
Happy Reading ♡♡
Deg
Mikaela seketika menghentikan tawanya dan tertegun dengan apa yang ada di hadapannya saat ini
"Lo ikut!" ucap pria itu
"Ikut?" ulang Mikaela gak ngerti
"Iya kak dia bakal ikut" ucap Rani tiba-tiba
"I ikut apa?" bisik Mikaela protes dengan ucapan Rani
"Ikutan apa ke udah iyain aja" balas Rani pelan dengan senyum paksanya yang masih terpampang jelas di wajahnya
"Oke, pulang ini gue kesini lagi buat ngambil ini" ucap Arva dengan segera kembali keluar ruangan setelahnya, tatapan menohok seluruh penghuni kelas itu sungguh mengganggunya
"Ko satu?" protes Mikaela
"Tukan iyain aja biar cepet" ucap Rani
"Ya tapi aku gamau ikut-ikutan komunitas Rannn.." bantah Mikaela
"Mana satu lagi, pokonya kalo kamu gaikut aku juga ga akan ikut" tambah Mikaela kukuh
"Ka aku minta formulirnya" ucap Rani yang mengacungkan tangan
"Tukan, tinggal minta sih repot banget" ucap Rani ketika Vino memberikan selembar formulir kepada Rani
Mikaela menepuk jidatnya mohon ampun, padahal tadi alibi aja biar gak jadi ikutan. Kenapa Rani malah minta lagi? Gagal
_____________________
"Mikaelaaaa mana makanannya?" panggil Sinta, istri pamannya
"Iya bi sebentar" jawab Mikaela yang segera membawa beberapa wadah yang berisi sayuran dan telur ceplok.
"Emm paman kemana bi?"
"Gak pulang" jawab Nayla ketus
"Pantes .. Kalo ada paman mereka gak akan berani nyuruh secara terang-terangan seperti tadi" batin Mikaela
"Kenapa? Gasuka papa gaada disini?" terka Nayla dengan ekspresi jijay nya
Mikaela menggeleng dan mengukir senyumnya lalu melanjutkan makannya lagi.
"Ada dan gaada pamanmu bukan berarti kamu bisa leluasa di rumah ini" ucap Sinta
"Pulang kampus belanja ke pasar bisa kan? Bahan makanan udah mau abis" tambahnya lagi
"Harus bisa dong mah, masasih dia nolak" ucap Nayla
"Iya bi aku bisa" ucap Mikaela menyetujui
_____________________
"Mikaa" panggil seseorang ketika Mikaela baru saja turun dari bus di halte dekat kampusnya
"Naik" pinta Melvin setelah menghentikan motor ninjanya.
"Enggak kak, udah deket ko" tolak Mikaela yang hendak melanjutkan langkahnya
"Gamau naik karena cuman motor?" tanya Melvin dengan wajah berubah murung
"Bu bukann.. "
"Kalo udah kebeli mobil aku bakal tawarin kamu.."
Mikaela menekan giginya kuat "iya iya oke aku mau" ucap Mikaela terpaksa menyetujui. Emangnya wajah ini keliatan matre apa? Enggak gitu kan maksudnya
Melvin melebarkan senyumnya karena tawarannya tidak jadi diabaikan.
"Tukann ini yang aku gamau" gumam Mikaela
"Hah gamau kenapa?" tanya Melvin
"Jadi bahan perhatian gini" Mikaela menundukkan wajahnya
Melvin terkekeh sambil mengangkat wajah gadis yang menunduk itu "jangan dihiraukan" ucapnya
"Ngomong si gampang" ucap Mikaela sangat pelan
"Kenapa?" tanya Melvin
"Hemm gapapa, yaudah aku duluan ya thanks tumpangannya" ucap Mikaela sambil berlalu menjauh
"Kenapa juga dia mikirin oranglain" keluh Melvin
Bugg
"Ahwww"
"Lo hobby banget nabrak orang"
Deg
Mikaela memutar wajahnya yang sedari tadi memang melihat ke belakang, memastikan Melvin tidak mengikutinya. Tapi malah akan segera muncul masalah baru lagi
"Ma maaf" Mikaela menundukkan wajahnya
"Minta maaf tanpa liat mata orang yang dimintain maaf itu cuman omong kosong" celetuknya lagi
Dengan berat hati Mikaela mengangkat wajahnya
Deg
"Mampus" gerutu Mikaela dalam hati lalu kembali menundukkan wajahnya lagi
ARVA berdesis "emang gue seserem itu apa" gerutunya dalam hati
"Hah.. Enggak ko a aku.. Emmm aku.."
"Dia takut sama lo Arv hahaha" celetuk Rendra
"Mangkanya bae-bae dong" tambah Vino sama-sama terkekeh
Arva menyilangkan kedua tangannya depan dada "aku .. Aku minta maaf ka" ucap Mikaela cepat dengan menahan gugup lalu melanjutkan langkahnya. Masabodo dengan anggapan mereka, yang jelas Mikaela sedang menyelamatkan jantungnya yang akan hampir meledak
Arva memutar kepalanya mengikuti langkah gadis itu dengan sedikit menarik ujung bibirnya, sangat sedikit sekali
"Arv.. Lo senyum?" tegur Vino
"Lo bercanda Vin, senyum Arva itu udah kayak gerhana" sanggah Rendra
"Serius tadi ujung bibirnya ngangkat gitu" ucap Vino sambil mempraktekannya
"Emang wajah gue nakutin?" ucap Arva menghentikan perdebatan kedua makhluk ini
"Lo masih mikirin cewek itu?" tanya Vino terkekeh
"Tapi bener juga si, lo liat ga? Tatapannya itu gak biasa" ucap Rendra
"Maksud lo?" tanya Arva meminta penjelasan
"Bukan tatapan kagum dan terkesima kayak cewek-cewek lainnya, lebih kayak nganggap kesialan .."
Bugg
Vino memukul belakang kepala Rendra "mana mungkin lah gila" sanggahnya
"Heh ni pala bukan bola !" protesnya
"Kesialan?" ulang Arva
"Ya lo liat tadi ekspresinya kayak menyesali gitu udah ngeliat lo" jelas Rendra lagi
"Rese lo"
Bug
Arva ikut memukul kepala Rendra dan kembali melanjutkan langkahnya
"Ahwww sialan lo ye" teriak Rendra lalu menyusul langkah kedua sobat sialannya itu
Mikaela menekan dadanya kuat "kenapa harus nabrak dia mulu sih" gerutunya dalam hati
"Ran.. Formulir kemaren kemana?" tanya Mikaela. Padahal kmaren disimpen di kolong meja
"Udah gue kasihin" jawab Rani yang masih sibuk menulis si bindernya
"Kasihin kemana?" tanya Mikaela
"Ya ke ka Arva and the gang" jawab Rani enteng
"Tapi kan.."
"Tenang udah gue isiin ko" ucap Rani mengusap punggung Mikaela dengab senyum lebarnya
"Apa? Kok.. Aishhh" Mikaela mengusap wajahnya kasar
"Kenapa sih ko kayak panik gitu??" tanya Rani
"Bukan kayak lagi, ini panik beneran Ran!! Kalo gini caranya aku bakal ketemu dia terus" gerutu Mikaela yang masih menutup wajahnya
"dia dia siapa?" tanya Rani lagi
"Pokonya bantu pikirin gimana caranya aku gajadi ikutan" tekan Mikaela
"Lo aneh deh" Rani kembali dengan catatannya. Ia gak mau ambil pusing, cukup tugas ini aja yang bikin pusing semaleman
"Ran dengerinnn" protes Mikaela
Rani menggaruk lehernya gusar, otaknya udah pusing dengan angka-angka yang ditulisnya gausah ditambah yang lain lagi untuk saat ini "lo udah?" tanya Rani menyodorkan bindernya
"Emm udahh" jawb Mikaela
"Sumpah?" tanya Rani antusias ketika Mikaela mengeluarkan buku dalam tasnya
"Mik" panggil Rani setengah teriak
Mikaela terkesiap dengan spontan menutup mulut berisik itu"gausah teriak" protes Mikaela
"Kelepasan" bisik Rani
"Kenapa lo gak bilang kalo pinter matematika sih" tambah Rani
"Nggak juga ko, cuman bisa aja" elak Mikaela
"Tapi Ran, bener deh aku gak tertarik dengan kumpul-kumpulan gitu, apalagi apa kemaren? Teater kan? Bukan aku bangetttt" celoteh Mikaela
"Rannn" panggil Mikaela yang melihat teman sebangkunya malah sibuk menyalin hasil tugasnya
"Iyaiya Mik tar kita pikirin bareng-bareng yaa sekarang gue nulis dulu sebelum dosen dateng" jelas Rani
Mikaela menghembuskan napasnya berusaha tenang menuruti penuturan Rani yang menjadi biang kerok sebenarnya
______________________
"Rannn.. Bantu mikir" desak Mikaela sambil memainkan sedotan dalam gelas es teh manisnya
"Iya bawel" ucap Rani bosan dengan topik sedari pagi tak kunjung berubah.
"Mik.." Rani menyenggol lengan Mikaela agar mengikuti tatapannya
Mikaela yang menangkap maksud Rani seketika menutup wajahnya
Deg