
Follow instagram @lovelyliy_
Tinggalkan like dan komentarnya ya .. biar author semangat lanjut ceritanya
ππ
Happy Reading β‘β‘
"Langsung pulang!" tekan Mikaela setelah duduk di samping kursi kemudi.
"Siap tuan puteri" turut Arva sambil mengangguk-ngangguk
"Apa perlu gue yang pasang?" tanya Arva kemudian membuat Mikaela tak paham apa maksudnya
Arva mencondongkan tubuhnya untuk memasangkan seat bell pada Mikaela dan selama itu pun Mikaela menahan nafasnya
"Ini jadi tugas gue sekarang" ucap Arva
Mikaela terbatuk-batuk mendengarnya. selain memang karena pasokan udara yang tak berjalan mulus tapi ucapan Arva tadi membuatnya terkejut
Melihat respon Mikaela yang ekstrim membuat Arva segera meraih botol air mineral dan tidak lupa membukakan tutup botolnya
Tanpa menunggu Mikaela langsung menerimanya dan menyamping ke arah jendela lalu meminumnya dengan rakus.
"Prlan-pelan" ucap Arva.
Glek
Mikaela menelan benda cair yang sudah terkumpul banyak di mulutnya secara perlahan. Ia menyudahi scene minumnya yang malah menjadi perhatian Arva, dan itu membuat pipi putihnya tambah memerah
"Udah?"
Mikaela mengangguk polos sebagai jawaban
"Kenapa berantakan" ujar Arva sambil me-lap bersih sepanjang bibir gadisnya dengan ibu jarinya lalu diakhiri dengan sebuah senyuman
Glek
Mikaela menelan salivanya lagi, ia rasa tengorokannya langsung mengering seketika
Arva mengambil botol minumannya yang tadi lalu meminum sisa airnya yang hanya tinggal seperempat
Mendadak cuaca menjadi panas, padahal angin berhembus dari sela jendela, tapi itu tidak membantu
Arva membuka lebar jendela mobilnya lalu melempar botol plastiknya yang langsung berhasil masuk tong sampah yang ada di bahu jalan
"Pinjem tangan lo" ucap Arva setelah merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Buat apa?" tanya Mikaela.
tak meminta dua kali Arva langsung mengambil tangan kirinya dan memasangkan sebuah cincin pada jari manisnya.
"Apa ini?" kaget Mikaela dengan apa yang dilakukan Arva tanpa seizinnya.
Mikaela hendak melepas kembali cincin yang tersemat di jarinya itu
"Sedetik aja cincin itu lepas dari jari lo maka perjanjian kita batal" ucap Arva santai.
"Perjanjian? janji apa?"
"Apa lo mau semua orang tau kalo kita pacaran??" tanya Arva
mendengar itu membuat Mikaela segera menggelengkan kepalanya cepat.
"deal ! gue setuju. jadi lo jangan pernah lepasin cincin ini. apalagi kalo sampe hilang, paham?"
Sebenarnya Arva tidak mau menyembunyikan status kekasih hatinya ini, tapi untuk keselamatan Mikaela yang lebih utama maka ia menyetujuinya.
Dengan status Mikaela sebagai kekasihnya maka gadis itu kan menjadi sorotan publik, tidak sedikit yang akan mengaguminya dan tidak sedikit juga yang akan iri dan berniat jahat padanya. Arva menyadari kalau dirinya tidak akan selalu ada di sampingnya
Mikaela terpaksa menjawabnya dengan mengangguk mengiyakan, tak ada pilihan lain
"Apa? gue gak denger" ucap Arva
"Iya" jawab Mikaela pasrah
"Gue pegang kata-kata lo" pungkasnya. Arva meraih lengan Mikaela dan menggenggamnya sambil mengemudikan mobilnya dengan tangannya yang lain
Nayla segera membuka pintu rumahnya dengan sumringah setelah melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal berhenti di depan
"Kak Arvaaaa" sambut Nayla antusias. Ia hendak memeluk pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya ini tapi terhenti karena telapak tangan Arva memberi aba-aba untuk berhenti
"Boleh?" tanya Arva pada gadis di sampingnya
Nayla menatap heran, apa yang terjadi dengannya?
Mikaela pun heran dibuatnya, tapi agar masalah ini tidak memanjang maka Mikaela mengangguk mengiyakan
"Tunggu!! ada apa ini? kenapa harus izin sama Mikaela?" tanya Nayla frontal
"Ah eng enggak.." ucapan Mikaela terpotong dengan pernyataan gila pria itu
"Kita pacaran!"
"A apa? pacaran?" ucap Nayla mengulanginya lagi
"Mikaela serius?" tanya Nayla pada Mikaela untuk lebih meyakinkannya lagi
Mikaela menghembuskan nafasnya kasar. kenapa pria ini tak bisa jaga rahasia?? kalau begini caranya ini bukan rahasia lagi namanya.
"Aku capek" ucap Mikaela lalu segera masuk kedalam rumah untuk segera mengurung diri di basrcamp nya. kamar tersayang, tempat dimana ia selalu merasa tenang
"daebak" ucap Nayla takjub berbarengan dengan derap langkah Mikaela.
______________________
tok tok tok
cklek
Nayla membuka pintu kamar Mikaela sebelum ada jawaban yang mempersilahkan
Sudah mau mengetuk pintu sebelumnya saja itu sudah kemajuan yang pesat
"Ada apa?" tanya Mikaela yang sudah tau siapa yang datang tanpa harus melihat terlebih dulu
"Lo lagi ngapain?" tanya Nayla sambil menjatuhkan bokongnya di atas kasur
Mikaela melepas kaca mata bacanya lalu menutup buku yang baru selembar ia baca.
"Baca buku" jawabnya.
"Kok kalian bisa jadian sih? gimana ceritanya?"
"Kalian siapa?"
"Ya kalian.. lo sama kak Arva, siapa lagi"
Mikaela mengusap wajahnya pelan.
"Woyyy .. kok gak jawab sih" protes Nayla yang sudah kepo tingkat dewa
"Aku gatau Nay.. dia itu aneh"
"what? lo ngatain abang gue aneh?"
"Abang? sejak kapan?"
"Sejak jauh sebelum kalian berdua pacaran!! awas aja kalo lo ngelarang kak Arva buat jadi abang gue" jelas Nayla penuh percaya diri. Padahal Mikaela jauh lebih mengenal pria itu
Mikaela hanya mendelik "Siapa juga yang ngelarang" jawabnya sedikit berbisik
"Jadi gimana.. ceritain !!" rengek Nayla masih belum menyerah
"Demi apapun kepalaku mau pecah rasanya" amuk Mikaela gusar
Mikaela bangkit dari kursinya lalu menyeret Nayla keluar dari kamarnya
"Eh Mik.. ini rumah gue ya inget"
"Terserah"
"Heh .. lo yang aneh bukan abang gue"
Blug
Mikaela menutup pintu kamarnya lalu menguncinya
"Woyy.. awas lo ya gue aduin abang gue tau rasa lo" ancam Nayla dibalik pintu
Mikaela menekan kuat kedua telinganya dengan kedua tangannya lalu menjatuhkan diri di atas kasur dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal
___________________
"Kemaren Melvin nyamperin lo ke kelas kan?" tanya Rani mengawali perbincangannya di pagi hari
Mikaela mengangguk pelan
"Kalian pulang bareng?"
"Enggak ko"
"Terus lo.."
"Ehh gimana kemaren jadi nganter mama kamu?" tanya Mikaela mengalihkan topik pembicaraan yang takan berujung
"Iya kemaren gue nyalon jadinya"
"Seru dong.." ujar Mikaela.
"Bangetttt!! kayaknya gue harus sering-sering bareng kayak gitu deh.. mama ternyata perhatian sama gue"
"Yaiyalah Ran.. semua pasti ada alasannya"
"Iua Mik.. thanks ya!! selama ini mama sibuk dengan karirnya sampai gak punya waktu buat gue cuman karena dia gak mau gue hidup susah."
Mikaela termenung. ia ingat ibunya yang jauh disana. bagaimana kabarnya? kenapa ibu gak pernah mengabarinya selama ia pindah kesini? apa mungkin ibu masih marah? karena keputusannya untuk kembali ke indonesia tidak dengan restunya.
"Mik.. kenapa? ko bengong"
"Aku cuman inget ibuku aja Ran" jawab Mikaela
"Oh ya gimana udah ada kabar?"
Mikaela menggelengkan kepalanya lemah
"Sabar ya Mik.. terus apa rencana lo kedepan?"
"Belum tau.. gue bingung"
"Lo pasti punya kontak temen lo yang disana kan? kenapa gak coba minta tolong sama mereka aja? biar mereka ngecek keadaan ibu lo disana" jelas Rani
"Bener juga ya.. ko aku gak kepikiran kesana sih" Mikaela melebarkan senyumnya
"Thanks ya Ran.. aku gatau deh kalo gada kamu"
"Yaiyalah Rani Arina gituloh" ujarnya sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang lalu diakhiri dengan tertawa bersama
Drrrrt drrttt *pesan masuk*
cowok aneh
"Gue yang masuk atau lo yang keluar !"
Mikaela memgerutkan keningnya sesaat lalu menekan tombol non active pada ponselnya.
"Siapa ??" tanya Rani kepo
Mikaela menggaruk kepalanya yang tak gatal "Bukan siapa-siapa ko" jawabnya sambil memasukkan ponselnya kedalam tas
"Pilihan yang bagus" gumam Arva
β’
β’
Please like and comment !!