My Cold Senior

My Cold Senior
Songong



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Arva mengusap wajahnya kasar. Peluh yang mengucur deras di wajahnya ikut terusap. Leher dan rambutnya penuh dengan keringat seperti orang habis keramas



Arva melepas tangan yang menutupi wajahnya ketika nafasnya sudah mulai normal. ia mengedarkan pandangannya "pink?" Warna cat dinding kamar ini didominasi oleh warna pink, bahkan hampir setiap barang yang ada disini itu semua berwarna khas perempuan feminim



"Gue dimana?" Gumamnya



Arva meremas rambutnya, mengingat kejadian yang ia lupakan sebelum tak sadarkan diri



"Arggghhh gue pingsan di toilet" ucapnya setelah berhasil mengingat kejadian sebelumnya



"Terus ini.." Arva menurunkan kakinya ke lantai dan mulai berjalan untuk keluar dari kamarnya tapi berhenti di sebuah meja belajar yang terpampang sebuah foto seorang gadis yang sedang berdampingan dengan wanita paruh baya



"Gue di kamarnya" pikirnya tak percaya. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar sempit ini



Cklek


Hanya lampu dapur yang menyala. Sepertinya semua penghuni rumah minimalis ini masih tertidur karena memang masih dini hari



________________________



"Kaell.." panggil Erik pada Mikaela yang masih sibuk dengan tugas dapurnya



"Iya paman?" Mikaela segera menghampiri pamannya yang sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi dan secarik kertas koran yang dipegangnya



"Arva udah bangun?" Tanyanya sambil menyeruput kopi hitam miliknya



"Emm belum liat.. mungkin masih tidur"



"Bangunin gih.. suruh sarapan" titah Erik. Mengingat ini weekend dan pastinya hari untuk beristirahat bagi orang yang sibuk di 5 hari sebelumnya



Tok tok


"Arva" panggil Mikaela dengan penuh kemalasan



Tok tok


"Ishh kemana sih?" Kesalnya



"Ck"


Cklek


Mikaela mengedarkan pandangannya yang tak melihat keberadaan sosok pria disana. Sepetak ruangan yang gak mungkin menyembunyikan orang sebesar itu



"Kemana dia?" Gumamnya


Ranjangnya berantakan, pertanda pas bangun langsung pergi. "Gak berinisiatif buat ngeberesin dulu apa?" Protesnya sambil melipat selimutnya



"Emm paman.. Arva kayaknya udah pulang deh" ucap Mikaela yang kembali melapor



"Hmm pulang?" Tanya pamannya yang heran. Pantes aja, kenapa harus ada orang tanpa sopan santun seperti itu? Udah dikasih tumpangan gratis gak basa basi dulu gitu kalo mau pergi? Kan songong



_____________________



Mikaela menjalani hari liburnya dengan damai. Hanya buku dan musik klasik kesukaannya yang setia menemani di hari bebas sedunia.



Walaupun dibumbui dengan pertanyaan Nayla yang excited dengan kehidupannya di kampus karena "banyak cogan" katanya



Padahal? Ya ada aja sih, bilang banyak cuman untuk menggoda gadis puber itu saja. Tapi emang perduli?



"Mikaaaa..." panggil Rani dari kejauhan



"Heyyy.." Mikaela menyambut pelukan hangat sahabatnya



"Lo jahat yaa.. gue telfon gak dijawab-jawab" protesnya ketika melepaskan pelukannya



"Hehehe .. maaf" Mikaela menampilkan wajah menyesal namun memang ia sengaja melakukannya.



Pasalnya Rani pasti bakal ngeganggu hari santainya. Sahabatnya ini hoby banget jalan-jalan gitu kalo lagi libur, sedangkan Mikaela lebih suka manfaatin waktu kosongnya dengan melakukan hal yang biasa dilakuin kalo gak lagi ngapa-ngapain. Kalo gak baca buku sambil dengerin musik ya tidur



"Bahagia banget keknya tuh mulut ga berenti ketawa gitu" bisik Vera pada sahabatnya yang lagi ngelipet tangan dengan menumpang kaki di kaki satunya. Membuat rok pendeknya semakin pendek



"Ck fake" simpul Vanya.



"Yupp gue yakin. Hidup dia itu menyedihkan! Keliatan dari wajah polosnya yang menyimpan banyak luka" celoteh Vera kembali dengan sotoy tingkat tinggi nya. Selalu merasa paling tau



"Kasian" Vanya menimpali "ha ha ha" tawa centilnya mulai menggema lalu diikuti Vera ikut tertawa



"Gue seneng kalo perkataan lo bener" Ucap Vanya




Vera menghentikan omong kosongnya, wajah yang memang tak menunjukkan kalau dirinya itu salah membuat Vanya kembali melihat kearah cewek yang dibencinya tapi sayang mereka sudah hilang dari jangkauan



Vanya berdiri dan memutar tubuhnya mencari sosok yang tadinya pengen banget disamperin terus dijambak abis-abisan pasti itu nyenengin



Vanya menghentikan pergerakan tubuhnya dan ekspresi wajah yang penuh siksaan tadi hilang seketika saat Arva muncul di tikungan yang tak jauh dari posisinya



"Arva" gumamnya antusias



"Gue udah cantik belom??" Tanya Vanya rusuh sambil mengeluarkan benda pemantul potret dirinya yang selalu ada dalam tas kecilnya



Vera ikut rusuh merapikan helaian rambut Vanya yang sedikit menghalangi wajahnya "Emmm cakepp" simpul Vera sambil memberi suara kecupan dari mulutnya



Arva melintas di depannya, tanpa ba bi bu Vanya langsung merangkul lengan nganggur Arva. "Ko baru dateng?" sapa Vanya dengan suara manja



"Belum telat kan" jawab Arva singkat. ia lebih memilih membiarkan Vanya selama tingkahnya tak keluar batas.



"Eh hai cantik" sapa Rendra pada Vanya yang bergelayutan manja di lengan sahabatnya



Vanya berpindah ke lengan satunya ketika Rendra mendekatinya



"Ko pindah?" Protesnya



"Arv.. masa temen kamu godain aku mulu sih?" Ucap Vanya niat mengadu



"Ya tanya aja langsung" jawab Arva sambil melepas pegangan wanita itu untuk duduk di tempatnya



"Mau tau ? Ayok makanya kita ngobrol" timpal Rendra



"Mau lo! Ogah" ucap Vanya galak. Yahh kemanjaannya cuman diperuntukan pada Arva seorang walaupun pria itu hampir tidak pernah menghiraukannya



"Semalem kenapa balik gitu aja ? Ga seru lo ah" ucap Rendra membahas perkumpulannya semalam di tempat gemerlap



"Gue gamau teler" jawabnya



"Ahelah gue biasa aja ko"



"Yang bikin lo teler bukan minuman jadi cepet sadarnya" timpal Vino



"Hahaha sirik aja lo. Mau ? Ikutin dong. Perasaan lo gak jelek amat pasti ada yang mau" ucapnya dengan nada memotivasi sahabat jomblo ngenesnya



"Sialan! Gue bukan cowok gampangan" timpal Vino lagi



Biarlah kedua bocah itu dengan argumentasinya, sedangkan Arva sudah menyumpal telinga berharganya dengan headset andalannya. Pelindung bagi pendengarannya agar tidak terkontaminasi oleh sekitar



Arva melihat arah jendela lalu tak sengaja Melihat 2 gadis yang melintas di luar kelasnya



______________________



"Hahaha sumpah Mik.. padahal gue udah bilang sama dia kalo gue gak suka! Tapi tetep aja dia ngirim buket bunga ke rumah tiap minggu. Ada ya cowok ke gitu? Lama-lama risih juga tau.. bukannya..." Rani menceritakan tingkah pria yang ditolaknya, Panjang x lebar



Kelas demi kelas terlewati dan sampai di kelas yang sama sekali tak mau ia lewati. Gara-gara Rani! Dia yang maksa lewat sini. Biar jauh katanya, biar bisa ngobrol banyak



Walaupun ia tak mau melirik ke arah kelas, tapi pergerakan itu tak bisa ditolak. Kepalanya seakan bergerak sendiri



Pria itu. Dia ada disana ! Ketawa bareng temen-temennya. Dan cewek itu..






•


•


•


Please like and comment !!



mana nihhh?? udah update rutin komen dan like nya berkurang dehhh sebel huhu