
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya π
Happy Reading β‘β‘
"Ngapain lo megang-megang pacar gue?" protes Arva yang entah sejak kapan udah berdiri di belakang Mikaela.
Suara lantangnya sontak membuat semua penghuni kantin bukan hanya sekedar memperhatikan seperti biasanya tapi melihat tajam dengan penuh tanda tanya dengan apa maksud dari perkataan the most wanted di kampusnya itu
Rani yang dengan posisi di depannya pun tidak menyadari. mungkin karena pikirannya baru terkumpul sejak tadi melayang kemana-mana
"pacar?" gumam Mikaela berusaha menetralkan pendengarannya yang ia kira ada kesalahan disana
Arva segera meraih lengan Mikaela yang terkontak dengan Melvin tadi.
"Lo gak usah ngarang" sangkal Melvin
"Kamu jangan sembarangan ya.. kita gak pacaran" sangkal Mikaela yang sedari tadi sudah meronta sebab lengannya dicekal kuat oleh pria yang penuh dengan kepercayaan diri itu
Mikaela tertunduk malu dengan posisi mereka kini sudah digandrungi para makhluk kepo yang ramai saling berasumsi dalam bisikannya yang sedikit banyak akan terdengar nyaring di telinganya
Barisan di depan membelah, seolah memberi jalan kepada orang yang pantas untuk dispesialkan. siapa lagi kalau bukan Vanya! kaos ketat dengan memperlihatkan pusarnya adalah gaya khasnya ditambah dengan rok mini rample sebagai bawahannya.
Belum selesai dengan rasa takutnya, ia akan menghadapi ketakutan lainnya. masalah yang menimpanya kali ini mungkin akan memakan waktu lama "ini semua gara-gara biang kerok ini" batinnya berteriak seraya melihat ke arah pria yang sedang menatap tajam ke arah Melvin. mereka berdua seolah sedang berperang dalam tatapan mereka masing-masing.
Mikaela merutuki dirinya sendiri "Apa salahku" keluhnya. belum lagi nenek sihir di depannya sudah mengintimidasinya lewat lirikan tajam miliknya.
Seketika raut wajah Vanya berubah menjadi teduh, seolah tatapan tadi tak menyiratkan apapun "Arva.. lepasin dia" ucapnya lembut.
Mikaela mendengus. apa lagi kalau bukan mencari perhatian pria ini? sikap manis Vanya itu hanya untuk pria yang selalu mengganggu dirinya. "tapi kenapa pria itu justru menggangguku terus" batinnya
Arva tak bergeming, ia tak kunjung melepaskan genggaman tangannya pada Mikaela.
"Lepas brengsek" tekan Melvin yang sudah habis kesabarannya. ia menarik lengan Mikaela agar terlepas dari genggaman pria yang masih terbisu sejak tadi, namun urung dilakukannya ketika Mikaela melenguh kesakitan di pergelangan tangannya.
Arva hanya menaikkan ujung bibirnya dan menunjukkan senyum smirk miliknya yang sontak membuat para penonton di sekitarnya malah terbakar pesona. sebab senyum itu menambah sepuluh kali lipat karisma mematikannya.
Melvin dibuat geram karenanya. ia tidak bisa melakukan apapun karena takut menyakiti Mikaela. sedangkan Vanya, ia terlihat mengatur nafasnya. ia meredam sekuat mungkin emosinya yang sudah jelas harusnya ia tumpahkan sekarang juga. tapi tidak di hadapan pria pujaannya. itu tidak akan terjadi atau Arva akan semakin menjaga jarak dengannya dan itu akan lebih membuatnya tersiksa setengah mati.
Arva mengedarkan pandangannya ke segala arah, seakan berpikir untuk pergi ke arah mana. tatapannya berheti di satu titik dan segera menarik lengan yang sejak tadi tak dilepaskannya. ia tmelewati banyak orang yang tanpa disuruh telah memberinya jalan dengan santai dan seolah tak terjadi apapun.
Mikaela tak bisa berkutik, ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan semena-mena yang dilakukan oleh pria aneh ini. "Untung ganteng" kata author, mewakili Mikaela yang gak akan bilang gitu saking keselnya ππ
Vanya beringsut pergi. ia mencari tempat yang bisa ia acak-acak untuk melampiaskan amarahnya yang luar biasa sudah meluap. ia tak mungkin menunjukkannya di hadapan pemujanya, atau karismanya akan hilang dan tanggapan bahwa ia pemuja seorang Arva akan dibenarkan. masalahnya Arva tak menunjukkan hal yang sama, itu akan menjatuhkan harga dirinya.
Sebelumnya Arva tak pernah mengabaikannya separah ini "wanita sialan" teriaknya. Meskipun Arva hanya menemuinya saat ada keinginan yang harus dipenuhi, itu tak apa karena Vanya sangat mendambakannya. Walau Arva langsung berubah dingin lagi keesokan harinya, seolah tak terjadi apapun.
Sekarang, semua itu tak pernah terjadi lagi. tepatnya setelah Mikaela hadir dalam kehidupannya. entah mantra apa yang dipakai gadis itu, sampai-sampai dapat mengubah kebiasaanya untuk bermain-main.
__________________
"Kak.." tahan Rani pada Melvin yang akan menyusul Arva
"Gue takut Mikaela kenapa-napa" ucap Melvin disela-sela nafas yang tak karuan
"Gak akan" yakin Rani membuat Melvin melihat ke arahnya. "Mikaela akan baik-baik aja. aku yakin" ulangnya lagi untuk meyakinkan Melvin. hatinya seakan teriris melihat pria yang ia sukai menghawatirkan oranglain.
Rani menggelengkan kepalanya "Gue mikir apa sih" batinnya. sebab ia juga sangat menghawatirkan sahabatnya itu, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaannya.
Mikaela mengusap pergelangan tangannya. bekas memerah itu terlihat jelas di kulit putihnya
Sesekali ia melihat Arva yang masih menatapnya sedari tadi tanpa berbicara apapun
"Kalo gaada yang mau diomongin aku mau ke kelas" ucap Mikaela.
"Kenapa lo masih aja deket sama cowok itu?" Arva buka suara
"Gausah sebut namanya lagi" tegas Arva.
"Lo gak boleh deket sama pria manapun, selain gue!" jelasnya
Mikaela mendengus, ia semakin tak mengerti dengan lelaki di hadapannya ini. itu membuatnya semakin jengah.
"Terserah deh" ucapnya final. tak ingin berdebat ataupun membahas hal yang tak masuk diakal
"Siapa yang ngizinin lo pergi?" tekan Arva membuat Mikaela menghentikan langkahnya. entah apa yang mambuatnya selalu patuh pada pria ini, padahal ia bisa saja langsung lari dari sini.
Arva mencengkram kuat lengan atasnya seolah tak memberikan ruang gerak untuk gadis itu. padahal tanpa tenaga pun, Mikaela tak akan mampu melepaskan diri darinya.
"Apa lagi?" keluhnya
"Yang sudah menjadi milikku akan tetap jadi milikku!" ucapnya
"Lo itu punya gue" tekannya lagi
"Punya kamu?" Mikaela dibuat mendengus tak habis pikir
"Emang aku barang?? lepasin.. aku mau ke kelas" tekan Mikaela meronta tapi percuma, semakin ia melawan semakin pegangan itu menguat dan akan membuatnya bertambah sakit.
"Aku bukan milik siapapun!" tekan Mikaela lagi mempertahankan dirinya.
"Tapi mulai sekarang gak lagi! lo udah jadi punya gue setelahhh.."
Mikaela menautkan kedua alisnya, menunggu kelanjutan dari kalimat pria itu. Kedua mata Mikaela membulat ketika sadar setelah tak sengaja melihat bibir pria itu, mengingatkannya pada .. pada hal yang ..
Mikaela segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya kuat
"bukannya dari sebelumnya kamu udah bertindak semaunya kayak gini??" ucap Mikaela mengalihkan pembicaraannya
"Itu lo tau! sekarang kita pacaran" ucapnya
"Aku gak pernah bilang iya dan kamu gak pernah bilang apapun" protesnya
"Kita pacaran sejak 20 menit lalu, sejak gue bilang lo pacar gue di drpan bayak orang tadi"
Mikaela gelagapan dengan pengakuan Arva yang diluar nalar. "Aku gak pernah mengiyakan"
"Gue gak butuh jawaban atau persetujuan" tekannya dengan memajukan wajahnya semakin dekat
Melihat itu membuat Mikaela menekan matanya kuat dan ******** bibirnya.
Tak ada apapun yang menyentuh wajahnya, selain cengkraman di lengannya sedikit mengendur. ia membuka matanya pelan, untuk mengintip apa yang ia lewatkan selama menutup mata.
Glek
Mikaela menelan salivanya berat. seringai senyum itu ia lihat dengan jarak yang gak kurang dari 2 cm dari matanya. sangat dekat dan membuat lensa matanya seakan menjereng
Mikaela bernafas lega setelah Arva menarik wajahnya kembali. tanpa diduga ia meraih lengan Mikaela dan melihat bekas kemerahan akibat ulahnya
"Maaf" ucap Arva. setelah membolak-balikkan lengannya yang sekarang sudah diusapinya dengan lembut.
"A aku gapapa" Mikaela menarik lengannya yang sedang dikhawatirkan oleh pria itu. kalau akhirnya ngerasa bersalah kenapa harus berbuat kesalahan?
Arva bertanya dengan tatapannya, membuat Mikaela harus membuktikan kebenaran dari ucapannya yang sedikit berbohong. memang sakit, tapi tidak harus selebay itu
"Tuh gak apa-apa" yakinnya sambil memutar pergelangan tangannya sambil mengepal dan melepaskan beberapa kali yang diakhiri dengan sedikit ringisan
"Sudahh" titah Arva menghentikan kelakuan gadis yang baru saja resmi jadi miliknya ini. Tidak hanya sekedar pengakuannya saja, tapi sekarang ia harus membuat gadis itu mau mengakuinya juga.
β’
β’
Please like and comment !!