My Cold Senior

My Cold Senior
BERBEDA



Mikaela segera terbangun dari tidurnya ketika menyadari bahwa tempat di sampingnya sudah kosong. Akhir-akhir ini ia sangat peka dengan ketiadaan sang suami, walau berjarak setidaknya bisa terjangkau oleh mata.


Jarum jam sudah menunjukan pukul 9, itu artinya Mikaela kesiangan! Lagi dan lagi, mau sampai kapan ia jadi istri pemalas? padahal dulu ia sudah terbiasa bangun lebih pagi dari semua penghuni rumah untuk mengurus sarapannya. Tapi sekarang? mentang-mentang tak ada yang menuntut malah keenakan.


Langkah cepat Mikaela terhenti ketika sampai di dapur, terdapat sepasang lengan sedang bergelut dengan peralatan masak. Sekejap Mikaela tak bisa berkedip, napasnya pun tak berhembus lancar, pria itu membuatnya jatuh cinta sekali lagi!


"Sudah bangun?" sambut Arva yang langsung menyadari keberadaan istrinya.


Mikaela mengangguk pelan, pria itu benar-benar sesuatu! bersikap seolah tak terjadi apa-apa padahal sedang membuat jantung orang lain hampir copot dari tempatnya.


"Masak apa?" tanya Mikaela menghampiri posisi Arva yang masih sibuk dengan aktifitasnya.


Kini Arva yang merasa dag dig dug, ia sendiri sebenarnya tidak terlalu ahli dengan bidang ini. Ia hanya .... lapar!?


Mikaela mengulum senyumnya, menyadari tingkah Arva yang sedang kalang kabut karenanya. "Biar aku aja!" alih Mikaela sambil mengikat asal rambut panjangnya yang masih terurai.


Damn


Pemandangan yang sangat biasa ini malah membuat napas pria itu tercekat, matanya pun tak bisa berkedip cukup lama.


"Sayang?" panggil Mikaela yang tak mendapati respon dari lawan bicaranya.


"Kenapa? aku cantik ya?" tebak Mikaela.


Arva segera mengangguk "Sangat!!" sahut Arva.


Mikaela membawa helaian rambutnya ke belakang telinga. Harusnya Arva yang dibikin salah tingkah, tapi lagi-lagi ia malah merasa malu sendiri.


"Biar aku aja!" Mikaela segera mengambil alih spatula yang dipegangi Arva lalu menggeser posisinya.


"Ngapain masih di sini?" keluh Mikaela pada pria yang sekarang malah asik memandanginya.


"Bantuin! biar cepet." sahut Arva.


Mikaela berdecak "Bukannya cepet malah lama."


"Kok gitu?" sanggah Arva.


Bukannya menurut, pertanyaan Arva malah mengakar kemana-mana. "Untung sayang." gumam Mikaela pelan.


"Huh? apa? bilang apa tadi?"


Sejak kapan Arva jadi sebawel ini? tadinya kan cuek, mungkin juga sifat dinginnya itu yang membuat Mikaela terpana tapi kalau berubah jadi bawel begini akan merubah perasaannya juga kah?


"Katanya laper, udah sanaa!" Mikaela mendorong paksa tubuh besar pria itu ke luar dapur.


"Oke okee." Arva mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. "Tapi ...."


Mikaela menunggu kelanjutan pria itu dengan serius.


Cup


Bibir Arva mendarat pada bibir ranumnya. Sekilas namun lembut dan membuat Mikaela meleleh seketika.


Dasar pria tidak bertanggungjawab! sudah membuat istri melting malah ditinggal begitu saja.


"Aku nunggu di ruang makan." ucap Arva di sela langkahnya yang kian menjauh.


Kalau saja perut Mikaela tak ikut berdemo maka ia tak akan perduli dengan keadaan suaminya! mau selapar apapun Arva, Mikawla pasti sudah menerkamnya habis. Cacing-cacing dalam perutnya memang terlalu tidak sabaran.


Setengah jam lamanya Mikaela bergelut dengan alat-alat dapur akhirnya tersaji beberapa hidangan yang mampu menggugah selera. Mikaela yakin kalau ia pasti akan mendapat pujian akan kepiawaiannya ini.


"Selesaii ...." ucap Mikaela penuh semangat. Namun ia tak mendapati Arva di tempat yang tadi dijanjikannya.


Mikaela memindahkan semua makanan ke meja makan terlebih dahulu, setelah itu barulah mencari suaminya yang tadi dilanda kelaparan.


"Sayang??" panggil Mikaela.


Mungkin di kamar? Mikaela pun menaiki anak tangga yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit. Nihil! pria itu tak ada di sana, padahal ia pikir akan ada suprise di ruangan itu.


"Arv ...."



Ucapan Mikaela menggantung. Dari lantai atas ia melihat sekujur tubuh sedang berselimut tebal di ruang tamu.


Sebenarnya ia kesal tapi tak tega. Cara tidurnya membuat hati Mikaela kembali luluh.


Mikaela sudah mendekati pria itu. Haruskah ia membangunkan? atau biarkan saja? Arva terlihat sangat kecapekan. Semalaman Mikaela muntah-muntah, mondar-mandir kamar mandi ditemani Arva. Dengan telaten pria itu memijiti kepala sang istri yang mengeluh kesakitan. Mikaela yang sakit namun Arva pun ikut-ikutan kena efeknya.


Bukankah sudah seharusnya pasangan suami-istri begitu? saling keterkaitan. Salah satunya kesusahan maka yang satunya ikut memikul, jika ditanggung kedua orang maka beban tidak akan terlalu berat.


Perlahan lengan Mikaela menyentuh kening Arva, mungkin saja demam atau sejenisnya.


Suhu pria itu normal, Mikaela menghembuskan napasnya lega. Badannya masih terasa sakit, ia akan sedikit kesusahan kalau harus ditambah mengurus tubuh yang lainnya.


Ketika Mikaela membuka matanya yang menyudahi kekhusuan mengucap syukur, ternyata pria itu telah sadar dari tidurnya. Mungkin sedetik setelah Mikaela menutup matanya?


Kelakuan pria itu membuat Mikaela terhenyak, namun Arva lebih dulu meraih lengannya bersamaan dengan merubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


"Sudah beres?" tanya Arva. Belum sempat dijawab pria itu sudah mendapat jawabannya melalui aroma yang 2x lebih cepat menyapa hidungnya melalui udara yang dihirup.


Tanpa diminta lagi Arva dengan sendirinya menghampiri posisi dimana makanan itu berada.


Arva tak bisa berkata-kata lagi, perutnya terlalu kelaparan.


Ditinggal makan tanpa ditawari bukan membuat Mikaela tersinggung, wanita itu malah menghembuskan napasnya lega. Akhirnya ia merasa berguna.


"Kegantenganku nambah?" ucap Arva yang menyadari sedang dipandangi.


"Sama aja." sahut Mikaela. "Sama-sama ganteng."


Mendengar penambahan dari kalimat yang awalnya biasa itu membuat Arva terbatuk-batuk. Sejak kapan wanita ini suka menggombal?


"Kamu juga makan! emangnya lihatin aku makan bisa bikin kenyang?"


Mikaela segera mengangguk mengiyakan.


Wanita ini benar-benar menggemaskan. Padahal kalimatnya tadi hanya berupa sindiran.


"Sini ...." Arva memberi kode agar wanita yang duduk di seberangnya segera berpindah ke sampingnya.


Seperti biasa, maksudnya lamban ditangkap. Tanpa mau menegaskan lagi maka Arva yang berpindah duduk di samping istrinya.


"Dari semalem kamu muntah-muntah, perut kamu kosong, seenggaknya pikirin keadaan yang ada di dalem perut kamu." tutur Arva sambil bersamaan dengan sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut Mikaela.


"Hemm? dalem perut?" ulang Mikaela tak bisa mencerna bagian itu.



Arva segera bungkam. Ia lupa kalau pemilik tubuh itu belum menyadari keberadaan sosok lain dalam dirinya.


Mikaela mengintip wajah suaminya yang ditekuk. "Kamu kenapa?" herannya mendapati wajah Arva yang sudah merah padam.


"Kok suhunya naik?" ucapnya lagi setelah menyentuh kedua sisi pipi suaminya.


Arva menggelengkan kepalanya. "Kamu makan sendiri. Aku mau ke kantor, ada kerjaan." pungkasnya segera melengang pergi tanpa mendengar persetujuan sang istri terlebih dulu. Itu lebih baik, daripada berdiam diri lebih lama yang akan menambah kecurigaan.


Mikaela menatap punggung suaminya yang menjauh lalu beralih pada perut ratanya. Tatapannya kosong, ia memikirkan banyak hal. Perlahan tangannya menyentuh bagian yang akhir-akhir ini selalu menimbulkan masalah. Ada yang berbeda, ada sesuatu yang berubah dari dirinya.


**Bersambung ....


Maaf lama banyak kerjaan🙏**