My Cold Senior

My Cold Senior
Bisa Hidup



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Karena dia suka sama lo" ucap Arva membuat Mikaela segera menoleh ke arah suara



"Masih belom jelas?" tekan Arva. Mikaela segera menarik lengannya yang akan diraih pria itu



"Lo tuh begok atau gimana sih? udah jelas-jelas kalo dia tuh suka sama lo, dan lo masih mempertanyakan alasannya?" geram Arva



"Gak usah ikut campur" timpal Mikaela



"Jelas ini jadi urusan gue!" tegas Arva yang sudah berhasil meraih tubuh kecil itu



"Dan lo, gak usah ganggu cewek gue lagi" tekan Arva sambil menunjuk-nunjuk wajah tak terima pria itu



Arva menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tawa pria yang sudah dilewatinya, seolah sedang mentertawakannya.



"Kalo malem itu lo gak dateng, mungkin Mikaela udah jadi cewek gue sekarang" ucap Melvin



Arva memutar tubuhnya "Bukankah takdir berjalan dengan semestinya?" timpal Arva kembali melanjutkan langkah besarnya sambil menggiring gadis yang susah diatur itu







"Masuk" titahnya sambil memasukkan paksa Mikaela.



"Bisa gak sih kamu gak maksa?" protes Mikaela ketika pria itu memasangkan seat bell padanya



Arva menoleh "Gue gak akan maksa kalo lo gak ngelawan" timpalnya dengan wajah yang amat sangat dekat membuat Mikaela memgulum habis bibirnya sambil memalingkan wajahnya



Pada dasarnya Mikaela melawan karena terjadi pemaksaan. Apa pria itu tak tau bagaimana caranya memperlakukan wanita? apa bisa wanita luluh dengan cara seperti ini? kalau ada, coba sini tunjukkan siapa orangnya? biar gelut aja sekalian.







Arva segera menahan pergerakkan wanita yang kembali melepas seat bell nya, lalu membuat Mikaela terpojok dengan tubuhnya



"Semakin lo ngelawan, semakin lo gak bisa gerak sedikitpun" tekannya dengan menaikkan sebelah alisnya



"Lo itu kenapa?" lanjutnya tanpa merubah posisinya sedikitpun, membuat Mikaela tak bisa bernapas dengan bebas



"Jangan gini.." pinta Mikaela sambil menekan dada pria itu agar kembali pada posisinya



"Harusnya aku yang tanya begitu.."



"Bukankah mereka hidup dalam satu tubuh? begitupun dengan perasaan" jelas Arva seolah tau dengan apa yang akan menjadi pertanyaan Mikaela yang akan membahas kepribadiannya yang lain



"Sekarang gue tau kenapa kepribadian itu muncul, ingatan yang terlupakan itu udah kembali ke tempat asalnya, maka perasaan seperti ini yang harusnya gue rasakan sejak dulu" lanjutnya lagi



Hening



"Kamu udah dapetin apa yang kamu mau kan?" ucap Mikaela ketika Arva berniat untuk menyalakan mobilnya



"Apa yang gue mau?" ulang Arva



"Maksud lo apa?"



"Kamu udah ngambil hal terpenting dalam hidupku, terus setelah ini kamu mau apa lagi?" jelasnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca



"Gue mau lo ada di hidup gue" jawab Arva



"Untuk apa?"



"Agar gue bisa hidup"



"Jauh sebelum kita ketemu bahkan kamu udah hidup dengan penuh kesempurnaan, gaada yang kurang." pikir Mikaela



"Ada yang hilang, dan sekarang gue udah menemukan sesuatu yang hilang itu" jelas Arva



Mikaela tak bergeming



"Gue tau lo butuh waktu" ucap pria itu memahami



________________________



"Sayang lagi ngapain?" tanya Rendra merangkul tubuh Vanya tanpa izin, membuat perempuan itu terkesiap karena ulahnya



"Berani banget lo megang-megang gue!" protes Vanya segera menjauhkan tubuhnya



Rendra berdecak, ia merogoh ponsel dalam saku nya. "Lo lupa?" seringainya sambil menunjukkan beberapa pose intim dirinya dengan wanita tersebut



"Brengsek" sungut Vanya



"Hapus gak?" titahnya



Rendra menggelangkan kepalanya sambil menggerakkan telunjuknya, ia kembali menggulir layar di ponselnya lalu menunjukkan sebuah rekaman video



Vanya membulatkan matanya, ia ingin merebut ponsel itu namun Rendra dengan sigap mengangkatnya jauh lebih tinggi, membuat gadis itu tak bisa menggapainya



"Kalo sampe ini jatuh ke media, karir lo bisa ancur" bisik Rendra



"Oke, mau lo apa?" tanya wanita itu gusar.



"Gue mau lo jadi pacar gue" jawab Rendra sambil mengelus pipi Vanya halus



"Lo gila ya? gue punya Arva" timpal Vanya




"Gak ada yang bisa milikin dia selain gue" yakin Vanya tetap kukuh dengan pilihannya



Rendra mengangguk paham "Oke, kayaknya gue harus nunjukin ini sama Arva" ucapnya



"G-gue mau jadi pacar lo" tahan Vanya



"Asal lo jangan bilang hal yang macem-macem sama dia, Arva pasti benci banget sama gue kalo tau.."



"Sayangnya gue mau Arva tau tentang ini" seringai Rendra



"Rendraaaa" panggil Vanya sekuat tenaga. Wanita itu melihat Arva sudah keluar dari mobilnya dan menanggapi pria bajingan itu



Vanya menggelengkan kepalanya "Gak .. gak boleh. Arva gak boleh ninggalin gue" teriaknya histeris



___________________________



"Anj*ng !! kok lo mukul gue bangs*t" amuk Rendra ketika Arva memukulnya sampai tersungkur ke tanah



"Sekarang dia mana?" tanya Arva kembali meremas kerah baju Rendra



"Sialan, lo suka sama dia?" tanya Rendra tak habis pikir



"Gue tanya Vanya dimana??" tekan Arva



Bugh


Rendra membalas perbuatan pria itu. Pukulannya mengenai perut Arva sampai pria itu mundur beberapa langkah karenanya



Melihat kedua sahabat saling pukul-memukul membuat Mikaela segera keluar dari mobil. "Cukup, kalian kenapa??" tahan Mikaela menengahi keduanya



"Lo salah sangka tentang dia Mik, dia emang brengsek" sungut Rendra



"Jaga mulut lo sialan" timpal Arva



"Arva udahh, aku mohon" pinta Mikaela



"Pacar lo itu suka sama Vanya" ucap Rendra lagi



"Mikaela, mending lo putusin dia sekarang atau lo bakal.."



Bugh


Sebuah pukulan kembali mendarat pada pipi nya "Lo gak tau apa-apa sialan, gue tanya sekali lagi Vanya dimana??"



Rendra menarik ujung bibirnya "Munafik" gumamnya



"Lo denger sendiri kan? dia nyari cewek lain di depan lo" lanjut Rendra



"Mulut lo emang gak bisa dikasihani" seringai Arva



Pukulan Arva hanya sebatas angin, tangannya hampir menyentuh wajah Mikaela yang menghalanginya



"Kamu nyari Vanya kan?" ucap Mikaela



"Gak akan ketemu kalo kamu terus disini" lanjutnya



Dengan napas yang masih tak beraturan, Arva menarik kembali lengannya. Ia menetralkan napasnya lalu duduk di badan mobil



"Semua tuduhan lo itu gak bener" ucap Arva yang sudah merasa tenang



Flashback On



"Gue akan bunuh diri kalo lo tetep ngehindarin gue" ancam Vanya di balik teleponnya



Arva mematikan panggilannya secara sebelah pihak. Ia tak akan terpengaruh oleh gertakan semacam itu.



"Arva??" panggil Shopia dari lantai bawah



"Iya mam?" jawabnya menghampiri sumber suara



"V-Vanya masuk rumah sakit" ucap Shopia dengan ekspresi penuh kekhawatiran



"Mami jangan bercanda, tadi dia baru aja.." ucapannya terhenti



Flashback off



"Itu kenapa gue gak pernah bisa ngejauhin dia" jelas Arva setelah mengulas kejadian beberapa tahun lalu, saat wanita itu hampir kehilangan nyawa karena dirinya



"Selama ini gue selalu bersikap dingin agar dia menyerah sendiri tanpa harus gue suruh" lanjutnya



"Maksud lo, Vanya??"



Arva melirik pria yang mulai bersuara itu "Gue takut dia ngelakuin hal bodoh lagi" jelasnya



Rendra mengedarkan pandangannya, ia tak menemukan keberadaan wanita itu pada posisi sebelumnya



Rahang Rendra kembali mengeras "Kenapa lo gak bilang dari awal?"



•


•


•


♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡


Like like Like


Comment Comment Comment


♡♡♡


300 LIKE+30 Comment untuk update episode 😘😘