
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡

Sudah berjam-jam lamanya berdiam disini, tapi Mikaela masih betah melihat pemandangan alam yang disuguhkan restoran ini tanpa sedikitpun melirik keberadaan pria tampan yang ada di depannya
Namun Arva tak keberatan, selama wanita itu tak lepas dari pandangannya maka semua akan baik-baik saja. Dengan begini bukankah ia bisa leluasa memandangi wajah Mikaela sepuasnya? tanpa mendapat tatapan risih dari pemiliknya
"Ini apa?" tanya Mikaela ketika Arva tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak yang lumayan besar ke arahnya
"Buka aja" jawab Arva
Tak banyak bicara, Mikaela segera membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah gaun berwarna coklat silver "Ayok, kamu harus siap-siap untuk nanti malem" ujar Arva sambil meraih lengan gadis yang masih heran dengan maksudnya, ditambah sebutan baru pria itu yang sama sekali belum pernah ia dengar
"Tunggu, aku gak ngerti" tahan Mikaela
Arva menggedikkan bahu nya "Tinggal nurut aja, udah selesai" jelas Arva yang sebenarnya tak menjelaskan apapun
Mikaela berdecak tak suka, ia segera menutup kembali kotak itu dan tak berniat untuk mengambilnya "Aku gak mau" tegasnya.
Arva mengangguk "Aku gak pernah minta persetujuan, kamu lupa?" seringainya membuat Mikaela melongo dengan sikap santai pria menjengkelkan itu. Arva memang bisa terlihat manis, namun itu hanya sekejap, karena tetap saja akan berlanjut menjadi yang membuat orang naik pitam
Arva mendorong tubuh Mikaela untuk duduk di kursi salon yang dikunjunginya "Jadikan pacar saya secantik mungkin" tutur Arva pada pria melambay yang menghampirinya "Siap pak bos" jawab pekerja salon itu antusias
Memangnya kapan Mikaela bisa bertingkah? untuk pria ini Mikaela bagaikan boneka yang harus mau diperlakukan seperti keinginannya. Boneka barbie? bukankah semua wanita ingin diperlakukan manis seperti perlakuan Ken pada Barbie??

"Pacar anda sudah siap untuk membuat anda terpana tuan" ucap pria salon itu, membuat Arva segera menyimpan koran bacaannya lalu meregangkan otot kaku nya karena sudah menunggu 2 jam lebih untuk ini
Pria melambay itu mulai menyingkirkan tubuhnya untuk memperlihatkan pemandangan yang sengaja ia halangi.
Seolah sinar yang terpancar dari tempat itu, sinar yang bukan seperti biasanya mengganggu penglihatan tapi sinar yang meminta mata untuk terus melihatnya. Arva hampir tak bisa berkedip karena penampilan gadisnya
"Gimana tuan?" tanya banci itu sembari menghalangi kembali tubuh yang sedang ia pandangi
Arva mengerjapkan matanya yang hampir tak tau diri. Ia segera merogoh saku nya lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah untuk disodorkan pada pria berjiwa wanita itu sebelum mood baik nya terganggu
"Wuaaahhhh thanks tampan" ucapnya berantusias sambil mengibas-ngibaskan uang hasil jerih payahnya untuk menghilangkan rasa panas yang datang dari uang yang baru saja diterimanya
"Sering-sering kemari ya, aku tunggu loh say" ucapnya yang berhasil mengelus pipi Arva lalu tertawa senang karenanya sambil berlalu
Arva bergidik ngeri, kenapa makhluk seperti itu yang harus menyentuhnya? kenapa bukan gadis cantik di depannya yang malah mentertawainya
"Ppffft" Mikaela segera membungkam mulut nya untuk menahan tawanya atau pria itu akan menambah kerutan pada wajahnya
"Ketawa lagi, gak cemburu apa liat pacarnya digituin banci??" protes Arva
Mikaela mendelik, apa banci harus menjadi saingannya?? "Kalau dia mau, tinggal ambil aja. Aku ikhlas" tutur Mikaela hendak melewati tubuh pria itu
Arva segera meraih lengan gadis itu lalu menariknya sampai tubuh Mikaela menabrak dada miliknya. Mikaela yang tak siap dengan hal itu hanya mengerjapkan matanya dan berusaha menjauhkan tubuh yang menempel padanya itu.
Arva memiringkan wajahnya "Tapi gue bisa ngerasain degupan jantung lo yang lagi maraton" ucapnya sambil mengangkat salah satu alisnya
Sebutannya berubah lagi? gak konsisten. Mikaela kembali meronta "Arva lepas, banyak orang" keluhnya
Arva menyodorkan pipi nya, sebagai syarat untuk pelepasannya kali ini.
Cup
Mikaela segera menurutinya, sebelum penjaga mall datang dan mengusirnya dengan tuduhan berbuat mesum di depan umum
Arva melebarkan senyumnya, bukan karena hal yang ia dapat. Tapi, ia tak perlu meminta untuk yang ke sekian kalinya hanya untuk mendapat perlakuan yang dipintanya
Dengan penuh semangat, Arva segera meraih lengan Mikaela lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Ppffft" Mikaela kembali mngulum bibirnya menahan tawa, bukankah itu pertanda kalau Mikaela nyaman dengan keberadaannya??
Namun tiba-tiba Mikaela memudarkan senyumnya ketika ternyata semua orang yang dilewatinya malah memandanginya dan menatap aneh kepadanya, kenapa bukan ke arah Arva yang mempunyai bekas lipstik pada pipi nya.
"Apa? tunggu!" Mikaela menghentikan langkahnya. Itu berarti semua orang berpikiran kalau ia agresif pada pria yang ada disampingnya ini
"Kenapa?" tanya Arva pada keterdiaman gadis itu
Mikaela segera meraih lengan Arva lalu mendorongnya untuk duduk di sebuah bangku.
Arva kembali bangkit tak mau menuruti "Arva diem" pinta Mikaela kembali mendorongnya
Arva tak berniat untuk menurut tapi ia kembali diam ketika mendapat tatapan tajam dari gadis yang memegang kuat kedua bahu nya
Mikaela merogoh tas kecilnya untuk mengambil beberapa lembar tisu dan mengusapnya ke bagian pipi yang meninggalkan bekas bibirnya
"Ppffft" Sekarang giliran Arva yang ******** tawa nya. Ia paham dengan alasan gadis yang tiba-tiba memudarkan tawa bangganya, senjata makan tuan
"Gak lucu" protes Mikaela menyudahi usapannya pada bekas lipstiknya yang sulit untuk hilang itu
"Memangnya cuman kamu yang bisa ngetawain? lagian salah siapa.."
Mikaela segera membungkam mulut polosnya kemudian menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu karena ulahnya sendiri.
Arva segera bangkit dari kursi kayu itu dan membuka jaket kulitnya untuk dialihkan pada bahu Mikaela sambil merangkulnya untuk melindungi gadisnya yang sedang dilanda rasa malu
_____________________
"Kok Arva masih belum pulang sih tan?" tanya Vanya tak sabaran
"Sebentar lagi pulang kok, tunggu aja ya" jawab Danu, menggantikan istrinya yang sama sekali tak berniat untuk merespon pertanyan gadis itu
"Om aku khawatir sama Arva" keluh Vanya
"Om tau Mikaela kan? dia serigala berbulu domba om, dia pura-pura baik sama Arva dan punya niat buruk. Dia sengaja nempel sama Arva agar keberadaannya disadari semua orang, dia cuman mau numpang sama Arva om" tutur Vanya meluapkan isi hatinya
"Saya tidak mau punya menantu yang julid" ucap Shopia
Vanya segera mengatup mulutnya yang akan kembali berkoar "Maaf tante, aku cuman.."
"Arva" sambut Shopia, membuat Vanya tak melanjutkan kalimatnya
Sebuah tangan menahan Shopia untuk tak menghampiri anaknya. Bukan tanpa alasan, karena saat ini Arva datang membawa gadis lain dalam acara perencanaan pertunangannya
"Kamu mau menikahi 2 wanita sekaligus?" tanya Danu
Mikaela yang tak tau menau soal ini segera menarik diri untuk segera pergi sebelum hatinya hancur kembali
"Mau kemana?" tahan Arva
"Kalau cuman buat ngasih tau acara penting kamu, kamu gak usah beliin aku segala pernak-pernik ini" tutur Mikaela yang masih bisa menahan tangisnya sambil membuka anting-anting yang mengait pada telinganya
Mikaela meraih lengan Arva untuk menaruh benda-benda yang berhasil ia lepaskan
Arva berdecak lalu melempar asal benda itu. Ia segera meraih lengan Mikaela untuk membawanya kembali masuk kedalam rumahnya
"Aku gak mau" tegas Mikaela menahan tubuhnya
"Harusnya aku sadar kalau pada akhirnya kamu memang akan pergi ninggalin aku, harusnya aku gak mengulang harapan yang gak pernah bisa terwujud sejak awal, harusnya aku tau diri, harusnya aku.."
"Harapan itu akan terwujud" tegas Arva, menghentikan prasangka buruk tentangnya
"Lo jangan kuatir" tutur Arva kembali melembut
"Gue udah janji kalo gue gak akan pernah ninggalin lo" lanjutnya sambil mengusap ujung mata gadisnya yang sudah terisak
"Aku gak akan ninggalin kamu, walau harus melawan keluarga dan bahkan nyawaku sendiri jadi taruhannya. Kamu percaya kan?"
"Pertunangan akan tetap terjadi" ucap Arva lantang "Tapi bukan dengan Vanya" lanjutnya, membuat senyum senang Vanya seketika memudar
"Kamu tau akibat dari keputusan kamu?" tanya Danu
Arva mengangguk "Aku akan berusaha keras untuk memajukan perusahaan papi tanpa bantuan dari orang yang mempunyai niat lain di baliknya" tutur Arva sambil melirik ke arah pria paruh baya yang menatap serius ke arahnya
"Pih, selama ini Arva gak pernah mau ikut campur dengan perusahaan papi. Tapi kali ini, Arva akan melakukan apapun yang papi minta asalkan tidak menikahi gadis selain Mikaela" tuturnya, membuat gadis yang berada di belakang tubuhnya terhenyak
"Apa gak ada gadis selain gadis itu? masih banyak wanita dari keluarga terhormat yang menginginkan kamu Arva" timpal Danu
"Cukup pih, cuman Mikaela yang pantes ada di sisi aku. Mungkin lambat laun papi akan menerimanya, dan aku gak perduli kalau saat ini papi menolak keputusan aku."
"Cewek sialan" geram Vanya segera bangkit dari tempatnya
"Dia ini cewek murahan om, Mikaela bahkan baru saja menggugurkan anaknya sendiri. Kalau wanita ini benar-benar mencintai Arva, harusnya dia mempertahankan anaknya itu walau mempertaruhkan nyawanya." tutur Vanya, membuat terkejut semua orang yang ada di ruangan tertutup ini
"Cukup Vanya!! selama ini gue ngehargain lo sebagai orang yang gue kenal sejak kecil, tapi kali ini gue kira perkenalan kita sudah cukup sampai disini. Gue gak ngira lo bakal sejahat ini, lo bahkan memanipulasi kejadian bunuh diri waktu itu. Dan mulai sekarang gue gak akan memikirkan apapun lagi selain kebahagiaan gue." timpal Arva
"Lo sangat mencintai diri lo lebih dari apapun, sangat mustahil kalau lo menyia-nyiakan hidup lo demi orang lain." lanjutnya
"Lo bener" ucap Vanya
"Gue sangat mencintai diri gue sendiri" lanjut Vanya membenarkan tuduhan Arva
"Oleh karena itu, gue akan menyingkirkan orang-orang yang mengganggu kebahagiaan gue" tuturnya sambil mengeluarkan pisau dari balik punggungnya
"Kalau gue gak bisa milikin lo, maka gak ada satupun yang bisa milikin lo" lanjut Vanya sambil mengarahkan pisau tajam itu pada perut Arva
"Arvaaaa" teriak Mikaela ketika tubuh besar itu secara tiba-tiba kehilangan tenaganya
"Arva bangun" tangis Mikaela
Vanya menarik kedua ujung bibirnya ketika melihat wanita yang dibencinya mengeluarkan tangis derita, namun tiba-tiba ia mematung ketika melihat lumuran darah yang berasal dari tubuh pria yang dicintainya "Ar-vaa" ucapnya tak percaya "G-gue? gak mungkin!!" sangkalnya sembari berlari meninggalkan tempat dimana orang-orang sedang sibuk mencari bantuan
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment