My Cold Senior

My Cold Senior
Sangat Suka



Happy Reading ♡♡


"Sayang!" panggil Arva sambil mengusap lembut pipi istrinya yang masih terlelap


Mikaela malah mengalihkan wajahnya ke arah lain, sepertinya wanita ini tak berniat untuk bangun. Mungkin Arva lupa kalau dari awal wanita ini memang tukang molor, gampang ngantuk susah bangun. Tak ada pilihan lagi selain menggendongnya


"Emm maaf pak ada yang bisa kami bantu? apa emm maaf.."


"Istri saya" jawab Arva


"Ah iya apa istri anda sakit? mungkin kami bisa panggilkan pihak rumah sakit" tawar pramugari


"Tidak usah, istri saya hanya kelelahan kadi tidurnya sangat pulas" jelas Arva yang kemudian melanjutkan langkahnya untuk segera turun dari pesawat


"Aaahhh hh hh" Arva berhasil merebahkan Mikaela di kamar hotel pesanannya, bahkan perjalanan berliku seperti ini saja tak mengganggu tidurnya. Senyenyak itu??


Ah ya ya, Mikaela memang sulit bangun, tapi apa separah ini? Arva kembali memastikan, ia menempelkan telinganya di dada istrinya, guna mendengar suara jantung yang harus berdetak dengan normal "Bagus" gummnya terasa lega "Dan indah" lanjutnya. Ia yakin detakan jantung ini berisikan namanya dalam setiap gerakannya


Tiba-tiba Arva menelan ludahnya berat, apa yang harus ia lakukan sekarang? tidak mungkin ia membiarkan istrinya tertidur dengan baju nya saat ini, itu pasti membuat tidurnya tak nyaman karena pasti banyak kotoran udara luar yang menempel pada pakaiannya


Dengan susah payah Arva memberanikan diri untuk melepas kain itu dari tubuh Mikaela. Panas dingin mulai dirasakannya, dengan kedua mata yang sengaja ia tutup rapat, berusaha mengandalkan keahlian batiniah nya dalam memakaikan kain yang lainnya untuk menutupi tubuh molek istrinya


Tunggu, sekarang kan sudah menikah. Apa salahnya? tidak dosa kan? Arva memaksa matanya untuk terbuka, dan apa yang dilihatnya saat ini membuat darahnya berdesir. Ternyata bukan masalah boleh atau tidak, tapi bisa menahan atau tidak, itu masalahnya.


Dengan nafas yang sudah bergemuruh Arva berusaha menyelesaikan niat awalnya, mengganti pakaian Mikaela, hanya itu.


Brukk


Suara pintu toilet yang menutup, Arva harus menuntaskannya sendiri.



"Morning sun shine" sambut Arva ketika kelopak mata yang ia tunggu sejak setengah jam yang lalu mulai terbuka


Dengan kesadaran yang belum seutuhnya tapi Mikaela sadar dengan apa yang ada di hadapannya. Mikaela segera mengucek matanya guna menghilangkan benda menjijikan yang sering muncul ketika orang bangun tidur


Melihat hal gegabah itu membuat Arva meraih lengannya lalu mengambil alih apa yang hendak disingkirkan oleh Mikaela


Dengan ini rasa malu Mikaela makin bertambah, ia segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Dari semalam aku menunggumu bangun bukan untuk ini" protes Arva


"Mana aku ingin lihat"


"Lihat apa?" tanya Mikaela yang masih erat memegangi ujung selimut


"Lihat belek kamu" jawab Arva


Tanpa jeda Mikaela segera membuka selimutnya untuk protes secara langsung "Gak lucuu"


Arva tertawa melihatnya "Sini, tidak perlu ada yang ditutupi" tuturnya sambil meraih tubuh itu untuk mendekat padanya


"Kenapa tidurmu senyenyak ini?" tanyanya menelisik


Mikaela segera memutar otaknya, mengingat apa yang ia lupakan "Aku tidur sejak kapan?" gumamnya


"Sejak masih di pesawat"


Mikaela segera melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Kita sampai di bandara pukul 8 malam, disambung menuju hotel 2 jam dan selama itu kamu tidur" jelasnya


Arva menghembuskan nafasnya lega "Syukurlah, aku hampir panggilkan dokter, takut kamu tidak bangun lagi" gumamnya


"Maaf" sesal Mikaela, membuat Arva menoleh kepadanya


"Kenapa minta maaf? huh, aku gak menyesal untuk itu, cuman nanya aja takutnya kamu memang lagi kenapa-kenapa dan aku gak tau" jelasnya


"Sebenernya beberapa hari kemarin aku gak bisa tidur, mungkin gara-gara itu"


"Kenapa? ada yang mengganggu pikiranmu?"


Mikaela mengangguk "Tapi sekarang enggak lagi" pungkasnya sambil mengeratkan pelukannya pada Arva


"Apa yang mengganggumu?"


"Tidak usah dibahas lagi"


"Aku ingin tau apa yang membuat istriku kehilangan selera tidurnya"


"Sekarang udah enggak"


"Cepat katakan"


Mikaela menghela nafas "Hanya sesuatu yang aku takutkan"


"Apa itu?"


"Pernikahan kita"


"Kenapa? ada masalah apa?" tanya Arva yang mulai menarik wajah itu untuk ia lihat


"Aku takut pernikahan itu hanya sebuah mimpi yang kamu tawarkan" ungkap Mikaela parau


Tanpa bertanya lagi Arva kembali merengkuh tubuh wanitanya, menenggelamkannya dalam pelukannya


Cup


Arva mengecup puncak kepala Mikaela


"Semua nyata, kebahagiaan ini nyata" tuturnya


Mikaela mengangguk "Terimakasih sudah mewujudkan mimpiku" ucapnya


"Mimpi?" ulang Arva "Sejak kapan?" tuntutnya


Mikaela segera merutuki dirinya yang tak bisa menahan diri, kenapa ia tak lagi bisa menyimpan sesuatu hal sendirian? ini mengganggu


"Sejak kapan?"


Mikaela menggelengkan kepalanya "Aku tidak ingat"


"Aku tidak suka dibohongi"


"Aku tidak suka berbohong" timpal Mikaela pasti


"Begitu ya? ahh aku kalah"


"Mungkin sejak pertama kita bertemu" jawab Mikaela


"Hemm sejak kamu diganggu preman itu?"


Mikaela menggeleng "Sejak melihat anak laki-laki yang 2 tahun lebih tua dariku diseret paksa beberapa preman, sejak gadis kecil yang dengan beraninya masuk kedalam bahaya demi seorang anak yang sedang dalam bahaya, sejak itu" jelasnya


"Kamu banyak bicara" keluh Arva dengan butiran bening yang selalu berani keluar karena wanita ini


Cup


Arva membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya, ia memagutnya lebih dalam dan penuh kelembutan.


Butiran bening dari keduanya saling menyatu, mereka hanyut dalam sentuhan satu sama lain, saling berbagi rasa sakit yang masih tersisa untuk digantikan dengan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata


_________________


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Mikaela yang sudah siap untuk lunch


Mikaela melihat pantulan dirinya sendiri pada pintu lift "Ini gak seksi kan?" gumamnya


"Apa pun yang kamu pakai selalu seksi di mataku" bisik Arva, membuat Mikaela bergidik ngeri dan segera menyudahi aktifitasnya



"Hanya ini?" batin Mikaela ketika sampai di meja yang diperuntukkan kepadanya


"Kenapa masih berdiri?" heran Arva


"Oh aku lupa" Arva bangkit dari duduknya dan menarik kursi satunya untuk Mikaela duduki "Silahkan tuan putri" ucapnya sambil memperagakan lengannya ala pelayan mempersilakan tamu kecintaan, membuat Mikaela tertawa kecil karenanya


"Aku suka kamu manja" ucap Arva sambil mengelus puncak kepala Mikaela gemas "Makan yang banyak ya" lanjutnya yang mulai mengawali aktifitas makannya


"Makan banyak apaan? orang sedikit gini" batin Mikaela yang merasa amat sangat lapar karena sudah melewatkan waktu sarapan. Ingin sekali rasanya mukbang, makan yang super duper banyaakkkk bukan cake yang ukurannya hanya setengah dari ukuran piringnya sendiri


"Nyam" satu sendok yang berhasil masuk kedalam mulutnya membuat ia terpukau "Enak banget" ucapnya


"Tentu" balas Arva yang sudah memastikan kalau istrinya akan menyukai pesanannya


"Pelan-pelan makannya" Arva mengusap ujung bibir Mikaela dengan ibu jarinya, membuat fokus si pemakan rakus itu buyar


"Nyam" Arva menjilat ibu jari yang ia gunakan untuk mengusap sisa makanan Mikaela barusan "Ini jauh lebih enak" gumamnya


"Ayo habiskan, ada makanan selanjutnya yang menanti" tutur Arva


"Ada lagi?" tanya Mikaela


Arva mengangguk "Aku tau porsi makanmu" ucapnya, membuat Mikaela kembali dilanda rasa malu, terlihat jelas dari pipi putihnya yang berubah menjadi lebih merona



"Kalau masih kurang bisa pesan lagi" tutur Arva setelah sewadah besar barbeque memenuhi meja nya yang sudah kosong


"Serius?" tanya Mikaela antusias


"Kalau perutmu bisa menampung bahkan semua makanan yang ada di restoran ini bisa kamu habiskan" sahut Arva


Dengan penuh semangat Mikaela mulai menyalakan pemanggangan kecil yang sudah siap sedia di depannya


"No no no, biar aku. Kamu tinggal menunggu dan makan saja, itu tugasmu" ucap Arva segera mengambil alih yang lagi-lagi membuat Mikaela tersipu malu


"Mau tambah lagi?" tawar Arva pada Mikaela yang sudah terlihat kewalahan


Mikaela menggelengkan kepalanya "Besok lagi" jawabnya


"Hemm tadinya aku mau ajak kamu jalan-jalan tapi kalau kamu lemas kayak gini biar kita ke kamar dulu aja" tutur Arva


"Jalan-jalan kemana?"


"Kemanapun. Disini sedang musim semi, tapi.."


"Ayok, sekarang" potong Mikaela sudah kembali segar bugar


"Yakin?"


Mikaela mengangguk "Banget" jawabnya pasti


"Naik" ucap Arva yang sudah berjongkok di depan Mikaela


"Aku masih kuat kok" sangkal Mikaela kembali melanjutkan langkahnya


Arva menyusul langkah Mikaela dan tanpa persetujuan menarik tubuh istrinya itu untuk jatuh di atas punggungnya


"Kenapa gak komentar?" tanya Arva yang sudah berhasil membawa tubuh Mikaela di atas punggungnya


Tanpa menyahut Mikaela malah mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Arva sebagai jawaban


"Arva" panggil Mikaela di depan telinganya


"Hemm" jawabnya


"Aku mau ituu" pinta Mikaela sambil menunjuk ke arah kedai yang ada di seberangnya


"Laper lagi?"


"Enggak, tapi itu kan gak bikin kenyang" sangkal Mikaela. Sejak kapan potongan sosis berukuran besar tak bikin kenyang?? mungkin itu hanya menurut gadisnya saja



Mikaela menunjukkan satu tusukan penuh ke arah Arva dengan senyum lebar "Kamu yakin gak mau?" tanyanya memastikan


Arva menggeleng "Liat kamu aja udah kenyang" gumamnya pelan, tak membuat Mikaela mendengar ucapannya


"Ini ngantri loh, mumpung masih disini nanti kamu nyesel"


"Enak?" tanya Arva pada Mikaela yang sedang menggigit jajanannya


Mikaela mengangguk "Nih, kalo mau"


"Buat aku?"


"Jangan semua" protesnya


Arva tertawa "Enggak, aku bercanda. Abisin gih"


Mikaela menarik kembali lengannya yang tadi diulurkan ke arah Arva


Kedua mata Mikaela melebar ketika ia hendak menggigit tusukan sosis yang dengan bersamaan Arva pun menggigit potongan sosis yang lainnya, membuat hidung keduanya bersentuhan


"Enak" gumam Arva, sedangkan Mikaela masih tertegun karenanya, bahkan giginya masih menancap di permukaan sosis itu


"Kamu kebiasaan" protes Mikaela sambil menghentakkan kaki nya setelah beberapa saat bungkam


"Kenapa?"


"Bikin jantung aku mau copot" keluh Mikaela


"Separah itu?"


Mikaela mendelik ke arah pria yang tak henti menggodanya lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Arva yang masih tertawa bahagia melihat ekspresinya, berbanding terbalik dengannya yang serasa habis jatuh dari lantai 13 kamar hotel yang diinapinya.


"Jangan jauh-jauh, kamu gak tau jalan, nanti kesasar" tahan Arva yang sudah berhasil menyusul langkahnya lalu meraih tangan wanitanya untuk ia genggam


"Emang kamu tau jalan?"


"Enggak"


"Sama aja dong"


"Gak apa-apa kok kesasar kalo sama kamu" sahut Arva kembali membuat darah Mikaela berdesir


Langkah Arva tiba-tiba terhenti "Kenapa?" tanya Mikaela


"Sebentar sayang" ucapnya sambil menghampiri anak kecil yang sedang duduk sendirian di trotoar sambil menangis


"Hai" sapa Arva, membuat anak lelaki itu mendongakkan wajahnya, menampilkan mata sembabnya yang diyakini karena terlalu banyak menangis


"Uljimarayo" ucap Arva sambil mengusap ujung mata anak itu yang basah


Mikaela tertegun "Dia bisa bahasa Korea" batinnya, ia sungguh menikah dengan pria yang ternyata multytalented, bukankah itu sebuah berkah besar? padahal ia tak berpikir sejauh itu


"Aku hanya bisa sedikit, jangan berlebihan" sangkal Arva, menjawab apa yang tidak Mikaela ungkapkan. Kalau sebuah kebetulan kenapa sesering ini Arva tau isi hatinya?? menjengkelkan


"Why are you crying?" tanya Arva lagi yang kembali fokus pada anak bermata sipit khas Korea di depannya


"Na umma neomu bogoshippo jigeum" tutur anak kecil itu masih terisak


"Apa katanya?" Kepo Mikaela


"Kayaknya dia kepisah sama ibunya" jawab Arva menyimpulkan


"Aduh gimana dong?" Mikaela mulai panik


"Sayang kok bisa kepisah sama ibunya sih? aduh kakak harus gimana dong sekarang kan kakak disini cuman liburan, kakak bukan asli orang sini, jadi bingung harus bantu kayak gimana" tutur Mikaela yang sudah duduk di samping anak itu


"Hahaha" Anak laki-laki itu malah tertawa geli, membuat Mikaela menatap heran "Arva, dia normal kan? kok ketawa sendiri sih?"


"Mungkin dia ngerasa aneh denger kamu ngomong"


"Aneh? dia ngetawain aku?" deliknya tak terima


"Kamu apaan sih? sudah, kita harus bantu carikan ibunya" putus Arva sambil mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuannya


"Tapi kemana? kita kan gak tau apa-apa disini"


"Kita bisa cari tau"


"Kita kan bukan orang sini, nanti kalau salah gimana? nanti kita malah ditangkap polisi disini karena dituduh penculik, ya kan? gak deh Arv ini bukan ide yang bagus" keluh Mikaela


"Gak bisa sayang, kita harus bantuin dia, kasian"


"Tapi kan kita bisa minta tolong ke orang lain yang asli sini, itu lebih baik"


"Aku yang pertama kali nemu anak ini dan aku merasa punya tanggung jawab untuk ini, sudah ya jangan berargumen lagi" putus Arva final


"Kalau gak ketemu?"


"Kita bisa bawa anak ini pulang"


"A-apa? kamu bercanda"


"Nope" sahut Arva yang tak berniat menyahutinya lagi


Mikaela hanya bisa menghela nafas nya panjang, tujuan mereka kesini kan untuk liburan, bukan malah jadi tahanan.


Dengan penuh kekhawatiran Mikaela hanya bisa berdo'a dalam hatinya, semoga niat mulia suaminya ini tidak berimbas buruk. Arva dan anak itu saling tanya jawab dengan bahasa yang tak Mikaela mengerti, membuatnya merasa tersisihkan dan asing sendirian.


"Eomma" panggil anak kecil itu menunjuki wanita yang sedang dikelilingi orang banyak


"My son" teriak wanita itu langsung menghampiri, membuat tatapan semua orang mengikuti langkah besarnya


Dengan refleks Mikaela langsung memeluk Arva dari depan, ia takut pria nya jadi bulan-bulanan warga.Itu sangat mungkin terjadi


"Sayang" panggil Arva


"Sayang lepasin dulu sebentar, ibunya .."


"Suami saya gak salah, suami saya hanya ingin mengantarkan anak ini, hanya itu" tutur Mikaela tanpa mau melepaskan pelukannya


"Terima kasih" ucap seorang wanita


"Saya yang salah, saya sudah ceroboh dalam menjaga anak saya" lanjutnya


Mikaela melepaskan pelukannya "Kamu tidak menyalahkan suami saya?"


"Kenapa begitu? justru saya sangat berterimakasih" sahutnya


Arva berjongkok untuk menurunkan anak kecil itu "Jangan jauh-jauh dari ibumu lagi" tutur Arva sambil mengacak rambut kepalanya gemas



Cup


Anak kecil itu mengecup pipi Arva


"Thank you" ucapnya menggemaskan, membuat orang yang melihatnya ingin sekali membawanya pulang, termasuk Arva


"Saya menyesal kenapa harus menemukan ibunya secepat ini" tutur Arva yang sudah berdiri, membuat wanita umur 30 tahunan itu tertawa kecil di sela isakan haru nya karena sudah menemukan anaknya yang sempat hilang


"Sekali lagi saya ucapkan termikasih, kalau begitu permisi" pamit wanita itu sambil membungkukkan punggungnya


Arva pun melakukan hal yang sama, begitupun Mikaela setelah Arva memintanya


"Dia bisa bahasa Indonesia?"


"Kedengarannya?"


"Tapi kok kayaknya dia orang Indo ya?"


"Suaminya yang orang sini"


"Kok kamu tau?"


"Kan anaknya punya tampang Korea, kalau ibunya bukan orang sini maka suaminya yang punya gen itu" jelasnya membuat Mikaela mengangguk paham


"Kenapa begini saja harus dijelaskan?"


"Kamu keberatan?"


"Sangat" jawab Arva, membuat Mikaela mendelik tak suka


"Sangat suka" lanjutnya meralat


Cup


Arva mengecup ujung hidung Mikaela


"Untuk mengembalikan senyummu"


Mikaela kembali bergelayut manja pada lengan kokoh suaminya yang tadi diambil alih oleh anak kecil itu


"Sayang" panggil Arva


"Hemm"


"Aku ingin kita punya anak"





PLEASE LIKE AND COMMENT