My Cold Senior

My Cold Senior
EGOIS



"Mikaela!" kaget Nayla ketika kakak sepupunya itu mencabut jarum infus dari lengannya tanpa ragu sedikitpun.


Sedetik saja Arva terlambat berbalik maka Mikaela sudah pasti terjatuh. Lingkaran tangan Mikaela pada tubuh suaminya semakin erat, membuat Arva tak bisa mengeluarkan suara sepatah katapun.


Arva mengusap lembut rambut wanita yang masih dalam dekapannya, perasaan Mikaela rasanya tersalur, buktinya hati pria itu terenyuh.


"Aku gak akan kemana-mana" tutur Arva, ia merasakan kalau wanita itu tak mau dirinya pergi. Mikaela tak biasa mengungkap perasaannya, sebab itu Arva harus bisa mengerti, walau pada saat ini Arva akui bahwa ia kurang peka.


Mikaela melonggarkan lingkaran tangannya untuk menampilkan wajah yang hampir sepenuhnya basaha karena tangisan. "Aku pikir cuman mimpi" ucapnya di sela isakan sambil mengusap sisi pipi basahnya.


"Mimpi? kamu mimpi buruk?" tanya Arva sambil mengusap wajah mikaela dari helaian rambut yang ikut basah.


Mikaela menggeleng "Seingatku tadi aku sama kamu, tapi pas bangun kamu gak ada, aku pikir.."


Ppsssstt


Arva menempelkan telunjuknya pada bibir Mikaela untuk menghentikan ucapan tak berdasarnya. Bagaimana mungkin hanya sekedar mimpi? kenyataan justru lebih indah rasanya ia tak perlu bermimpi apapun lagi.


"Aku nyata! Benar-benar nyata" tutur Arva dengan menatap jauh kedalam sorot mata Mikaela yang masih dipenuhi ketakutan akan kehilangan dirinya.


Mikaela menglum penuh bibirnya, ia pun mulai merasa kalau perasaannya sekarang terlalu berlebihan, tapi apa salahnya? Mikaela hanya ingin jujur dengan apa yang dirasakannya.


"Kenapa diam?" tanya Arva, masih menlanjanginya melalui tatapan. "Masih ragu?" lanjutnya lagi.


Mikaela segera menyudahi tatapnya lalu sedikit menjauh dari posisi super dekatnya. "Aku tau, maaf kalau terlalu berlebihan" ucapnya lalu segera kembali ke ranjang miliknya.


Arva membuka kemeja luarnya, menyisakan kaos berkain katun yang membalut tubuhnya lalu melemparkan ke arah wajah Nayla yang masih memperhatikan dari posisinya.




Arva memanfaatkan momen wajah Nayla yang tertutup kemeja miliknya dengan menarik tubuh Mikaela kembali ke arahnya untuk mencium bibir merona miliknya.


"Aishhh" Nayla hendak menyingkirkan benda yang mendarat pada wajahnya, lalu ekspresi marahnya seketika berubah menjadi merah merona.


Nayla melihat sepasang manusia yang saling jatuh cinta sedang menyalurkan perasaannya. Biasanya ia lihat di drama saja alias di layar laptop. Tapi sekarang? ia melihatnya secara langsung.


Mikaela tampak tak siap ketika Arva melepaskan pagutannya. Merasakan hal itu membuat Mikaela tampak malu, terlihat dari wajahnya yang memerah dan seperti salah tingkah.


"Kamu boleh pulang!" titah Arva ketika ia sudah menjatugkan tubuh wanita yang digendongnya berbaring di tempatnya.


"Ahh awhh aww" ringis Nayla ketika hidungnya dicapit gemas oleh kakak ipar yang tak didengarkannya. "Apasih kakk??" protesnya sambil mengusapi hidungnya yang ditarik paksa barusan.


"Kamu boleh pulang, makasih udah nungguin Mikaela" tutur Arva sambil mengacak rambut Nayla.


Nayla menghela nafas pelan, padahal tadi ia masih hanyut dalam kebaperannya sendiri, membayangkan kalau adegan tadi dilakukannya dengan... ahhh tidakkk apakah itu mungkin?? Nayla tak berani membayangkannya, itu terlalu memabukkan.


"Oke aku pulang" ucap Nayla lalu segera menghampiri Mikaela. Bukannya cipika-cipiki, gadis itu malah membisikkan sesuatu yang membuat mata Mikaela membelalak karena terkejut dengan apa yang dikatakan Nayla padanya.


"Kepo" delik Nayla sambil menjulurkan lidahnya. Namun samakin Nayla tak mau menjawab maka mungkin ia tak akan bisa lolos dari tempat ini.


Nayla meniup poninya sampai helaian rambut pendek itu tertiup sebentar. "Cuman minta Mikaela ngajarin gue.."


"Ohh" sahut Arva segera melepas pegangannya tanpa mendengar kalimat sampai tuntas.


"..Caranya ciuman" lanjut Nayla menyempurnakan kalimatnya.


"Apa?" kaget Arva namun gadis itu sudah tak mungkin ia jangkau lagi. "Nayla awas ya lo masih bocah" teriak Arva yang hanya direspon dengan lambaian tangan oleh gadis yang posisinya sudah mulai jauh.


Arva berdecak "Anak itu.." gerutunya.


Senyum masih menghiasi wajah Mikaela saat Arva sudah kembali ke kamarnya, bahkan oria itu masih saja melenguh akibat perilaku adik sepupunya, ia senang, itu artinya Arva sudah benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.


"Kenapa senyum-senyum? kamu senang kalau Nayla terjerumus pergaulan bebas?" obrol Arva.


Mikaela berdecih, pria ini melupakan jati dirinya, lagipula kalau hanya sekedar kontak fisik sebatas bibir bukan termasuk pergaulan bebas bukan? "Biarin ajaa, orang cuman ciuman kan?"


"Ya ampun sayang, kok cuman?" protes Arva sambil menderet kursi yang didudukinya agar semakin dekat.


"Kamu kayak yang enggak pernah aja sih" ledek Mikaela


Arva berdeham, ia akui bahwa ia bukan lelaki suci tapi tetap saja ia sadar kalau apa yang dilakukannya bukan hal yang benar.


"Sebrengseknya cowok, dia tidak akan membiarkan sodara ceweknya dilecehkan oranglain" tutur Arva.


"Tapi kalau saling suka bukan termasuk melecehkan" elak Mikaela.


"Apapun itu, aku akan menjaga Nayla dari segala sesuatu yang menjurus" tegas Arva. "Nayla sudah kuanggap seperti adikku sendiri, jadi aku akan menjaganya dari segala.."


"...sesuatu yang menjurus" lanjut Mikaela melengkapi kalimat yang akan Arva lontarkan.


"Sejak dulu aku ingin punya kakak cowok, biar bisa jaga aku" keluh Mikaela merasa diingatkan.


"Sekarang kan ada aku, aku akan menjaga kamu dan Nayla" tuturnya.


Mikaela menghembuskan nafasnya berat, entah apa masalahnya tapi mendengar hal itu membuatnya merasa sedikit cemburu. Kenapa bukan menjaganya saja? hanya menjaga Mikaela, itu sepertinya lebih menyenangkan untuk didengar.


"Hey, kenapa?" tanya Arva menyadari perubahan pada mimik wajah Mikaela.


Mikaela menggelengkan kepalanya "Aku cuman kangen sama kamu" sahut Mikaela sambil meraih lengan Arva lalu mengecup dan memeluknya erat.


Rasanya sekarang ia menjadi sangat egois, kenapa pria itu harus selalu bersamanya? kehidupan Arva bukan hanya dirinya saja, masih ada ibunya, pekerjaan kantor yang sangat menguras waktu luangnya.


Seharusnya bisa melihat wajah Arva di setiap Mikaela membuka mata saat fajar menyapa dan sebelum menutup mata ketika malam datang, itu saja sudah amat sangat cukup. Seharusnya begitu!?


Bersambung ...