
Follow instagram @Lovelyliy_
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Vino aku bisa sendiri" protes Mikaela ketika pria itu akan membantunya berdiri
"Ya jaga-jaga aja" timpal Vino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Vino menautkan alisnya ketika wajah Mikaela berubah menjadi sendu "Mik" panggilnya
"Gue salah ngomong ya?" ucapnya lagi mengira-ngira
"Ran, kamu disini?" tanya Mikaela pada orang yang ada di lubang pintu ruangannya
"Lo sakit?" tanya Rani lemah
Mikaela berdeham lalu membenarkan ekspresi wajahnya yang masih terlihat pucat "Itu kemaren, sekarang udah enggak lagi" ucapnya berusaha terlihat bugar
Rani mengambil beberapa langkah untuk menghampiri temannya itu. "Sorry" ucapnya
"Kamu gak salah" sangkal Mikaela
"Lo selalu bilang gitu"
Mikaela tertawa kecil karenanya lalu menghapus butiran kecil dari pelupuk mata lawan bicaranya yang hampir lolos
"Kamu tau aku disini?"
Rani segera mengangguk lalu menoleh ke arah belakangnya dan menampilkan Erik yang ternyata ikut datang bersamanya
"Lo harus denger penjelasan paman lo" jelas Rani
"Maksud kamu apa Ran? kami gak ada masalah apa-apa" sangkal Mikaela
"Paman minta maaf" ucap Erik
"Kalian kenapa sih? apa yang harus dimaafkan? lagian selama ini kan aku yang ngerepotin paman" sangkalnya lagi
"Kenapa kamu gak bilang kalau marah sama paman karena waktu itu paman gak datang melihat ibumu??" ucap Erik
"Harusnya kamu bilang, biar .."
"Udah paman, gak usah dibahas lagi. Kan udah lewat" potong Mikaela
"Lagian itu bukan salah paman juga kok, mungkin udah takdirnya ibu" lanjutnya
"Apa itu yang membuat kamu gak mau tinggal sama paman lagi?"
"Awalnya begitu, tapi sekarang aku udah bisa terima. Jadi paman gak usah merasa bersalah, semua emang udah jalannya."
"Kalau begitu, sekarang kamu tinggal.."
"Aku mau cari rumah kontrakan, aku mau mandiri" ucap Mikaela
"Tapi Mik, lo masih butuh keluarga lo" tutur Rani
"Ran plis.. hargain keputusan aku" pinta Mikaela final
_______________________
Cklek
"Gak dikunci?" gumam Rendra.
Tanpa rasa canggung pria itu segera melengang masuk kedalam rumah yang bukan rumahnya. Rendra memutar tubuhnya untuk mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ngapain lo kesini?" muncul suara yang tiba-tiba membuat Rendra meloncat kelewat kaget.
"Jantungan" keluhnya sambil mengelusi dada ratanya. Ia melihat ke arah suara, menampilkan pria yang sedang duduk di sofa dengan membelakanginya.
"Gimana lo .." ucapannya terhenti ketika ia melihat televisi yang ada di hadapan pria itu, mungkin melihat bayangannya dari layar benda tersebut.
Duduk di depan televisi yang gak nyala, buat apa? Rendra menggedikkan bahu nya tak mau ambil pusing. "Gue mau ambil barang-barang Mikaela" ucapnya
"Apa?" kaget Arva yang langsung bangkit dari tempat duduknya, membuat langkah Rendra terhenti
"Ya, dia gak mungkin tinggal disini lagi kan?" jelas Rendra, membuat otot pria yang tadinya menegang itu kembali mengendur dan kembali ke posisi awalnya.
Rendra segera melancarkan niat awalnya, lagipula bukankah mereka sedang bermusuhan? harusnya gak saling sahut kan? yah apa boleh buat kalau punya hati pemaaf. Tapi mungkin lebih ke otaknya kali ya, dia mudah melupakan apapun
Rendra celingak-celinguk karena melihat tempat pria tadi berdiam diri sudah kosong, padahal hanya ditinggal beberapa menit saja untuk membawa koper
"Astaga" kagetnya ketika akan memastikan. Ternyata Arva berbaring disana dengan sebelah tangannya disimpan menutupi area matanya
"Gue pergi" ucap Rendra
Arva menunjukkan sedikit matanya untuk melihat orang yang sedang berbicara padanya "Sejak kapan lo suka pamit?" ketusnya
"Oke" ucap Rendra segera memutar tubuhnya
"Sorry" ucap Arva, membuat langkah temannya kembali terhenti
"Udah bikin lo babak belur" lanjut Arva
Rendra mengangguk "Sorry juga, gue gak tau kalo Vanya bisa senekat itu" timpal Rendra
"Tapi foto yang lo tunjukin waktu itu, cuman editan kan?" tanya Arva membenarkan posisinya menjadi duduk
Rendra berdecak "Gue gak mungkin ngada-ngada anjir, setergila-gilanya gue sama tuh cewek gak mungkin halu kayak gitu"
"Lo tidur sama dia?" tuduh Arva ragu
"Lo gak terima?"
"Dia yang mulai. Siapa yang gak akan tergoda coba? gila, cowok dipancing dikit aja ya hayu lahh. Cuman lo kayaknya yang kuat sama dia" tutur Rendra
Arva mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya seperti tadi.
Hening
"Gak ada yang mau lo pastiin lagi?" tanya Rendra
"Pergi sana" ketus Arva seperti biasanya yang hoby mengusir orang
"Oke. Gue sih kesini bawa barang, terus si Vino nemenin Mikaela nyari kontrakan" ucap Rendra berusaha memberi umpan
"Berdua?" tanya Arva menimpali
"Iya lah, kalo se RT kebanyakan" jawabnya
"Kenapa lo gak ikut sama mereka?" protes Arva
"Ya gue kan kesini, bawa barang-barangnya dia" jelas Rendra
"Lo gak mau nanyain tentang.."
"Lo boleh pergi sekarang" potong Arva cepat
Rendra mengurungkan niatnya "Oke. Gue cuman mau bilang, jangan sampe nyesel." tekannya
Arva berusaha memaksakan matanya untuk menutup dan mengabaikan perkataan pria yang tak akan pernah ia dengarkan itu. Tapi untuk kali ini, tubuhnya seolah menolak perintah otaknya.
Pria itu segera bangkit dan menyusul Rendra yang sudah hampir naik taxi.
______________________
"Kalo perlu apa-apa, lo hubungin gue" ucap Vino yang langsung dingguki lawan bicaranya
"Gue serius Mik" tekan Vino lagi
"Iya, aku denger" jawab Mikaela
"Jangan cuman didenger" protes Vino
"Terus? dimakan?" timpal Mikaela asal, membuat pria itu tertawa karena guyonan yang tak sengaja terucapnya.
"Rendra.." gumam Mikaela ke arah pria yang baru menunjukkan batang hidungnya.
"Barang-barangnya mana?" herannya yang tak melihat satupun benda yang dibawa pria itu
Rendra menghentikan langkahnya, lalu terkekeh "Bentar" ucap Rendra segera mengejar mobil yang sudah mengantarkannya. Barang bawaannya ketinggalan di mobil Arva "Masa gue harus balik lagi" geramnya
Langkah cepat Rendra berhenti sampai ke tempat dua koper yang bertengger di ujung gang. Mungkin Arva yang menyinpannya disini, tapi gimana kalau hilang? ada yang nyuri? gegabah. "Bukannya dianterin" gerutu pria itu sambil ngos-ngosan
Arva mencengkram setirnya kuat ketika melihat garis tawa di wajah wanita itu terukir tanpa ada dirinya dan memang bukan ditujukan padanya.
Jika apa yang dilakukannya ini hanya untuk membebaskan wanita itu agar bisa bahagia, lalu apa ia bisa menahan sakit karena kebahagiaannya ternyata melukai hatinya.
"Arva?" gumam Rendra, melihat pria itu berjalan sempoyongan ke arah rumah yang akan menjadi tempat tinggal Mikaela.
"Mampus gue kalo dia kesana" gumamnya. Rendra pasti jadi orang satu-satunya yang disalahkan karena sudah membiarkan Arva tau tentang tempat ini. Pria itu segera menyusul Arva dengan barang bawaan yang sialannya membuat ia tak bisa lari cepat
Mikaela mundur beberapa langkah dari posisinya, membuat Vino melihat ke arah belakang tubuhnya untuk mencari tau penyebab perubahan ekspresi wajah wanita di hadapannya
"Masih berani nunjukin wajah lo?" geram Vino segera menghalangi jalan Arva
Pria itu menjambak kuat rambutnya, setengah kesadarannya seperti diambil alih
"Gak usah temuin Mikaela lagi" tekan Vino, mendorong pria yang memang sedang sempoyongan itu sampai tersungkur ke tanah
Pria itu diam beberapa saat di posisi terjatuhnya, lalu segera menampilkan wajahnya ke arah orang yang sudah berani menghalangi langkahnya
"Jangan" tahan Mikaela pada pria yang akan segera membalas perlakuan Vino. Dengan sekuat tenaga gadis itu memberanikan diri untuk menghadapi pria yang sebenarnya sudah tak ingin ia temui lagi
"Ada apa?" tanya Mikaela segera menyelip diantara dua pria itu, lebih tepatnya untuk menghalangi tubuh Vino
"Ka.." ucapan Mikaela terhenti saat pria itu dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya
"Gue kangen sama lo" ucap pria itu dengan suara berat
"Reza" gumamnya pelan.
Mikaela segera tersadar lalu berusaha melepaskan pelukan menyesakkan itu. "Lepasin" tekan Mikaela
"Kenapa lo ninggalin gue?" tanya pria itu
"Kamu yang pergi"
"Kenapa lo biarin gue pergi?"
Mikaela mendorong kuat pria itu sampai tubuhnya terbebas, tapi dengan cepat lengannya kembali berhasil diraih lalu ditarik ke arah yang ia hindari
Pria itu membingkai wajah Mikaela kuat, membuat Mikaela segera menghalangi bibirnya dengan punggung tangannya, membuat bibir pria itu menyentuh telapak tangannya.
Pria itu tak terpengaruh, ia tak menghiraukannya dan tetap bertahan pada posisinya
Tanpa bisa berbuat apapun, secara perlahan Mikaela mulai memajamkan kedua matanya, dengan butiran bening yang satu persatu jatuh membasahi pipinya.
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment