
Happy Reading ♡♡
Deg
Entah apa sebabnya atau sejarah apa Yang terjadi di kehidupan sebelumnya Yang membuat Mikaela begitu takut pada Arva. Takut dengan pria tampan seperti itu? Harusnya ketakutan Mikaela lah yang membuat pria itu takut, bukan begitu
Entahlah Yang jelas berbeda, lebih dari sekedar risih karena tatapan tak suka para penduduk kampus, percayalah ini nyata adanya
"Bodoh" umpat Rani
"itu malah bikin dia jadi merhatiin kesini" tambah Rani dengan ekspresi tidak kentara berusaha tidak terlihat sedang mengumpat oleh lelaki yang mulai memperhatikan itu
"Harus gimana?" Mikaela frustasi
"Biasa aja biasaaaa" Rani melebarkan senyumnya seolah sedang mengobrolkan sesuatu dengan teman yang mulai menyingkirkan buku yang menghalanginya tadi
"Ahahaha iyaiya" pecah Mikaela tertawa tiba-tiba membuat Rani mengernyitkan keningnya
"Itu berlebihan, dia pasti tau kalo lo cuman pura-pura" Rani menyalahinya lagi
"Ko jadi kek lagi casting aja sih" gerutu Mikaela sambil memutar bola matanya dan tepat tatapannya beradu dengan pria yang terhalang 2 meja di depannya
Seperkian detik tatapan itu saling menyapa "Eghhhmm" Mikaela berdeham tersadar dengan segera memalingkan wajahnya.
Mikaela menetralkan jantungnya yang mulai mempercepat ritme detakannya, ia menggaruk bawah hidungnya untuk sedikit mengalihkan fokusnya "udah selesai kan" tanyanya
"pesenan baru dateng! Selesai gimana ceritanya" protes Rani
"Aku ga laper.."
"Apasih Mik.. Gue tau perut lo udah demo dari tadi gue denger suara mengerikan itu!" potong Rani menarik lengan Mikaela agar kembali duduk di sampingnya
"Lo denger?" bisik Mikaela dengan wajahnya yang seketika berubah menjadi merah padam "memalukan" batinnya. Tadi pagi ia hanya makan beberapa suap aja karena ya tidak tahan dengan omelan pedas bibi nya
"Gausah malu" ucap Rani membuat Mikaela melihat ke arahnya
"Udahlah biarin aja mau dia ngeliatin ampe tu mata keluar juga gausah dipikirin.. Selawwww" tambah Rani menenangkan. Ya dia memang selalu tenang dalam semua kondisi dan bisa membaca situasi yang terjadi sampai-sampai ia selalu berhasil keluar dari masalah yang hampir akan ia hadapi. Ya, Selalu terselamatkan
Mungkin ia dijaga oleh 2 malaikat, berbeda dengan Mikaela yang mungkin malaikat penjaganya selalu teledor kehilangan jejak yang membuatnya selalu terlambat untuk menyelamatkan dari setiap masalah yang dengan mudah ia dapatkan
Atau bahkan malaikat penjaga itu lebih memilih untuk nganggur daripada harus menjaga manusia penuh masalah seperti Mikaela? Menjadi cantik bukanlah perkara yang mudah
Belum lagi ketidaksukaan para gadis lainnya yang merasa tersaingi, ahh itu sulit. Mikaela memang sulit berbaur dengan lingkungan baru, butuh waktu untuk itu. Karena ketulusan sangat sulit ia temui, kebanyakan orang-orang dari mereka hanya ingin mendapat keuntungan saja
"Cepat makan atau mie nya bakal mengembang tar jadi gak enak" Rani membawa jiwa Mikaela yang sedari tadi melayang
"Ahh yaaa" ucapnya
Tap tap
"Kemaren lo pulang duluan, sekarang gak gitu! Sepulang ini ada kumpulan di ruang bem" Mikaela membulatkan matanya sempurna mendengar perintah Arva yang tiba-tiba ada di hadapannya
sepertinya akan sulit dibantah tapi apa salahnya mencoba? Sepulang kuliah kan Mikaela harus berbelanja bahan masakan dan itu butuh waktu lama. "A aku gabisa ka" Mikaela memberanikan diri
Arva memutar tubuhnya kembali dan duduk di kursi tepat di depan Mikaela, tanpa bicara tapi ekspresi wajahnya menandakan ingin penjelasan
"Emm gini.. Pulang ini emm a aku.." Mikaela memutar otaknya untuk alasan apa yang harus ia ucapkan kali ini. "Mengapa aku harus cari alasan? Bilang aja jujur kalo disuruh belanja oleh bibi ku yang galak, selesai kan" batin Mikaela bergeming
"Eghmmm.. Alasannya belum ketemu?" Tanya Arva meledek
"Aku harus belanja" ucap Mikaela terpaksa jujur
Arva menyatukan alisnya dengan tatapan yang tak ia lepaskan dari tadi, menelusuri letak kebohongan yang mungkin saja tertera di sudut wajah gadis yang terlihat chubby itu karena mulutnya masih mengunyah makanan
Mikaela mengatup rapat mulutnya dan menelan makanan yang belum selesai ia kunyah sebanyak 28 x sebagai syarat agar ususnya tetap sehat. Mikaela memundurkan wajahnya ketika Arva semakin memajukan wajahnya ke arah Mikaela.
Arva mengusap ujung bibir Mikaela yang menyisakan secuil mie, dengan ibu jarinya.
Glek
Mikaela kembali menelan salivanya berat. "Dengan wajah sedatar itu, bagaimana bisa?" batin Mikaela
Mikaela mengerjapkan matanya berkali-kali ketika Arva sudah menarik wajahnya menjauh kembali ke posisi awal lalu beranjak pergi tanpa sepatah kata pun dengan diikuti kedua sahabatnya yang menatap heran tanpa berani mengomentari
"Mik.. Jantung lo gak copot kan?" tanya Rani sedikit rese
"Kalo copot aku mati" ucap Mikaela lalu kembali melanjutkan makannya.
Deg
Ia tersadar, kini menjadi perhatian semua orang di kantin. Mikaela menggeleng-geleng kepalanya cepat membuyarkan pikiran semena-menanya "lagian bukan aku yang caper" yakinnya dalam hati
Brakk
gebrakan meja itu bikin Mikaela tehentak dan Rani sampai menjatuhkan sendok yang berisi mie mengenai pakaiannya
"Aishhhhh" keluh Rani lalu melihat 3 cewek urakan di hadapannya dan menatapnya tajam
"Apa?" teriak salah satu cewek itu ke arah Rani yang terlihat ingin protes
"Gausah so kecentilan!!" tegas Vanya
Mikaela menggigit bibir bawahnya, kesalahan yang tidak ia perbuat selalu jadi bumerang dalam hidupnya. Waktu awal masuk SMA pun begini dan sekarang terjadi lagi "sabar Mik" batinnya menasihati
"Lo denger gak gue bilang apa?" gertak Vanya lagi
"Semua juga tau kalo Vanya yang ngejar-ngejar Arva" celetuk Rani
"Apa lo bilang?" emosi Vanya semakin tersulut. Tidak, jangan begitu. Itu hanya akan membuat situasi menjadi semakin sulit. Mikaela memberi kode pada Rani agar ia tak ikut berdebat
"Sekali lagi lo deketin Arva, gue bakal buat perhitungan sama lo" tunjuk Vanya di depan wajah Mikaela lalu memukul keras meja, membuat mangkok makanannya kembali memantul bergetar
Berani banget si tu cewek deketin Arva
Cantik sih tapi ko caper gitu
Eh kan tadi ka Arva yang nyamperin bukannya?
Cowok gakan usaha kalo ga dikasih celah
Bla bla bla . . .
Mikaela menutup rapat telinganya mendengar cibiran orang yang terlalu berterus terang. Kalo ngomongin kenapa harus di depan orangnya? Ya walau diomongin di belakang itu sakit ya asalkan gak ketauan sama orang yang diomongin kan aman-aman aja?
Rani menarik lengan Mikaela setelah membayar makanan mereka. "Dasar so berkuasa banget si tu kaka kelas" gerutu Rani "cuman modal tepung tebel di muka sama body tambalan aja gayanya udah selangit" tambahnya lahi
"Udah biarin.. Ko jadi kamu yang kesel?" ucap Mikaela menenangkan Rani
"Lo kan sahabat gue? Gak boleh gue kesel kalo lo diganggu orang macem mereka?" protes Rani sensitif
"Bu bukan gitu" sanggah Mikaela. Jujur ini manis banget sih, akhirnya dia punya temen yang siap ngebela.
"Ko lo malah senyum gitu sih? Bukannya kesel" tanya Rani tak percaya
"Aku terlalu sibuk mencintai jadi gak punya waktu buat membenci" ucap Mikaela dengan senyum manisnya
Rani tak bergeming "Thank's Ran, udah mau temenan sama orang kayak aku" ucap Mikaela sambil memeluk sahabatnya erat
"Kayak lo? emang lo kayak gimana?" tanya Rani yang hanya dibalas senyuman hangat
"Mik.. Gue tipe orang yang milih-milih temen jadi dari dulu gue emang gak punya banyak temen. Percuma punya temen banyak kalo fake semua" jelas Rani
"Terus kenapa mau temenan sama aku?" tanya Mikaela mengetes Rani
"Ya mau gimana lagi, cuman lo yang mau semangat pas gue ajak mulung sampah" ucap Rani terkekeh
"What? Karena itu? Serius?" tanya Mikaela bertubi-tubi
Rani kembali tertawa melihat ekspresi wajah Mikaela yang lucu "Yang jelas gue tau mana yang tulus" ucap Rani setelahnya
"So puitis banget sih" Mikaela menyusul langkah Rani cepat setelah berhasil menyenggolnya sampai Rani sedikit terkoyong hampir jatuh
"Mikaaaa" panggil Rani tak terima
Mikaela memutar tubuhnya sambil tertawa melihat Rani yang berusaha menyusul langkahnya
"Awhhh" teriak Rani melihat Mikaela yang akan menabrak orang di belakngnya
Bugghh
Berbarengan ketika Mikaela hendak memutar tubuhnya. Membuat hidung bengirnya menabrak dada seseorang
Mikaela menekan matanya kuat menggerutui diri sendiri
"Kalo nabrak tembok, idung lo mungkin bakal bengkok" ucap Arva
Deg
"Pria ini lagi" batin Mikaela lalu dengan segera memutar tubuhnya hendak kabur
"Ahh awww" rambut kuncir kudanya ditarik Arva membuat langkah Mikaela terhenti dan meringis
"Kasar banget sih" protes Rani sambil menghampiri
Arva tidak ambil pusing dengan ucapan Rani, ia hanya heran kenapa ada gadis yang hobby menabrak orang, masalahnya bukan sekali duakali aja tapi berkali-kali. Kalo yang dia tabrak itu nenek-nenek ? Atau bahkan preman yang bisa aja melukainya? Bukannya itu bahaya
"Seumur hidup lo pernah nabrak siapa aja?" Tanya Arva mensejajarkan wajahnya dengan tinggi Mikaela yang hanya sebahu
Mikaela ******** bibirnya kuat "selama ini, aku ingat waktu kecil pernah nabrak anak laki-laki laluuuuuu selama di luar negri..ahh kenapa aku harus mikirin pertanyaan dia?" Batin Mikaela
"Hemmm?" Arva menuntut jawaban
"Heyy.. Kaka senior lepasin Mikaela, dia pasti sakit" protes Rani lagi
"Arv .. Lo ngapain?" Tanya Vino yang berhasil menyusul Arva
Rendra yang heran hanya saling melempar tatap dengan Vino yang tidak mendapati jawaban dari Arva
Mikaela memegang kuncirannya yang masih ditahan Arva, tidak dilepaskan hanya dilonggarkan.
"Gak niat jawab?" Tanya Arva lagi dengan tatapan dinginnya yang menusuk
Brukk
Mikaela mendorong Arva sampai tubuhnya mundur beberapa langkah