banyak project perusahaan yang berhasil, jadi kalau saya kehilangan satu ini maka tidak akan jadi masalah besar!"
"Catherin benar!" suara yang lainnya mencuat.
"Urus sesuatu yang sudah kamu mulai sampai selesai!" lanjut Danu.
"Maaf pi, kali ini Arva benar-benar gak bisa!" kukuhnya bergegas pergi.
"Kamu ini calon bapak! bagaimana kamu bisa bertanggungjawab atas anakmu nanti kalau hak seperti ini saja kamu abaikan!"
Arva menghentikan langkahnya. "Hanya kali ini!"
"Tidak ada bantahan! selesaikan dengan cepat lalu urus urusanmu setelahnya." pungkas Danu sebelum akhirnya pergi dari ruangan.
Hening.
Arva berpikir cukup banyak.
"Pak, mau kemana?" tanya Catherine.
"Ke mana lagi memangnya? bawa berkas-berkasnya!" sahut Arva yang sudah berjalan dengan langkah besar sembari kembali memakai jasnya.
"Ba-baik pak!"
_________________________
Mikaela kembali berkaca, kehamilan ternyata membuat tubuhnya menjadi semakin seksi. Wanita itu tertawa kecil karena pikiran nakalnya, tapi itu memang sebuah kebenaran. Bahkan suaminya sendiri pun beranggapan demikian, hebat bukan?
Rambutnya dibiarkan terurai, dan beberapa jepitan menghiasinya, membuat kesan dewasa menjadi sedikit teralihkan.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun belum ada tanda-tanda suaminya pulang.
The number your calling is ....
Di mana Arva? Mikaela kembali melihat pantulannya di cermin, apakah sangkaannya tadi memang benar? Mikaela segera menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran tak mendasar itu, akhir-akhir ini entah mengapa bisikan setan selalu menyampah di pendengarannya.
Tok tok
Suara ketukan pintu
"Arva?" gumam Mikaela senang.
"Mami?" ucapnya sedikit kecewa ketika ternyata di balik pintu bukan seseorang yang sedang dinantikannya.
Mikaela menunduk sedih. "Iya mi, kayaknya gak jadi deh. Mikaela mau ganti baju aja kalau begitu."
"Eh jangan!" tahan Shopia. "Berhubung kamu udah dandan gini mending temenin mami, yuk?"
"Ke mana?"
"Acara temennya mami!"
Mikaela melenguh, semangatnya seakan hilang. "Mikaela mau istirahat aja deh Mi, kan kata mami aku gak boleh keluar malam, lagian ini udah jam 10, Mikaela ngantuk." tuturnya.
"Kamu yakin?"
Mikaela mengangguk.
__________________________
Arva berdecak kesal, hp nya lowbat dan ia sudah terlambat beberapa jam yang lalu. Mikaela pasti sudah menungguinya sejak tadi.
Laju mobil bertambah mencapai maksimal, semakin malam jalanan semakin lengang dan itu berarti ia bukan hanya terlambat, tapi acara yang ia janjikan mendekati tak kejadian.
"Sayang ...." panggil Arva.
Cklek
Membuka pintu kamar.
Mikaela sedang sibuk menggapai resleting dress nya yang berada di punggung, ia berencana berganti pakaian, mood nya sudah hilang.
Pergerakan Mikaela terhenti, Arva membenarkan kembali resleting yang sudah susah payah terbuka tanpa izin.
Mikaela segera memutar tubuhnya, ia terlihat amat kesal. Tak ada suara yang keluar, hanya saja tatapan yang diberikan sangat dingjn dan menusuk.
Arva menghela napas panjang. "Tadi aku benar-benar sibuk!" tuturnya sambil berjalan menghampiri posisi istrinya yang menjaga jarak. Mikaela akan kembali menjauh, namun Arva menahan bahunya lalu segera melingkarkan kedua tangannya pada perut buncit istrinya, ia memeluknya dari belakang dan menyimpan dagu lancipnya di atas bahu Mikaela. "Clientku sangat tidak sabaran! kalau saja tadi papi gak datang, hampir saja project ini kubatalkan demi kamu!" jelasnya.
Mikaela diam, ia tak merespon. Memangnya harus apa lagi kalau terlanjur kesal? Siapapun tidak akan bisa mengontrol hatinya secara menyeluruh.
"Sayang please. ... Aku lebih baik dengar omelanmu daripada kamu diam begini!"
"Aku ngantuk, mau tidur!" sahut Mikaela, membuat Arva melepas tangannya yang masih melingkar.
"Yakin?"
"Tapi aku tidak akan membiarkanmu tidur!" ucap Arva lagi, membuat langkah Mikaela terhenti.
"Maksudmu apa? anakmu ingin ibunya tidur!"
"I am sorry my baby, kali ini papa tidak akan mengabulkan inginmu!" sahut Arva sambip mengelus perut istrinya.
"Malam ini kamu terlalu cantik, aku mau merusaknya sedikit!"
Mikaela memalingkan wajahnya, membuat bibir Arva mendarat pada pipi mulusnya.
Namun Arva tak perduli, ia tetap menciumnya, dan ciumannya menjalar ke bagian leher jenjangnya, aroma vanilla khas Mikaela membuat Arva tak ingin berhenti.
"Ini pemaksaan!" keluh Mikaela, berusaha untuk tidak luluh.
"Aku sedang kesal kamu ngerti gak sih?" teriak Mikaela, sebelum ia benar-benar mabuk kepayang. Pergerakan Arva terhenti.
"Aku gak perduli acara yang kamu janjikan, aku hanya menunggumu pulang yang tak berkabar! aku hampir menyangka kamu keliru, aku pikir kamu tak sengaja meninggalkan kotak ini, aku pikir kamu menyiapkannya untuk wanita lain." tuturnya panjang lebar tanpa jeda, membuat napasnya terengah.
Arva hampir berucap. "Apa? tak masuk akal? iya aku tau, tapi aku tetap kesal, aku ...."
Arva menghentikan ocehan Mikaela dengan bibirnya, wanita itu terlalu banyak bicara, ia tak mau anaknya sampai mendengar hal yang tidak seharusnya.
Kini kedua tangan Mikaela sudah melingkar pada leher Arva, kini pertahanannya benar-benar runtuh.
Bersambung ...
**Jangan lupa follow aku di instagram: @Lovelyliy_ facebook/twitter: @lovelyliy95
Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa kasih vote yaaa**..
caranya klik detail lalu klik vote! biar cerita MIKAELARVA masuk ranking sampe 3 besar😍😍😍 thxu