My Cold Senior

My Cold Senior
Ambil !!



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡







"Ppppfft" Mikaela menahan tawanya



"Dia ngapain kayak gitu?" Gumamnya dengan ujung kedua matanya yang mulai berair akibat tawa yang tak tersalurkan



Mikaela menghela nafasnya panjang. Dibalik pesona mautnya, ternyata pria itu menyimpan tingkah konyol



"Kamu ngapain?" Tanya Mikaela sambil menepuk punggung Arva



"Ah.. hemm udah selesai?" Tanya Arva yang sudah mengeluarkan wajahnya dari kantong yang dibawanya



Mikaela mengangguk pelan sambil tersenyum kecil



"Ini tadi ada receh jatoh kedalem" ucapnya, menjawab pertanyaan tadi



"Tapi kenapa harus muka yang masuk situ" Mikaela ******** bibirnya yang bersiap untuk melanjutkan tawanya dan kali ini tidak akan ditahan kayak tadi



Arva hanya menggerakkan lensa mata nya ke kiri dan ke kanan, seolah sedang bepikir "ayok" ajaknya sambil mengambil alih keranjang belanjaan Mikaela



Mikaela sedikit tak terima dengan pengalihan pria itu "ehh" pekiknya karena tarikan Arva



Sudah sampai di kasir, tumben banget gak ngantri "baguslah" ucap Mikaela pelan sambil mengukir senyum termanisnya



"Ck" Arva melihat ekspresi menyenangkan gadis di depannya. "Hal sesederhana ini bisa menciptakan hal yang luar biasa" batinnya



Arva memudarkan senyumnya yang mulai terukir "gue apa-apaan sih" protesnya menyadari



"Mba .. mbaa" Mikaela mengibaskan tangannya di depan wajah kasir perempuan yang malah diam terpaku kayak patung



"Kenapa sih?" Mikaela mengikuti arah tatapan mba di depannya "ck" Mikaela menyenggol lengan Arva membuat si pemilik tubuh menengok



Arva langsung mengerti dengan maksud Mikaela, sebab ini bukan kali pertama. Bahkan sudah terbilang sering, mangkanya ia gak pernah jalan ke sembarang tempat.



"Malah diem aja" protes Mikaela pada Arva.



"Terus harus ngapain?" Protes balik Arva. Yang ngeliatin kan si mba kasirnya, kenapa jadi dia yang salah?



"Sana tunggu disana" usir Mikaela



Arva mendengus "mbaa.." ia mengibaskan lengannya di depan wajah yang cengok di depannya



"ini.. hitung" Arva menunjuk ke arah keranjang belanjaannya



Mba kasir seketika langsung mengerjapkan matanya dengan senyum bangga "ba baik mas" ucapnya dengan semangat



Mikaela hanya termenung melihat kekuatan pesona pria aneh di sampingnya yang bisa memberikan kekuatan pada kasir ini, belanjaannya yang gak bisa dibilang sedikit itu bisa cepet banget selesai berpindah ke 2 kantung plastik besar dengan total yang harus dibayar



Arva mengeluarkan sebuah kartu dan menyimpannya di meja kasir



Mikaela tak bisa terima, ketika kasir itu akan mengambil kartunya maka Mikaela sudah lebih dulu menariknya kembali "nih" Mikaela menyodorkan kembali pada pemiliknya



Arva mengambilnya dan kembali memberikannya pada kasir "Arva.." protesnya



Arva tak bergeming "Kok mba mau terima sih?" Protes Mikaela pada kasir



"Yakan mas nya yang bayar"



"Tapi ini belanjaan saya, kenapa harus dia yang bayar?"



Kasir itu memicingkan matanya "ko tanya ke saya? Tanya mas nya dong kenapa mau bayarin"



Mikaela mengerucutkan bibirnya, sebab kasir itu menjawab ucapannya dengan tepat. Membuat Mikaela tak bisa lagi memprotes



Ayodong mba lama banget



Iya ih malah ngerumpi gimana sih



Protes antrian di belakangnya "maaf ya" ucap Arva sambil mendorong tubuh Mikaela yang seperti dipaku di tempatnya, berat sekali karena gadis itu masih gak mau pergi



Mikaela melihat ke arah antrian di belakangnya yang protes tadi "what?" Protes Mikaela karena kedua perempuan dewasa itu sudah asik memandangi wajah pria yang datang bersamanya secara gratis



Mikaela meraih lengan Arva lalu menariknya sekuat tenaga "pelan-pelan" ucap Arva



"Maksud kamu ngebayarin itu apa? Aku gak mau punya hutang budi sama siapapun" tekannya ketika sampai di tempat yang sekiranya aman dari para perempuan nakal kayak tadi



"Gue gak akan nagih" ucapnya



"Ck bibi aku ngasih uang belanjanya ko, kamu pikir dia nyuruh doang?"



"Ya bagus kalo gitu"



"Bagus apa? ini uangnya masih utuh" Mikaela mengeluarkan 3 lembar uang ratusan ribu dari dompetnya



"Itu tabung aja"



"Ishh ngeselin banget si" gumam Mikaela



Arva mengambil belanjaan yang tergeletak di lantai lalu pergi ke arah eskalator menurun



"Dih.." Mikaela menatap tajam punggung pria yang meninggalkannya beberapa langkah



"Ayok udah sore" titah Arva tanpa menoleh



Mikaela menyimpan lembaran uangnya di dashboard mobil tanpa berucap apapun



"Ambil lagi gak?" Protes Arva



"Enggak" jawab Mikaela teguh




"Enggak!!"



"Gue bilang ambil"



"Gak mau"



Arva menatap lama gadis di sampingnya.



"Liat kedepan" protes Mikaela sambil mengalihkan wajahnya ke jendela



"Makasih" ucap Mikaela sebelum turun dari mobil



"Ehh gusah ikut turun" protes Mikaela ketika Arva ikut membuka pintu mobilnya



Tanpa menjawab Arva mengeluarkan 2 kantung besar dari bagasi mobilnya



"Aku bisa sen.."



Ucapan Mikaela tergantung oleh tangan Arva yang menutup mulut cantiknya.



Dup dup dup


Ruang hati Mikaela kini serasa sedang berdisko, jantungnya terus saja berdetak tak karuan "ini salah" tekannya dalam hati sambil menutup kedua matanya erat, menahan degupan mengerikan itu. Sakit, rasanya tak enak



Setelah Mikaela tak lagi bergeming, Arva membawa belanjaannya yang tadi ia taruh sebentar di bawah



Mikaela membula matanya pelan, kalo nunggu getarannya hilang mungkin lebih tepatnya si orang itu harus hilang dulu.



"Ehhh mau kemana?" Protes Mikaela dengan setengah teriakan tertahannya, takut bibi nya mendengar. Arva sudah melewati gerbang rumahnya tanpa permisi



Dengan sigap Mikaela menarik lengan baju pria yang maen nyelonong itu



"Iyaa.. sampe sini, Biar lo gak kejauhan"



"yaudah" jawabnya, dilanjutkan dengan gerakan dagunya agar Arva cepat berlalu dan tak kembali



Arva meraih lengan Mikaela dan membuka telapak tangannya untuk mengembalikan uang yang sangat sedikit itu



"Ehh" pekik Mikaela ketika menyadari tapi Arva sudah membuat lengan terbukanya jadi mengepal kuat karena ditahannya



"Aku.."



"Gue bilang .. ambil !" Tekannya dengan memasang wajah menakutkan



Arva melepas pegangannya, ia melihat Mikaela sudah tak melawannya lagi. ia memutar tubuhnya



"Tapi.."



"Ck.. sekali lagi protes gue bakal ikut masuk ke dalem rumah" tegasnya



"Bukan itu tapi.."



"Gue serius!" Arva kembali melirik Mikaela yang masih saja bersuara



"Bukan itu.."



"Kenapa lo gak bisa diem sih?" Arva kembali mendekati gadis yang masih di posisinya



"Aku cuman.."



Arva mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang tingginya hanya sampai sebahu



Mikaela tak terkejut, hari ini tubuh pria itu sudah beberapa kali mendekat tiba-tiba. Jadi kayaknya tubuhnya sudah membiasakan itu



"Gue.."



Mikaela menghalangi mulut Arva dengan ice cream utuh yang dipegangnya, membuat Arva reflek menjauhkan wajahnya yang menyentuh benda dingin itu



"Aku cuman mau ngasih ini!"



Arva hanya memicingkan matanya seolah bertanya kenapa



"Tadi aku beli 2" Mikaela menunjukkan ice cream satunya



"Nih.." Mikaela menyodorkan ice cream yang masih belum diambil alih pria itu



Dengan ragu Arva meraih benda dingin itu. Selama hidup ia hanya beberapa kali memakan makanan penuh gula ini.mungkin masih bisa dihitung dengan jari, dan terakhir makan itu pas kelas 1 sd kalo gak salah



"Gak mau?" Simpul Mikaela, melihat Arva yang hanya memandangi tangannya yang sudah pegal



"Yaudah" ucapnya



"Ehh" Arva segera mengambil ice cream nya.



Mikaela tertawa kecil melihatnya "Kamu lucu juga ya" ucapnya refleks



Mikaela merutuki dirinya sendiri atas kalimat yang tak seharusnya diucapkan "Kalo gitu aku masuk" lanjutnya secepat mungkin untuk mengakhiri kegugupannyq



Cklek


Mikaela menutup pintu rumahnya perlahan, sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara




•


•


•


Please like and comment


tinggalkan jejak dengan bijak :)