My Cold Senior

My Cold Senior
Omong Kosong



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡




"Ck brengsek" Mikaela berdecak tak suka



"Huh apa? Brengsek? Siapa yang brengsek?" Tanya Rani bertubi-tubi



Mikaela memutus pandangan yang membuatnya sakit perut "apa? Siapa yang brengsek?" Tanyanya polos



"Terus barusan lo bilang apa?" Bahasnya lagi



"Dari tadi aku diem ko yeyy minum aqua sana biar fokus" candanya sambil mencubit hidung minimalis milik Rani



"Ishh heyy awas ya" Rani menyusul langkah Mikaela yang setengah lari meninggalkannya.



"Arv.." panggil Vanya yang entah ke berapa kali



"Ishh heeyyyyy" Vanya menghalangi arah pandang Arva yang melihat ke jendela sejak tadi



Matanya bergerak seolah mengikuti sesuatu, membuat Vanya penasaran dengan apa yang membuat pria idamannya memalingkan leher sampai 180 derajat seperti itu



Vanya memelototkan kedua matanya "Arva liatin cewek culun itu?" Batinnya tak terima



"Lo liatin dia??" Kesalnya



Arva membenarkan lehernya yang hampir patah. "Emm .. haha yang bener aja" sangkalnya



"terus tadi liatin apa?" Tanya Vanya merubah nadanya. Kekesalannya surut, karena sangkaan buruknya tidak dibenarkan. Mungkin?



"Lo duduk sana! Gak pegel apa berdiri terus?" Ucapnya ketus



"Okee" turutnya manja sambil mengelus lembut pipi mulus Arva lalu mengulas senyumnya



Iya.. Vanya selalu tak menangkap maksud Arva yang sebenarnya. Arva hanya malas melihat wanita itu, tapi Vanya malah merasa seperti diperhatikan karena pria itu gak mau Vanya capek, itu yang dibilang Arva. Padahal memang ada maksud lain dibaliknya



Yahh seperti biasa. Arva hanya diam tak memberi ekspresi senang ataupun marah. ia Selalu membiarkan kesalahpahaman itu berlarut-larut. Karena hal itu malah membuat si wanita galak itu menjadi manis dan super nurut walau cuman sama Arva



"Kalo lo gak suka bagi gue aja napa si?" Bisik Rendra



"Heh kambing.. cewek lo banyak! Masih kurang aja. Bae-bae kena HIV baru tau rasa"



"Lo kalo ngomong gada remnya kadang-kadang" protes Rendra pada Vino yang selalu tiba-tiba nyambung aja mentang-mentang ada kabel



"Lagian kalo si Vanya sampe jadi pacar gue sumpah gue gakan lirik-lirik cewek laen" lanjutnya sambil menautkan jari dari kedua tangannya melukis ekspresi kekaguman di wajahnya "Mana mungkin gue masih gak puas kalo sama body goals kayak gitu" batinnya sambil melirik nakal cewek yang dimaksudnya



"Kalo mau, ya usaha aja sana" ucap Arva



"Mangkanya lo jangan diem aja ! dia pasti nganggep kalo lo juga suka sama dia"



"Gue gak pernah bilang"



"Lo gak paham sama cewek bro" pungkas Rendra



"Gue kasih tau ya.. cewek kayak Vanya butuh ketegasan, dia gakan nyerah kalo lo gak nolak!"



"Lagian kalo si Arva nolak juga gue yakin tu cewek gakan nyerah" sambung Vino



"Lo gak paham Vanya bro" lanjutnya sambil menepuk punggung sahabatnya yang tertegun karena ucapannya barusan



Glek


Rendra menelan ludahnya yang sudah tertampung



"Yahh selama apapun gue bakal nunggu dia. Kalo dia udah capek, gue rela jadi tempat pulangnya" ucapnya yang tiba-tiba puitis



"Heh anjir lo melow banget haha gue gak yakin lo tulus"



"Sialan" cibirnya



Biarlah kedua orang yang mengapitnya ini saling bersautan. Arva yang sekarang, fokus dengan pengajaran dosen yang ada di depannya.



Arva ini pria yang cerdas dan gak suka keributan. Ia memang bukan type orang yang patuh tapi kalau dengan mengikuti aturan bisa menghindarkannya dari masalah ya itu lebih baik, gamau ribet. Tapi ulah dari kelainannya itu selalu meruntuhkan persepsi oranglain yang terlanjur melihatnya selalu berprilaku sesukanya.



Termasuk di kampus ini. Padahal hanya sesekali kelainan itu mengambil alih tubuhnya tapi dengan sekejap bisa mengubah pandangan oranglain terhadapnya.



dianggap player karena beberapa kali kepergok oleh paparazi di kampusnya, jalan sama cewek yang gak pernah sama.



Dicap sebagai pembuat onar oleh dosen. Sampe bikin mereka gak mau punya urusan sama Arva. Apapun yang dilakukannya gak ada yang berani menegurnya atau emang udah bosen ngajar



Bukan sekedar dikeluarkan dari kampus, tapi diblacklist dari semua kampus yang ada di dunia. Sehebat itukah?? Ya itu kenyataannya



Walau ia bisa melakukannya tapi itu tak pernah terpikirkan olehnya. ia masih punya hati nurani. Meskipun ia bukan malaikat penolong setidaknya ia tidak menjadi malaikat pencabut nyawa. Entah dari mana datangnya ketakutan mereka



Dan seburuk apapun image nya itu gak ngaruh sama barisan para cewek pengagum pria tampan di kampusnya. Di tempat lain? Mana mereka tau selain kesempurnaan yang terlihat di luar



Tapi satu yang aneh, ia bingung kenapa rekeningnya jadi 2? Dan setelah dicek, saldo dari rekening yang baru dibuat setahun yang lalu itu jauh lebih banyak dari rekening miliknya.



Setiap bulan rekening yang entah dari mana asalnya itu selalu dapat transferan ghoib. Dan setelah ditelusuri ternyata uang yang selalu mengalir deras itu didapatkan dari bisnis saham yang ia mainkan setahun belakangan ini



Sejak kapan otak cerdasnya memikirkan hal sejauh itu? Sebab transferan dari papi nya pun sudah lebih dari cukup. Kenapa harus merebut rejeki orang seperti itu? Kan kalau orang susah yang menjalankan, itu lebih bermanfaat



Arva itu manusia paling tenang di dunia. Tak ada satupun yang membuatnya khawatir, termasuk masa depannya yang pasti akan cemerlang.



Arva satu-satunya penerus bisnis furniture milik papanya yang sudah tersebar di hampir semua negara asia. Jadi untuk apa ia bersusah payah?? hanya tinggal meneruskan, gak perlu bersusah payah seperti masalalu kebanyakan dari orang sukses, termasuk papinya



"Arv ke kantin yuukk" ajak Vanya



"Ga laper" jawabnya lalu melengos pergi bersama kedua temannya yang udah nyelonong lebih dulu



Rendra gak godain Vanya lagi kayak biasanya. Mungkin udah nyerah?



_________________



"Lo mau makan apa?" ajak Rani sambil merapikan isi tasnya




"Loh ko gitu? Badan lo udah kurus ga perlu diet gitu ah"



"Lagi males aja Ran"



"Terus mau kemana?"



"Ya disini.. kemana lagi?"



"Serius?" Tanya Rani memasang wajah ngeri



"Ya emangnya kenapa?"



"Lo yakin sendirian disini?"



"Ck apasih Ran" Mikaela menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja



"Serem tau.."



"Ran ..." protes Mikaela tanpa ganti posisi



"Disini katanya pernah ada...."



"Raniii .." ambek Mikaela yang mengangkat wajahnya membuat Rani menghentikan ucapannya



"Yaudah deh .. lo ada kata-kata terakhir??"



"Astaga Ran..." Sebuah buku yang akan segera melayang dari tangannya terhenti ketika Rani udah kabur dari hadapannya



"Omong kosong" cibirnya sambil kembali tiduran di atas tangannya



Krrrtttt



Seperti suara bangku yang digeser



Pltak



" 1 ... 2 .... " Mikaela berlari keluar kelas pada hitungan ketiganya



Dup dup dup


"Tadi pasti cuman persaan aku aja" batinnya mengobati



Aaaakkkkk hebat



Tukan masuk lagi, apa gue bilang



Yaelah sambil merem aja tu bola bisa masuk keknya



Obrolan semacam itu membuat Mikaela sejenak melupakan kejadian horor yang baru saja menimpanya






Deg


Titik pertama yang ia lihat ketika menjatuhkan pandangannya ke arah yang sedang ramai diperbincangkan



Bisa gak sih sekali aja dia gak terlihat sempurna



Kalimat selanjutnya yang membuat Mikaela ingin muntah, walau dalam keadaan perut kosong



Basket itu bikin cowok lebih keren. Tapi kalo Arva yang main apa gunanya? Tanpa main aja kekerenannya gak bakal berkurang ko. Malah bikin cowok laen gak kebagian lapak



"Hey.. sorry ambilin dong" teriak Vino



Mikaela menengok ke kiri dan kanan, mencari orang yang diteriaki



"Iya lo!" Teriak Vino pada Mikaela yang masih menyerap maksud lelaki itu



Buk


Sebuah bola yang menggelinding menyentuh ujung kakinya



Mikaela berjongkok untuk mengambil bola itu.



Brugh


"Ahwww" ringis Mikaela


Vanya menyenggol tubuh Mikaela sampai tersungkur di tanah



"Nih" Vanya menghampiri Arva untuk memberikan bola basket yang ia bawa



Arva melewati uluran tangan Vanya. Dengan setengah berlari Arva menghampiri Mikaela yang masih berusaha berdiri sambil memegangi lututnya yang terbentur



"Lo gapapa?" Tanya Arva yang ikut berjongkok



"Pake nanya lagi" gerutunya



Tanpa bertanya lagi, Arva mengulurkan tangannya untuk membantu Mikaela berdiri



"Mikaela.." panggil Melvin datang menghampiri



"Aawh.. kak aku masih kuat jalan ko" protes Mikaela ketika Melvin mengangkat tubuhnya



"Kakimu sakit Mik, maaf" ucap Melvin sambil melangkah pergi membawa beban tubuhnya



•


•


•


Please like and comment !!