
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Mikaela, kamu baru pulang?" sapa Erik yang sedari tadi menunggu kepulangan keponakannya
Mikaela hanya menoleh sebentar lalu melengos, tak menjawab pertanyaan pamannya
"Liat kan gak sopan? masih aja dibaikin anak gak tau diri kayak gini" sungut Sinta
Mikaela menghembuskan nafasnya berat, matanya perih, ia tak ingin menjadi benalu lagi di kehidupan pamannya yang akan tenang tanpa adanya dia.
"Bibi tenang aja, Mikaela kesini cuman mau ngambil pakaian dan barang-barangku" ujar Mikaela berusaha menahan tangisnya yang pasti akan terlihat sangat menyedihkan
"Mikaela kamu bicara apa?" protes Erik segera menyusul Mikaela ke kamarnya
Tok tok
"Mik buka pintunya, paman mohon"
Mikaela bersandar di balik pintu, ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini
"Mikaela jangan biarkan paman disalahkan oleh ibumu nanti, kamu tanggungjawab paman sekarang" celotehnya lagi
Mikaela menggeleng-gelengkan kepalanya "Bohong" gumamnya terisak. Kalau saja malam itu pamannya datang dan bersedia mendonorkan darahnya pada ibunya, maka sekarang wanita itu pasti masih ada disini bersamanya
Cklek
Mikaela keluar dengan koper yang berisi pakaian dan buku yang penting-penting saja
"Kamu ini apa-apaan? jangan dengarkan ucapan bibimu itu" protes Erik yang berusaha merebut kopernya
"Biarin Mikaela pergi" kukuh Mikaela
"Enggak, paman gakan biarin kamu pergi!" tekan Erik yang berhasil merebut kopernya dan hendak masuk kedalam kamarnya untuk mengembalikan barang-barang itu
"Cukup paman" tekan Mikaela dengan nada suara tinggi yang enamtah mendapatvkekuatan dari mana
Erik menghentikan langkahnya "Aku udah gede, aku bis hidup sendiri!" tekan Mikaela yang kembali merebut barang-barangnya
"Aku amat sangat berterimakasih karena udah diizinkan tinggal disini, dan aku gak akan pernah melupakan kebaikan paman, aku janji" lanjutnya lagi
"Mikaela kamu bicara apa? kita obrolkan dulu baik-baik" tutur Erik berusaha menyadarkan keponakannya yang sedang kalut ini
Mikaela menggeleng lalu tersenyum miris "Aku pamit" ucapnya kemudian
"Kamu tidak punya siapa-siapa lagi, kenapa pergi dari keluarga sendiri?"
Mikaela tak menghiraukan perkataan pamannya, ia melanjutkan langkahnya. Walaupun tak ada tempat tujuan, yang penting segera keluar dari tempat yang bagaikan neraka baginya ini
"Mik" panggil Nayla menyusul langkahnya yang sudah melewati gerbang
"Lo beneran mau pergi?" tanyanya hati-hati
"Walaupun gue sering ngusir lo tapi kalo lo beneran pergi gue gak tega, lo cewek Mik!" tuturnya sambil meraih lengan sepupunya
"Aku yakin Nay, ini bukan karena kamu ko" ucapnya sambil tersenyum tipis
"Terus lo mau kemana?"
"Mik.. hey kalau ka Arva nanyain lo, gue harus jawab apa?" teriak Nayla menuntut jawaban Mikaela yang sudah pergi bersama taxi yang ditumpanginya
Nayla berdecak, kenapa bisa seperduli ini? tapi mau gimanapun ia masih punya hati, gak mungkin biarin sepupunya terluntang-lantung di jalanan

"Halo .. lo dimana?" tanya Arva di balik telfon
"Bukan urusan kamu" timpal Mikaela
"Jawab!!" tekan Arva
"Aku mau kita putus!" tekan Mikaela
"Gak bisa gitu dong .. halo.. halo"
tut tut tut
Arva meremas kuat ponselnya "Jangan bodoh" geramnya. Ia segera mengambil jaketnya dan mengimbau dari jendela, memikirkan cara kabur dari istana yang sudah memenjarakan dirinya. seperti kisah princess Rapunzel
Di gerbang utama banyak bodyguard suruhan ayahnya yang berjaga-jaga agar pria nekat ini tak bisa kemana-mana. Tapi bukan Arva namanya, kalau gak bisa berbuat apa-apa
"Mau kemana mbak?" tanya supir taxi
"Mba.." ulang pria paruh baya itu, menyadarkan lamunan penumpang cantiknya
"Ah emm ke.. kee.." ucapnya terbata
"Kemana mba??"
Cklek
Seseorang masuk kedalam taxi nya
"Jalan aja pak" titah Arva
Mikaela melebarkan bola matanya, kenapa pria ini bisa ada disini?? ini mustahil
"Stop pak, saya turun disini" tanpa pikir panjang Mikaela segera turun dari taxi nya, dan tentu saja pria itu membuntutinya
"Lo mau kemana sih?" tahan Arva meraih kopernya
"Udah aku bilang bukan urusan kamu!" tekan Mikaela yang sudah jengah, ia butuh sendiri, gak mau diganggu siapapun
"Lo marah? sorry gue gak nemenin lo saat.."
"Gue pacar lo, lo berhak marah karena gue gak ada di samping lo saat.."
"Kita udah putus"
"Gue gak bilang iya"
"Aku gak perduli, sekarang kamu pergi!!" Mikaela mendorong tubuh Arva sampai membuat pria itu mundur beberapa langkah
"Lo gak bisa dibaikin ya" ucap Arva sambil menggengam kuat lengan gadisnya itu
"Arva lepp.."

Ucapannya terpotong ketika mulutnya sudah dibungkam oleh bibir kenyal milik pria itu.
Mikaela menekan dada Arva sekuat tenaganya walaupun tak berpengaruh apa-apa. Arva melumat habis bibir gadis yang tak bisa diatur itu, ia menggigit bibir bawahnya lalu memasukan lidah miliknya kedalam mulut Mikaela dan mengabsen seluruh sudut di dalamnya
Tubuh Mikaela mengang, tangannya meremas kaos pria itu kuat, sampai tubuhnya melemas dan tak lagi melakukan perlawanan. Air matanya keluar deras membuat Arva merasakan asin atasnya
Arva melepaskan ciumannya, membiarkan Mikaela mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Ia mengusap jejak air mata pada pipi gadis itu "Maaf" ucapnya lirih lalu merengkuh tubuh mungilnya
"Hiks kenapa semuanya jahat?" isaknya
"Gue ada disini"
"Gak ada yang perduli.."
"Gue perduli sama lo" Arva meraih lengan Mikaela dan membawanya untuk menyentuh dadanya

"Lo bisa rasain apa yang gue rasa?" tanyanya
"Hati gue ikut sakit ngeliat lo kayak gini" jelasnya
Arva kembali memeluk gadis yang masih hanyut dalam isakannya. Mikaela tak melawan, ia memang sedang butuh sandaran. Kesendirian memang bukan hal yang ia inginkan, itu hanya pengalihan karena ia selalu merasa sendirian
"Sekarang lo mau kemana?" tanya Arva setelah dirasakannya Mikaela yang mulai sedikit tenang
Mikaela menggelengkan kepalanya sebagai jawaban
"Kenapa lo pergi dari rumah?"
"Tau dari siapa?"
"Itu lo bawa koper segala"
"Kalau gaada yang kasih tau kamu gakan ada disini"
"Gaada yang gue gak bisa tau, apalagi menyangkut lo"
"Pokonya mau pergi aja" ketusnya
"Mik denger .."
Mikaela menekan kedua telinganya "Kalo kamu cuman mau menyalahi keputusan aku mendingan kamu pergi, aku bisa sendiri!" ucapnya gusar
Arva menghembuskan nafasnya berat "Oke, terus sekarang lo mau kemana?"
Mikaela diam tak bergeming
"Jangan bilang lo sendiri gak tau mau kemana? huh"
"Aku mau cari kontrakan, mau cari kerjaan , mau hidup sendirian, puas?"
"Lo gak tau gimana susahnya kehidupan di luar sana.."
"Kamu gak tau apa-apa tentang aku ! jadi berhenti seolah paling tau" tekan Mikaela
"Apa perlu gue nikahin lo detik ini juga?" pungkas Arva
"Apa?" kaget Mikaela
"Gak lucu"
"Gue serius, biar setiap detik gue bisa mastiian kalo lo baik-baik aja" tutur Arva dengan mimik wajah serius
"Biar gue juga bisa memenuhi permintaan ibu lo waktuu.."
"Enggak" potong Mikaela
"Waktu itu ibu cuman khawatir aja sama aku" lanjutnya
"Dan bukannya papa kamu udah ngelarang buat temuin aku lagi?"
"Gue gak perduli, gada yang bisa ngelarang gue"
Arva menempelkan telunjuknya pada bibir Mikaela, membuat gadis itu mengurungkan niat untuk menimpalinya dan segera ******** habis bibirnya
"Sekarang lo ikut gue" ucapnya segera meraih lengan Mikaela untuk mengikuti langkahnya
"Mau kemana??" tahan Mikaela
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT