
follow instagramnya @ lovelyliy_
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Tubuhnya menegang, kedua pupil matanya melebar dan ia pun terjatuh
"I ibu.." gumamnya tak percaya, ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu dan ternyata dugaannya memang benar
"Ibuuuuuuuu" teriaknya histeris membuat Arva segera memaksa masuk ke dalam kerumunan
"Tolongg.. ini ibu saya tolong panggilkan ambulan" teriaknya histeris
"Ambulan sedang dalam perjalanan" ucap salah seorang
tadi saya cuman lihat sekilas yang nabraknya langsung kabur
astaga tega sekali ya mudah-mudahan ibu ini gak kenapa-napa
obrolan samar yang sampai pada telinga Arva, membuat pria itu segera menghampirinya
____________________
"Dok tolong selamatkan ibu saya" pinta Mikaela saat mengantarkan ibunya sampai pintu ruang IGD
"Saya akan berusaha" jawab dokter tersebut sebelum menutup rapat pintu ruangannya
Mikaela memutar tubuhnya, ia bersandar pada pintu ruangan tersebut, membayangkan bahwa apa yang ia sandari adalah bahu ibunya sama seperti sebelum ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia
"Maafin aku bu" sesalnya sambil menaruh kepalanya diatas lututnya yang ia tekuk
Perlahan Arva menghampiri gadisnya yang sedang kalap itu, lalu membawanya kedalam pelukannya
Tak ada kata yang dapat keluar dari mulutnya yang kelu, ia hanya merasakan sakit yang sama pada hatinya ketika melihat keadaan gadis cantiknya ini
"Aku ini bodoh" sungut Mikaela menyalahkan dirinya sendiri
"Gue yakin ibu lo pasti sedih kalo tau anaknya kayak gini" ucap Arva masih berusaha membuat gadis tersebut lebih tenang
Mikaela menarik tubuhnya dan menatap mata si penutur kalimat tersebut, Arva menguatkan ucapannya dengan ekspresi wajahnya lalu mengusap jejak tangis pada pipi gadis tersebut
"Ibu lo gak akan kenapa-kenapa" yakin Arva lagi yang berhasil membuat perasaan Mikaela sedikit lebih tenang
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan terlihat para perawat keluar masuk ruangan seakan dalam keadaan genting
"Sus ada apa ini sus??"
"Dokter ada apa??" tanya Mikaela segera berganti haluan kepada dokter yang baru saja keluar dari ruangannya
"Ibu anda kekurangan banyak darah, sedangkan kami kehabisan stok golongan darah O negatif, apa.."
"Ambil saja darah saya dok.." potong Mikaela segera menyerahkan dirinya
"Ikut saya, saya akan memeriksa keadaan nona terlebih dulu"
Mikaela segera mengekori pria yang berumur 35 tahunan tersebut, begitupun Arva yang tak akan melepas pengawasannya
"Gimana dok?" tanya Mikaela setelah beberapa saat ia menunggu hasil tes nya
"Darah anda tidak cocok" ujar dokter tersebut menyesal membuat Mikaela menjambak kasar rambutnya
"Tapi saya anaknya dok.." protesnya
"Mungkin darah nona cocok dengan ayahnya" terang dokter tersebut membuat Mikaela mencelos seakan kehilangan harapan
"Darah gue gak cocok juga, coba hubungi paman" usul Arva mengingatkan
Mikaela segera merogoh ponselnya dan menghubungi nomor pamannya dengan tangan yang gemetaran
_____________________
"Nona Mikaela.." panggil seorang perawat yang membuka pintu ruangan
"Silahkan masuk, pasien ingin bertemu" ujarnya, membuat Mikaela segera masuk kedalam ruangan dengan tergesa
"Ibuuu.." panggil Mikaela sembari mengusap rambutnya pelan
Risa tersenyum lemah, akhirnya ia bisa melihat wajah yang ia rindukan sebelum ajal menjemputnya
"Jangan menangis" ucap Risa terbata, dengan bersusah payah ia mengusap air mata yang membasahi pipi mulus anak semata wayangnya ini
"Ar va ?? ka kamu Arva??" tanya Risa kepada seorang pria yang berada di samping anaknya
Mikaela terhenyak "I ibu kenal sama Arva?" tanyanya tak percaya
Risa meraih lengan Arva dan menggenggamnya erat "Jaga anakku.. hanya kamu yang.." ucapnya tercekat
"Bu .. ibu kenapa bu?? jangan tinggalin aku.. aku mohonnnn" Mikaela menggenggam erat tangan ibunya yang mulai mendingin
"Jaga anakku, aku mohon" ucap Risa sekali lagi
"Mikaela, maafkan ibu nak" kalimat terakhir yang ia katakan sebelum akhirnya tangan yang menyentuh wajah Mikaela terjatuh tak bertenaga
suara panjang dari monitor pendeteksi detak jantung begitupun layarnya yang sudah menjadi garis lurus
"Ibuuuuuuuuu.." Mikaela memeluk tubuh Risa erat
"Ibu maafin aku bu, aku mohon bangun bu.. ibu bangun" Mikaela masih berusaha menggerak-gerakkan tubuh ibunya yang sudah tak bernafas, berharap keajaiban datang padanya
"Enggak .. ini semua gak mungkin" Mikaela mengusap air mata di pipi nya dengan kasar, ia mundur beberapa langkah untuk menjauhi ranjang ibunya dan berlari keluar ruangan sekuat tenaga
"Mikaelaa.." panggil Arva segera mengejar gadis yang sedang kalut itu
"Gak mungkin, ini semua gak mungkin" ucap Mikaela sepanjang jalan, ia sudah keluar dari area rumah sakit. Entah kemana kaki nya melangkah, ia hanya mengikuti kata hatinya
Pikirannya kosong, tak ada sesuatu hal apapun yang otaknya tampung saat ini, Air mata pun sudah tak lagi keluar dari sarangnya, ia merasa hidupnya tak lagi berguna
"Aku gak punya siapa-siapa lagi" gumamnya tersenyum miris
Mikaela menatap nanar kedepan, melihat kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya
"Aku ingin mati" gumamnya sambil terus berjalan putus asa
tin tiiiinnnnn
suara klakson mobil tak membuatnya menyingkir
Mikaela menghentikan langkahnya di tengah jalan lalu memejamkan matanya kuat
Brukk
Mikaela terjatuh, tapi bukan tertabrak mobil seperti apa yang ia mau. Tubuhnya terjatuh karena ditarik oleh seseorang
Mikaela membuka matanya pelan, kini tubuhnya menindih seseorang
"Arva.." gumamnya
"Lo ini kenapa?? lo bosen hidup?" bentak Arva yang berusaha bangun dengan luka memar pada lengannya
"Iya !! dan kamu kenapa menghalangi niatku?? hah" jawab Mikaela dengan emosinya yang sudah memuncak. Tidak, ini pertama kalinya gadis ini memperlihatkan emosinya
"Lo gila ya??" sungut Arva yang tak habis pikir. Diluar sana banyak orang yang memperjuangkan hidupnya mati-matian, sedangkan yang diberi waktu lebih banyak malah ingin menyia-nyiakannya seperti ini
"Mulai sekarang jangan campuri urusanku lagi!!" teriak Mikaela sambil berusaha berdiri
"Gue bakal ikut campur" timpal Arva mensejajarkan tubuhnya
"Inget ya, kamu bukan siapa-siapaku ! jadi berhenti pura-pura perduli!!" tekan Mikaela sambil mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah pria itu
"Gue gak pernah pura-pura" balas Arva sambil meraih telunjuknya lalu membawanya untuk diletakkan pada dada bidang miliknya
"Lo bisa rasain, jantung gue masih berdetak hebat saat lo hampir ditabrak mobil tadi" ungkap Arva
Mikaela berusaha menarik lengannya, tapi Arva menahannya sangat kuat
"Coba aja! gue gak akan lepasin lo" tegas Arva
Mikaela menatap nanar pria itu, ia menggelengkan kepalanya pelan. Mikaela memukuli tubuh Arva dengan kepalan tangannya yang lain
"Sampe lo puas.." ucap Arva mempersilahkan Mikaela untuk memukulinya
"Lepasin, aku mau mati !!" ucap Mikaela berkali-kali disela-sela pukulan yang tak akan terasa menyakitkan bagi Arva
Arva jengah melihat keputus asaan wanita di hadapannya ini, ia benci dengan tangisan itu.
Arva meraih tengkuk Mikaela lalu segera memagut bibir wanita itu dengan paksa
"Arvhhhh"
Mikaela berusaha menolak, tapi tenaga pria itu sungguh bukan lawanannya. pukulan kecil yang diberikannya sejak tadi mulai melemah
hiks hiks
Air mata kembali jatuh membasahi pipi Mikaela, membuat pagutannya bercampur asin
"Lo gak sendiri" tekan Arva sambil mengusap pipi Mikaela dengan lembut lalu membawanya dalam pelukannya
"Biarin aku sendiri" ucapnya lemah
Arva melepas pelukannya "Gue.."
"Sekali ini aja" potong Mikaela dengan putus asa
Darr
Suara petir seakan menyambutnya, rintikan hujan jatuh ke bumi dan mulai membasahi setiap apa yang ada di dalamnya
Arva mengendurkan genggamannya pada lengan Mikaela dan memberikannya sedikit waktu
Mikaela memutar tubuhnya lalu melangkahkan kakinya untuk menjauh, ia merasa tak lagi bertenaga dan tak bisa berjalan lebih jauh dari ini
Mikaela menekuk lututnya dan bersimbuh di atasnya "Ibuuuu" ucapnya lemah dengan tubuh bergetar
pandangannya mulai meremang, kepalanya terasa berat, kakinya seakan tak bertenaga
•
•
•
Please like and comment !!