
follow instagram @lovelyliy_
Happy Reading ♡♡
"Ka kamu kenapa?" Gumam Mikaela
Arva memutar wajahnya, melihat Mikaela yang berada di belakangnya. Ekspresi wajahnya saat ini sangat menghawatirkan, Mikaela tidak tega membiarkannya. Seenggaknya, ia harus membantu untuk mengobati luka pada punggung tangan pria yang penuh luka sayatan beling ini
Dengan berat hati Mikaela mengikuti Arva. walaupun sekarang ia menjadi perhatian semua orang di kelasnya, termasuk dosen yang ikut speechless, gak bisa berkata-kata selain mengikuti dua orang itu berlalu keluar kelas.
"Mau kemana?" Tanya Mikaela ketika sudah berhasil terlepas dari pandangan semua orang
Arva tak bergeming, ia masih tetap melanjutkan langkah besarnya. Membuat Mikaela kewalahan mengikutinya.
"Mau kemana?" Mikaela meninggikan suaranya sambil menahan tubuhnya agar membuat pria itu menghentikan langkahnya.
Arva memutar tubuhnya sebentar, melihat Mikaela yang menantikan jawaban darinya. Namun hanya angan, Arva kembali melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk menjawab
Mikaela yang menyadari kini mereka melewati ruang kesehatan, ia kembali menahan tubuhnya.
"Obatin lukamu dulu" ucap Mikaela
"Gak usah" jawab Arva dingin
"Obatin dulu atau aku.."
"Dia pantes terluka, dia udah nyakitin lo" tekan Arva
Mikaela menghembuslan nafasnya berat, pria ini emang keras kepala "obatin dulu atau aku gak mau ngikutin kamu" tekan Mikaela, tetap pada pendiriannya.
Arva menatap tajam Mikaela, namun tak disangka Mikaela malah membalas tatapan tajam pria itu dan kemudian menarik lengannya untuk membawanya masuk kedalam ruang uks yang ada di sampingnya
"Setelah gue nyakitin lo, kenapa lo masih mau ngikutin gue?" Ucap Arva tiba-tiba
"Gimana gak ngikutin, orang dia maksa" gumam Mikaela pelan, tapi Arva pasti dengar
"Terpaksa?" Tanya Arva tak terima. Meskipun memang itu kenyataan tapi setidaknya bukan hal itu yang ingin dengarnya
Mikaela tak menjawab, ia kembali fokus pada luka Arva yang parah dan merasa bingung harus memulainya dari mana.
"Jawab" Arva menarik tangan yang sedang dipandangi Mikaela sejak tadi.
Mikaela menghembuskan nafasnya berat "Ada apa dengan pria ini?" Batinnya kesal
"Mikaela"
"Cukup. Aku muak! Kamu selalu melakukan semua hal yang ingin kamu lakukan. Harus kamu dan selalu kamu" ucap Mikaela panjang lebar, darahnya melaju lebih cepat dari biasanya, suhu badannya panas mengalahkan suhu AC di ruangan ini
Arva meraih tangan Mikaela yang hendak bangkit dari duduknya "lo boleh ngelakuin apapun, asalkan jangan ninggalin gue" Arva kembali mengulurkan tangannya yang terluka
Mikaela menetralkan perasaannya lalu menggulung lengan panjang kemeja Arva. ia terpaku melihat luka parah pria itu, ada beberapa beling yang menancap di punggung tangannya "Apa kita ke rumah sakit aja?" Saran Mikaela
Arva tak menjawab, ia mencabut beling-beling yang tertancap pada lukanya dan menyimpannya di nampan yang udah disiapkan, membuat Mikaela merasa ngilu. Mikaela menelan salivanya berat, baru kali ini ia melihat luka separah ini selain di drama yang ditontonnya.
Dengan hati-hati Mikaela membersihkan darah yang sudah mulai mengering itu dengan kapas, lalu diakhiri dengan mengusapnya dengan sapu tangan bersih kesayangannya yang diambil dari saku celana jinsnya
Mikaela mulai mengoleskan luka di tangan Arva dengan alkohol agar luka nya tak mengeluarkan darah lagi dan cepat kering. "Sakit?" Tanya Mikaela sambil mengusapkan kapas beralkohol itu pada lukanya pelan.
Arva menggelengkan kepalanya cepat "lebih sakit ketika lo nolak gue" ucapnya tiba-tiba membuat Mikaela mengerutkan keningnya "Oh ya?" Mikaela menekan kuat pada luka Arva, membuat ekspresi pria itu sedikit berubah.
Ekspresi menahan ekspresi wajahnya agar tak berubah "Kalo sakit bilang sakit" ucap Mikaela sambil menarik kedua ujung bibirnya "ahwww" ia meringis. Ia lupa, kalau sekarang ia gak bisa tersenyum bebas sperti biasanya dulu
Dengan segera Arva membawa wajah Mikaela lebih dekat dan meniupi pipi yang terlihat bengkak itu.
"Gak, gak usah gini" tahan Mikaela berusaha menjauhkan wajahnya sehingga kedua mata mereka beradu seperkian detik lalu Mikaela tersadar dan memutus kontak mereka
Mikaela meraih tangan terluka Arva yang memegang wajahnya. ia kembali melanjutkan pengobatannya yang terhenti.
"Oke .. Selesaiii" ucap Mikaela ketika sudah mengeratkan perban pada tangan yang diurusinya
Tanpa aba Arva mengenggam erat tangan Mikaela dengan tangan yang terluka itu. "Pelan-pelan itu pasti sakit" protes Mikaela. Tapi bukannya melonggar, genggaman itu malah semakin kuat.
Arva menarik lengan Mikaela, membuat gadis itu bangkit dari kursinya. "Mau kemana?" Tahannya
Arva memutar tubuhnya sebentar dan menjawabnya lewat ekspresi wajahnya yang menyuruhnya agar ikut saja dan jangan banyak bicara
"Dia punya mulut bukannya ngomong" gumam Mikaela "Aaakkkk" Mikaela terkejut karena kini tubuhnya dipangku oleh Arva ala bridal style
Walaupun tidak banyak orang yang ada di sekitarnya saat ini karena masih di jam pelajaran, tapi tetep aja ada beberapa orang yang berlalu lalang menatap aneh padanya, itu memalukan
Tapi Mikaela juga dibuat aneh, kenapa di kampus ini gak ada seorangpun yang berani sama Arva? Begitupun dengan semua dosen yang gak pernah menegur apa yang dilakukan Arva yang selalu bertindak semaunya.
Apa sebenarnya kekuatan yang dimiliki pria ini? Apa ia seorang super hero? Sehingga kalau ada yang berani melawannya maka dalam sekejap gedung ini akan hancur berkeping-keping? aneh kan
Tanpa sadar kini mereka sudah sampai di depan mobil mewah yang terparkir di parkiran yang terlihat khusus
Arva membuka pintu mobil dengan susah payah karena terhalang tubuh Mikaela yang tak ia lepaskan lebih dulu.
"Aku bisa sendiri" protes Mikaela. Tapi tetap saja Arva takbmemghiraukannya, ia memasukkan tubuh Mikaela dalam mobilnya lalu segera menutup pintu mobilnya dan segera memencet remot yang tergantung pada kunci mobilnya, berjaga-jaga agar Mikaela gak bisa kabur ataupun lari ketika ia memutari mobilnya.
Mikaela mengacak rambutnya frustasi. Membuat kunciran rambutnya terlepas dan tergerai dengan sedikit acak-acakkan.
Arva yang sudah berada di sampingnya, memcondongkan tubuhnya pada Mikaela untuk memakaikan Seatbell padanya.
Mikaela pasrah, tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.
"Mikaela" panggil Arva pelan. Mikaela hanya diam tak menjawab
"Mik.." panggilnya lagi
"Apa?" Potong Mikaela segera. Ia mendongakkan wajahnya pada Arva yang berada diatas kepalanya
"Ahwww" Mikaela meringis merasakan sakit pada pipinya akibat pergerakan mulutnya yang terlalu lebar.
Arva segera mencondongkan tubuhnya ke arah Mikaela lalu mengusap dan meniupinya dengan hati-hati.
Mikaela menekan dada Arva agar melepaskan pegangannya, tapi percuma. Ia akan tetap melakukannya.
Arva yang tak mendapat pergerakkan Mikaela mulai menghentikan aktifitasnya. Mikaela menutup kedua matanya dengan wajah yang sangat damai "bisa-bisanya dia tidur seperti ini" gumamnya
Arva merapikan helaian rambut yang menghalangi sambil mengabsen tiap sudut wajah gadis yang ada dalam genggamannya, sampai terhenti pada bengkak di pipi mulusnya. Ia merasa sakit yang amat sangat melihat itu
Pandangan Arva beralih pada bibir tipis Mikaela, ia menyentuh dan mengusapnya perlahan, membuat Mikaela menggerakkan wajahnya yang terganggu
Arva mengerjapkan matanya, ia menghentikan tangannya dan kembali pada posisinya. Ia menurunkan sandaran kursi Mikaela agar membuat gadis itu lebih nyaman lalu meraih jaketnya untuk menyelimuti tubuh gadis itu
Arva segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.
______________________
"Ran" panggil Melvin di depan pintu kelas yang sudah menunggunya sejak dosen terakhir itu keluar dari kelasnya
"Ah ya.. sebentar" teriak Rani yang mempercepat gerakannya untuk memasukkan barang-barangnya kedalam tas mungilnya
"Mikaela mana?" Tanya Melvin yang heran karena tak melihat Mikaela disana
"Mikaela? Emm dia.." Rani memutar otak cantiknya. Ia harus berkata jujur atau bohong kali ini?
"Ah Mikaela tadi pulang duluan, gaenak badan katanya" ucap Rani kemudian membuat Melvin mengiyakan dan berniat untuk pergi
"Ran.. tadi Mikaela ko dibawa kak Arva?" Tanya salah satu teman sekelasnya
"Iya Ran.. mau dibawa kemana sih?" Tambah teman satunya.
Melvin memutar tubuhnya dan menghampiri Rani kembali "Maksudnya apa Ran?" Tanya Melvin. Membuat Rani menyumpah serapahi kedua orang itu. Biasanya juga cuek, dasar caper
"Emm sebenernya ta tadi itu...."
•
•
•
Please like and comment !!
Perhatiaaannnnnnn 😁☝️