My Cold Senior

My Cold Senior
Bertahan



Tolong dong LIKE nya tingkatkan !! pembaca perbab hampir 10k masa like nya gak sampe stengah-stengahnya acan seeehhh πŸ˜₯ take and give 😘😘




Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading β™‘β™‘



Mikaela tiba-tiba bangun dari tidurnya karena ada desakn yang ingin keluar dari perutnya. Ia beberapa kali memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan bening yang pahit terasa lidahnya



Mikaela membasuh segera wajahnya dengan air, mungkin itu bisa sedikit menyegarkan tubuhnya yang tak bertenaga



Dari kaca pintu ruangan rawat inapnya menampilkan Arva yang sedang mengikuti langkah dokter. Perlahan Mikaela keluar dari ruangannya, berbarengan dengan Rendra dan Vino yang beranjak dari tempatnya ke arah kantin, mungkin akan beli makan.



"Apa? dokter gak salah kan?" kejut suara bariton yang ia dengar dari balik pintu. Tak jauh beda dengan Mikaela yang segera menutup mulutnya menahan agar tak ada suara yang keluar darinya



"Uhh oke, tapi saya baru melakukannya satu kali, kenapa bisa.." lanjutan suara yang Mikaela dengar. "A-aku hamil" gumamnya masih tak percaya. Tapi kejadian barusan? ia baru saja mengalami salah satu pertanda wanita saat hamil



"Kalau sampai saya tau anda menyuruh pacar anda menggugurkan kandungannya, saya akan tuntut anda. Sudah sepatutnya pria macam anda musnah dari bumi ini" penuturan itu berhasil membuat tubuh Mikaela gontai. Apa pria itu akan meninggalkannya? Mikaela melingkarkan tangannya pada perut ratanya. Semua ini memang mengejutkan, tapi tidak seharusnya anak yang baru saja mendiami rahimnya harus menerima akibat dari kesalahannya



Dengan tertatih Mikaela segera kembali ke ruangannya, ia tidak akan mengorbankan anaknya walaupun ia harus mati maka mati saja, itu sudah takdirnya bukan?



"Nyonya sudah baikan?" tanya Steffi ramah



"Jangan gugurkan anak saya" ucap Mikaela to the point



Steffi menautkan alisnya, bagaimana mungkin pasien tau akan hal ini?? "Anda tidak sedang hamil" sangkal Steffi, karena ia tau bahwa tak ada satupun wanita yang rela kehilangan bayinya walaupun nyawanya sebagai gantinya



"Dokter jangan bohong! saya sudah tau semuanya" ucap Mikaela dengan pandangan yang memburam akibat butiran bening dari ujung kedua matanya



"Tapi ini demi keselamatan.."



"Jangan, saya mohon" pinta Mikaela



"Ini anak saya, hanya saya yang berhak menentukan pilihan" tekannya



"Tapi kekasih anda mengijinkan" ucap Steffi yang tetap harus mengedepankan keselamatan pasien.



Matanya perih, sudah pasti pria itu tak menginginkan anaknya. Apa Arva akan meninggalkannya setelah ini?? Tidak, ia tidak bisa membayangkannya. Hatinya sudah terbuka lebar untuk pria yang selalu mengetuk tanpa lelah itu, lalu apa kesakitan yang akan menjadi akhir dari segalanya?



"Saya akan bertahan" ucap Mikaela



"Saya janji, tolong biarkan saya berjuang. Kalau tidak, maka percuma saja saya hidup" tuturnya



Steffi amat mengerti perasaan pasiennya, sebab ia pun pernah terpuruk ketika harus kehilangan bayinya akibat kecelakaan. Dan itu membuatnya terpuruk selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya ia bangkit dan kembali



Memang ada beberapa kasus serupa yang keduanya bisa selamat. Mungkin kali ini ia harus memberi kesempatan agar tangan tuhan yang bekerja.



"Baiklah" ucap Steffi dengan berat hati.



"Jangan beri tau Arva" pinta Mikaela



"Kenapa?" heran Steffi



"Saya mohon" ucap Mikaela lagi tanpa menjelaskan. Sudah pasti pria itu akan meninggalkannya kalau saja tau kandungannya ia pertahankan. Mungkin beberapa bulan kedepan ia bisa pura-pura, biar kelanjutannya dipikirkan nanti saja



Steffi mengangguk paham. Kalau pria itu tau, maka ia tak akan membiarkan kekasihnya mempertahankan bayinya karena akan merenggut nyawa wanitanya. Ya, ia pun akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisi wanita ini



____________________________




Arva mengerjapkan matanya untuk mengawaskan pandangannya yang buram. Ia mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya yang terpapar sinar matahari dari sela gorden kamarnya



"Arghhh" Arva memijat kepalanya yang terasa pening. Tiba-tiba terlintas sekilas ingatan yang mungkin ia lupakan, membuat kepalanya semakin pusing



Arva mengedarkan pandangannya dan ini memang kamarnya, ia pasti hanya mimpi. Tidak mungkin menemui Mikaela dengan cara seperti itu



"Kamu udah bangun?" sapa Vanya yang masuk kedalam kamarnya



"Aku bawain sarapan buat kamu" ucapnya sambio menyimpan nampan yang dibawanya di atas nakas yang ada di samping ranjang



"Bisa gak ketuk pintu dulu?" ketus Arva menunjukkan rasa tak suka nya



"Emang kenapa sih? kan bentar lagi kita tunangan" ucap Vanya tanpa memudarkan senyumnya



"Gue gak pernah ngerasa menyetujui itu" sangkal Arva



"Tapi kamu bakal setuju" timpalnya penuh percaya diri



"Gue gak mau" tegas Arva sambil beranjak dari kasurnya



"Arva .." panggil Vanya frustasi ketika pria itu memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi.



"Lo cuman buat gue" gumam Vanya sambil mengepal kuat tangannya



_______________________



"Lo mau pesen apa?" tanya Rani membuyarkan lamunan Mikaela



"Emm aku.." Ucapannya terhenti ketika ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Mikaela segera beranjak dari tempatnya untuk membuang cairan yang selalu ingin keluar saat ia melihat makanan



"Mikaelaaa.." panggil Rani yang segera mengikuti langkah besar sahabatnya itu



"Uek ueekk" Cairannya keluar begitu banyak, padahal sejak pagi ia tidak banyak minum



"Elo?" ucap Vanya yang baru masuk kedalam toilet




"Emm atau lo sakit karena baru ditinggal Arva??" lanjut Vanya diakhiri dengan tawa bangga nya



Mikaela berusaha tak meladeni perempuan itu, ia benci perseteruan, ia bukan type orang yang suka ribut.



Vanya menggertakkan gigi nya, keterdiaman gadis itu justru membuatnya semakin gemas untuk melalukan kekerasan. Ia tak boleh diacuhkan oleh siapapun, beraninya dia "Eit, mau kemana?" tahan Vanya mencengkram kuat lengan Mikaela



"Aku mau pergi" jawab Mikaela



Vanya menggelengkan kepalanya "Gak semudah itu" seringainya penuh arti



"Vera?"



"Heumm.." jawab temannya dari belakang



"Keluarin" titah Vanya



"Keluarin?" gumam Vera tak paham apa maksud dari perkataan temannya yang sedang sibuk itu



"Vera manaaaa" kesal Vanya tak suka menunggu



"Lo minta apa sih? gue gak bawa apa-apa" ucap Vera sambil memutar tubuhnya, sebagai bukti kalau ia hanya membawa dirinya sendiri



Vanya melenguh "Di tas, cepet ambil" titahnya yang langsung diangguki Vera



"Oh ya, gue sama Arva bentar lagi mau tunangan" ucap Vanya



Deg



Vanya menarik kedua ujung bibirnya "Gak usah ngomong apa-apa, dari muka lo udah keliatan hahhakkkkmmm" Tiba-tiba mulutnya yang menganga karena tertawa bangga itu tersumpal remasan kertas



"Hahahaha rasain" sungut Rani tertawa bangga melihat ekspresi Vanya yang jijik dengan ludahnya sendiri



Vanya menggertakkan gigi nya dan akan segera melayangkan tamparannya, tapi bukan Rani namanya kalau tak bisa menghalaunya "Gak semua orang bisa lo injak-injak" ucap Rani penuh tekanan



"Vanya ini.." ucap Vera yang baru saja kembali dari kelasnya sembari membawa seutas tali



"Eh mau ngapain?" protes Vera ketika tali yang dipegangnya direbut Rani



"Diem lo" tekan Rani yang berhasil membuat gadis itu bungkam



"Heh mau ngapain" protes Vanya ketika gadis liar itu berusaha mengikat lengannya



"Lepasinnn" teriak Vanya yang terduduk di sudut tembok dengan kaki dan tangannya yang sudah terikat kuat



"Ran.." panggil Mikaela berusaha mengingatkan. Tapi kembali lagi, bukan Rani namanya kalau bisa membiarkan orang-orang yang mengganggunya tanpa membrti pelajaran



"Lo tenang aja" ucap Rani sambil meremas kembali beberapa kertas yang sengaja ia stok di sakunya



"aaahjkkkkk emmm" Teriak Vanya yabg kini mulutnya sudah tersumpal



Rani melirik ke arah Vera yang sedang memberi aba-aba pada temannya untuk bersabar sampai si ratu tega keluar.



"Eeehhh bukaaa" teriak Vera yang sudah dikurung ke dakam salah satu toilet lalu dikunci dari luar



"Hahahahaha" tawa Rani masih menggelegar sepanjang perjalanan menuju kantin



"Mik mau kemana?" tahan Rani pada temannya yang sudah pasti akan berbaik hati pada para penjahat itu



"Itu tadi keterlaluan Ran" keluh Mikaela



"Kalau tadi gaada gue, mungkin lo yang akan diiket kayak gitu" sangkal Rani



Mikaela diam



"Ini gunanya temen, saling melengkapi" ucap Rani



"Ketika lo terlalu baik, gue bisa ngecover itu tanpa merubah sifat lo" lanjutnya



"Udah ah jangan dipikirin, gue laper" keluh Rani sambil menarik lengan sahabatnya itu



Deg


"Arva??" batin Mikaela



Pria itu melewatinya tanpa melihat keberadaannya yang seharusnya terlihat begitu jelas



"Selamat ya" ucap Rani tiba-tiba berada di depan tubuh pria itu sambil mengulurkan tangannya



Arva tak bergeming, tangannya masih erat di dalam saku celananya.



Rani tak habis akal, ia menarik paksa lengan itu lalu menyalaminya "Gue denger lo sama Vanya mau tunangan" ucap Rani



"Selamat, gue ikut prihatin" lanjutnya seraya menyudahi tingkah usilnya



"Mik.." Rani memutar tubuhnya karena tak melihat keberadaan temannya. Selama marahan kemarin kebisaan sahabatnya bertambah satu, pinter ngilang ! padahal hanya beberapa detik ia mengalihkan fokusnya pada pria itu "Loh.." herannya lagi karena tak melihat sosok pria yang tadi ada di belakangnya.



"Emang jodoh itu penuh kesamaan" keluhnya tanpa mau ambil pusing. Ia kembali ke mejanya, untuk memenuhi permintaan perutnya yang sudah berontak sejak tadi





β€’


β€’


β€’


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment