My Cold Senior

My Cold Senior
Turun !!



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Eh apaan nih?" protes Rendra ketika Arva menarik lengannya tanpa belas kasihan, membuat tubuhnya mangkir dari kursi tenyamannya



"Lo anter Mikaela pulang" ucap Arva



"Huh" Rendra segera melirik jam yang melingkar pada tangannya



"Ini baru jam makan siang" keluhnya kembali duduk tapi sayang kursi nya berhasil geser karena ditendang pria, membuat bokong temannya jadi jatuh mencium lantai



"Sakit begok" ringis Rendra mengusap bokong bohay nya, nanti kalau tak seksi lagi siapa yang akan tanggung jawab? karena ini merupakan salah satu anggota tubuhnya yang menggoda iman para wanita yang menggilainya



"Anterin Mikaela pulang" ulang Arva penuh tekanan



"Kenapa enggak lo aja sih?" keluhnya sambil berusaha bangkit dari kesakitan yang belum pudar



Tiba-tiba suasana menjadi canggung ketika Vino muncul, tatapan kedua pria itu seolah saling menyerang, itu yang dirasakan Rendra. Ya, kali ini dia yang akan menjadi wasit kalau seandainya terjadi baku hantam



Arva kembali mendelik ke arah Rendra, memastikan agar pria itu menuruti apa yang jadi permintaannya lalu segera meninggalkan tempat yang sudah tak lagi membuatnya nyaman



"Lo mau kemana?" tanya Vino pada Rendra



"Nganterin Mikaela pulang" jawabnya



"Pulang? kenapa?"



Rendra sedikit menjeda, sebab ia tidak melihat langsung keadaan wanita itu kan? jadi seharusnya tidak beranggapan demikian. Tapi Arva tak akan salah, ia sangat peka terhadap gadis itu "Dia sakit" jawabnya



"Loh, tadi Arva kesini. Kok gaada" keluh Vanya gemas, membuat Rendra melangkah mundur kembali ke tempat semula



"Tadi dia kesana" jawab Rendra, membuat Vanya mengangkat salah satu alisnya pertanda ragu takut dipermainkan. "Gue serius" lanjutnya, menjawab tuduhan yang terlihat dari mimik wajah wanita yang meragukannya



"Vin, lo yang anter Mikaela pulang ya" pinta Rendra mengalihkan tugasnya. "Ikutin gue" lanjut pria itu meminta Vanya mengikuti langkahnya.



"Awas kalo bohong" tekan Vanya



"Enggak lah, yaelah wajah gue gak nipu-nipu banget kali" elak Rendra



"Tadi dia jalan ke arah sini, gue kayaknya tau sih dia kemana" lanjutnya menyalahi keraguan Vanya terhadapnya



"Btw kenapa sih lo suka sama Arva? padahal dia kan udah punya pacar" tanya Rendra di sela langkahnya



"Enak aja, mereka udah putus ya" protes Vanya tak suka



"Oh, okee" ucap Rendra mengalah, atau wanita sexy ini akan segera berubah menjadi singa betina yang liar. Bukannya apa-apa, hanya saja tak tau kenapa amukan wanita ini menjadi daya tarik tersendiri baginya. Bukankah ia terlalu terobsesi??



"Tapi kenapa lo suka sama Arva?" ulang Rendra



"Ya siapa sih yang gak suka sama cowok kayak dia? gila aja lo. Tapi dari sekian banyak cewek, cuman gue yang pantes sama dia" ucap Vanya mengklaim kepemilikannya



Rendra mengangguk paham. Iya, angguki aja dulu biar seneng. Nyenengin orang kan dapet pahala ya? setidaknya dari sekian banyak dosa, ia masih punya pahala dari kebaikan tak disengajanya



"Memangnya Arva sehebat itu? sampe bisa disandingkan sama cewek kayak lo" tanya Rendra lagi. Ya, pertanyaannya memang mengagungkan wanita itu. Tidak apa, karena Vanya selalu menganggap dirinya jauh diatas orang lain bukan?



"Segalanya! dia ganteng, tajir, keren, berkharisma, pokoknya gue gak bisa berpaling dari Arva, hebat kan dia?" jelas Vanya sembari mengukir senyumnya, seolah orang yang ia maksud sedang memenuhi ruang di kepalanya



"Gue juga ganteng" ucap Rendra, membuat Vanya mendelik memudarkan senyum penuh harapnya



"Banyak kali cewek yang nempel sama gue" lanjutnya.



"Itu karena cewek-cewek itu gak mampu dapetin cowok yang lebih dari lo" celetuk Vanya



Jleb


Ratusan anak panah serasa menembus jantungnya secara bersamaan. Ya, sakit namun tak berdarah. Amazing woman



"Tapi kalau Gue ada di posisi Arva? ya maksudnya yang lo anggap ganteng, tajir, keren dan berkarisma itu ada di gue. Lo bakal suka sama gue?"



"Lo ngomong apaan sih?" protes Vanya menghentikan langkahnya



"Lo ngajak gue kesini cuman biar bisa ngobrol sama gue aja kan?" tuduh Vanya



"Ish rese banget sih lo" kesalnya sambil memukuli tubuh Rendra dengan kepalan tangannya.



"Aww enggak lo salah paham" elak Rendra



"Lo pikir gue bakal suka sama lo? enggak akan! lo bukan Arva, karena gue cuman suka sama dia !" tegas Vanya dengan napas terengahnya



Rendra membingkai wajah Vanya lalu membawanya ke arah samping kanannya "Lo apaan sih?" protes Vanya




Seketika kerutan di wajah Vanya terganti dengan garis senyum yang tidak pernah diperlihatkannya pada pria selain yang sedang jadi objek penglihatannya.



Arva sendiri dibuat kewalahan oleh wanita ini, karena memang semuanya permainan alam. Pria itu tak salah, ia hanya si penerima takdir yang harus menentukan sikapnya sendiri, tapi kembali lagi kalau wanita itu memang sulit dikendalikan. Sayangnya ia sangat menyukainya



Kalau saja Arva punya kembaran, maka ia rela membuang wajahnya demi untuk menjadi kembar dengan pria itu. Yang mengharuskan wajahnya berganti menjadi wajah Arva, hanya agar Vanya bisa menerimanya. Mungkin itu satu-satunya cara, tapi memang hanya sekedar angan. Mana bisa kayak gitu? halu dasar. keseringan nonton doraemon pasti



___________________________



"Tapi sorry gue cuman bawa motor" ucap Vino yang tak begitu suka mengendarai mobil.



Mikaela tertawa "Memangnya kenapa? udah mau nganter pulang aja udah makasih banget" jawabnya



"Yaudah ayok" ajak Vino yang sudah bertengger di atas motor kesayangannya



Mikaela tak bergeming, Vino mengikuti arah pandang wanita itu yang ternyata sedang melihat ke arah pria yang keringatnya sedang di lap mesra oleh seorang wanita liar yang bersembunyi di balik senyum manisnya



Vino berdiri di depan Mikaela, menghalangi pandangan yang membuat kedua mata wanita itu menjadi berkaca-kaca "Kalau sakit kenapa diliat?" ucap Vino sambil mengusap butiran yang mulai lolos pada pipi Mikaela



Mikaela menundukkan wajahnya, menyembunyikan luka yang tersirat jelas dari sana. Namun sedetik kemudian senyum itu kembali "Yuk" ajak Mikaela meraih lengan Vino untuk segera membawanya pergi



Vino hendak melajukan kendaraanya, namun tiba-tiba sebuah tangan menyentuh body depan motornya membuatnya mengurungkan niatnya



"Turun" titah Arva pada Mikaela yang sudah duduk di belakang tubuh Vino



Mikaela mengalihkan pandangannya seolah tak mendengar apapun, ia malah melingkarkan tangannya pada perut berotot pria yang memboncengnya.



"Turun!!" tekan Arva sekali lagi



"Minggir" tegas Vino berusaha melewati tubuh pria itu



Arva berhasil meraih kunci motor Vino, membuat mesin motornya mati. Dengan ringan ia melempar jauh kunci itu ke sembarang arah "Sialan" sungut Vino "Mau lo apa?" kesalnya



Arva melewati tubuh Vino "Gue bilang turun" tegasnya sambil meraih lengan Mikaela yang masih mendarat pada tubuh pria itu



"Aku gak mau" tahan Mikaela ketika Arva akan membukakan pintu mobilnya



"Lo lagi sakit, gak bisa naik motor" tekan Arva sambil memasukkan tubuh Mikaela kedalam mobilnya.



"Apa perdulinya??" kesal Mikaela dengan nafa terengahnya



Pergerakan Arva yang akan memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Mikaela terhenti ketika wanita itu mendahului pergerakannya. Arva membiarkannya lalu segera melajukan mobilnya



"Gak usah merasa bersalah" ucap Arva ketika Mikaela melihat ke arah Vino yang masih berada di atas motornya



Mendengar itu membuat Mikaela mendelik tak suka ke arahnya "Lo gak suka?" tanyanya semberi melihat ke arah Mikaela



"Arva liat kedepan" kaget Mikaela atas tingkah seenaknya pria itu, membuat Arva kembali fokus ke jalanan yang dilaluinya



"Gue kan udah bilang, gak suka ngomong tanpa liat orang yang diajak ngomong" jelasnya



"Tapi kamu lagi nyetir, bedain dong" protesnya



"Emang kenapa?"



"Kalo nabrak orang gimana?" kesalnya disusul dengan butiran bening yang keluar deras dari mata beningnya



"Kok, Mik ko lo nangis?" panik Arva menepikan mobilnya. Apa wanita itu begitu menghawatirkannya??



"Ibu aku meninggal gara-gara ditabrak mobil, mungkin orang yang nabraknya itu kayak kamu. Gak mikir, selain membahayakan diri sendiri, dia juga lagi membahayakan orang lain



"Oke, sorry. gue minta maaf" ucap Arva menyesal



Mikaela membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya "Janji?" tanyanya sambil ******** bibirnya untuk menahan isakan tangisnya yang entah mengapa menjadi bertambah kuat



Perlahan Arva mengusap pipi basah wanita itu "Gue janji" tuturnya. "Sorry, udah bikin lo nangis" lanjutnya



"SERING" inginku teriak "Woooooooyyyyy lo sering bikin gue nangis !!!" itu kata author, mewakilkan kata hati Mikaela yang sudah pasti tak bisa mengucapkan kalimat penting itu.




•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment