
Tinggalkan beri vote bintang 5, like dan komentarnya ya.. agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Gue gak akan lepasin Mikaela" tegas Arva yang menyusul langkah Vino
"Gue tau" sahut Vino sembari memutar tubuhnya "Lo beneran mikir kalo gue bakal rebut Mikaela dari lo?" lanjutnya sambil terkekeh
"Maksud lo?" heran Arva dengan kekehan pria itu
"Selama kita temenan ternyata lo belum cukup mengenal gue" ucap Vino "Gue gak akan sampai hati buat ngambil apa yang bukan milik gue" lanjutnya
"Jadi kemaren itu kamu cuman pura-pura?" tanya Mikaela ikut menyahut
Arva mendelik "Lo mau dia beneran suka sama lo?" protesnya, membuat Mikaela segera menyangkalnya "Maksud aku dia pura-pura baik gitu sama aku? kenapa harus gitu?"
Vino menggeleng "Gue gak pura-pura baik, gue tulus kok. Cuman cowok lo itu terlanjur mikir kemana-mana. Yah udah gue manfaatin aja, sambil ngetes seberapa seriusnya dia sama lo kan" jelasnya
"Jadi lo gak bener-bener suka sama Mikaela?" tanya Rendra serius
"Sialan, lo ampir bikin gue jantungan. Gue takut kita gak bisa temenan lagi, emang dasar tai lu ye" kesalnya. Sebab Rendra sudah sangat menahan kesabarannya selama harus menjadu penengah diantara keduanya. Sudah pasti itu menyulitkan dirinya yang tak biasa bersikap paling dewasa
"Setiap orang bisa berubah, dan gue pikir lo itu salah satunya." ucap Arva
"Mungkin kali ini gue nyangkal, tapi lain kali gue gak janji. Jangan sia-siain Mikaela lagi" timpal Vino
"Gue gak pernah nyia-nyiain Mikaela, cuman dia selalu menjauh disaat gue mendekat"
"Tapi ketika aku diem di tempat, kamu malah balik arah" timpal Mikaela
"Dan gue harap luka yang gue alami ini jadi bukti kalo gue emang serius sama lo" jelas Arva "Gue hampir kehilangan nyawa, dan ini gue lakuin demi lo" lanjutnya, membuat gadis itu segera menunduk penuh sesal "Maaf" ucapnya
"Gue gak nyalahin lo, gue cuman ingetin lo tentang keseriusan gue yang selalu lo abaikan" jawabnya
"Oke, gue gak mau nunda lagi. Mih Arva mau nikahin Mikaela" ucapnya tanpa keraguan, membuat semua orang tercengang karenanya
"Pernikahan itu bukan main-main" sahut Danu
"Arva tau, dan niat Arva serius" tegasnya
"Kuliah kamu.."
"Mami gak usah khawatir, ini kuliahan mihh bukan SMA, Arva masih bisa kuliah kalaupun udah nikah" sahutnya
"Tapi kamu udah janji akan kerja di perusahaan papi juga, dengan hanga bekerja disana saja kamu akan sibuk dengan.."
"Arva tau" potong Arva
"Mikaela adalah alasan utama kenapa Arva mau kerja disana, sesibuk apapun Arva bisa. Kalau Arva udah nikahin Mikaela, Arva bisa kerja dengan tenang" lanjutnya
"Tapi aku.."
"Gue cuman terima kata iya" tegas Arva, memotong penuturan Mikaela yang sudah diprediksi akan tersimpan elakan disana
Mikaela menghela napasnya panjang "Kamu yakin?" tanyanya dengan perasaan tak menentu
Arva mengangguk "Dan lo juga harus yakin" ucapnya "Gue gak akan ngecewain lo, gue janji"
Mikaela bungkam seribu bahasa
"Mikaela, lo mau kan?" tanya Arva penuh harap
Mikaela kembali menundukkan kepalanya
"Mikaela harus mau" ucap suara dari arah belakangnya
"Nayla" gumam Mikaela
"Kalo enggak, gue gak akan mau jadi sepupunya lagi karena udah berani nolak abang gue" lanjut Nayla

"Nay, kok kamu bisa disini?" tanya Mikaela
"Gak usah alihkan topik, semua orang lagi nunggu jawaban lo" protes Arva meraih wajahnya untuk kembali pada tempat asalnya
Mikaela melenguh "Tapi aku gak bisa putuskan ini sendiri, aku harus bilang sama paman dulu" ucapnya
"Paman setuju" muncul suara bariton yang ternyata sudah bertengger bersama Nayla
"P-paman?" kagetnya tak kepikiran
"Gimana?" tuntut Arva
"Oh ya, ini" Nayla menunjukkan sebuah cincin di telapak tangannya "Lo ninggalin ini di rumah, ini punya lo kan? kalo ilang mungkin kak Arva gak akan jadi nikahin lo" lanjutnya
"Padahal udah gue ingetin kalo cincin ini gak boleh lepas dari jarinya" timpal Arva
"Jadi cuman segitu? cincin ini lebih berharga dong" protes Mikaela
"Gak cuman gue yang harus serius, tapi lo juga. Dengan lo yang gak ngejaga apa yang gue kasih, itu artinya lo nyepelein gue" jelas Arva
"Bukan nyepelein, tapi waktu itu.."
"Lo lupa?" potongnya
Mikaela mengangguk
"Setelah ini lo gak boleh lupa" ucap Arva sembari menyematkan cincin pada jari manis dari tangan sebelah kiri milik Mikaela "Dulu, cincin ini gue dapet dari seorang ibu yang ternyata sekarang gue kasih lagi ke anaknya" ucap Arva, membuat Mikaela menautkan kedua alisnya

Arva mengangguk "Ibu kamu" ucapnya, menjawab pertanyaan Mikaela yang hanya dilihat dari mimik wajahnya
"Kamu menjawab semua hal yang terjadi sama aku, yang enggak pernah bisa aku mengerti. Dan kenapa selama ini aku gak pernah bisa jatuh cinta sama siapapun, kamu menjawabnya. Karena selama ini setengah hati aku ada di kamu." lanjutnya
"Dan seluruh hati aku sudah kamu miliki sejak dulu, hanya saja aku selalu mengelak" timpal Mikaela
"Aku mau" jawab Mikaela, membuat Arva kembali mengatup bibirnya yang hampir berbicara
"Pilihan bagus, lo gak akan nyesel" ucap Arva dengan senyuman termanis yang hampir belum pernah diperlihatkan kepada siapapun selain pada gadis yang menjadi alasannya tersenyum
"Kamu sama sekali gak ngasih pilihan" protes Mikaela
"What ever, gue memang cuman terima jawaban iya" bisiknya setelah merengkuh tubuh gadis itu
"Arva lepas, jangan gini. Malu" keluh Mikaela yang tak bisa lepas dari kukungan pria yang sudah resmi menjadi calon suaminya. Eh baru calon ya, jangan kepedean, masih bisa ditikung. Selama janur kuning belum melengkung, Arva masih milik bersama
"Gue gak perduli, lo harus biasain" sahut Arva santai
"Ishhh" Mikaela menyikut perut pria yang tak mau menurutinya itu
"Ahhww ahhh" ringis Arva menyentuh bagian perutnya yang terluka
Mikaela memutar bola matanya "Luka kamu di sebelah kanan, kenapa megang yang sebelah kiri?" protes Mikaela
Arva segera membenarkan kekeliruannya "Ahh i-iya, sakitnya nular" alibinya
"Calon suami kamu lagi kesakitan, kok kamu malah cuek sih" protes Arva sambil melingkarkan tangannya pada bahu gadisnya "Kamu harus rawat aku sampe sembuh" lanjutnya
"Iya" jawab Mikaela sambil membawa pria itu kembali ke kamarnya. Dari pada harus menyangkal yang bisa membuat pria itu betah menimpali kembali argumennya, hanya membuang waktu
Arva tersenyum "Calon istri yang baik" puji Arva sambil mengusapi rambut milik gadis yang sudah berhasil membuatnya kembali berbaring di atas ranjangnya
Mikaela berdecak "Kamu baru tau?"
Langkah Mikaela terhenti karena cengkraman pada lengannya "Aku mau ke.." ucapannya kembali terputus karena lengannya malah ditarik, membuatnya terduduk di ranjang samping Arva
Deg
"Arva" panggilnya untuk memecah kecanggungan
Mikaela mengerjapkan matanya karena bukannya menjawab, Arva malah merubah posisinya menjadi duduk, yang membuat jarak diantaranya semakin terkikis habis
Jari jemari Arva menari pada pelipis milik Mikaela, membuat gadis itu semakin gelisah karenanya.
Kesadaran Mikaela hampir hilang, kedua matanya terpejam begitu saja tanpa bisa dicegah. Degupan jantungnya semakin terasa dan semakin terdengar jelas olehnya
Hembusan napas sudah menyentuh hidungnya, itu menandakan kalau Arva sudah hampir melakukan hal yang sudah ia duga sebelumnya.
"Aku lapar" bisik Arva
Mikaela menautkan kedua alisnya, hembusan napas itu sudah tak menyentuh kulitnya lagi, membuat Mikaela segera membuka kedua matanya dan memang benar kalau pria itu sudah kembali dengan posisi normalnya
"Aku lapar" ulang Arva
"Semalam kita gak sempet makan, dan.."
"Memangnya kamu doang yang lapar? kamu pikir aku udah makan?" protes Mikaela, menutupi rasa malunya yang sudah berpikiran yang tidak-tidak. Kesannya seperti ia yang mengharapkan, padahal ia hanya tubuhnya saja yang tiba-tiba hilang kendali. Itu memalukan
Arva tertawa "Kenapa pipi kamu merah begitu?" tanyanya polos, membuat Mikaela segera menyentuh kedua pipi nya untuk menyembunyikan keterbukaannya
"Kalo gitu aku mau.."
Cup
Arva mengecup bibir yang berwarna merah alami itu secara sekilas
"A-aku mau minta suster buat bawain kamu makanan" sambung Mikaela melawan kegugupannya
"Tapi kayaknya gue lebih mau nuntasin rasa kangen gue daripada rasa laper" ucap Arva sembari membingkai wajah Mikaela yang sudah dibuatnya terpaku sedari tadi
"Kak Arva, itu .." ucapan Nayla terhenti
"Kalian lagi ngapain?" heran Nayla ketika melihat Arva berada di kolong ranjangnya sedangkan Mikaela duduk di atas ranjang
"Aaahhh ini dia ketemu" ujar Arva setelah memungut tutup gelas yang terjatuh
"Eh Nay, kenapa?" tanya Arva
"Yang sakit kan lo, kenapa gak Mikaela aja yang ambil kalo ada yang jatoh" herannya
"Biarin dia nikmatin rasanya jadi calon istri gue" jawab Arva "Kenapa?" tanyanya lagi
"Itu siapa sih? temen lo?" tanya Nayla dengan senyum ala cewek mupeng
"Enggak enggakk. Belajar yang bener, bentar lagi ujian" sangkal Arva
"Kenalin lah kak" rengek Nayla
"Yang mana?" tanya Mikaela
"Yang.." ucapan Nayla terhenti "Kok dua-duanya ganteng sih?" batinnya
"Pikirin dulu, pilih salah satu" bisik Mikaela sambil berlalu
"Mikaela urusan kita belum selesai" protes Arva
"Katanya tadi kamu laper, aku mau minta suster bawain kamu makan" jawab Mikaela tanpa menoleh
"Urusan apa?" kepo Nayla
"Lain kali, kalo mau masuk ketuk pintu dulu" protes Arva
"Ngapain ketuk pintu kalo pintunya gak dikunci" jawabnya polos