
Happy Reading ♡♡
"Aku gatau mau cerita dari mana, aku aja bingung dengan hidupku sendiri kak" tutur Mikaela
Melvin hanya bisa mengusapi punggung gadis itu, ia tak bisa melakukan hal selain ini. Yang terpenting gadis ini sudah tenang dan tak lagi takut dengan keberadaannya seperti kemarin
"Rani udah nunggu di rumah" tutur Melvin
"Rani tau?" tanya Mikaela
"Gue gak bilang, tapi dia pasti curiga" jelasnya
Mikaela mengeratkan pegangannya pada pinggang Melvin lalu menempelkan pipinya pada punggung pria itu sambil menikmati semilir angin yang menyentuh kulit wajahnya
"Gue pulang" pamit Melvin sambil mengusap puncak kepala gadis itu
"Kak.." tahan Mikaela
"Ini mau hujan" lanjutnya
Mikaela segera melepaskan pegangannya pada Melvin ketika menyadari keberadaan seseorang yang sedang dihindarinya
Melvin mengikuti arah pandang gadis yang tiba-tiba mematung itu lalu menghampirinya.
Air hujan mulai berjatuhan, membasahi tanah yang sudah mengering, menyapa dedaunan yang mulai melayu, begitupun dengan kedua makhluk hidup yang sedang berhadapan ini
Bugh
Tanpa disangka, Melvin membogem wajah Arva bertubi-tubi.
"Kalo lo gak bisa jagain dia, gue gak akan biarin lo deketin dia lagi" tekan Melvin
"Kalo kejadian kayak gini terulang lagi, gue bakal rebut dia dari lo" bisik Melvin sambil menepuk bahu Arva lalu menghampiri motor gede nya untuk segera mangkir dari tempat yang akan segera membuat hatinya tersayat
Arva melawan deras hujan yang membasahi tubuhnya, ia tetap melangkahkan kakinya untuk menghampiri gadisnya yang masih diam mematung
"Kita pulang" ajak Arva. Kali ini ia tak akan bisa memaksakan keinginannya
Mikaela menggelengkan kepalanya sambil memundurkan langkahnya
"Mik.." panggil Rani menghampiri temannya yang bersikap tak seperti biasanya.
"Ran" Mikaela segera memeluk erat tubuh temannya
"Oke, gue gak akan maksa" ucap Arva
"Yang penting gue udah liat kalo lo baik-baik aja" lanjutnya
______________________
"Yampun Ran gue lupa kalo ada tugas" rutuk Mikaela membongkar isi tas nya
Rani menyangga dagunya sambil memperhatikan temannya yang mulai kembali seperti gadis yang ia kenal
"Kamu kenapa sih ngeliatin aku kayak gitu?" heran Mikaela sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga
"Gue seneng" pungkas Rani melebarkan senyumnya
"Kamu seneng aku diomelin dosen?" tuduh Mikaela
Rani memudarkan senyum merekahnya, gadis ini memang tak pernah merasa bahwa kenyataannya memang ada teman yang sebegitu perdulinya seperti ini. Sampai terbawa mimpi bahkan tak bisa makan dan minum dengan tenang
"Tuh" asong Rani, memberikan sebuah buku binder yang dicari temannya sejak tadi
"Kok ada di kamu?" protes Mikaela
"Orang dicariin dari tadi juga" omelnya lagi
"Ran.. kok" heran gadis itu mulai berkaca-kaca
"Kamu yang ngerjain?" tanyanya tak percaya
"Ck. Gak mungkin Arva kan?" ucap Rani. Ya, gadis itu memang tak menyadari keperdulian sahabatnya
"Sebenernya Ran kamu gak usah.."
"Udah deh Mik gausah protes lagi" potong Rani
"Biasanya juga gue gak sampai segininya kan? anggap aja gue lagi baik" lanjutnya
"Emm a-akuu.."
Ucapan Mikaela terhenti ketika dosen sudah memasuki kelasnya. Sesekali ia melihat ke arah Rani yang sudah fokus dengn infokus yang diterangkan pria paruh baya di depannya.
"Aku selalu merasa sendiri, padahal masih banyak orang yang peduli. Hanya saja aku terlalu fokus kepada orang-orang yang meninggalkanku" batin Mikaela
"Reza lepasin !!" ronta Mikaela. Ia sudah tau betul dengan kepribadian ini, yang sama sekali tak bisa dibantah.
Setelah kejadian waktu itu ia memang tak pernah melihat batang hidung pria ini. Tapi apa perdulinya? Mikaela bahkan merasa tenang dengan ketiadaan orang itu. Tenang atau kurang? ia hampir tak bisa membedakan, sebab ia sudah lupa dengan perasaan tenang sebelum pria itu datang merecoki hidupnya
Mikaela segera membuka seatbell nya pada waktu pria itu memutari mobilnya.
Gagal. Reza berhasil menghentikan pergerakannya yang sudah hampir lolos. Pria itu kembali memasangkan kembali sabuk pengaman itu pada tubuh Mikaela lalu membuatnya terpojok
"Oke aku gak akan melawan lagi" putus Mikaela
"Asal biarin aku tinggal di rumah Rani" lanjutnya membuat kesepakatan
"Cewek sama cowok mana boleh tinggal di satu rumah?" protes Mikaela
"Kalo harus nikah ya tinggal nikah, gampang kan?" timpalnya
Mikaela mengusap wajahnya kasar, memangnya pernikahan bisa dilakukan semudah itu? tapi mungkin itu sah-sah saja bagi pria ini, untuk mengajak pacaran saja ia tak perlu persetujuan dari gadis yang ingin ia pacari
"Oke.. gue anterin lo ke rumah Rani" ucap pria itu membuat Mikaela menatapnya penuh harap
"Serius?"
Pria itu mengangguk, ia juga tak mau hal seperti kemarin terjadi lagi pada gadisnya. Bahkan jika sampai terulang lagi, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri
"Lo pulang?" ucap Rani ketika mendapati temannya yang tadi sudah diculik pacarnya sendiri
Mikaela segera menggiring masuk teman ceplas-ceplosnya itu kedalam rumah, sebelum pria itu berubah pikiran
"Gue pikir lo gakan pulang dengan selamat" tutur Rani dengan nafas lega
Mikaela tak bergeming, ia membanting tubuhnya sendiri keatas kasur.
"Jangan males-malesaaannnn" protes Rani sambil menarik tangan Mikaela
"Apasih Rann" gumam Mikaela lemah
"Kita have fun lah.. apalagi?" ucapnya penuh semangat
"Kemana?" tanya Mikaela antusias, ia juga merasa harus bersenang-senang sedikit
"Lo pasti suka" jawab Rani menampilkan wajah misteriusnya
____________________________
from +62813545xxx
Dimana beb??
"Brengsek" geram Vanya sambil menjambak rambutnya setelah membaca pesan singkat pada ponselnya
"Kenapa gue bisa lupa diri?" rutuknya lagi. Vanya berusaha memutar otaknya, agar pria gila itu tak membeberkan apa yang sudah terjadi diantara mereka pada pria yang digilainya, atau ia akan gila karena pria itu membencinya
"Kalau gue gak bisa dapetin Arva, maka gue gak akan biarin siapapun ngedapetin dia" kecamnya
Kedua ujung bibir wanita itu seketika melengkung keatas, amarahnya pelan-pelan menghilang tergantikan dengan siasat yang mulai terencana
Vanya meraih ponsel yang ada di atas nakas lalu bicara di baliknya, sebelum akhirnya ia pergi keluar kamar yang sudah beberapa hari ini tak pernah ditinggalkannya
_______________________
"Mik bentar ya gue nyamperin temen dulu"
Sebenarnya tempat ini bukan tempat yang ingin ia datangi, tapi bukan hal yang buruk juga. Pantas saja diskotik menjadi tempat favorit para anak muda, rasanya Mikaela akan mulai menyukai dentuman keras musik dj yang bisa menenangkan gemuruh dalam dirinya
"Sendirian??" tanya seorang pria asing
"Rame gini kok" ketus Mikaela
Pria itu menganggap Mikaela sedang berlelucon dengan jawabannya, padahal mana mungkin?? Mikaela bukan gadis yang mudah akrab, apalagi dengan pria yang pecicilan seperti itu
"Diminum" tawar pria itu memberi satu gelas air berwarna keunguan
"Mikaela.." gumam Melvin setelah satu langkah melewati pintu masuk
Melvin segera menghampiri gadis itu lalu disambut baik oleh Mikaela, membuat pria tadi merasa tak nyaman lalu pergi dengan sendirinya
"Untung ada kamu" ucap Mikaela lega
"Kenapa ke tempat kayak gini sendirian??" tanya Melvin
"Sama Rani kok, tapi tadi dia..." Mikaela mengedarkan pandangannya mencari gadis yang sudah berani meninggalkan gadis polos seperti dirinya menyendiri begini
Mikaela mendengus, ia melihat gadis itu malah asik berjoged tanpa beban ataupun rasa bersalah. Ia hampir saja mengira bahwa keberadaan manusia suci itu ada, tapi sepertinya hal seperti itu memang tak pernah ada
Mikaela meraih satu gelas wine yang menganggur di mejanya lalu meminum habis isinya dalam satu tegukan
"Pelan-pelan" Melvin melap ujung bibir Mikaela yang basah dengan ibu jarinya
Deg
Seperti ada sesuatu yang berdesir dalam dirinya. Mikaela menahan lengan pria yang baru saja menyentuh bagian wajahnya
"Kak Melvin" panggil Mikaela resah
Melvin membulatkan kedua matanya ketika gadis itu tiba-tiba mencium bibirnya, pria itu berusaha menahan dirinya agar tidak membawa perasaan yang sudah ingin ia kubur ini, tapi rasanya sia-sia kalau dilewatkan begitu saja
Lengan Melvin mulai melingkar pada punggung telanjang gadis itu, bibirnya pun mulai mengikuti pergerakan yang sudah dilakukan Mikaela terlebih dulu
Mikaela meremas kuat kerah Melvin "A aku.." ucapnya terbata sambil menggigiti bibirnya seksual
•
•
•
♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡
♡♡♡