My Cold Senior

My Cold Senior
Too Late




Happy Reading ♡♡



Hiks


Mikaela menutup wajahnya dengan kedua tangannya



"Aden jangan kasar-kasar atuh si eneng nya jadi nangis gitu" ucap sopir taxi yang melirik lewat kaca spion sedikit meledek



"Katanya ciuman pertamanya dia pak, saya beruntung ya" ucap Arva enteng membuat tangisan Mikaela berhenti seketika



"Dasar mesum" Mikaela memukul tubuh Arva dengan beberapa ikat sayur



"Aww aw" Arva memeluk tubuhnya sendiri



"Rasain" ucap Mikaela puas



"Dasar anak muda" ucap bapak supir setengah tersenyum karena mengingatkan pada masa mudanya dulu



"Stop di depan pak" ucap Mikaela



"Jalan terus pak" titah Arva



"Berhenti!"



"Jalan terus"



Ckiiiitttt


"Jadinya gimana nih?" Tanya supir dilema



"Kenapa berhenti disini? Di depan sana pak" Protes Mikaela



"Maaf nih ya sebelumnya, coba kalian diskusikan dulu mau berhenti dimana" saran bapak supir menengahi



"Rumah aku disitu, ya emang aku harus turun dimana lagi?" Ucap Mikaela jengah



"Oh yaudah turun di depan" titah Arva kemudian



Mikaela memutar matanya "Senior yang mereka agungkan ternyata gini bentukan aslinya" gumamnya jengkel



____________________



Bruk


Mikaela menutup pintu kamarnya cepat dan bersandar di baliknya lalu menyentuh area bibirnya perlahan "brengsek" umpatnya



"Aku kenapa sih" Mikaela menenggelamkan kepalanya di bawah bantal berusaha meredam pikirannya yang seakan terkontaminasi



Drrrddd


From +62813-7145 xxxx


Selamat tidur


Lanjut mikirin gue nya besok lagi aja



"Siapa?" Pikirnya. "Jangan-jangan..." Mikaela menarik napasnya berat, dari mana pula pria itu bisa tau kontaknya. Padahal di kampus?



Kringgg kringgg +62813-7145 xxxx



"Ngapain nelepon sih" gerutu Mikaela sebelum menjawabnya



"Gue bilang tidur" ucap pria diujung sana



"Iya" jawab Mikaela singkat



"Bohong ! Lampunya masih nyala" ucap Arva



Mikaela mengernyitkan keningnya dan segera mengintip dibalik gorden jendela dan terdapat lambayan tangan pria yang membuat harinya runyam



"Mati..."


Tut tut telepon terputus, gorden tertutup, lampu mati



"...in" lanjut Arva yang menarik ujung bibir tersenyum sesaat menyentuh bibirnya mngingat kejadian tadi



"Gila" umpat Mikaela


"Astaga, hari ini berapa kali aku terus mengumpat maafkan aku tuhan tapi tolong jauhkan dia dariku kalau perlu hilangkan aja" celoteh Mikaela sambil menarik selimutnya sampai ujung dada



_________________



Sinar matahari mulai menyorot mengenai Mikaela membuatnya mengerjapkan matanya menahan sinar yang terlalu terang



"Astaga" kagetnya ketika melihat jam weker di atas nakas



"Mik.. tumben baru keluar" sapa paman dari ruang makan



"Maaf paman Mikaela kesiangan" ucap mikaela menyesali ketika keluar dari kamarnya yang langsung terlihat sampai ke ruang makan




"Mikaela udah telat, nanti makan di kampus aja deh" jelas Mikaela penuh kejujuran. Nayla pun sepertinya sudah berangkat karena memang tidak terlihat di sekitar dan what Mikaela malah baru mau.. ia yakin hari ini akan terlambat sampai di kampus



Ckiiittt


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya membuat jantung Mikaela kembali seakan meloncat



"Masuk" titah Arva



Mikaela yang tersadar dengan siapa sosok di kursi setir pun langsung melangkah besar dengan kaki jenjangnya



Arva keluar dari mobilnya "aku mau naik bus" tolak Mikaela yang merasa akan ada pemaksaan



"Lo bakal telat" Arva meraih tangan Mikaela "gue bilang masuk!" Arva membuka pintu penumpang dan memasukkan tubuh Mikaela dengan tangan yang menyangga atas pintu mobil memastikan kepalanya tidak terpentok



"Ini karena telat! Lain kali jangan lakuin ini lagi" peringat Mikaela ketika Arva menginjak pedal gas



Arva hanya melihat lurus ke depan, fokus menyetir tanpa menjawab ucapannya atau memang sengaja tidak mendengarkan



"Ck aku lupa kalo lagi sendirian" ucap Mikaela



"Ada apa?" Arva menyentuh dagu Mikaela membuat gadis di sampingnya terkesiap dan langsung menepis



"Kamu kenapa telat?" Tambah Arva bertanya



"Mimpiin gue? Jadi males bangun" tebak Arva



"Iyaa.. berharap kamu gaada di dunia nyata!" Jawab Mikaela ketus



Arva tak bergeming dan kembali dengan suasana hening diantaranya



"Pakk" sapa Arva kepada satpam



Arva menurunkan kaca mobilnya lalu berbasa-basi "lagi ngapain pak? Udah makan? Ko sendirian pak? Saya aja ini berdua" berbagai macam obrolan tak penting.



Mikaela mendengus kesal dan merasa harus segera pergi! Tak perlu menunggu obrolan selesai kan?



Arva mengambil alih aktifitas tangan Mikaela yang hendak membuka Seatbell dengan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah gadis itu



Seatbell nya sudah terlepas tapi Arva masih dengan posisi terdekatnya saat ini mengeja tiap sudut wajah Mikaela yang mulai akan salah tingkah



"Emm ak.."



Cup


Arva mengecup bibir yang hendak mengeluarkan beberapa kata membuat Mikaela membulatkan matanya sempurna sambil menekan dada Arva mendorongnya untuk menjauh



"Manis" ucap Arva sambil menarik ujung bibirnya



Mikaela mengepal tangannya kuat lalu mengusap bibir basahnya kasar "Atas izin siapa kamu ngelakuin ini?" Tanya Mikaela dengan penuh tekanan



"Ngelakuin apa?" Tanya Arva balik dengan wajahnya yang masih posisi dekat dengan Mikaela



Mikaela mengedarkan pandangannya "I itu.." Dia pikir itu hal sepele?



Cup


Arva mengecup singkat bibir Mikaela lagi


"Ngelakuin ini?" Tanya Arva enteng



"Gausah nemuin aku lagi!" Tegas Mikaela yang segera membuka pintu mobilnya untuk keluar dari perangkap singa



"Mending telat daripada harus bareng dia" batinnya menyesali



"Mika" panggil Melvin



"Kamu bareng..."



"Oh emm itu tadi aku ketemu di jalan soalnya udah telat juga jadi aku mau diajak barengan." Potong Mikaela menjelaskan seakan tau dengan apa yang akan dipertanyakan kaka kelas nya ini



"Awww" pergelangan Mikaela diraih seseorang yang menyusulnya



"Heyy.." protes Melvin



"Lo itu telat ngapain masih ngobrol disini?" Ucap Arva tanpa menganggap keberadaan Melvin



"Aku bisa jalan sendiri!" Mikaela menghentakkan tangannya membuat pegangan Arva terlepas



Rahang Arva mengeras. Penolakan semacam ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Apa ini rasanya ditolak? Tidak menyenangkan ! Bukan. Malah Arva tidak menginginkan penolakan



Mikaela mengayunkan kakinya, melanjutkan langkahnya sendiri meninggalkan Arva dengan ekspresi tidak mengenakannya. Merubah perasaan jengkelnya menjadi takut



"Dia pikir dia siapa?" Geram Mikaela