
Yang belum follow hayu difollow dulu dongg biar afdol bacanya π
and see...
pembaca lebih dari 2rb perharinya tapi yang like nyampe seribu aja enggak?? aneh gak sih huhu jadilah pemvmbaca yang responsip, tularkan semangatnya gitulohh biar penulis juga semangat 45 melanjutkan bab-bab terakhirnya deuuhhh kode mau pamit ya ehehe
Btw kenapa aku up nya lama banget, karena akhirnya sekarang skripsiku sudah benar-benar selesai, tidak ada lagi tekanan dari dosen pembimbing atau dosen penguji atau siapapun itu, kini masalahnya hanya di ide2 briliant yang mudah2an turut menyertai setiap hembus nafasku ππ
Happy Reading β‘β‘β‘
"Vino.." gumam Mikaela ketika melihat punggung pria yang ternyata bukan orang yang sedang ia tunggui
Kecewa? mungkin iya, sebab harapannya nya sekedar harapan. Mungkin kah pria itu tak akan menjemputnya? atau bahkan tak pernah mau menemuinya lagi?
Mikaela masih mematung, bahkan ketika Vino sudah berada tepat di depan tubuhnya ia masih belum menyadari
"Mikaela" panggil Vino lembut
"Ah ya" sahut Mikaela sembari memperbaiki ekspresi wajahnya yang terlihat datar
"Kok kamu tau aku ada disini?" tanya Mikaela merasa aneh dengan keberadaan pria itu
Vino menggaruk kepalanya, benar juga, ia harus cari alasan apa untuk pertanyaan semacam ini. Tidak mungkin ia terang-terangan memberitahu maksud dan tujuan sebenarnya, mungkin wanita ini akan menjauh darinya.
"Nebak" jawab Vino, membuat Mikaela mengernyit tak paham
Vino merutuki dirinya sendiri, alasan macam apa yang ia lontarkan itu sungguh tak masuk akal, tapi itu bisa menyelamatkan harga dirinya.
"Kamu sendiri?" tanya Mikaela, berharap mendapatkan jawaban "Tidak" yang terlontar dari lawan bicaranya
"Iya" jawab Vino, lagi-lagi harapan Mikaela pupus
"Lo pucat banget, udah makan?" tanya Vino
Mikaela menghela nafas "Belum, tapi emang belum laper aja" sahutnya lemas, ia rasa hari ini cukup untuk berharap banyak, rasanya sangat melelahkan, seperti lari maraton keliling lapangan
"Jangan berpikir terlalu berat, gak baik buat kesehatan lo" tutur Vino "Kebetulan gue lagi cari makan, lo mau.."
Mikaela segera menggelengkan kepalanya sebelum Vino menyelesaikan kalimat ajakannya. "Enggak Vin, makasih" tolaknya
Ia cukup tau dengan sifat suaminya yang overprotectif, lebih baik menghindari daripada harus menambah masalah baru lagi, itu akan membuat kepalanya pecah
"Cuman makan, Mikaela" ucap Vino meyakinkan.
"Sekarang aku udah nikah Vin, walaupun cuman makan kalau gak izin suami aku gak bisa. Apalagi sekarang.." Ucapan Mikaela terhenti, ia tak boleh memberi tanda kalau sedng ada masalah dengan Arva, sepertinya Vino pun tidak tahu apa-apa tenang hal ini.
"Sekarang apa?" tuntut Vino, memancing wnita itu agar mengungkapkan isi hatinya. Setidaknya ia bisa menjadi tempat cerita Mikaela, itu sudah lebih dari cukup.
Mikaela menggelengkan kepalanya "Bukan apa-apa kok" elaknya.
Sepertinya Mikaela ingin terlihat baik-baik saja, padahal tanpa bercerita sekalipun wajahnya sudah menyiratkan rasa sedih yang mendalam. Kenapa betah begitu? Apa tidak pernah terlintas sedikitpun untuk lepas?
"Sekali ini aja, gue tau lo belum makan" kukuh Vino meraih lengan Mikaela yang tampak tegang
"Mikaela.." panggil Vino, namun gadis itu tetap diam, seolah melihat sesuatu yang lain di balik tubuhnya
Vino mengikuti arah pandang Mikaela, sedangkan wanita itu segera menarik lengannya sampai terlepas
Arva melewati tubuh Vino untuk menghampiri gadisnya, tak ada sapa atau sekedar kata, cuaca pun tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.
Kini pria yang diharapkan untuk datang sudah terkabul, tapi kenapa bukan ketenangan yang ia dapatkan?
Mikaela segera menundukkan wajahnya, ia takut sekarang, sangat takut akan hal yang tak ia harapkan tiba-tiba kejadian.
Arva meraih dagu Mikaela lalu mengangkatnya, agar lensa mata keduanya bertemu. Awalnya Mikaela tak berani membalas tatapnya, tapi lama-lama tatapan pria itu menghipnotisnya, dan kini bahkan untuk mengedip saja itu sangat merugikan.
Cup
Arva mengecup bibir Mikaela sekilas. "Don't leave me" ucapnya dengan suara serak
Mendengar kalimat itu membuat Mikaela tak kuasa menahan tangis, ini hal yang membahagiakan tapi kenapa air matanya tetap keluar? apakah terlalu bahagia? ini pertama kali dalam hidupnya, ia jarang merasakan perasaan semacam ini.
Mikaela tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa berat untuk membalas
Arva *** kedua tangan Mikaela lalu mengecupnya lama "Bukankah cintaku padamu terlalu tidak sempurna? buktinya aku malah membuatmu sedih untuk bisa merasakan cintaku"
Mikaela menghela nafas panjang "Cintaku yang menyempurnakan, sesakit apapun aku untuk mencintaimu, itu pilihanku. Dan aku tidak akan pernah menyesali apa yang sudah menjadi pilihanku."
Arva mengangguk, cintanya amat sangat besar tapi ego nya pun tak kalah besar. Untuk itu ia butuh seseorang yang jauh lebih besar untuk menjadi pelabuhannya, dan ia percaya bahwa Mikaela adalah orang yang memiliki keistimewaan itu.
Keduanya masih saling tatap tanpa merasa bosan, seolah sedang saling menelanjangi daro tatapannya masing-masing, amat sangat lekat dan dalam
"Maaf, aku salah.."
Psssstt
Arva berdesis, menghentikan omong kosnong wanitanya "Sejak awal aku yang salah, tugasmu hanya perlu menungguku kembali ketika aku lupa" tuturnya
Mikaela menarik kedua ujung bibirnya "Aku akan menunggu, dan kamu harus kembali"
Vino masih melihat kedua manusia yanh sedang intens di hadapannya, ia tau persis kalau ia tak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu, sekalipun ia harus mengorbankan pertemanannya. Vino tak akan menyia-nyiakan perasaan tak biasanya, meski bukan dengan balasan semacamnya, tapi ia bisa melakukan hal lain, membuat orang yang ditunggui wanita itu segera kembali misalkan.
"Gue rasa tugas gue udah selesai" gumam Vino
"Vin" tahan Arva
"Gue gak akan ngebiarin pertemanan kita hancur" ucapnya "Selamanya kita teman, dengn begitu lo gak akan pernah bisa mengambil apa yang sudah menjadi milik gue"
"Lo gak pede?"
Arva mengangguk "Gue akui, lo cukup pantas. Tapi selama ada gue, gak akan pernah gue biarkan"
Pembicaraan yang cukup menjurus ini harusnya membuat Mikaela sedikit mengerti dengan maksud keduanya, tapi bukan karena tidak paham, ternyata sejak tadi ia menahan sesuatu dari dalam mulutnya, itu membuatnya tidak bisa konsentrasi untuk mencerna obrolan keduanya
Uekkk
Cairan yang keluar dari mulutnya mengenai jas mahal milik pria yang baru saja berbaikan dengannya, apa gara-gara ini pria itu akan kembali meninggalkannya dan ia harus menunggunya sampai kembali? harus begitu?
Tiba-tiba kepalanya pusing, Mikaela tak bisa menahan lagi, bahkan tubuhnya sudah tak bisa berdiri tegap, tanah sepertinya bergeser kesana kemari. Pandangannya buram, ia ingin sekali melihat wajah suaminya lebih lama, setidaknya untuk membayar saat-saat dimana ia tak bisa melihatnya sebelum ini dan setelah saat dimana ia harus tak sadarkan diri.
Harapan hanya sekedar harapan, Mikaela bahkan tak kuasa mengontrol kesadarannya walau hanya sedetik, tetap kegelapan yang menjadi jawaban. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, yang jelas ia ingin wajah yang tak sempat dilihatnya sebelum tak sadarkan diri menjadi wajah yang pertama ia lihat setelah nanti ia membuka mata.
**Bersambung ...
Kira2 Mikaela pingsan karena kelaperan?? kasian si kalo iya **:(