My Cold Senior

My Cold Senior
Posisi Intim



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Bukannya tadi kamu bilang gak punya pacar?" cibir Mikaela. Sungguh ini bukan reaksi karena merasa tak dinggap, justru ini kesempatan baginya untuk terjauh dari pengganggu kehidupannya ini. Ya, setidaknya selama kesadaran si pria itu pulih



"Ya kenapa lo gak bilang? emangnya gue punya indera ke enam? " balas Arva yang memang tak tau menau dengan kondisi diantara mereka yang sudah sejauh itu. Kepribadiannya ini memang selalu gerak cepat, apalagi masalah perempuan dan segini pun masih terbilang lamban. Biasanya dalam seminggu ia bisa menaklukan hati perempuan mana pun yang ia mau sampai membuat mereka rela menawarkan tubuhnya tanpa diminta lebih dulu



Hanya saja Mikaela pasti dapat tekanan dalam hubungannya, terlihat dari ketidaksukaan yang terlihat jelas dari wajahnya. Tapi apa salahnya? posisi Mikaela yang sekarang sudah menjadi pacarnya, emm ralat maksudnya pacar dari kepribadiannya ini dapat membuatnya lebih bisa mengontrol emosinya. Semuak apapun gadis itu padanya, ia tau kalau wanita Mikaela berada di pihaknya, ia pasti tidak tega melihat manusia yang dipermainkan dirinya sendiri, siapa yang tidak miris??



Sejauh ini ia hanya menyimpan kelainannya sendiri, sikapnya seringkali berubah dan setiap orang pasti merasakannya tapi mereka tak akan menyangka bahwa si pria yang terlihat sempurna ini memiliki penyakit kejiwaan. Ya, Arva mengerti akan dirinya sendiri, jadi ia lebih menerima ketika penilaian oranglain tentangnya lebih condong ke kepribadiannya sendiri



"Yang bener aja, aku harus bilang kalo kita pacaran begitu?" sangkalnya tak terima



"lagian buat apa ngasih tau kamu? yang mau jadi pacarku kan cuman kepribadianmu aja" lanjutnya lagi sembari mengalihkan pandangannya



"Gak masalah, apa yang dilakukannya itu menjadi tanggungjawab gue" timpal Arva, membuat Mikaela kebingungan harus menjawabnya dengan kalimat apa lagi



"Emangnya lo mau dianggap terobsesi sama gue??"



"Aku?? yang bener aja?"



"Kalo cuman Reza yang nganggap lo sebagai pacarnya lalu ketika dia hilang apa yang akan orang bilang tentang lo?"



"Untung gue tau grecep, senggaknya bisa seolah-olah seperti itu" lanjut Arva



"Apa? seolah-olah? emangnya dia pikir dia siapa?" batin Mikaela geram



"Gak usah ! lebih baik kita berjauhan. Lagian ini kesempatanku biar bisa bebas dari orang yang selalu memaksa berada di sekitarku" tutur Mikaela yang mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya



"Biar lo bisa deket-deket sama cowok lain kayak tadi?" ucap Arva balik menuduh



"Kenapa jadi aku? lagian Melvin cuman temen doang kok"



"Semua berawal dari temen! cowok gak akan deketin cewek kalo gak punya niat lebih, munafik"



"Ko jadi bahas Melvin sih?"



"Bener kan?"



"Enggak!"



"Udah ngaku aja" kukuh Arva



"Enggak, kita cuman temen" elak Mikaela lagi



"Hemm okee gue pegang ucapan lo" Arva mengangguk paham menyudahi tuduhannya yang sebenarnya hanya ia gunakan untuk menggoda Mikaela saja. Tapi kalau dibiarkan lama-lama, semua tuduhannya bisa benar-benar terjadi



"Lagian gue gak akan biarin itu terjadi" lanjut Arva sedikit berbisik



"Bilang apa?" kepo Mikaela mendengar samar ucapannya



"Huh siapa?" ucap Arva mambalikkan pertanyaannya



"Hey kalian sedang apa disitu?" tanya Nayla yang tiba-tiba datang dan memergoki keduanya



Menyadari kedatangan Nayla tentu membuat Arva segera melepaskan genggamannya "Sejak kapan disini?" tanya Arva mengalihkan pembicarannya



"Ah ini tadi .." Nayla mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu



"Itu dia" Nayla melambaikan tangannya setelah menemukan apa yang dicarinya



"Ka Melvin nyariin kalian berdua katanya mau pulang" lanjut Nayla menyampaikan maksud Melvin yang sudah menghampirinya



Mendengar penuturan adik polosnya sontak membuat Arva tersenyum kecut. Mungkin maksud lelaki itu hanya mencari Mikaela, right ?



"Mik gue duluan" ucap Melvin berniat menyentuh lengan gadis itu namun Arva segera menghalangi jalannya



Mikaela yang ingin sekali protes hanya memilih diam sedangkan Melvin protes dengan menunjukkan tatapan tak suka nya. Pria itu kembali tersenyum manis pada Mikaela lalu dibalas dengan hal serupa oleh si penerima



Apa? bahkan selama ini Arva tidak pernah menadapatkan senyuman seperti itu darinya



"Nay masuk" titah Arva seraya membukakan pintu mobil untuk Nayla



Arva melajukan mobilnya tanpa berbicara apapun sepanjang perjalanan, bahkan ia meladeni ocehan Nayla hanya dengan dehaman saja



"Lanjut kerjain tugasnya, ntar gue cek" titah Arva pada Nayla yang mengangguk setuju lalu segera turun dari mobilnya



Mikaela yang akan menyusul Nayla untuk turun segera terhenti ketika Arva menahan lengannya dan mengunci semua pintu mobil



Mikaela berdecak, ia melihat wajah dingin Arva dari pantulan spion yang ada di depannya



"Mau ngomong apa?" tagih Mikaela pada Arva yang masih bungkam



"Sejak kapan lo bisa senyum kayak tadi?" tanya Arva kemudian



Mikaela diam sejenak, apa lagi ini? "Sejak dulu" jawabnya



"Gue gak suka" tekan Arva



"Sekarang lo itu pacar gue dan gue gak mau lo senyum kayak tadi ke cowok lain" lanjut Arva memperjelas apa yang menjadi ketidak sukaannya



"Arva kamu sadar kan? kenapa sikap kalian jadi sama kayak gini?"



"Gue gak perduli" jawabnya tanpa berpikir lama



"Aku capek ya, bisa gak sih kalian jauh-jauh aja mending dari aku ! memangnya ada kamu di sekitarku, akan bikin aku suka? enggak!"



"Suka gak suka, gue bakal bikin lo suka" balasnya lagi tak habis akal



"Terserah, buka pintunya" ucap Mikaela final, tak tau lagi harus meladeni makhluk yang suka berubah-ubah seenaknya ini seperti apa



"Arva buka!!" pinta Mikaela mencondongkan tubuhnya kedepan berusaha menekan tombol yang ada di pintu samping pria itu



Harum rambut gadis itu menyeruak memasuki penciuman Arva, bercampur dengan harum strowberry dari celuk lehernya membuat Arva refleks memejamkan matanya seakan mendapatkan relaksasi alami



"Arva!!" Mikaela yang sudah menyerah dengan usahanya segera memalingkan wajahnya ke arah si pria yang ia pikir tidak akan sedekat ini



Mikaela tersentak ketika pria itu membuka matanya, membuatnya segera menarik tubuhnya tapi pergerakan Arva lebih cepat darinya. Arva menarik tubuh Mikaela untuk kemudian mendudukkannya di lahunannya



Posisi yang amat sangat berbahaya, membuat Mikaela bergerak gelisah tapi kedua lengan Arva sudah mengunci pinggulnya, mengunci pergerakannya



Mikaela tak berani membalas tatapan Arva, ia melihat ke segala arah asalkan tidak jatuh pada tatapan itu.



Arva sendiri tak bisa menahan tubuhnya, ia merasa harus melakukan ini, ia ingin dan tak usah ditahan lagi. Lalu apa? apa yang harus dilakukannya setelah ini?



Arva memang sudah sering terjebak di pelukan banyak wanita dalam ketidak sadarannya. Tapi kali ini, ia melakukannya dalam keadaan sadar



Rasanya senyuman yang diberikan gadisnya pada pria brengsek tadi membuatnya sangat panas, ingin sekali ia menelanjangi gadis ini sekarang juga agar rasa panas itu tak tanggung-tanggung dirasakannya



Arva tersenyum miring melihat gadis yang berada di lahunannya mulai gelisah "Kenapa? lo mikir jorok ya?" goda Arva



Mendengar perkataan Arva membuat Mikaela membulatkan matanya, dengan kedua sisi pipi  nya yang sudah merah padam, menggemaskan



"Ngaco" cibirnya lalu kembali meronta minta dilepaskan



"Semakin lo gak mau diem semakin lo dalam bahaya" tekan Arva



Mikaela tersenyum penuh arti membuat Arva tak dapat mendefinisikan maksudnya, ia malah tertegun takjub melihat senyuman yang dilihatnya ini



"Oh ya" ucap Mikaela lalu memudarkan senyumnya dan dengan cepat menggigit bahu pria ini sampai membuat kaget si korban yang tak tau dengan akal bulusnya




"Mikaela kamu lagi ngapain?" suara itu membuat Mikaela menghentikan aksinya dan segera melihat ke arah suara. Gadis itu segera menjauhkan tubuhnya yang sebelumnya condong ke depan dan mulai gelagapan dengan pikiran pamannya yang pasti sudah menuduhnya macam-macam



Melihat kedatangan Erik justru menjadi peruntungan bagi Arva sendiri yang bisa dipastikan akan dianggap sebagai korban



"Udah gue bilang jangan disini" ucap Arva dengan mimik wajah tak enak



"A apa?" kaget Mikaela yang merasa difitnah. Gadis itu segera membuka pintu mobil dan segera keluar menghampiri pamannya



"E enggak paman, ini gak seperti yang paman liat" cerocos Mikaela pada pamannya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi



Erik hanya menatap keduanya secara bergantian, memang posisi keduanya tadi cukup jelas, seorang gadis yang berada di lahunan pria dengan posisi wajah si gadis yang berada pada celuk leher prianya, mana mungkin salah paham?



"I itu tadi.."



"Uhh.." ringisan Arva memotong ucapan Mikaela sambil mengusap bekas merah pada lehernya



Erik segera mendekati Arva lalu melihat bekas gigitan yang diperlihatkannya secara langsung



"Mikaela.." tegur Erik



"Paman, enggak kayak gitu.." Mikaela kehabisan pembelaan, ia tak punya bukti akan kebenarannya



"Eh mau kemana?" tahan Erik pada Mikaela yang akan segera masuk kedalam rumahnya untuk menghindari kesalah pamahan ini



"Berani berbuat harus berani bertanggungjawab" tutur pamannya bijaksana



"Tapi paman.."



"Kamu itu gimana? paman tau kamu baru aja pacaran, ya mungkin baru merasakan sesuatu yang aneh. Tapi gak begini juga kan kasihan Arva.." cecer Erik, membuat Mikaela melongo. Kini dirinya yang disalahkan dan ini parah, pamannya pasti berpikir kalau keponakannya itu mesum



selama Erik berargumen pada Mikaela maka Arva yang ada di belakangnya menampilkan seringaiannya untuk meledek, melihat itu maka Mikaela tak terima dan berniat untuk membalas namun ketika pamannya melihat ke arah yang membuat Mikaela geram maka Arva kembali menampilkan wajah tersiksanya. LICIK



"Sana obatin.."



Mikaela menarik nafasnya berat "yaudah sini masuk"



"Males.. tadi sikapnya manis banget, giliran udah dapet maunya aja kayak gini, paman aku pulang aja" tutur Arva yang masih melanjutkan sandiwaranya



"Mikaela, paman gak suka ya kamu begini sama pacar sendiri! kamu itu.."



Mikaela menekan kedua matanya kuat, berusaha meredam emosinya yang merasa tertuduh dengan hal yang tidak mungkin dilakukannya



"Maaf.." ucap Mikaela dengan menampilkan senyumnya



"Oke kalau mau main-main" batin Mikaela sambil menghampiri pria yang sedang pura-pura tersakiti ini



Secara diam-diam Mikaela menginjak kaki Arva ketika mengajaknya masuk kedalam rumah membuat si yang punya kaki meringis



"Kenapa lagi? ayo masuk" ucap Mikaela lembut tanpa wajah berdosa sebab pamannya masih memperhatikan dan itu artinya Mikaela harus membalasnya secara diam-diam



"Kamu itu apa-apaan sih?" protes Mikaela setelah sampai di ruang tamu



Arva tak menggubris, ia hanya menjatuhkan bokongnya di sofa seolah tak mendengar suara apapun



"Paman jadi mikir yang enggak-enggak tentang aku" protesnya lagi



Arva hanya menoleh lalu menggedikkan bahunya tak perduli "Bagus dong" pungkasnya



"Kalo tadi kamu gak ngunci aku, aku gak bakalan gigit kamu kayak tadi"



"Maaf, tadi gue cuman bercanda. Lagian lo pilih-pilih tempat kek ini kan di depan rumah, jadi paman liat kan .." ucap Arva yang tiba-tiba mencurigakan dan ternyata benar. Muncul Nayla dari arah belakang yang awalnya tidak tau menau menjadi akan bertanya-tanya dengan apa yang terjadi



"Kenapa emangnya? tadi Mikaela ngapain kak?" kepo Nayla



"Loh kak itu kenapa? siapa yang gigit leher kakak udah kayak pamvir aja" tanya Nayla menyadari sesuatu yang aneh didekat kerah pria dewasa itu, kulit putih Arva membuat bekas kemerahan menjadi jelas terlihat



Tanpa menunggu jawaban, Nayla langsung melirik ke arah Mikaela yang sudah pasti akan disalahkan disini



"OMG Mikaela lo yang ngelakuin ini kan?" tuduh Nayla antusias



"Gue gak nyangka aja haha yaudah deh gue gak bakal ganggu kayaknya hasrat lo gede ya" ledek Nayla yang kemudian segera berlalu dengan sorak sorainya



Mikaela hanya bisa pasrah mendapatkan tuduhan-tuduhan gila itu "Cepet obatin, sakit nih" titah Arva yang terlihat tak berdosa



"Gak mau" tekan Mikaela yang berniat untuk kembali ke kamarnya



"Oke.. kayaknya paman harus.." gumam Arva



"Iya-iya aku mau ambil kotak p3k ! gak sabaran banget sih" potong Mikaela menggerutu



Kepergian Mikaela membuat Arva bisa tertawa lepas, ia sepertinya harus sering-sering menggoda gadisnya seperti ini untuk dijadikan hiburan tersendiri



"Kepalanya.." ucap Mikaela yang memberi tanda agar Arva memiringkan kepalanya, memberi jalan padanya untuk mengolesi bekas kemerahan pada lehernya dengan salep



Arva sedikit menurut tapi itu kurang, Mikaela yang tak ingin berbicara banyak lagi terpaksa memiringkan kepala pria itu secara manual



Arva memandangi wajah serius Mikaela dalam mengobati luka yang sebenarnya tidak seberapa ini, hanya saja ini sebagai alasan agar bisa lebih lama berdekatan dengannya



"Mau kemana?" tahan Arva ketika Mikaela bangkit dari posisinya



"Ya ke kamar"



"Mau ngapain?"



"Ya tidur lahh udah malem"



"Emangnya ini udah? cepet banget" Arva menampilkan lukanya



"Ya udah, emang mau diapain lagi? besok juga sembuh ko"



"Kalau infeksi terus harus diamputasi gimana? tanggung jawab dong gimana sih?"



Mikaela kembali dibuat geram, memangnya gigitannya bisa rabies apa? dia bukan anjing !



"Bodo amat, aku mau tidur" ketus Mikaela kembali bangkit dari duduknya. Pergerakan Mikaela tertahan saat Arva menarik lengannya dan membuat tubuhnya oleng, lalu hilang keseimbangan dan jatuh di atas sofa dengan posisi Arva yang berada di atas tubuhnya





Beberapa detik pandangan mereka saling bertemu lalu Mikaela tersadar dan segera menyingkirkan tubuh berat diatasnya untuk bisa bangkit dari posisinya



Arva sengaja memegangi pinggang gadis yang akan menyingkirkan tubuhnya itu untuk mempersulit pergerakan, membuat Mikaela kembali terjatuh, kini dengan posisi terbalik



"Arva !!"



•


•


•


Please like and comment !!



COMMENT COMMENT COMMENT




btw readers ada cowok nya gak sih?? aku kepo dehhh gak pernah muncul di komen kek nya 😆



@Lovelyliy


👆follow instagramnya dooongggg 👆